
Sepanjang jalan didalam mobilnya itu, Nico masih membayangkan ciumannya dengan Reva tadi.
Setelah sekian lama, baru kali ini dia kontak fisik dengan lawan jenisnya. Yang dia sayangkan, kenapa dia tak berlaku lembut dengannya?
"Seandainya aku lebih lembut lagi, mungkin Reva bisa menerimanya" katanya sambil tersenyum-senyum sendiri.
Sementara itu mobilnya terus melaju ke rumah mewahnya itu.
Nicolas Abraham, pria muda dan tampan memiliki segudang bisnis real estate, fashion and beauty, dan lainnya.
Dia salah satu eksekutif muda yang berbakat, hanya saja hidupnya agak berbeda dengan lainnya. Dimana para eksekutif muda lainnya suka berpesta dan dikelilingi wanita cantik.
Tapi dirinya sibuk dengan bisnis dan kerjaannya, daripada berkumpul bersama dan menghabiskan waktu sia-sia dia lebih suka membaca buku di perpustakaan miliknya.
Tidak ada yang tahu, keluarganya dari kalangan bawah dan sangat miskin sekali. Tetapi puluhan tahun yang lalu, ketika mendiang kakek buyutnya masih bekerja sebagai petani milik saudagar kaya, kakeknya diberi amanah untuk menjaga harta warisannya.
Kakek Nicolas orangnya amanah, setelah sekian tahun akhirnya harta warisan itu kembali kepada sang pewaris asli.
Siapa sangka sang pewaris adalah Larasati Pohan, ibu kandung Revalina dan adik-adiknya.
Sampai saat ini, tidak ada satupun yang tahu tentang jati diri Larasati termasuk harta warisan triliunan itu.
Ketika keluarga Nico tahu kebenarannya, Larasati sudah meninggal. Dia hanya meninggalkan anak-anaknya saja.
Semenjak itu, Nico diminta menjaga anak-anaknya dan harta warisan itu. Tetapi dia tidak diam saja, dia terus mengembangkan usahanya itu dan tidak mengutak-atik harta itu.
Dengan kata lain, usaha dan bisnis Nico miliknya sendiri, sedangkan harta warisan itu masih tersimpan rapi dan tak disentuh sama sekali.
Siapa sangka, pertemuannya dengan Reva membuatnya jatuh cinta. Dia hanya ingin mengembalikan hartanya saja tanpa tahu identitas asli pewarisnya.
Setelah sekian lama, dia baru tahu gadis yang dia cintai ternyata pewaris asli itu. Semakin kuat keinginannya menjaga Reva dan adik-adiknya.
Tetapi dengan sikap dan penampilannya, membuat semua orang berprasangka buruk dengannya. Menganggap dia mafia, psikopat, dan lainnya.
Dia sengaja membangun citranya seperti itu, agar tak mudah orang mendekatinya. Karena dia tahu, ketika seseorang berkuasa maka akan ada banyak orang-orang mengelilinginya dengan niat buruk.
Dia sengaja mendekati keluarga Wijaya, mencari kelemahan mereka, dan tiba saatnya mengenal Elena saat kerja sama di bidang fashion and beauty.
Elena mengenalkannya pada Reva dan memintanya sebagai model ambasador fashion miliknya.
Dia juga mendekati Pricilia, untuk dimanfaatkan mendapatkan informasi tentang Reva.
Dengan kata lain Nico tahu semua mengenai rahasia keluarga itu, termasuk masa lalu Reva dan adik-adiknya bersama Larasati Pohan.
__ADS_1
Dipikirannya hanya ingin melindungi mereka, dan mendapatkan cintanya Reva. Dia memaklumi Reva, karena trauma dimasa lalu mendiang ibunya itu.
Saat tiba dirumahnya, dia langsung masuk ke ruang kerjanya. Rumah bergaya Eropa, klasik dan modern. memiliki banyak pelayan dan pengawal disekitarnya.
Sengaja dia melakukan itu untuk melindungi harta tak terjamah itu, dari berbagai pihak yang mengklaim miliknya.
"Dengar Nico, mendiang kakek sudah mengingatkan kita dan mempercayai kita menjaga amanah ini. Maka...
Sebagai cucu tertua di rumah ini, kau yang diberi amanah sebagai 'juru kunci' selanjutnya.
Kita semua sudah diwarisi harta yang banyak oleh kakek, jangan sekali-kali berbuat curang dengan mengambil yang bukan hak kita. Mengerti?!" amanat sang ayah terngiang di telinganya.
Di ruang kerja itu, terpajang foto-foto dari kakek buyutnya, kakeknya, ayahnya. Mereka adalah orang-orang yang diberi amanah menjaga harta tersebut.
Jangan sampai ada fotonya juga di sana, dia tak ingin menjadi bagian mereka yang tak bisa menunaikan tugasnya sampai berhasil.
