Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Catatan Diary Ibu


__ADS_3

"Gak ada!" sahut Ericka langsung.


"Masa?! Tadi kakak denger loh kalian ngomongin soal rahasia-rahasiaan, apaan sih?!" tanya Reva kepo.


"Ehm, sebenarnya kemarin.. Aku udah ketemu dengan keluarganya Andriana, dan udah bilang juga ke mereka mau melamar Andriana secepatnya, paling bulan depan, kak!


Gimana, kakak udah siap buat bantu aku nyiapin lamaran nantinya? Bantu aku yah, soalnya aku gak tau apa-apa soal ini, hehe.." sahut Rendy, mencoba mengalihkan pertanyaan Reva kepada mereka.


"Apa?! Lamaran?!" tanya Reva dan Ericka kompak terkejutnya.


Reva memperhatikan Ericka, dia bingung kenapa dia ikutan kaget juga, padahal itu kan yang mereka bahas tadi?


"Ah, aku baru mau bilang sama dia soal rahasia itu tapi kakak udah datang aja, jadi belum sempat!" ucap Rendy lagi biar Reva tak curiga lagi.


"Oh begitu, pantesan!" sahut Reva sambil tersenyum.


"Maaf, gak tau. Hehe..," ucap Ericka juga berakting blo*n.


"Kok, kakak gak bilang sih?! Kan aku hampir ketahuan.." bisik Ericka kepada Rendy.


"Belum sempat, dan ini mendadak banget, bingung mau cari alasannya apa.." balas Rendy berbisik lagi.


"Ya udah, nanti kita bahas lagi yah.. Ayo turun, Nico udah nungguin dibawah untuk makan malam bersama.." ucap Reva lagi, kemudian dia keluar lebih dulu.


"Emang beneran kakak udah ngomong langsung ke keluarga kak Andriana?" tanya Ericka penasaran, diiringi anggukan Rendy.


"Jadi kemarin itu kesana untuk itu? Aku pikir buat pembuktian aja kalau kakak mau minta maaf soal kemarin itu.." sambung Ericka lagi.


"Iya, termasuk itu. Udah nanti aja ngebahasnya, nanti kak Reva denger lagi.." ucap Rendy sambil turun ke lantai bawah diiringi oleh Ericka.


.


.


"So, kamu setengah hari ini kemana Ericka? Kata Milah kamu baru pulang sore ini, tapi pas pulang dari pertemuan dengan om Richard, kamu gak ke kantor lagi kan?" tanya Reva dengan tiba-tiba.


"Kok kakak tau sih?" Ericka nanya balik.


"Om Richard lupa minta nomor ponsel kita masing-masing, dia udah punya nomorku dengan Rendy, tapi punyamu belum. Tadi kakak udah kasih nomor kamu ke dia, gak apa kaann..


Terus nomor kamu dihubungi katanya sibuk terus, ditelpon lagi malah gak aktif, kan kita khawatir sama kamu, nanya ke Rendy juga katanya gak tau.." jawab Reva lagi sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Oh, tadi saat diperjalanan mau ke kantor gak sengaja menyaksikan lakalantas, korbannya anak SMA, kasihan lalu aku tolong dia bawa ke salah satu rumah sakit milik kita.


Lokasinya gak terlalu jauh dari tempat kejadian, aku temani dia sebentar karena walinya belum datang, ditambah anak itu bolos pas jam pelajaran masih dimulai, jadi wali kelas dan gurunya pun ingin datang juga.

__ADS_1


Sempat ngobrol sebentar kok, habis itu langsung pulang.. Biasa, jam sore hari pasti sibuk dijalanan, macet! Makanya nyampenya udah sore banget.." jawab Ericka.


"Ooh, kasihan juga ya anak itu. Bagus kamu punya empati yang tinggi, bisa bantu orang dalam keadaan kritis begitu, terus anak itu bagaimana?" tanya Reva kembali penasaran.


