
"Apa?" tanya Rendy menatap lekat Andriana yang masih memasang wajah polosnya terlihat sedih.
"Tidak apa-apa, Pak. Maaf saya tadi tak sengaja, mau saya temani kemana lagi?" ujar Andriana selembut mungkin.
Tapi sama sekali tak membuat Rendy merasa iba padanya, dia malah kesal dengannya karena kembali berbicara formal.
"Ikut saja gak usah banyak tanya!" jawab Rendy ketus, dia gagal merencanakan hal romantis dengan Andriana.
Bos galak dengan sekretaris cuek, memang perpaduan yang aneh sekali mereka ini.
//
//
Sementara di rumah sakit Nico masih setia menunggu Reva terbaring di bangsalnya itu, dia sampai tertidur di samping Reva. Sampai Reva tersadar dari tidurnya yang lumayan lama itu.
"Kenapa dia ada disini? Aku ada dimana, apakah ini rumah sakit? Ah, sakit sekali kepalaku" ujarnya meringis sambil memegangi kepalanya.
Dia hendak bangun dari tidurnya tapi tak bisa, Nico yang duduk dikursi samping bangsalnya itu tertidur di lengan Reva. Dan tangannya memegang erat tangannya, Reva tak bisa menggerakkan badannya dia tak ingin Nico terbangun dari tidurnya.
Dia menatap lekat wajah kekasihnya itu, Nico nampak tenang tertidur di lengannya. Reva merasa sedih dan kasihan padanya karena sudah melakukan hal banyak untuknya tapi apa yang didapatkannya hanya kosong belaka.
Reva kembali menangis, jiwanya masih terpukul saat menyadari kenyataan tak seindah yang dia bayangkan. Berpikir akan hidup bahagia bersamanya, tapi pupus sudah karena kesalahan dari dirinya.
Dia terus menyalahkan diri sendiri, dan tak pernah menyadari keadaan dirinya sebenarnya. Saat itu Nico terbangun, dia melihat Reva sedang menatap dirinya sendu.
"Kamu sudah bangun?" tanya Nico sambil merenggangkan kedua tangannya.
Sadar Nico sudah bangun Reva buru-buru mengusap air matanya dan mencoba untuk tersenyum.
"Iya, baru saja" ucapnya pelan.
"Aku membawa makanan untukmu, aku tahu kamu pasti tidak suka makanan rumah sakit. Karena rasanya tidak enak" ucap Nico setengah berbisik sambil tersenyum.
Reva menanggapinya dengan senyuman juga, baginya setiap makanan yang masuk ke mulutnya semuanya sama rasanya tidak enak.
"Aku membawanya pagi tadi, tapi rasanya masih enak kok. Ini disimpan dalam termos yang menjaga suhu agar makanan tidak cepat basi dan masih hangat" ujar Nico bersemangat menyiapkan makanannya.
"Tidak usah, aku tidak lapar" ujar Reva.
"Tidak lapar apanya, kamu pasti makannya sedikit lihat badanmu dan wajahmu nampak lesu dan pucat sekali.
__ADS_1
Ayo buka mulutnya, aku suapin yah. Aaa..." ujar Nico mengarahkan sendok kemulut Reva.
Reva menggelengkan kepalanya, dengan wajah tertunduk sedih dia membuang mukanya. Nico jadi terdiam melihatnya, dia memperhatikan wajah Reva yang semakin tirus dan mata yang selalu sembab karena menangis terus.
"Apa kamu tidak suka makanannya? Aku bisa menggantikan menunya" ujar Nico meraih telponnya untuk memesan makanan lagi.
"Tidak, tidak usah!" ujar Reva sedikit membentak Nico.
Nico terkejut melihat ekspresi Reva, dia terdiam oleh sikap Reva tadi. Apa yang salah darinya? pikirnya.
"Makanan darimu ini sudah cukup untukku, nanti aku akan makan tidak sekarang" ujar Reva, dia sadar ucapannya tadi membuat Nico terkejut.
Nico tersenyum pahit, sikap Reva menunjukkan bahwa dia sedang menarik diri darinya. Bukankah itu memang tujuannya, agar Reva dan dirinya untuk sementara menjauh dulu untuk menenangkan diri?
Kenapa rasanya sakit sekali, memang gampang sekali ketika mengucapkannya tapi ketika harus menjalaninya sangat sulit dan sakit rasanya.
"Baiklah kalau begitu, makanannya aku taruh diatas meja sini. Nanti kamu makan yah, aku pulang dulu" ujar Nico, wajahnya memperlihatkan kekecewaan.
