Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kekecewaan Rendy 2


__ADS_3

Kini tinggallah Rendy dengan pak Dewantoro di ruangan itu, ruangan besar itu terasa lengang dan sepi seperti perasaan dan hati Rendy saat ini.


"Ayah.." ucapnya.


"Puas sekarang kau, hah?! Kau telah menghancurkan perasaan ayah dan ibumu dengan tuduhan tak mendasar itu, kau terlalu banyak bergaul dengan lelaki bajingan itu!


Sudahlah, Rendy. Sudah Ayah katakan untuk tidak bergaul dengannya lagi, dia hanya menimbulkan dampak negatif bagimu dan juga yang lainnya.


Lihat, dia tak terima kakakmu terbaring di sana dan mencari sesuatu untuk disalahkan atas perbuatannya, ini semua salahnya! Dia yang menyebabkan kakakmu celaka!" teriak pak Dewantoro emosi.


"Ayah... Ketika Ayah berbicara seperti itu, tidakkah Ayah berpikir sejenak tentangku, tentang kak Reva ataupun Ericka yang tak tahu dimana dia sekarang...


Ayah, tidakkah kamu sedetik saja memikirkan kami? Bahagiakah kami? Atau sekedar bertanya basa-basi, sudah makan belum Nak? Jangan pulang malam-malam, jangan telat makan... Sekedar nanya atau basa-basi begitu saja, tak bisakah Yah??


Dengan begitu saja kami sudah senang, setidaknya ada perhatian kecil darimu.. Bukan harta, uang ataupun kekayaan yang kami pinta, hanya perhatian kecil itu saja!


Ayah, dari kecil hingga dewasa kami tak pernah merasakan perhatian sekecil apapun darimu. Kau hanya fokus kepada istri dan anak-anak tirimu itu..


Setidaknya, jika kau sanggup memberikan perhatian kepada mereka, kenapa dengan kami tidak? Segitu beratnya, susahnya bagi Ayah melakukan itu??


Sekarang Ayah berteriak kepadaku, karena anak tirimu dipenjara membuat istrimu itu sedih dan marah padamu, karena anak suaminya yaitu aku telah memenjarakan anaknya.


Seharusnya Ayah bertanya, kenapa dia tega melakukan itu kepada kami?! Kepada kak Reva! Apa kami mengganggunya? Tidak! Kami hanya membalas apa yang mereka lakukan pada kami!


Ayah meminta kami untuk bersabar, sampai kapan?! Dari kecil hingga sekarang kami selalu dihina, ditindas! Kami sekarang sudah besar, sudah dewasa, kami sudah bisa menjaga diri kami sendiri.


Jadi, kami akan melawan jika kami di ganggu, kami akan membalas jika dilukai, kami akan menjerit jika dilukai! Ini bukan drama ataupun cerita novel dimana pelakon utama selalu tertindas dan hanya bisa menangis jika dihina dan dianiaya, bukan!


Aku takkan menunggu karma itu datang pada kalian, terlalu lama! Jadi, kami yang akan menciptakan karma itu sendiri bagi kalian" ujar Rendy.


Setelah panjang lebar dia menjelaskan semuanya, dia pergi meninggalkan ayahnya sendirian di sana. Dengan perasaan campur aduk dia menuju kantor polisi dimana Pricilia ditempatkan.


Sedangkan pak Dewantoro hanya diam setelah mendengarkan ucapan Rendy tadi, sekilas dia sempat flashback disaat dia masih bersama mendiang istrinya dulu.


"Dia begitu mirip denganmu jika sedang marah, Laras" ujarnya sambil memijit keningnya pusing.


"Dan semua ini gara-gara anak yang bernama Nico itu! Dialah penyebab semuanya, dia yang membuat anak-anakku berubah padaku" gumamnya gusar.

__ADS_1


Dia pun pergi dari sana menuju kantor polisi, dan menelpon pengacara untuk membantu anak tirinya itu agar bebas dari tuduhan.


//


Sesampainya di kantor polisi.


Semua orang sedang berkumpul di teras luar kantor itu, sebagian menunggu di ruang tunggu didalamnya. Sedangkan Pricilia sedang diintrogasi.


Pak Dewantoro datang bersama pengacaranya sambil membawa beberapa berkas menuju kantor polisi itu, dia sempat melirik sinis kearah Nico, tapi hanya ditanggapi santai olehnya.


"Permisi, Pak. Kami datang sebagai wakil Nona Pricilia.." ujar pengacara itu kepada polisi.


Mereka mulai berkomunikasi dan mencoba bernegosiasi kepada polisi soal penangguhan tahanan, tapi polisi juga berat mengabulkan permintaan mereka.


"Pertama, Nona Pricilia tidak kooperatif sama sekali, dia terus melawan saat dibawa kesini. Kedua, Nona itu terus berkata kasar dan berbicara yang bukan-bukan, kami anggap sebagai menghina petugas dan menghalangi penyidikan.


Jadi, kami terpaksa harus menahannya sampai kasus ini selesai. Jadi Bapak harus mengikuti prosedur dan aturan yang ada" ujar penyidik itu.


Tentu saja pengacara itu tidak hilang akal, dia berusaha sebisa mungkin agar Pricilia tidak ditahan malam itu, dengan dalih undang-undang atau apalah itu.


"Tidak bisa!" tiba-tiba terdengar suara orang yang baru masuk ke ruangan itu.