"Udah siuman kok, lukanya juga gak terlalu parah. Terakhir aku pulang gurunya sudah datang, dan aku yakin orang tuanya juga sudah datang sekarang.." jawab Ericka lagi.


"Baguslah,, dan kamu Rendy, apa benar yang kamu katakan tadi, gak berusaha buat nutupin sesuatu kan dari Kakak?" tanya Reva curiga.


"Beneran, Kak.. Ih, gak ada ayah kok kakak yang gantian posesif kayak gini." Sahut Rendy sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan-jangan kedatangannya kali ini buat ngeliatin kita lagi, kayak emak kehilangan anaknya aja, hehe.. Kita baik-baik saja kak, dan maaf lupa ngabarin!" ucap Ericka lagi.


"Lah, aku sekarang yang bertanggung jawab atas kalian berdua. Meskipun kalian sudah besar dan dewasa, sudah bisa jaga sendiri, tapi bagi kakak kalian tetap anak kecil yang harus kakak lindungi dan jaga selalu.." sahut Reva gak mau kalah.


"Iyaaa, kak Reva vibes nya udah kayak ibu yang protektif tau gak sih?! Ntar sama dedek bayi jangan kayak gitu yah, kasihan!" sahut Rendy menggoda kakaknya.


"Apaan sih?!" ucap Reva sedikit gusar.


"Jangan digoda terus, nanti pulangnya dia marahnya ke aku tau gak!" sambung Nico juga sambil tersenyum kearah istrinya.


"Kamu juga ikutan lagi.." ucap Reva mendelik kearah suaminya.


.


.


"Kakak pamit pulang dulu, Rendy nanti kita bicarakan lagi perihal lamaranmu dengan Andriana, ingat bulan depan itu berarti minggu depan. Karena minggu depan itu udah awal bulan, mengerti?


Dan kamu Ericka, jika terjadi apapun harus hubungi kami, jangan gerak sendiri, ingat kita ini belum aman betul. Ya udah, kakak pulang dulu, see yours again!" ucap Reva kembali mengingatkan adik-adiknya.


Ericka dan Rendy hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakak pertama mereka itu, mungkin jiwa keibuannya sudah muncul, apalagi sejak kecil juga Reva yang menjaga mereka.


"Kak, sekarang kita harus bagaimana? Apa kita harus menyerahkan semuanya kepada Erick?" tanya Ericka antusias.


"Kita juga harus bergerak, tidak mungkin mengandalkannya sendirian. Bagaimana jika ada yang terlewatkan? Lagian, jangan terlalu percaya dengan orang, Ericka.." jawab Rendy serius.


"Ayo ikut Kakak ke ruang kerja ayah, ada yang ingin Kakak kasih tau ke kamu.." sambung Rendy lagi.


Mereka pergi ke ruang kerja mendiang ayah mereka, di sana suasananya masih sama saat sang ayah masih ada, mereka masih meminta para pelayan membersihkan tempat itu seperti biasanya.


"Lihat ini, aku menemukan buku diary milik ibu saat dia masih remaja hingga dewasa. Aku tak sengaja menemukannya saat sedang mencari file-file berkas milik yayasan ibu..


Masih tersimpan rapi, meskipun sedikit lapuk, dan tulisannya sedikit memudar dengan bukunya mulai menguning, tapi masih bisa dibaca dengan jelas dan dapat dimengerti.


Ini ada tiga buku diary, bacalah.. Mungkin kau menemukan sesuatu, aku baru baca sedikit. Tenang saja, aku yakin ibu dan ayah takkan marah, hehe.. Kakak tinggalkan kamu disini yah" ucap Rendy.

__ADS_1


Setelah itu dia meninggalkan Ericka sendirian didalam ruang kerja ayah mereka, Ericka menatap ketiga buku diary mendiang sang ibu, masih terlihat bersih dan rapi.