Dia keluar dari kamar itu sambil memakai masker dan topi plus jaketnya, dia tidak ingin kehadirannya mengundang curiga anak buah Elena yang berjaga di ruang Ericka, yang letaknya disamping persis kamar Reva.
Setelah kepergian Nico, tatapan Reva kearah makanan itu nampak begitu kosong dia tidak pernah tahu kalau Nico masih memberikan perhatian lebih padanya.
Sementara itu dikamar sebelah, pelan-pelan Ericka membuka matanya dan memperhatikan sekelilingnya.
Dia meraba wajahnya yang masih diperban, hatinya penuh harap wajahnya kembali seperti semula. Tenggorokannya terasa kering dia ingin mengambil air minum di atas nakas samping bangsalnya.
Tangannya tidak sampai hingga menyenggol ujung nakas itu dan membuat gelas penuh air diatasnya terjatuh pecah.
Prangg!
Suara gelas pecah itu begitu kencang sampai terdengar dari kamar samping, Reva sedikit terkejut kemudian dia mengabaikannya dan mengira pasti ada pasien lain disebelah kamarnya, dan tak pernah tahu jika itu adiknya.
Pengawal dari luar masuk ke ruangan Ericka diiringi oleh Elena, mereka nampak terkejut mendengar suara benda jatuh dari dalam ruangan itu.
"Ada apa ini?!" teriak Elena dengan tatapan tajam kearah Ericka.
Ericka sangat terkejut sekali melihat kedatangan Elena, dia nampak gugup sekali dan badannya gemetar ketakutan.
"I-Ibu?" katanya dengan perasaan campur aduk.
"Kau sudah bangun rupanya, kenapa? Kau haus?" tanya Elena dengan nada mengejek.
__ADS_1
Ericka hanya mengangguk sambil menundukkan wajahnya, Elena melihat serpihan gelas pecah dilantai dia memberi perintah anak buahnya untuk meminta petugas kebersihan untuk membersihkan lantai itu.
"Jika kau butuh sesuatu, panggil saja mereka. Mereka akan membantumu sebaik mungkin tapi sebelumnya itu kamu harus melakukan sesuatu untukku dulu" ujar Elena menyeringai.
"A-apa itu Ibu?" tanyanya lagi takut.
"Kau tahu, semua orang tidak tahu kepergianmu ini bahkan mereka tidak menyadari kau sudah cukup lama menghilang.
Aku mengatakan kepada ayahmu jika kamu akan pergi ke London bersamaku, sebagai Ibu yang baik aku harus mengantarkan anakku untuk pergi kuliah bukan?
Dan kedua pelayanmu mengira kau sudah pergi ke London, juga kakak-kakakmu itu tidak peduli lagi padamu.
Jadi, aku hanya minta kau menandatangani surat persetujuan atau izin untuk aku menggunakan identitasmu itu mengurus pembuatan berkas-berkas lainnya untuk kita pergi keluar negeri" kata Elena.
Setelah itu petugas kebersihan datang bersama perawat untuk menyediakan makan malam untuk Ericka, setelah mereka pergi Elena mengambil piring makan Ericka.
"Kau masih terlalu lemah, sayang. Kau belum bisa makan dan minum sendiri, seperti biasa kau akan merepotkan orang lagi.
Sini aku akan membantumu menyuapkan makan dan minum, buka mulutmu!" ujar Elena sambil menyendok nasi di piring itu.
Ericka menutup mulutnya, dia merasa terhina sekali dengan ucapan ibu tirinya itu. Elena geram dia memaksa membuka mulut Ericka, tapi dia kekeh menutup mulutnya.
Plak!
"Ah! Ibu!" teriak Ericka, dia berteriak sakit saat Elena menampar wajahnya.
"Nyonya!" dokter Anwar datang tepat waktu, dia terkejut saat melihat Elena memaksa Ericka makan dan menamparnya.
"Nyonya, mohon bersabar dulu. Biarkan perawat saja yang menyuapinya makan, dan jahitan wajahnya belum terlalu kering.
Kami takut nanti lukanya terbuka lagi, akan sia-sia saja operasi yang kita lakukan" ujar dokter Anwar mencoba menenangkannya.
Dia khawatir jika ada Nico dikamar sebelah mendengar hal ini akan memancing keributan dan akan sia-sia juga rencana mereka.
Sementara Reva dikamar sebelah sayup-sayup mendengar suara teriakan seperti suara adiknya itu, dia menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan pendengarannya itu.
"Tidak, tidak mungkin itu Ericka. Dia sekarang ada di rumah, aku yakin Rendy pasti sering melihatnya seperti yang kulakukan dulu" ujarnya mencoba berpikir positif.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1