Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Usaha Rendy untuk Andriana


__ADS_3

Andriana menarik Rendy dari kerumunan itu, mereka sepertinya sedang meributkan sesuatu, ada beberapa staf terkejut dengan kedatangan pimpinan mereka secara tiba-tiba itu.


"Ada apa ini? Kenapa diluar begitu rusuh, apa ada kejadian yang tidak aku ketahui?!" tanya Rendy terlihat marah.


"Maaf, Pak.. Selama ini tidak ada kejadian atau ada masalah apapun, kami bekerja sesuai aturan dan secara profesional, sesuai SOP kita. Tapi memang ada beberapa dari pihak lain yang kurang puas dengan pelayanan kita.


Kami sudah berusaha semampu dan semaksimal mungkin dalam melayani orang-orang, kadang ada dari mereka yang tidak sabaran dalam menunggu proses pengajuan mereka.


Karena kami juga tak boleh gegabah dalam mengambil keputusan, dan kami harus benar-benar menilai dan meneliti mana orang yang layak dibantu dan mana yang belum layak menerima bantuan ini," ucap salah satu ketua yayasan tersebut.


"Sepertinya mereka melakukan hal itu untuk menjatuhkan yayasan ini, Pak" ucap salah satu stafnya yang lain.


"Maksudnya?" tanya Rendy tak mengerti.


"Beberapa hari yang lalu, kami mendengar ada orang-orang yang bercerita mengenai keburukan yayasan ini saat masih dipimpin oleh bu Elena, dan mereka masih berpikir jika yayasan ini masih sama dengan yang dulu.


Padahal semenjak waktu itu, kami semua sudah bekerja keras agar yayasan ini bisa dipercaya lagi oleh publik dan masyarakat lainnya.


Tapi begitulah, sekali buruk maka akan tetap dianggap buruk oleh orang lain, meskipun kita sudah berusaha keras, tapi penilaian ada ditangan mereka" jawab staf itu sambil menunduk.


"Penilaian itu bukan dari mereka, meskipun tak bisa dipungkiri nama yayasan ini sudah jatuh disaat itu, tapi kita bisa memperbaiki semuanya dengan cara kita sendiri.


Jangan takut jika kita tidak salah, mari kita buktikan bersama jika yayasan ini masih yang terbaik dalam melayani masyarakat yang membutuhkan. Mari kita bekerja lebih keras lagi, dan layani mereka lebih baik lagi.


Dan jangan takut untuk membela harga diri yayasan ini, jangan mau direndahkan terus, apalagi mereka juga ternyata masih membutuhkan kita juga. Ayo semangat!" ucap Rendy memberikan harapan kepada para staffnya.


Mereka semua yang ada di sana kembali bersemangat kembali dan bersiap untuk menghadapi orang-orang yang membuat keributan diluar.


"Pak, kami ini sudah lama sekali menunggu keputusan dari yayasan ini mengenai pinjaman dana untuk usaha kami, padahal sudah sangat lama sekali!"


"Anakku butuh uang untuk berobat, tapi tidak ada bantuan sama sekali dari yayasan ini padahal surat permohonan sudah dikirimkan!"


"Pendidikan anak-anak di sekolah kami bagaimana, pak?!"


Itu sebagian dari keluhan orang-orang itu, mereka terlihat sangat marah dan kesal sekali, Rendy masih diam mendengarkan semua keluhan mereka, dan sambil menilai mereka.


Dia menerima beberapa berkas milik para pelamar bantuan itu, dia juga sebelumnya sudah diberi penjelasan mengenai kenapa lamaran atau pintaan mereka ditolak.

__ADS_1


"Bapak, kami menolak pinjaman dana anda karena melebihi jumlah limit dana yang kami berikan. Dan maaf, ini bukan Bank pak. Kami tidak memberikan pinjaman sebesar itu, apalagi tanpa jaminan.


Kami memberikan pinjaman dana untuk UMKM dengan pinjaman kecil tanpa bunga, sedangkan usaha bapak termasuk usaha yang besar, sebaiknya bapak bisa melakukan peminjaman di Bank saja" ucap Rendy menjelaskan untuk penolakan pinjaman.