"Kau?!" pengacara dan pak Dewantoro terkejut melihatnya.


"Selamat malam, Pak. Saya William dan saya disini sebagai pengacaranya Nona Reva. Saya juga membawa beberapa bukti konkrit untuk membantu Bapak menjalani penyelidikan ini" ucapnya sambil menaruh beberapa berkas diatas meja.


Pengacara Pricilia nampak gelisah dengan kedatangan William, karena mereka tahu orang ini sangat gigih sekali dalam mempertahankan pendapatnya.


"Halo, Pak. Kita bertemu lagi" sapa William dengan cengiran khasnya.


Mereka nampak muak sekali melihatnya, mereka sudah tahu apa yang akan terjadi jika orang itu yang menangani kasus ini.


"Jadi sudah jelas ya, Pak. Jika terduga ini akan menjadi tersangka, sesuai dengan bukti dan saksi yang kita punya. Dan lucu saja jika tak sampai ditahan, bisa hancur reputasi kesatuan ini dibuat mereka" ucap William menambahkan opininya.


"Kami akan menyelidikinya, dan bukti-bukti ini akan kami masukkan sebagai bukti tambahan dalam kasus Nona Pricilia ini" ujar polisi itu.


Mereka langsung membawa Pricilia kedalam sel tahanan khusus wanita, dia menjerit histeris minta pertolongan ibu dan ayah tirinya itu.

__ADS_1


"Ayah, Ibu! Tolongin aku, aku gak mau dipenjara! Ini semua salah mereka, kenapa tidak mati saja sekalian! Haarrgh!" dia berteriak seperti orang gila.


"Dengar itu, Pak. Secara tak langsung dia mengakui perbuatannya, bukannya menyesal atas perbuatannya malah dia menginginkan korban mati, apakah itu tidak akan memberatkan kasusnya?" tanya William lagi.


Membuat mereka semua yang ada di sana terdiam, pak Dewantoro dan Elena dibuat malu oleh tingkah Pricilia. Dan tentu saja pengacaranya langsung diam mendengar ucapannya, dia tak punya alasan untuk membalas argumennya.


Semuanya sudah diluar dan hendak ingin pulang ke rumah masing-masing, karena hari sudah semakin malam. Sebelumnya, pak Dewantoro, Elena, Pramudya dan pengacaranya datang menghampiri Rendy, Nico dan William.


"Apakah kau tak berniat membatalkan laporanmu, Rendy? Bagaimanapun juga Pricilia adalah saudaramu juga, meskipun kalian sedarah" kata pak Dewantoro.


"Jika aku mati, apakah Ayah akan memaafkan orang yang telah membunuhku?!" tanya Rendy balik.


"Kau bicara apa, hah?! Tidak akan kubiarkan anakku sedikitpun terluka apalagi sampai seperti itu, pertanyaan macam apa itu!" ujar pak Dewantoro kesal.


"O ya, aku tak percaya... Jika itu benar, kenapa kau membiarkan orang yang mencelakai kakakku begitu saja, apalagi kau juga ingin membebaskan dia pula!


Hem, kau pikir aku masih bisa kalian bodohi, tidak! Sudah sering kali aku kalian tipu, aku takkan terjebak lagi oleh ucapan pembohong seperti kalian!" ucap Rendy.


"Ingat, mulai sekarang kau tak perlu datang lagi padaku! Jika kau butuh bantuan datang saja kepada lelaki itu!" teriak pak Dewantoro kesal karena tak dianggap olehnya didepan semua orang.


"Bukankah selama ini kami sudah biasa diabaikan olehmu? Jadi tak masalah jika kami berharap kepada orang lain yang lebih perhatian kepada kami, dibandingkan ayah sendiri tapi tak perhatian" ucapnya sambil berlalu pergi.


Membuat pak Dewantoro semakin kesal saja pada mereka, mereka pulang dengan perasaan kesal, marah dan malu tentunya. Sudah ditebak pak Dewantoro jadi pelampiasan kemarahan istrinya itu.


"Kamu bagaimana sih, Mas?! Kok gak bisa ngadepin anak sendiri, seharusnya kamu tuh ambil hatinya agar dia nurut dan percaya sama kamu, bukannya malah marah balik!" ujar Elena kesal.


"Aku juga kesal dan marah padamu! Apakah kau tak bisa mengajari anak-anakmu agar tak bikin ulah lagi?! Mereka hanya bisa buat malu dan bikin perkara saja.


Anak-anakku begitu karena lelah atas ulahmu sendiri, dan anak-anakmu itu mencontoh perbuatanmu! Sampai kapan aku terus menutupi aib kalian, sampai anakku kalian celakai!


Apakah semua permasalahan ini ada kaitannya dengan kalian, hah?! Jika tidak, diam saja! Aku muak, aku lelah!" ujar pak Dewantoro meluapkan emosinya.


Mendengar keluh kesahnya, membuat Elena terkejut kalau lelaki itu bisa marah juga padanya, ternyata. Tapi bukan Elena jika tak bisa membalasnya, dia hanya tersenyum kecut.


"Oh, jadi sekarang kau menyalahkan aku atas segalanya, begitu?! Baiklah, aku takkan meminta ataupun berbicara tentang apapun denganmu lagi" ucapnya sinis sambil menjauhi suaminya itu.


Mendengar itu tentu saja pak Dewantoro gelagapan, dia baru saja bertemu dengan dirinya, masa harus berpisah lagi?

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2