Kali ini, dia harus menyerahkan harta itu ke Reva dan adik-adiknya. Dia tidak ingin terbebani terlalu lama oleh warisan itu.
Dia bingung dengan apa agar bisa mendapatkannya dan sekaligus mengembalikan warisan tersebut? Terlintas ide gila di kepalanya.
Pada saat itu, beberapa hari yang lalu sebelum pesta dimulai.
Dia menghubungi pak Dewantoro, dia menagih janji pria tua itu. Ternyata pak Dewantoro memiliki hutang yang cukup banyak kepada Nico.
"Halo, saya sudah menunggu lama. Saya akan mengambil apa yang sudah dijanjikan" ujar Nico dengan suara tegas.
"Apa?! Kau akan segera menikahinya? Tidakkah kau menunggu sebentar lagi?" tanya pak Dewantoro gelagapan.
"Tidak bisa, ini sudah terlalu lama. Bukankah kau juga akan senang jika dia pergi. Maka beban mu akan berkurang" seringai Nico.
"Tapi Pricilia mungkin belum siap, meskipun dia juga ingin menikah denganmu." Kata pak Dewantoro.
"Siapa bilang aku ingin menikahinya? Aku datang melamar Reva!" ucap Nico tegas.
"A-apa?! Re-Reva? Revalina?!" tanya pak Dewantoro tak percaya.
"Iya itu benar" tegas Nico memantapkan pilihannya.
Ternyata pak Dewantoro salah menilai, dia kira Nico menyukai Pricilia. Makanya dia tak keberatan jika harus melepaskan anak tirinya itu.
Ketika Nico menyebutkan nama Reva, dadanya terasa sesak. Meskipun hubungan mereka tak baik, baginya Reva tetap anak yang paling dia sayangi.
"Ta-tapi..." terdengar suara pak Dewantoro ragu.
__ADS_1
"Dengar, jika kau menikahkan aku dengannya maka segala bentuk hutang dan pinjaman mu akan ku anggap lunas.
Tapi jika kau tak mengizinkan kami menikah, maka semua pinjaman dan hutangmu akan berlaku dua kali lipat.
Dan kau harus segera melunasinya," ancam Nico. Sebenarnya bukan sifatnya berlaku tak sopan kepada orang yang lebih tua darinya, hanya saja dia sudah tahu semua dibalik cerita keluarga itu.
Dan terang saja, rasa hormat dan segan itu luntur seketika. Dia malah sangat membenci orang-orang yang suka berlaku kasar terhadap keluarganya sendiri.
Mau tak mau, pak Dewantoro menyanggupi persyaratan tersebut. Lagipula dia tidak akan rugi, mendapatkan menantu kaya raya dan begitu loyal.
Makanya, saat itu dia memberikan sebuah bingkisan gaun kesayangan istrinya, Larasati. Untuk diberikan kepada Reva sebagai gaun pernikahannya nanti.
*
Sementara itu, disisi rumah sakit.
Sekelebat bayangan hitam berlari diujung lorong rumah sakit.
Seorang pria berbadan tinggi, badannya cukup besar memakai pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan maskernya.
Dia tersengal-sengal mengatur napasnya, dia membuka topi dan maskernya. Ternyata dia Pramudya, dia datang untuk melihat keadaan Ericka di rumah sakit itu.
Dia tak menyangka akan melihat adegan mengejutkan di sana, saat Reva disudutkan didinding oleh Nico, bahkan dia juga melihat mereka nampak berciuman di sana.
Seketika wajahnya merah padam, dia menahan emosinya. tangannya gemetar, matanya merah berkaca-kaca.
"Aku takkan membiarkan ini terjadi, dia tidak boleh dekat dengan siapapun. Kalaupun itu ada, itu harus aku!" Tidak disangka, Pramudya juga menyukai Reva.
Reva merupakan cinta pertamanya, meskipun mereka saudara tiri tapi tak ada ikatan persaudaraan sama sekali di keduanya.
Dia meninggalkan rumah sakit itu dengan perasaan berkecamuk, meskipun dia memiliki banyak wanita, dihatinya hanya ada Reva semata.
Sementara Reva, masih duduk termangu didepan adiknya yang masih tertidur itu. Entah kenapa, pandangan dan ciuman Nico masih terbayang di kepalanya.
Karena itu Ciuman pertamanya juga, Nico lelaki pertama membuatnya berdebar. Mungkin karena selama ini dia tak pernah menyerah mendapatkannya.
Berhasil membuat Reva terkesima dengannya, tapi itu belum cukup karena sikapnya yang agak kasar itu belum lagi mengenai berita miring tentangnya itu.
Membuat Reva masih ragu dengannya, Reva bingung dengan perasaannya. Antara suka dan benci sulit baginya membedakannya.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1