"Untuk biaya pengobatan, ibu bisa membuat permohonan kembali untuk berobat di rumah sakit kami, dari pengobatan, rawat inap sampai fasilitas yang lain kami gratiskan bagi yang benar-benar mampu.


Jika ibu hanya butuh obat saja, kami ingin lihat resume obat yang disarankan oleh dokter seperti apa, jika obat-obatan itu ada di persediaan kami, maka kami akan memberikan secara percuma sampai anak ibu sembuh total, dan tetap dalam pengawasan kami, dan tentu saja didampingi dokter dari kami" sambung Rendy kembali.


"Dan untuk pendidikan anak-anak sekolah, bukankah untuk biaya sekolah di yayasan kami sudah digratiskan ya bu, pak? Termasuk seragam, peralatan menulis, dan kebutuhan lainnya sudah disiapkan.


Dan aku yakin dari penampilan kalian semua yang ada disini, kalian mampu menyekolahkan anak kalian ditempat lain yang lebih bagus, lebih mahal. Kenapa masih mengharapkan yayasan ini?


Karena yayasan ini diperuntukkan dan diprioritaskan untuk orang-orang yang tidak mampu, dan orang-orang yang benar-benar membutuhkan, meskipun dia tidak bersekolah di yayasan kami tetap kami bantu yang penting dia memenuhi persyaratan." Jawab Rendy panjang lebar kepada mereka semua.


Semuanya terdiam dan hanya saling pandang, sepertinya benar kata para staffnya, kalau ada yang sengaja membawa mereka untuk menjelekkan nama baik yayasannya.


Sedangkan Andriana tak henti-hentinya memperhatikan seseorang diantara mereka, dia melihat orang itu dengan pandangan kecewa, dan kesal.


Setelah diberikan arahan oleh Rendy, para orang-orang itu akhirnya mengikuti petunjuknya dan ada juga yang pulang dengan tangan kosong, karena mereka memang belum layak menerima bantuan dari yayasan tersebut.


Rendy dan Andriana masuk kedalam kantor lagi setelah semua urusan dengan para perusuh tadi sudah selesai, tiba-tiba ada tangan yang menarik Andriana.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau tau yayasan ini sangat buruk sekali, begitu banyak kejadian dan perbuatan korup disini!" ujar pamannya.


"Paman, sekarang yayasan ini tidak seperti itu lagi, semenjak yayasan ini diambil alih oleh pak Rendy dan bu Reva, yayasan ini kembali berfungsi sebagai mana mestinya" ucap Andriana tetap profesional.


"Sejak kapan kamu berpikir seperti itu?! Apa kamu lupa apa yang dilakukan oleh orang tua anak ini kepada orang tuamu? Apa hanya uang tak seberapa, kau jadi buta?!" teriak orang itu.


"Paman, tolonglah! Jangan buat kegaduhan, aku disini sedang bekerja, dan pekerjaanku ini baik, halal, dan banyak membantu orang. Apa yang salah dengan ini?


Untuk ayah dan ibu, itu semua adalah takdir mereka yang harus mereka jalani seperti itu. Ibu dan ayah meninggal bukan karena mereka juga, itu memang takdir mereka, dan anak-anaknya tidak bersalah dengan semua perbuatan orang tuanya dulu" ucap Andriana menjelaskan kepada pamannya itu.


"Andriana, siapa dia? Dari tadi aku dengar kamu menyebutkan namanya paman terus? Dan apa hubungannya dengan semua ini? Tolong jelaskan, biar aku mengerti apa yang kalian bicarakan!" sahut Rendy juga.


"Dia pamanku, Malik namanya. Adik kandung mendiang ayah, selama ini kami tinggal bersama saat mendiang ayah masih hidup bersama ibu.


Tapi paman Malik sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri, dia sampai saat ini belum menerima kematian ayah dan ibuku, yang menurutnya diakibatkan oleh ayah dan ibumu, maksudnya Elena.

__ADS_1


Aku tak percaya jika ayahmu tega melakukan hal itu kepada orang tuaku, tapi jika itu Elena aku percaya. Dan beliau tidak menyetujui aku bekerja disini, semenjak aku masih di perusahaan ayahmu dulu dia juga sudah sering memperingatkan aku.


