Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Siapa yang sunat, Jessy or Aaron?


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Ericka membawa Azzam ke suatu tempat, dan tentunya dia merahasiakan tempat itu dari Azzam. Sedangkan Ceu Lina semenjak kepergian mereka mulai sibuk menyiapkan kamarnya Azzam, dan keperluan anak itu nanti.


"Kita mau kemana sih, Kak?" tanya Azzam penasaran.


"Nanti kamu juga tau kok, duduk yang tenang yaa.." jawab Ericka sambil tersenyum penuh arti.


Azzam sedikit bingung dengan sikapnya hari ini, tapi dia berusaha tenang dan berpikir mungkin Ericka sedang membawanya bermain ketempat yang sedang Viral saat ini.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai ke tempat yang mereka tuju. Azzam nampak heran dan bingung dengan tempat yang mereka tuju saat ini.


"Ini klinik kan, emang ada yang sakit yah? Kita kesini mau jengukin siapa, atau kakak yang sakit?" tanya Azzam penasaran.


"Zam, coba kamu liat banner dan papan nama diatas klinik itu, baca yang jelas.." Ericka malah memberikan jawaban diluar pertanyaannya.


"Klinik dr. Ahmad Ibrahim, spesialis sunat menggunakan metode laser teknologi canggih tanpa sakit.. Sunat, Azzam mau disunat ya, Kak?" Saat membaca itu dia langsung bisa menebak kedatangannya di sana untuk apa.


"Iya, Azzam senang?" tanya Ericka sambil tersenyum saat melihat reaksi Azzam yang nampak speechless.


"Iya, tentu saja! Yes, akhirnya sunat juga. Sunat, sunat.. Sunat, sunat.." Azzam melompat kegirangan.


Ericka bersama Azzam masuk kedalam klinik itu, sebelum masuk dia melihat diparkiran mobil ada mobil lain yang nampak familiar olehnya, kemudian dia masuk kedalam klinik menyusul Azzam.


"Siapa yah? Kayaknya kenal sama mobilnya.." gumam Ericka.


Setelah masuk, Ericka langsung ke bagian pendaftaran dan melengkapi berkasnya setelah itu Azzam melakukan serangkaian pemeriksaan, setelah diyakinkan anaknya dalam keadaan sehat maka mereka diminta untuk menunggu giliran, karena saat ini dokter Ahmad sedang melakukan sunat kepada pasien lain.


"Dokter Ahmad, mirip sama nama bapak Ahmad yang antar jemput Azzam setiap hari yah, hehe.." ucap Azzam sambil tertawa lucu.


Ericka senang, setidaknya langkahnya untuk membawanya ke klinik itu sudah tepat. Ternyata anak itu memang keinginannya saat ini adalah sunat, dan dipikir memang sudah waktunya juga.


Setelah itu terdengar suara pintu terbuka dari tempat dokter Ahmad praktek, menandakan pasien sunatnya yang pertama sudah selesai.


"Tolong jangan banyak bergerak ataupun melakukan aktivitas fisik lainnya, agar tidak membuat luka baru. Biar bentuknya masih bagus, hehe! Jika situ masih bekerja, cuti aja dulu setidaknya seminggu lah baru lukanya benar-benar kering.


Jangan pake celana da.lam yah, cukup kain sarung aja.. Kalau gak pake celana batoknya biar lebih nyaman" terdengar suara dokter Ahmad sedang memberi arahan kepada pasiennya.


"Kalau gak pake celana, dikerumuni lalat dong! Kan lalat demen tuh ama daging yang masih basah, hehe!" terdengar seseorang yang menyahutinya.

__ADS_1


Terdengar familiar dengan suara itu, bahasa Indonesianya sedikit kaku dengan nada kemayu, membuat Ericka tersentak mengingat seseorang. Dan benar saja seseorang yang dia pikirkan keluar dari sana bersama dokter dan dua orang lainnya.


"E-Ericka??!" Aaron terkejut saat melihat ada Ericka dan Azzam berada di sana.


Ericka yang lebih terkejut lagi, bagaimana bisa Aaron dan Jessy bersama dua orang kepercayaan Nico berada di sana. Sejenak dia pikir Jessy mau potong alat kela.minnya, tapi kenapa harus ke dokter sunat?


"Pasien selanjutnya?" tanya dokter Ahmad membuyarkan mereka semua yang nampak masih syok.


"I-iya!" jawab Ericka dengan gelagapan.


"Wah, ada si adek ganteng yang mau sunat! Berani yah, liat kakak ganteng itu aja berani, masa kalah.. Iya, gak? Hehe.." ujar si dokter ramah.


Azzam hanya mengangguk sambil tersenyum, dia mau menyapa Aaron dan lainnya tapi melihat reaksi mereka yang terkejut seperti itu, dia mengurungkan niatnya itu. Dia masuk mengikuti dokter yang diiringi oleh asisten sang dokter.


"Kakak mau ikut juga? Gak usah, aku berani kok! Lagian malu diliatin!" ujar Azzam saat melihat Ericka yang ikutan melipir dengan mereka, pura-pura tak melihat yang lainnya meskipun percuma juga karena mereka sudah saling berhadapan dan bertatapan juga.


"O ya, Azzam pasti berani. Semangat! Kakak tunggu diluar.." ucap Ericka memberinya semangat meskipun pikirannya saat ini gak fokus.


"Ha-hai, kami duluan yah.. Bye!" sapa Jessy mengikuti Aaron sudah kabur duluan.


