Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Bukti Lainnya


__ADS_3

Setelah mempertimbangkan kondisi Ericka, Nico menghubungi Rendy dan om Richard mengenai adiknya itu, tentu saja dia memperingati mereka untuk tidak memberitahukan kepada Reva juga.


"Bagaimana keadaannya, Kak?" tanya Rendy, dia juga datang bersama Andriana.


"Sedikit lebih baik dibandingkan dengan tadi, dia sempat mimpi buruk, melihat reaksinya itu sepertinya cukup membuatnya trauma. Aku gak tau dia memimpikan apa, aku harap itu tidak berdampak buruk untuknya.." jawab Nico.


"Apa yang terjadi, kenapa dia bisa mengalami kecelakaan itu? Menurut informasi yang om tau, katanya ban mobilnya sampai pecah semuanya, tapi hanya tiga yang benar-benar pecah!


Bukankah itu aneh, sepertinya ada yang ingin menghancurkannya dengan sengaja. Nico, apa kamu sudah menyelidikinya?" tanya om Richard serius.


"Sudah, Om. Entah kebetulan atau tidak, diduga pelakunya berada di Tkp saat kejadian, saat polisi sedang menyelidiki tempat kecelakaan Ericka, mereka menemukan seorang DPO kasus lakalantas yang korbannya anak SMA.


Dan saat itu pelaku membawa sajam, diduga juga sebagai senjata untuk merobek semua sisi ban mobilnya Ericka, tapi ini sebagai dugaan saja, belum terbukti benar. Polisi masih menyelidikinya dan kecocokan antara pisau dan robekan ban mobil masih dilakukan pemeriksaan oleh tim forensik" ujar Nico.


"Jangan-jangan DPO itu adalah pelaku tabrak lari nya si Azka, tapi aku belum dapat telpon dari pihak kepolisian ataupun pengacaraku.." gumam om Richard dalam hati.


"Bukan apa-apa, aku malah berharap dia adalah orang yang sama melakukan hal itu kepada Ericka, agar dia bisa mendapatkan hukuman yang lebih berat lagi.


Kata pepatah, pelaku kejahatan akan kembali dimana dia meninggalkan korbannya. Maka aku yakin, dia pasti ingin mengecek kondisi Ericka, apa anak itu selamat atau tidak!" geram Rendy.


"Ehmm.." tiba-tiba Ericka terbangun dari tidurnya.


Dia melihat orang-orang terdekatnya ada disekitarnya, dia melihat posisi Andriana paling dekat dengannya, Andriana dengan tulus dan lembutnya mengusap kepalanya menatap haru.


"Kamu gak kenapa-kenapa? Mau minum?" tanya Andriana penuh perhatian.


"Gak kak, aku hanya ingin duduk.." ucap Ericka pelan, terlihat masih lemas.


"Kamu masih lemas, Ericka. Jangan memaksakan diri, tak apa.. Tiduran aja yah" ujar Andriana.


"Kamu istirahat aja.." ucap juga yang lain.


"Gak bisa, Kak. Aku masih banyak pekerjaan..," kata Ericka.


"Pekerjaan apa sih? Nanti setelah lebih baik, kamu bisa melakukannya. Ingat masih banyak yang bisa membantumu dalam segala hal, jangan bekerja sendiri.." ucap Nico.


"Iya, kamu juga baru bangun. Jangan maksain diri.." sahut om Richard juga.


"Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu?" tanya Rendy langsung saja tanpa basa-basi.


"Ren..," yang lain nampak tak setuju dengan pertanyaannya tadi, terlalu cepat dan buru-buru menurut mereka.


"Aku, tak terlalu ingat dengan benar. Aku hanya ingat, aku kecelakaan saat menabrak pohon besar.." ucap Ericka sambil meringis menahan sakit kepalanya.


"Sudah, jangan dipaksakan! Kamu juga baru siuman.. Nanti lama-lama kamu akan ingat sendiri" ucap om Richard juga.


Selang beberapa saat kemudian, dokter pun datang lagi, dan menyatakan kondisi Ericka sudah lebih baik dibandingkan tadi, hanya saja sedikit menambahkan waktu saja agar dia ingat semuanya.


Tapi saat Ericka tak sengaja melihat Erick, tiba-tiba semua ingatannya mengenai permintaannya menyelidiki panti asuhan langsung kembali.


"Erick!!" teriaknya menatap anak itu tajam.


Membuat dokter, Erick dan juga lainnya terkejut dibuatnya, apalagi anak itu gelagapan sangat bingung dengan apa yang terjadi.


"A-ada apa? Kenapa kau berteriak kepadaku?! Aku tak melakukan apapun terhadapmu, Ericka!" katanya gugup ketika semua mata menatapnya curiga.


"Bukan itu, mana laporan yang aku minta tadi, mengenai informasi dan data penting panti asuhan kasih bunda? Tentang ibu ketua panti juga?!" tanya Ericka langsung.

__ADS_1


"Oh itu, ada. Sudah lengkap kok, eh! Kamu sudah sadar? Ingat semuanya?!" tanya Erick terlihat kaget dan bingung.


