
Ericka terduduk lemas, badannya lelah dan telapak tangannya lecet karena terus-menerus menggedor pintu toilet itu.
Dia menangis, berusaha payah dia untuk bangkit keluar dari lingkaran hinaan tersebut, tetap saja dia jadi incaran para pembully itu.
"Aku salah mengira, aku pikir mereka tidak akan lagi menghina dan memperlakukan aku sebagai orang rendahan lagi.
Ternyata benar kata kak Reva, aku harus bangkit sendiri. Tak ada gunanya mengandalkan orang lain ...
Ta-tapi, aku ..." dia tak tahan, air mata itu tumpah kembali.
Diluar pintu ruang toilet itu, Nico berdiri mematung melihat kearah pintu. Rasanya ada yang mengganjal, karena pintu itu ditandai rusak.
Ada kesan memaksakannya, pintu itu tertutup rapat dan didepannya ditaruh tong sampah besar dan ditulis rusak dengan tulisan tangan.
Pada umumnya, untuk sekelas hotel bintang lima dan termasuk hotel mewah itu tidak sesuai dengan SOP.
Seharusnya depan pintu itu ada garis kuning dan dikasih plang tanda tidak bisa dipakai.
Nico ingin masuk kedalam, tapi dia tidak bisa karena itu toilet perempuan. Dia melihat ada petugas kebersihan lewat di sana.
"Permisi Mas, ini toilet perempuan rusak yah, kok cuma dikasih tanda begitu? SOP nya mana?
Nanti dikira orang-orang ini tulisan iseng loh?!" tanya Nico kepada petugas tersebut.
"Iya Pak, maaf... saya coba tanyakan dulu ke petugas yang jaga disini, permisi..." jawab petugas tersebut.
Petugas itu berjalan setengah berlari menuju arah pintu pegawai, tempat biasanya para petugas atau pegawai untuk beristirahat.
setelah itu datang seorang petugas perempuan yang jaga toilet itu, dia nampak tergesa-gesa sekali.
"Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya nampak gugup didepan Nico.
"Saya mau nanya, ini toilet rusak yah? Kok cuma dikasih tanda begitu?
Maaf sebelumnya, saya memang bukan pemilik hotel ini tapi hotel ini milik teman saya.
Saya tidak ingin nama baiknya jadi jelek karena layanannya, terutama tentang toilet ini." Kata Nico.
Petugas wanita itu nampak bingung menatap pintu toilet itu, dia memperhatikannya.
Dia menggeser tong sampah itu, lalu mencopot tulisan di pintu itu.
"Ini bukan saya Pak yang tulis, dan saya juga tidak menutup toilet ini. Toilet ini masih bisa digunakan," jawab petugas perempuan itu.
"Kalau begitu, bisa dijelaskan kenapa ini bisa terjadi?" tanya Nico lagi.
"Maaf Pak, saya salah... tadi saya tinggal sebentar untuk istirahat" jawab petugas itu sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Reva datang, dia hendak mencari Ericka kedalam toilet. Lalu melihat Nico nampak memarahi salah satu pegawainya.
"Ada apa ini? Kenapa kamu terlihat memarahinya Nico?" tanya Reva pada Nico.
Pegawai itu nampak terkejut melihat Reva, semakin gemetaran badannya takut dimarahi olehnya.
"Ini aku menegurnya karena lalai da-" belum selesai Nico berbicara, Reva langsung memotong pembicaraannya.
"Minggir!" kata Reva sambil mendorong badan Nico kesamping.
Reva langsung mendobrak pintu toilet itu, diikuti Nico dan petugas perempuan itu masuk kedalam toilet.
Hening dan sepi, tidak ada orang satupun didalam. Toilet juga nampak bersih dan rapi, petugas itu lega setidaknya pekerjaannya aman.
Hanya ada bekas tetesan air didalam wastafel, tandanya baru dipakai. Tercium samar-samar aroma parfum di ruangan itu.
"Tidak ada siapa-siapa disini, ayo Reva kita cari Ericka ditempat lain" ujar Nico.
Saat itu, kondisi Ericka benar-benar lemas. dia kepanasan, sirkulasi udara di sana kurang, dia mendengar semua pembicaraan diluar.
Tetapi dia tak bisa bergerak dan berbicara, lelah karena terlalu banyak bergerak dan menangis, ditempat kecil dan sempit itu dia tak bisa minta tolong ke kakaknya itu.
"Tunggu dulu, disini ada tiga bilik toilet. Mari kita periksa satu-satu" kata Reva seraya menarik kenop pintu toilet bilik pertama.
"Reva, kalau memang ada adikmu disini pasti dari tadi dia berusaha berteriak atau meminta tolong.