"Wah, den Azzam mau sunat juga hari ini. Selamat yah.." ujar salah satu orang kepercayaan Nico kepada Ericka.


Setelah sampai diluar klinik, Aaron langsung berlari masuk kedalam mobilnya dengan terburu-buru, Stanley yang baru datang dari minimarket seberang melihatnya heran dan langsung menyusulnya.


"Tuan, jangan berlari! Nanti lukanya makin lebar, kasihan si dedenya!" teriak salah satu orang yang menemaninya tadi.


Mana teriaknya pas diluar lagi, otomatis beberapa orang yang lewat hanya tersenyum-senyum saja, karena tanpa dijelasin mereka sudah tau maksudnya itu.


"Sialan, kenapa harus bertemu dengannya disini?! Arrgh! Malu sekali, dia pasti berpikir yang tidak-tidak tentangku!" teriak Aaron didalam mobil seperti orang frustasi saking malunya.


"Sepertinya dia tidak akan berpikir seperti itu, menurutku sih.." ucap Jessy setelah masuk kedalam mobil menyusulnya.


"Kenapa kau bisa berpikir begitu?" tanya Aaron penasaran.


Jessy tak menjawabnya, dia hanya mengangkat bahunya saja, sedangkan Stanley hanya tersenyum geli duduk didepan samping supir.


"Ingat apa kata dokter, kau harus menjaga dan merawat anumu! Jangan banyak bergerak apalagi berlari seperti tadi, apa kau tak ingin menunjukkan hasil karya barumu kepadanya nanti?" goda Jessy, Aaron hanya melengos kesal dan malu.

__ADS_1


Sementara didalam klinik, Ericka masih berpikir tentang Jessy yang mau memotong miliknya di sana, kenapa gak di dokter bedah saja? Dan pikirannya yang salah faham itu terus berlanjut.


.


.


Sunatnya berjalan lancar, semuanya baik-baik saja sampai saat mereka tiba sampai ke apartemennya, Azzam tak henti-hentinya meringis kesakitan, efek dari obat bius sunatnya sudah hilang, maka dia juga baru bisa merasakan rasa sakit dan perihnya itu.


"Udah, gak usah ditahan-tahan A'.. Kalau mau nangis, nangis aja! Gak apa kok, saya ama si teteh bisa maklumi kok.." ucap Ceu Lina sambil tersenyum melihat Azzam yang sedang berbaring di kasurnya.


"Gak, ah! Azzam kan udah gede, masak masih nangis sih?! Biar Azzam tahan aja, tapi Teh Lina mau bantuin Azzam ya kalau Azzam mau minta tolong?" tanya anak kecil itu polos.


"Hehe, iya A'.. Pasti, udah istirahat aja dulu! Saya permisi keluar, kalau ada perlu panggil aja. Air minum sama makanannya udah saya siapkan di atas nakas samping A' Azzam.." ucap Ceu Lina.


"Iya, makasih Teh.." ucap Azzam sambil meringis menahan sakit, dia anak yang hebat dan kuat.


Rasa sakit itu mungkin tidak seberapa dibandingkan penyiksaan yang dia dapatkan waktu dulu. Dan sangat berbanding terbalik dengan situasi Aaron saat ini, lelaki kuat, perkasa dan jantan itu nampak terbaring lemas tak berdaya diatas kasurnya.


Entah harus berapa lama lagi dia menahan rasa sakit dan perih itu, dia lebih suka menerima dan menahan rasa sakit saat dipukuli waktu latihan bela diri daripada menahan rasa sakit ini.


"Apa sesakit itu?" tanya Jessy ikut meringis juga sambil memegang punya miliknya, entah kenapa pikirannya mau operasi ganti kela.min dia bubarkan semua.


"Apa perlu diperjelas?!" tanya Aaron terlihat marah, wajahnya pucat dengan keringat dingin mengucur disekitaran dahinya.


"Aku tak menyangka akan sebesar ini pengorbananmu demi cinta, wahai tuan pujangga.." ledek Stanley sesaat meletakan buah kesamping Aaron.


"Diamlah, kalian! Aku tak ingin membahas apapun saat ini, dan tolong biarkan aku sendiri saat ini, aaagghh!" teriaknya, tak sengaja kain sarungnya menyenggol sang 'karya baru' itu.


Dan saat ini di rumah Nico, nampak Reva dan Nico sedang tertawa terbahak-bahak menertawakan cerita orang yang disuruh Nico untuk menemani Aaron sunat ketika bertemu dengan Ericka di sana tadi.


"Astaga, aku gak bisa berkata-kata apa-apa lagi, haha! Pasti malunya bukan main, terus si Ericka saat ini mikirnya apa yah, haha!" ucap Nico tertawa geli.


"Haha, kasian si Aaron! Perjuangannya gak main-main, btw.. Si Ericka gak bilang kalau Azzam mau sunat hari ini? Emm, apa kita gabungin aja acara selamatan sunatan si Azzam sama Aaron?" tanya Reva nampak bingung.


"Janganlah, nanti si Ericka yang kebingungan jadinya! Ini kenapa dia bisa jadi tuan rumah juga buat acara slametan sunatan si Aaron sih? Ada-ada aja kamu, biarkan dia fokus ngurus si Azzam,, kalau dia nanya baru kita jawab.." ucap Nico bingung dengan pertanyaan yang absurd istrinya itu.


Reva menganggukkan kepalanya tanda mengerti, sedangkan Ericka sedang melakukan searching di internet tentang sunat bagi kaum transgender yang mau mengganti kelaminnya, gak nyambung sekali anda Ericka!

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2