Diary itu berbentuk seperti buku agenda, tebal dan ada sedikit bercak noda diatas sampul buku itu, maklum buku itu sudah puluhan tahun tersimpan dan tak tersentuh semenjak pemiliknya tiada.


"Sepertinya ibu orangnya sangat rapi dan pembersih, bukunya di sampul dengan rapi menggunakan kertas kado, indah sekali dengan motif-motif bunga ini.


Hem, sepertinya aku pernah melihat bunga ini? Ah, iya! Bunga ini yang ditanam oleh ibu di taman samping rumah, ibu benar-benar menyukainya.." gumam Ericka sendiri.


Dia tersenyum sambil mengelus sampul buku itu, hingga akhirnya dia membuka buku itu lembar demi lembar dan menemukan foto ibunya yang masih muda, cantik! Hampir mirip dengannya hanya saja sang ibu memiliki rambut seperti kakaknya Reva, panjang bergelombang indah.


Hingga akhirnya dia memutuskan membaca buku itu, dia melihat tulisan sang ibu begitu indah dan rapi, sesuai karakternya yang asli.


Minggu, 12 Juni 1980


Hai Diary


Hari ini kami kedatangan para donatur pemberi sumbangan terbesar di yayasan panti ini, seperti biasa kami mulai menyiapkan semuanya untuk menyambut kedatangan mereka.


Entah mengapa aku merasa sangat senang sekali, padahal ini bukan yang pertama kalinya kami mengadakan penyambutan ini, apa karena dia aku begitu senang seperti ini??


Ah! Jantungku berdetak begitu cepat saat aku mengingat wajahnya, wajah yang begitu tampan dan memiliki senyuman yang manis begitu menawan hatiku.


Sudah berapa kali ia datang, tapi kami belum juga berkenalan. Aku malu jika bertemu dengannya, setiap kali dia datang menyapa kami, aku selalu bersembunyi dan membiarkan teman-temanku menemuinya.


Aku tak kuasa menatapnya lebih lama, aku takut.. Aku takut jatuh cinta kepadanya. Karena aku tahu kami berasal dari tempat yang berbeda.


Aku tau posisiku, derajatku dan level kami berbeda. Aku tak mau dia dicemooh jika dekat denganku, ah! Apa yang aku pikirkan?! Jangankan dekat, kami bahkan tidak saling mengenal.


Tapi aku merasa, dia sering sekali diam-diam kedapatan sedang memperhatikan diriku, apa hanya perasaanku saja? Tapi rasanya tak mungkin..


Minggu, 19 Juni 1980


Hai Diary


Satu minggu berlalu, dia datang lagi bersama teman-temannya mengunjungi kami, katanya mereka ingin mengadakan acara ultah saudara sepupunya bersama beberapa anak panti disini.


Aku sangat senang sekali, akhirnya kami bisa bertemu dan berkenalan meskipun itu tidak disengaja. Ibu panti memintaku membantu dia dan teman-temannya mengurus acara ultah itu, sehingga perkenalan itu terjadi.


Saat dia berdiri didepanku, jantungku berdetak dengan hebatnya, aku takut dia mendengarnya.. Wangi aroma tubuhnya semerbak dihidungku, wajah tampan itu terlalu menghipnotis ku, hampir saja aku lupa siapa diri ini.


Dia mengulurkan tangannya, menyebutkan namanya dengan percaya diri, dia begitu berwibawa dan tegas, aku menyukainya, tapi..


Kebahagiaan itu tak berlangsung lama, seorang gadis lain datang menghampiri kami, wajahnya sangat cantik, dan memiliki tubuh yang sangat proporsional seperti artis-artis di ibukota.


Yang kutau namanya adalah Elena, kata teman-temannya, mereka sudah bertunangan. Ah! Aku terlalu tinggi berkhayal, mengharapkan sesuatu yang tak mungkin aku gapai..

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2