"Memangnya aku kenapa? Aku hanya sedikit lupa, bukan berarti aku lupa ingatan yah! Mana sini, cepetan yah!" ucap Ericka cuek.


Malah tingkahnya itu membuat semua orang yang ada di sana gemes dan geregetan, dimana semuanya khawatir mengenainya, eh dianya malah terlihat biasa saja, malah galak banget sama Erick.


"Dia adikku, dokter. Sudah sadar dan sehat, aku yakin itu.." ucap Rendy lagi.


"Hahaha! Iya, yah! Tidak menyangka ternyata kekebalan tubuhnya sangat kuat, hingga tak butuh waktu cukup lama, dia sudah langsung bisa menyesuaikan diri" ucap dokter itu tersenyum lega.


Setidaknya pasien VIP nya pulih dengan cepat, mengurangi pekerjaan dan tanggung jawabnya juga, kemudian dia pamit keluar dari ruangan itu.


"Sebenarnya, apa yang terjadi? Kamu tadi gak ke kantor? Ke panti asuhan? Kenapa tiba-tiba pergi ke sana?" tanya Rendy penasaran.


"Sebentar lagi, Kakak akan tau juga. Sebentar, mau cek semuanya dulu, baru cerita.." jawab Ericka masih fokus dengan laptop yang diberikan oleh Erick tadi.


"Sebenarnya, Kakak sudah tau apa yang ingin kamu cari, Ericka.. Maaf jika Kakak lancang, karena telah melihat laporanmu lebih dulu sebelum kamu menerimanya.


Jangan salahkan Erick, karena kakak yang memaksanya tadi, kakak penasaran apa yang kau cari, takutnya ini semuanya berkaitan dengan kecelakaanmu ini" ucap Nico pelan dan hati-hati, dia tak ingin Ericka kecewa dengannya.


"Tak apa, bagus kalau kakak sudah tahu, setidaknya aku tak bingung lagi mau menceritakan semuanya.." sahut Ericka membuat Nico dan Erick lega.


"Ini ada apa sih?! Jangan buat aku penasaran begini?" tanya Rendy kesal karena dia tambah penasaran saja.


"Kak Nico bisa menjelaskan semuanya," sahut Ericka lagi.


Nico menjelaskan semuanya tanpa terkecuali apa yang dia lihat dan periksa juga, semua mengenai data palsu yang diberikan oleh ibu panti itu, tentang eksploitasi anak, korupsi ibu panti dan termasuk siapa dalang semua ini.


'Dasar tak tahu diri, ibu itu! Dia mau mencekik kami diam-diam rupanya, dia pandai sekali berbicara dan bersikap, sampai kami sendiri sudah terkecoh olehnya, tunggu saja nanti, akan aku tangkap basah dirinya!" geram Rendy.


"Aku punya laporan baru lagi.." ucap Erick, dia memperlihatkan hasil temuannya di laptopnya lagi.


"Siapa?!" tanya Rendy geram.


"Ada dua email dan dua rekening, atas nama Adji Santoso dan Sarah Amelia, dia itu... Para menantunya oma mariani," ucap Erick pelan.


"Apa?!" tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan William bersama Geraldine.


"Apa semua yang kamu lihat dan selidiki itu semuanya benar? Jangan asal berbicara sebelum membuktikannya dengan benar!" bentak William kepada adik tirinya itu dengan tajam.


"William! Tenangkan dirimu, kau baru saja sampai jangan buat kekacauan!" ucap Nico dengan tegas.


"Tenanglah!" ucap Geraldine kepada William.


"Apa ini? Apa kalian sekarang memiliki hubungan?" tanya Rendy saat melihat kedatangan keduanya, dia juga berusaha mengurangi ketegangan yang ada.


"Aaahh,, a-aku.." jawab Geraldine bingung mau bicara apa.


"Aku baru saja melamarnya, tapi belum tau dia mau atau tidak.." sahut William, sedikit lebih tenang dibandingkan tadi.


"Aku mau melamarnya juga secara resmi minggu depan, aku harap kalian semuanya datang.." ucap Rendy sambil menatap hangat Andriana, sedangkan gadis itu hanya tersipu malu dibuatnya.


"A-aku permisi dulu.." tiba-tiba Erick sudah selesai berkemas, dia tak ingin merusak suasana mereka dengan kehadirannya itu.


"Tunggu dulu Erick, kita belum selesai!" kata Ericka kesal.


"Nanti tolong cari lagi informasi yang kami minta, Erick. Kalau sudah ketemu dan selesai, hubungi aku.." ucap Nico juga kepadanya.

__ADS_1


Erick hanya mengangguk, kemudian dia menyandang tas ranselnya dan keluar dari sana melewati kakaknya itu, melihat itu William juga keluar menyusulnya.


"Tunggu dulu!" cegahnya sebelum anak itu pergi terlalu jauh.


"Ada apa? Kau tak ingin melihatku kan? Baiklah, aku pergi dengan kesadaranku sendiri.." ucap Erick sambil menahan diri agar tak terbawa emosi.


