Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kemurkaan Nico


__ADS_3

Sebelumnya,


Nico keluar dari apartemen Reva dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa, takut dan benci semua perasaan itu menyelimuti hatinya.


"Halo, keluarkan semua orang dan sebar mereka keseluruh kota ini. Cari nona Reva sampai ketemu, jangan datang padaku sebelum dia ditemukan.


Aku akan membunuh siapapun yang berani menculik atau melukainya, camkan itu! Cepat, lakukan!" teriaknya.


Matanya memerah, dengan wajah datar dan berekspresi dingin itu membuat semua orang yang melihatnya takut.


"Reva, tunggulah. Aku akan datang kepadamu, bertahanlah..." gumamnya, dengan ekspresi itu dia menitikkan air matanya.


Betapa sakitnya kehilangan orang yang dicintai, apalagi sampai melihatnya terluka pasti dunia ini terasa runtuh baginya.


//


//


Malam itu semakin mencekam, seluruh anak buah dan pengawalnya yang berjumlah ratusan orang dia kerahkan di seluruh kota.


Disetiap tempat mereka datangi, cafe-cafe atau bar dan pub mereka datangi tidak lupa juga tempat-tempat prostitusi. Biasanya, korban penculikan akan dibawa ketempat seperti itu dijadikan budak n*fsu pria hidung belang.


"Maaf, Tuan. Kami belum juga menemukan nona muda" salah satu ketua anak buahnya melapor.


"Cari tahu, terakhir dia berada dimana dan lacak lokasi telponnya terakhir aktif" ujar Nico yang masih fokus dilayar laptopnya.


Dia mencari informasi rekan-rekan Reva, siapa tahu mereka mengetahui sesuatu hubungan Reva dengan yang lain tanpa dia ketahui. Tapi sayangnya tidak ada yang tahu.


"Tuan, kami melacak Hp nona terakhir aktif berada di sebuah supermarket yang letaknya tak jauh dari apartemennya." Kata salah satu anak buahnya yang dikhususkan melacak lokasi keberadaan Reva.


Nico tahu itu, dia ingat tadi siang masih telponan dengan Reva di sana. Jadi, Reva menghilang sejak tadi siang? Dia mengutuk dirinya sendiri karena terlambat mengetahui kekasihnya diculik.


"Entah berapa lama dia diculik, jika memang sesuai perkiraanku dia sudah lama sekali di sana. Entah apa saja yang dilakukan si penculik itu, aku harus cepat!" gumamnya sendiri.


Mereka menuju ke supermarket itu, sekarang sudah tengah malam dan tentunya supermarket itu sudah tutup.


Tapi ini adalah Nicolas Abraham, seorang CEO pengusaha dan pembisnis sukses dia juga memiliki banyak relasi yang kuat tidak sulit baginya memasuki gedung supermarket itu.


Seorang manajer dan asisten supermarket itu ada di sana bersama beberapa pegawai yang terkait atau saksi terakhir bertemu dengan Reva.


"Tuan, mereka ini yang terakhir bertemu dengan nona Reva" ujar manajer mereka.


Supermarket itu milik salah satu rekan bisnis Nico, jadi ia bisa leluasa masuk dan mencari informasi apapun di sana kecuali informasi bisnisnya. Nico seseorang yang berprinsip soal bisnis dia tidak mau berbuat curang karena itu menyalahi aturan yang dia pegang teguh.


Tidak heran jika rekannya percaya penuh padanya, dan membiarkannya melakukan hal itu apalagi Nico sudah menjelaskan semuanya permasalahannya.


"Coba kau jelaskan lagi lebih detil pertemuanmu dengan nona Reva?" tanya salah satu asisten Nico, dia tahu bosnya itu lagi tak bisa konsentrasi.


"Saya tidak terlalu mengenal dan tahu tentang nona Reva, disini setiap harinya begitu banyak konsumen yang berbelanja di supermarket ini.


Saya tahu dengannya karena dia agak berbeda dengan yang lain, meskipun penampilannya sangat sederhana waktu itu dia masih sangat cantik daripada pelanggan yang lain." Ujar salah satu karyawan pria itu berbicara, saat mengatakan itu dia nyengir cengengesan saat membayangkan kecantikan Reva.


Nico menatapnya tajam sedangkan yang lain mendelik kearahnya marah karena tidak bisa menempatkan diri dalam situasi ini.


"Ma-maaf, bukan seperti itu maksudnya" ujarnya terlihat gugup.


"Katakan saja apa yang kau ketahui, jangan terlalu banyak cengengesan kau! Kami sudah tak banyak waktu!" teriak asisten Nico, dia juga kesal dengannya.


"Jadi begini, waktu itu aku lagi sibuk dengan pekerjaanku dan tidak terlalu memperhatikan sekelilingku. Saat aku lewat di area rak penjualan makanan, aku mendengar suara barang-barang terjatuh.