Reva terlihat ragu, ada benarnya juga Nico. Jika memang Ericka ada disini sudah pasti dia berteriak minta tolong.
Mereka keluar meninggalkan toilet tersebut, Ericka yang sedari tadi diam lemas hanya menitikkan air matanya.
Dugh!
Kaki Ericka tak sengaja menendang pintu di biliknya terkurung, Reva dan yang lainnya menoleh kearah suara itu.
Suara itu nampak pelan tapi jelas sekali suaranya, firasat Reva sudah tidak enak hati dia buru-buru membuka bilik kedua toilet itu.
Terkunci, Reva bingung bagaimana cara membuka pintunya, Nico berinisiatif mendobrak pintu itu.
"Tunggu dulu Nic, bagaimana jika Ericka yang ada didalamnya pasti dia akan terluka kena dobrakan pintu itu!
Eri! Eri! Ericka?! Ini Kakak, buka pintunya! Kamu ada didalam kan?! Eri!" teriak Reva tak sabar.
"Sabar Reva, biar aku cari cara membuka pintu ini" ujar Nico, dia berusaha mencari sesuatu di toilet tersebut untuk membuka bilik itu.
"Sebentar Pak, saya akan mencari alat-alat yang bisa membuka bilik itu" ujar petugas perempuan tadi.
Dia bergegas ke ruangannya mencari alat-alat yang sekiranya bisa membuka bilik itu, petugas itu datang lagi bersama teman-temannya.
__ADS_1
Mereka ingin membantu membuka bilik itu, apalagi saat mereka mendengar bahwa anak bos besar mereka yang terkurung didalamnya.
"Eri, Eri sayang... sabar yah, sebentar lagi pintunya terbuka. Tunggu dulu yah" ujar Reva berusaha menyemangati adiknya yang didalam.
Seandainya Ericka masih sadar, pasti dia senang bahwa kakaknya datang untuk menolongnya.
Tapi gadis lemah itu sudah tak sadarkan diri, badannya yang kecil itu terlalu lemah untuk bertahan lama di sana.
Terdengar suara bising dari dalam toilet, membuat orang-orang yang diluar penasaran. Apalagi ada beberapa tamu untuk menggunakannya, dilarang masuk dan menggunakan toilet tersebut.
Mereka diminta dialihkan ke toilet lain, mereka semua penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Akhirnya, setelah lama menunggu pintu bilik itu terbuka juga, bilik kedua didalam toilet itu Ericka terkunci di sana.
Saat pintu dibuka, terlihat Ericka terjatuh keluar. Berarti dari tadi dia duduk bersandar di pintu itu, makanya pas pintu terbuka dia juga terdorong keluar.
Reva menangis sejadi-jadinya melihat kondisi Ericka yang menyedihkan itu, badannya penuh keringat terlihat juga bagian telapak tangannya melepuh akibat lecet terluka.
"Eri, Eri! Ya Tuhan, kenapa adikku harus menanggung semua ini?" Reva menangis pilu tak tahan melihat kondisi Ericka.
Ambulans datang membawanya ke rumah sakit, sementara pesta terpaksa dihentikan.
Julia dan teman-temannya pun sudah membubarkan diri, mereka nampak puas menghancurkan pesta tersebut.
Saat diparkiran, mereka masih tertawa puas melihat Reva menangisi Ericka yang sudah pingsan itu.
"Tapi bagaimana jika mereka menyusut masalah ini? Aku tak mau terlibat masalah hukum" ujar salah satu temannya Julia.
"Tenang saja, Ericka itu pengecut dan bodoh. Dia tidak akan berani mengadukan kita, dia tahu betul sedang berhadapan dengan siapa" ujar Julia sambil menyunggingkan bibirnya.
"Ini urusanmu Julia, kami tak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu nanti.
Sesuai dengan janjimu, kau yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu nanti. Kau tahu orang tuaku pengacara, aku tak ingin merusak nama baik mereka nantinya" kata Della, salah satu temannya Julia.
"Seharusnya kau memikirkan itu sebelum membantuku, temanku yang cantik. Tenanglah, aku yakin tidak akan terjadi apapun nantinya" ujar Julia lagi dengan mantapnya dia berbicara begitu.
Seolah dia yakin, tidak akan terjadi apapun diantara mereka pasca membuat Ericka pingsan, karena lemas dan terluka.
Sekali lagi, mereka dipergoki oleh Nico. Dia tak habis pikir, anak-anak yang masih remaja ini sudah pandai berbuat kriminal.
Bagaimana nanti jika mereka sudah besar? Sempat terlintas dibenaknya ingin merekrut mereka jadi bawahannya.
Buru-buru dia menepis pikiran itu, dasar bodoh kau apakan para bocah-bocah itu nantinya? pikirnya.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1