"Bukan itu, apa maksudmu mengatakan perihal om Adji dan tante Sarah? Jangan terlibat lebih dalam dengan mereka, kau tau kalau mereka itu berbahaya!" ucap William geram.


'Aku tak ikut campur dengan urusan siapapun, aku hanya menjalankan tugasku saja, karena itulah pekerjaanku saat ini. Tenang saja, aku takkan pernah meminta ataupun menginginkan hartamu sedikit saja, tidak pernah, meskipun dengan pekerjaan ini, setidaknya aku punya penghasilan sendiri!" ucap Erick lagi.


"Dengar, aku memang membencimu, tapi aku tak mau opa sedih saat mengetahui cucu kesayangannya ini terlibat dengan semua permasalahannya itu.." sahut William sengit.


"Yang cucu kesayangannya itu sebenarnya siapa, aku atau kamu?! Aku tak peduli, karena aku bukan siapa-siapa bagi keluarga itu! Jangan khawatir aku, khawatir dirimu sendiri. Karena aku yakin opa lebih sedih saat tau cucunya itu berkhianat kepadanya!" ucap Erick lalu pergi meninggalkan William yang masih berdiam diri di koridor rumah sakit itu.


"Kenapa sih masih gengsi saja mengakui jika kau menyayangiku sebagai adikmu?! Apa begitu caramu menyampaikan perasaanmu kepadaku?! Segitu bencinya kau kepadaku?" gumam Erick dalam hati sambil menahan sesak di dadanya.


Sementara itu, William juga merasakan hal yang sama apa yang Erick rasakan, dia merasa sedih melihat tingkah adiknya itu. Karena dia tak ingin Erick terlalu dalam ikut campur, karena dia tak tahu seberapa berbahayanya mereka, yang katanya keluarga itu.


Setelah cukup menenangkan diri, dia kembali lagi masuk kedalam ruangan itu, dia melihat om Richard sedang menerima telepon dari seseorang, dan nampaknya sangat cemas sekali.


"Kenapa, Om?" tanya Rendy.


"Pelaku DPO kasus tabrak lari anak saya sudah tertangkap, aku harus pergi menemui pengacara saya, mau membahas tentang penuntutan terhadapnya.


Maaf ya, Ericka. Om pamit pulang dulu, insyaallah besok kembali lagi, semoga lekas sembuh yah.." ucap om Richard pamit dengan terburu-buru.


"Ada apa? Anak om Richard kecelakaan, kok kita gak tau?" tanya Rendy kebingungan.


"Mungkin dia tak ingin kita merasa cemas dan khawatir saja.." sahut Ericka, dia juga gugup juga ketika mengingat Azka kembali, karena anak itu sungguh meresahkan sekali.


"Apa DPO itu adalah orang yang sama dengan DPO yang terlibat dengan kecelakaan Ericka?" tiba-tiba saja Rendy berbicara seperti itu.


Membuat semuanya nampak tegang sekali, mereka saling pandang dan bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya. Sementara itu, diluar rumah sakit Azka sedang menuju ke ruangannya Ericka.


Dia melihat papanya baru saja keluar dari rumah sakit, dia terkejut dan bersembunyi dibalik beberapa mobil yang terparkir di halaman rumah sakit itu.


"Papa ngapain disini? Habis jenguk temannya yah?" gumamnya tak mengerti.


Sedangkan om Richard melajukan mobilnya menuju jalan raya sambil menghubungi seseorang, dia juga memiliki pikiran yang sama dengan Nico dan lainnya tentang keterkaitannya opa Harja dengan semua ini.


"Halo, tolong kembali selidiki lagi tentang perusahaan itu apa dia masih beroperasi atau tidak lagi? Dia sepertinya kembali lagi ingin merusak ketenangan hidup saya dan keluarga saya.


Kali ini saya takkan tinggal diam saja, dia sudah melukai anak dan keponakan saya, saya takkan kehilangan lagi, aku tak ingin keluargaku kembali hancur olehnya, cukup nenek, ibuku dan tante juga saudara sepupuku yang jadi korban!


Sekarang tidak lagi, aku akan melakukan apapun demi keluargaku, aku bisa lebih kejam dibandingkan dengan mereka!" ucap om Richard kepada seseorang di telpon itu.


"Siap, Pak. Kami akan melakukan apapun tugas yang anda berikan!" ucap seseorang di telepon itu.


Sedangkan opa Harja dan oma Mariani masih tidak tahu kalau perbuatan mereka itu sudah tercium oleh om Richard dan Nico juga saudara-saudara iparnya.


Malah, Erick sengaja mengirimkan beberapa bukti pesan teks dari bu panti kepada para kliennya itu ke beberapa media untuk disebarkan, atas perintah Ericka dan Nico tentunya.


"Biarkan saja, itu sebagai kejutan kecil untuk mereka. Biarkan mereka ketar ketir dulu, dan lihat apa saja yang akan mereka lakukan nantinya, yang penting awasi saja mereka.." ucap Nico memberikan instruksi kepada adik-adiknya itu.


Mereka sudah siap berperang dan melawan opa Harja dan para anteknya itu.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2