
Setelah selesai sarapan, seperti biasa Ericka pergi ke kantor sambil membawa bekal sarapan untuk ayahnya itu. Dia yakin semalam pak Dewantoro kabur ke kantornya ini.
"Selamat pagi, Bu" sapa security yang bertugas pagi itu.
"Pagi, Pak. Emm, apakah pak Dewantoro sudah ada di kantor?" tanya Ericka.
"Dari semalam bapak sudah ada disini, Bu.. Kurang tahu apa yang beliau lakukan diatas, sampai sekarang belum keluar juga" kata security itu, dia kelihatan sangat lelah sekali.
"Oh, baiklah. Em, Bapak mau pulang, sudah waktunya pergantian shif kerja yah?" tanya Ericka ramah.
"Iya, Bu. Ini lagi nunggu pergantian shif saja" jawab security itu sopan.
"Baiklah, Pak. Selamat beristirahat.." ujar Ericka sambil mengulurkan beberapa lembar uang pecahan ratusan ribu itu.
Security itu nampak terharu dan berterima kasih dengannya, seumur-umur dia bekerja di perusahaan baru ini dia mendapatkan bos yang begitu peduli dengan bawahannya seperti dirinya saat ini.
Itu adalah salah satu contoh yang disukai para karyawan di perusahaan itu kepada Ericka, selain tegas dan disiplin dia juga begitu perhatian dan peduli dengan mereka.
Pada awalnya ada beberapa karyawan ingin resign dari perusahaan itu, tapi tidak jadi karena kebaikan bos mereka yang baru ini, dan dia konsisten dengan kebaikannya itu. Sehingga banyak karyawan yang begitu loyal kepadanya dalam bekerja.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!" terdengar suara pak Dewantoro dari dalam.
Ericka masuk dengan hati-hati dan mendekati ayahnya itu pelan-pelan karena saat ini pak Dewantoro dalam kondisi tidak baik-baik saja. Pak Dewantoro menyambut kehadirannya dengan senyuman hambarnya.
"Pagi, Ayah.." sapanya dengan senyuman manisnya.
"Hem.." sahut pak Dewantoro.
"Ayah kemana saja semalam? Pergi tanpa kabar.. Ini aku bawakan sarapan, nasi goreng buatan bi Mirna. Enak banget!" ujarnya.
"Terima kasih.." jawab pak Dewantoro sambil melahap nasi goreng itu.
Ericka melihatnya makan dengan lahapnya itu sangat miris sekali melihat kondisi lelaki tua itu, sepertinya dia belum makan sejak tadi malam. Bagaimana tidak dari sore dia sudah sibuk mengurus pertunangan Pricilia yang beralih menjadi hari pernikahannya, ditambah lagi situasi yang kacau membuatnya stres dan tidak menginginkan apapun.
"Ayah..." sapanya lagi.
Tapi pak Dewantoro sibuk dengan urusannya sendiri, selesai melahap habis nasi goreng dia juga makan sandwich dan buah juga, untung Ericka membawakannya sarapan cukup banyak untuknya.
"Kenapa? Mau tanya apa atau mau mengatakan apa, aku tak peduli! Aku tau kau datang untuk meledekku kan?! Iya, ya! Kau benar ini adalah karma bagiku karena telah mengecewakanmu.
Aku ambil pestamu dan kuhancurkan seketika, tapi aku langsung mendapatkan balasannya. Ahahaha! Siapa sangka nama baik keluarga Wijaya hancur dalam semalam!
Apakah kau belum lihat berita di headline news sekarang? Betapa mereka menertawakan kebodohan dua keluarga itu, sama-sama mengambil keuntungan tapi nyatanya buntung! Memalukan, aku tidak berani keluar dan menunjukkan wajahku kepada mereka semua" ujar pak Dewantoro terlihat sangat kecewa sekali.
__ADS_1
"Itu bukan salahmu, Ayah.. Kau hanya ingin menunjukkan sebagai suami dan ayah yang baik saja kepada istri dan anak tirimu itu, siapa tahu kalau kejadiannya seperti ini.
Yang perlu Ayah hadapi saat ini istri dan anakmu itu, tanyakan pada mereka bagaimana bisa mereka tidak tahu identitas asli lelaki itu?! Dan Ayah, mengenai putrimu itu.. Sampai kapan kau akan terus menjaga dan melindunginya yang jelas-jelas menghancurkan reputasimu?!
Apa kau sudah buta dan tuli, sampai-sampai kau tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah? Sampai-sampai kau rela melakukan semuanya atas nama cinta..