__ADS_1


Setelah saya menghampiri ternyata benar, kotak kardus berisi beberapa makanan ringan yang belum kami bereskan jatuh berserakan menimpa nona itu.


Kotak kardus itu ringan bahkan ada sebagian yang sudah kosong, aneh saja menurutku bisa membuat seseorang yang tertimpa bisa pingsan." Kata karyawan pria itu menjelaskan.


"Pingsan? Reva pingsan?" tanya Nico penasaran.


"Jika wanita itu benar nona Reva, yah benar" jawab karyawan itu.


"Terus apa lagi?" tanya lagi Nico.


"Seorang lelaki mengaku pacarnya terlihat marah sekali kepadaku karena tidak mengurus barang-barang dengan baik sehingga menyebabkan kecelakaan itu terjadi.


Aku sudah meminta maaf dan bertanggung jawab tapi dia memutuskan membawa nona Reva ke rumah sakit sendiri.


Dan Hp nona Reva terjatuh, aku ingin mengembalikan Hpnya tapi orang itu sudah pergi jauh. Hp nona itu mati, dan kami tak punya charger yang cocok untuk Hpnya.


Hpnya bagus pasti mahal sekali ya Mas, hehe!" ujarnya lagi cengengesan, kepalanya sampe dijitak sama manajernya karena gak bisa serius.


"Mas, Mas! Kamu pikir temanmu!" kata manajernya.


"Maaf Pak, saya khilaf" jawabnya.


"Sudah, cukup! Mana Hpnya?" tanya asisten Nico.


"Ini Hpnya Pak, gak saya apa-apain kok. Swer!" ujar karyawan itu sambil menunjukkan dua jarinya menandakan dia serius.


Nico tak menanggapinya dia sibuk dengan Hp Reva, dia juga mengecek kamera Cctv-nya untuk memastikan pernyataan karyawan tadi. Dan itu memang benar sesuai dengan jawabannya tadi.


Mereka langsung mencari jejak pria yang membawa Reva, mencari kamera Cctv yang dilintasi oleh mobil pria itu. Sampai mobil itu berhenti di sebuah hotel, dan itu tempat yang sangat biasa jika disebutkan sebuah hotel.


Lebih bagus jika itu disebut penginapan biasa, penginapan yang biasa disewa oleh pria hidung belang untuk memakai jasa prostitusi.


Perasaan Nico sudah tak karuan, buat apa pria itu membawa Reva kesana? Tapi ada yang aneh, tidak lama kemudian pria itu keluar sendirian tanpa Reva. Jika diperhatikan dia hanya membawanya kesana, karena jaraknya hanya sebentar saja dari dia masuk sampai keluar lagi dari penginapan itu.


//


//


//


Ada beberapa mobil yang datang mengiringi nico dari belakang, mereka mengebut menuju penginapan itu. Perasaan cemas dan takut meliputi hatinya, pikiran-pikiran buruk terlintas di kepalanya.


"Reva..." gumamnya, pikirannya benar-benar kalut.


Sesampainya di penginapan itu, tempat terpencil di kota super sibuk itu terlihat begitu sepi, lampu-lampu disekitarnya terlihat temaram dan redup.


Terlihat beberapa pasangan berlalu lalang keluar masuk ke penginapan itu, dari berbagai usia. Dari anak muda sampai kakek-kakek pun ada di sana.


Mereka menerobos masuk ke penginapan itu, sebagian lagi menunggu diluar dan menyusuri area sekitar penginapan itu.


Para pengunjung dan karyawan di sana nampak bingung dengan kehadiran mereka, sekelompok pria asing memakai pakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitamnya masuk paksa dan memeriksa setiap kamar di sana.


"Apa yang kalian lakukan disini?! Jangan mengganggu bisnis orang dong, bersainglah secara baik. Gak gini cara mainnya, main serobot aja masuk ketempat orang!" ujar seorang lelaki berpenampilan perempuan.


"Kami sedang mencari seorang wanita yang dibawa disini, kami ingin membawanya" ujar asisten Nico kepadanya.


Pria transgender itu tersenyum genit kepadanya, karena terpincut dengan ketamakannya. Entah kebetulan atau tidak, semua anak buah Nico masih muda-muda dan tampan.


Tidak heran setiap wanita ataupun wanita jadi-jadian seperti ini menyukainya, dia langsung mendekatinya. Erick, asisten Nico merasa canggung sekali didekati wanita jejadian ini.

__ADS_1


"Iih ada lekong ganteng bo! sini sama eike aja say, dijamin servis memuaskan. Haha!" ujarnya senang, saking senangnya saat tertawa suara jantannya keluar.


Erick dan pengawal gagah perkasa lainnya langsung ciut nyalinya, sumpah lebih serem melawan mahkluk jenis ini daripada yang lainnya.


"Berhenti! Jangan ganggu dia" ujar Nico menghampiri mereka.