Dia baik, Rendy. Pamanku sangat sayang padaku, karena beliau juga turut membesarkan aku, dia tak ingin aku celaka berada di keluarga ini, dan kamu tahu betul nama baik mendiang ayahmu sudah hancur dengan semua kejadian dulu, dia tak ingin aku terlibat lebih dalam didalam keluarga kalian" ucap Andriana malu harus mengatakan hal itu semua.


"Tidak apa, hal wajar jika beliau masih berpikir seperti itu, karena semuanya disebabkan oleh mendiang ayah dan Elena. Tapi sekarang semuanya berbeda, aku dan saudara-saudaraku akan memperbaiki semuanya, jika perlu kami siap melakukan apapun demi menembus kesalahan dimasa lalu" sahut Rendy lagi.


"Kamu pikir dengan uang bisa menyelesaikan semua masalah, kau benar ayahmu tidak melakukan apapun kepada kakakku dan istrinya, tapi dia tahu semua apa yang dilakukan oleh istrinya itu.


Dan dia hanya diam saja, sama saja dia juga ikut terlibat dengan semuanya. Dan ayahmu sengaja membawa Andriana bekerja dengannya untuk menebus kesalahannya dulu.


Tapi aku tak bisa menerimanya, aku rasa sekarang sudah saatnya kau pergi dari sini. Kamu bisa bekerja di perusahaan paman bekerja, kamu anaknya pintar dan bertalenta, banyak perusahaan yang mau menggajimu tinggi" ucap pamannya itu sambil menarik tangan Andriana lagi.


"Tau-tapi paman..." andriana tak tahu harus bagaimana dengan orang yang sangat dihormatinya itu.


"Ingat semua perlakuan ibunya dulu, ibumu meninggal karena perbuatannya dan aku yakin ayahmu juga begitu, dan aku takkan pernah memaafkannya, apalagi sampai kamu harus berada disini terus menerus bersama anak pembunuh ini!" ucap sang paman sengit.


"Pak, aku dan saudara-saudaraku berbeda dengan mereka, seperti aku katakan tadi, jika ada cara lain yang bisa menebus semua kesalahan itu, aku bisa melakukan itu semua asal kalian, bapak tenang kembali.


Dan Elena bukan ibuku, bukan wanita yang membesarkan kami, dia tak pernah menganggap kami anaknya.


Dan, aku berniat ingin menikahi Andriana, aku harap paman mau menerima dan merestui kami" ucap Rendy yakin.


"Aku tau, aku tau semuanya, Andriana adalah satu-satunya keluarga yang aku miliki selain anak dan istriku. Aku tak ingin dia menderita, jika kau bisa membuktikan semuanya tanpa harus menggunakan uang dan kekuasaanmu, aku akan mempertimbangkan restuku untuk kalian" ucap pamannya dingin.


Setelah itu dia pergi dari sana, sebenarnya sang paman sangat baik, dia tidak ingin keponakan satu-satunya itu mendapat Masalah nantinya, dia hanya ingin Andriana tidak mengalami masalah seperti yang dialami mendiang kakaknya dulu.


"Pamanku itu baik, Rendy. Dia hanya belajar dari masa lalu, masih berpikir jika ini semua masih sama seperti dulu.." ucap Andriana mencoba menjelaskannya kepada Rendy.


"Iya, aku mengerti. Dan aku faham betul apa yang ada didalam pikirannya, aku akan buktikan semuanya jika aku berbeda dengan apa yang dia pikirkan" ucap Rendy lagi penuh tekad.


"Apa kamu yakin? Ingat kata pamanku tadi, kau bisa membuktikan semua ucapanmu tanpa menggunakan uang dan kekuasaan, apa kamu bisa?" tanya Andriana lagi.


"Bisalah, apa yang gak bisa olehku. Apalagi untuk seorang Andriana apapun akan aku lakukan!" ujar Rendy dengan sumringah.


Andriana hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Rendy, dia tidak tahu bagaimana kerasnya pamannya itu mendidiknya, sepertinya Rendy akan diuji lebih dari dia bayangkan.


"Tidak apa, itung-itung mengerjainya sekali-kali! Anggap saja itu bentuk permintaan maaf darinya.." gumamnya sambil tersenyum geli.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2