Sedangkan cinta itu tidak seperti itu, cinta itu maknanya begitu dalam. Jika cinta datang hanya sepihak, tapi tidak dengan pihak lain itu bukan cinta namanya. Sudah cukup Ayah menghancurkan diri demi orang yang hanya memanfaatkanmu saja.." ujar Ericka mengeluarkan pernyataannya.
Setelah itu dia pergi dari ruangan pak Dewantoro, dia memberikan waktu untuk lelaki tua itu berfikir sekali lagi tentang perkataannya tadi agar dia sadar telah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal.
Tapi diujung koridor dia melihat Elena berjalan kearah ruangan pak Dewantoro, Ericka tidak akan membiarkan wanita licik itu membuyarkan fokus pak Dewantoro dengan semua perkataannya.
"Aku takkan membiarkan ular licik ini mengganggu ayah saat ini, jika dia datang dan mengatakan sesuatu, aku yakin lelaki tua itu akan terpengaruh lagi olehnya" gumamnya.
Ericka berjalan kearah Elena, mereka saling bertatapan dengan tajam seolah tidak ada yang mau mengalah dari langkahnya. Sampai keduanya berhenti dan saling berhadapan, Elena menatap Ericka dengan pandangan penuh selidik.
"Minggir dari hadapanku!" bentaknya.
"Tidak bisa ini adalah jalanku, kau yang harus minggir dari sini. Dan apa yang kau lakukan disini?" tanya Ericka penuh selidik.
"Bukan urusanmu! Lagian ini kantor suamiku, dan juga ini pasti kantorku juga! Minggir kataku!" teriaknya lagi.
"Kata siapa ini kantormu? Benar ini kantor suamimu, tapi buka milikmu. Tidak ada tertera di surat wasiat atau ahli waris atas namamu ataupun anak-anakmu itu! Tidak ada!" ujar Ericka memancing emosi Elena.
"Kau ini! Dasar rubah licik, mau apa kau, hah?! Sudah cukup kehadiranmu disini membuatku pusing, jangan membuat masalah denganku kalau tidak ingin bernasib seperti--" ucapannya langsung dipotong oleh Ericka.
"A-apa maksudmu?! Apakah kau yang merencanakan semuanya kejadian semalam?!" tanya Elena terlihat kaget sekali.
"Tidak, siapa bilang! Justru kalian yang menghancurkan pestaku yang sudah kubuat semewah dan semeriah mungkin. Jangan lempar batu sembunyi tangan, Nyonya!" ujarnya sambil tersenyum sinis.
"Mari ikut aku, daripada disini kau hanya mengganggu ayahku saja mending kau urus saja urusanmu diluar sana! Aku yakin kau harus menjelaskan sesuatu kepada mereka semua" ujarnya sambil menarik tangan Elena naik kedalam lift dan turun kebawah.
Dan benar saja, masih pagi para wartawan sudah berkumpul didepan kantornya saat ini, mereka ingin bertanya perihal kejadian semalam, mereka melihat Ericka dan Elena dan ingin menerobos masuk untuk mewawancarai mereka berdua.
"Kau lihat, di sana begitu banyak wartawan dan manfaatkan momen itu untuk bisa menjadi terkenal sesuai keinginanmu selama ini" ujarnya sambil mendorong Elena keluar dari kantornya.
Tentu saja itu mengagetkan Elena dan beberapa security dan pengawal yang ada di sana, mereka terpaksa menahan Elena yang ingin kembali masuk kedalam kantor.
"Biarkan aku masuk! Apa yang kalian lakukan?!" teriaknya tidak terima.
"Maaf, Nyonya. Sesuai peraturan yang baru, pihak yang tidak bersangkutan dengan perusahaan ini tidak dipersilahkan masuk ke kantor ini kecuali kalau sudah ada janji" jawab salah satu security itu.
"Ta-tapi aku--" dia ingin menjelaskan bahwa dia orang berkuasa juga di perusahaan itu.
Tapi dirinya terus didesak oleh beberapa wartawan dengan beberapa pertanyaan termasuk kenapa dia harus dikeluarkan paksa dari kantor itu, padahal dirinya adalah istri dari pemilik perusahaan itu sendiri.
Melihat dirinya sudah terpojokkan, Elena buru-buru memakai kacamata hitamnya untuk menutupi wajahnya dari beberapa paparazi dan langsung naik ke mobilnya, menghindari kejaran para wartawan itu.
Sementara itu Ericka hanya tersenyum sinis melihat wanita licik itu masih saja sok bergaya didepan orang, dengan apa yang terjadi semalam tidak membuatnya cukup malu didepan banyak orang.