"Eh, ada lekong cucok maricok lagi! ish, jangan galak dong sayy, eike jadi hompimpa deh!" ujar wanita jejadian itu.


Saat itu aura Nico begitu dingin, dia menatap tajam kearahnya sehingga dibuat salah tingkah dan takut olehnya.


"Ish, gak bisa diajak becanda nih lekong! Sini mana fhotonya, kali aja eike tahu orangnya! Kalau gak ada, sama eike aja ya bo! Haha, ups! Sorry" ujarnya masih bersikap genit.


Nico tak banyak bicara dia langsung memperlihatkan fhoto Reva di Hpnya, ekspresi wajah wanita jejadian itu berubah nampak gelisah sekali. Nico tahu pasti dia tahu sesuatu.


"Siapa namamu?" tanya Nico.


"Jamilah, bang" jawabnya mendayu.


"Bawa aku ketempat dia disekap, aku akan membayarmu dua kali lipat dari penghasilanmu malam ini" kata Nico tanpa basa-basi.


"Emeng situ tau penghasilan eike tiap malam, heh? Mahal loh, sekali crut dua juta! dikali 30 orang, sekali main satu orang bisa dua atau tiga kali, bang. Belum lagi yang kasih bonus, terus karya-" pembicaraannya langsung dipotong oleh Nico.


"100juta atau aku laporkan bisnismu ke pihak berwajib, dan aku yakin kau juga tak membayar pajak. Jangan coba menipuku, aku tahu bisnis kotormu ini tak sampai 10juta semalam dan karyawan dan pelac*rmu tak sebanyak itu.


Jangan buat aku menunggu dan marah, cepat!" teriak Nico, membuat semua orang di sana terdiam.


"Iye bang, jangan galak-galak dong. Ish, jahara deh!" ujarnya sambil berlalu pergi meninggalkan mereka semua.


Nico dan yang lainnya mengikutinya sampai kebelakang penginapan itu, disana ada sebuah gudang yang tadinya kandang terus dijadikan tempat penyimpanan barang.


Sayup-sayup mereka dengar suara isakan tangis seorang wanita, Jamilah si wanita jejadian nampak mengapit lengan Erick seperti takut mendengar suara itu.


Erick menepis tangannya, dia merasa risih sekali. Mana dia melihat ekspresi beberapa pengawal yang menahan tawanya karena ditempelin sama si bencos.


"Kalian semua tunggu diluar, kau dan aku masuk kedalam" kata Nico kepada yang lainnya.


Dia bersama Jamilah mendekati gudang itu, dan suara itu semakin terdengar jelas diiringi suara des*han pria asing. Darah amarah Nico semakin bergejolak mendengarnya.


Pintu itu tidak tertutup rapat sehingga mereka bisa mendengarnya dengan jelas, Nico langsung berlari menuju kesana.


Dia melihat dengan jelas Reva sudah tak berbusana lagi dihimpit oleh seseorang yang bertubuh lumayan besar, emosi melihatnya dia langsung mengambil linggis yang terletak tidak darinya dan menghantam kepala pria itu.


Saking kencangnya pria itu tak sempat menjerit, dia hanya terhenyak dan tidak lama kemudian darah yang mengalir dikepalanya menetes kebawah sampai mengenai kedua paha Reva.


Pria itu jatuh tersungkur ditubuh Reva dan Reva pun sudah jatuh pingsan, Nico tak bisa menahan tangisnya melihat keadaan Reva. Dengan menahan isakan tangisnya, dia menyingkirkan tubuh pria itu dan menyelimuti Reva dengan jaket dia pakai.


Dia menggendong Reva ala bride style sambil melewati Jamilah yang masih bengong dengan apa yang terjadi, yang dia pikir wanita dibawah rekan bisnisnya tadi merupakan calon wanita pekerjanya.


Ternyata wanita korban penculikan itu diperkosa oleh pria idamannya, iya lelaki yang memperkosa Reva pria idaman Jamilah. Miris sekali nasibnya.


Para pengawalnya terkejut melihat Nico menggendong Reva dengan ekspresi murka, air matanya tak bisa ditutupi. Dengan ekspresi marah, dia menatap gudang itu penuh kebencian.


"Bawa bajingan itu, dan kurung dia di markas kalian. Biarkan dia telanjang dan lukanya menganga, aku ingin dia merasakan rasa sakit yang Reva rasakan.


Ikat kaki dan tangannya, tutup matanya. Biarkan dia tersiksa kedinginan dan kesakitan, jangan beri dia makan dan minum! Aku ingin dia mati pelan-pelan!" ujar Nico memberi perintah.


Kemarahannya menguasai hatinya, menghilangkan akal sehatnya. Rasa sakit yang dirasakan kekasihnya membuatnya hancur.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


Maaf yah, akibat kesalahan saya sampai up bab yang sama tiga kali. untuk bab 44 dan 45 ketuker yah, gak bisa diubah karena di draft sudah kehapus 🙏🙏🥺


__ADS_2