__ADS_1
"Kalian, jangan biarkan siapapun masuk kedalam siapapun itu kecuali mereka yang sudah ada janji, dan minta konfirmasi ke resepsionis ataupun orang-orang yang diatas. Kalau mereka memaksa masuk lempar saja mereka keluar.
Kalau tidak, telpon aku dan biarkan aku menemui mereka dari bawah sini, mengerti?!" perintahnya kepada beberapa security perusahaan dan pengawalnya.
"Baik, Bu!" sahut mereka serempak.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian Ericka baru saja ingin naik ke lift menuju ruangannya, tiba-tiba saja dia mendengar suara bentakan dari luar. Dan ternyata itu Pramudya, melihatnya Ericka tersenyum simpul.
Dia langsung mendekati kearah Pramudya yang terus memaksa masuk dan mencaci maki para security dan pengawal dengan cara merendahkan mereka, seandainya kalau tidak memikirkan lelaki busuk itu adalah salah satu pimpinan perusahaan ini, mungkin mereka sudah menghajar habis Pramudya.
"Apa yang kau lakukan?! Berteriak tidak jelas seperti ini, memalukan sekali!" bentak Ericka kearah Pramudya.
"Hei, kau! Kasih tau kepada anak buah busukmu ini untuk membiarkan aku masuk! Aku adalah pemimpin perusahaan ini, bagaimana bisa mereka bisa memperlakukan aku seperti ini!" teriak Pramudya tidak terima.
"Kecilkan suaramu itu, kau hanya mempermalukan dirimu sendiri!" bentak Ericka.
Karena teriakan Pramudya mulai memancing karyawan lainnya memperhatikan mereka, dia tidak ingin para pegawainya tidak fokus dengan kegiatannya gara-gara ulah si pembuat masalah ini.
"Baiklah, kau boleh masuk tapi dengan tenang! Jangan buat kehebohan" ujar Ericka.
Akhirnya dia berhasil juga masuk dengan bantuan Ericka, tapi tidak berhenti sampai di sana, Ericka masih memberikannya syarat yaitu dia harus memakai id card sebagai tanda pengenal sebagai karyawan di perusahaan itu.
"Kenapa aku masih harus memakainya?! Tanpa memakainya juga semua orang juga tahu bahwa aku adalah karyawan perusahaan ini, bos malah!" sahut Pramudya dengan pongahnya.
"Tentu saja harus, kecuali pak Dewantoro dan aku yang bebas tidak perlu memakainya. Karena kami bos yang sesungguhnya, kau hanya pegawai biasa sama seperti yang lain" ujar Ericka membuat Pramudya kesal minta ampun.
Dia terpaksa mengikuti keinginan Ericka agar bisa masuk ke kantor dan mengadukan ini semua kepada ayah tirinya itu, dan dia yakin ibunya juga ada di sana.
"Berbuatlah sesukamu saat ini, tidak akan lama lagi aku juga akan menghancurkan hidupmu sama seperti adik kecilmu itu. Hem,, apa yang dilakukan oleh Pricilia sekarang ini?
Apa dia sekarang tinggal di kampung halaman suaminya? Secara suaminya juga sudah bangkrut dan diusir dari rumah orang tua angkatnya, itu adalah hasil yang dia tanam selama ini" gumam Ericka sambil membawa Pramudya masuk kembali ke Kantornya.
//
Sementara itu, disebuah desa yang sangat jauh dari kota dan juga jauh dari teknologi maju.
Di sanalah saat ini Pricilia berada, mau gak mau dia mengikuti Aldy secara paksa tinggal bersama kedua orang tua kandung Aldy yang jauh hidupnya dikatakan mewah.
Mereka tinggal disebuah rumah yang sangat sederhana, kedua mertuanya sangat baik meskipun sang suami sangat kasar, dan Aldy juga memiliki adik lelaki bernama Aldo.
Dan adik lelakinya itu penyandang disabilitas, jadilah Pricilia harus tinggal di rumah sederhana itu dan ikut membantu mertuanya mengurus adik iparnya yang disabilitas itu dengan temperamen yang buruk juga.
Sedangkan Aldy entah pergi kemana, dia selalu pulang malam dan selalu minta Pricilia melayaninya tiap malam, membuat gadis itu lelah siang dan malamnya.
Dia hanya terisak menangis memikirkan nasibnya, dan menyadari bahwa ini adalah sebuah karma yang harus dia jalani selama sisa hidupnya itu.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1