
Sepulang dari acara kelulusan dan wisudanya, Ericka pulang tidak berdua saja dengan bi Mirna. Ada Reva juga bersamanya.
Mereka naik mobil mewah milik Reva, seumur hidupnya baru kali ini Ericka merasakan naik mobil mewah seperti itu.
"Bagaimana, kau senang?" tanya Reva, sambil tersenyum kearah adiknya itu.
"Iya Kak, terima kasih sudah membiarkanku naik mobil bagus ini" kata Ericka.
Ada perasaan sedikit ngilu di hati Reva mendengar pernyataan adiknya itu, baru kali ini juga dia bisa berjalan berdua dengannya.
Biasanya, untuk bertemu saja susah selalu dihalangi oleh ibu dan saudara tirinya yang lain.
"Jangan begitu, kita ini bersaudara. Andai Kakak punya waktu banyak, Kakak ingin sekali menghabiskan waktu bersamamu" kata Reva berkaca-kaca.
"Sudahlah Kak, begini saja aku sudah senang" ujar Ericka.
Reva menjadi terharu dengan adiknya itu, dia membiarkannya menyender di bahunya.
Bi Mirna melihat itu semua, ingin sekali dia menangis kencang saking terharunya dia.
*
Mereka sudah sampai di rumah, tidak disangka semua orang sedang berkumpul.
"Wow, Cinderella datang darimana ini? Gaun mu bagus sekali, sangat cocok dengan perhiasan dan riasan mu juga," ujar Pricilia tanpa sadar berujar didepan mereka semua.
Senada dengan Pricilia, Pramudya juga tak sadar ikut memuji adik tirinya itu.
"Kamu cantik juga ternyata, coba setiap hari kamu dandan seperti ini, 'kan enak dilihatnya.
Jangan sia-siakan wajah itu, bosan tahu tiap hari lihat muka kusam mu itu."
Ericka tidak tahu harus bersikap seperti apa didepan mereka semua, dia hanya tersenyum kaku.
"Diam kalian semua! Jangan ganggu dia. Biarkan dia pergi, dia harus istirahat" ujar Reva dengan nada ketus.
"Baiklah Nona Reva, silakan" kata Pramudya dengan sinis nya.
Mereka melihat kedua kakak beradik itu menaiki anak tangga, dengan perasaan kesal mereka menggerutu.
"Katanya kemarin kau bertengkar dengannya kemarin di agensi?" Pramudya bertanya pada Pricilia.
"Jangan ikut campur!" jawab Pricilia dengan kesal.
Dia tidak ingin mengingat kejadian memalukan itu.
"Lagian kamu juga, baru sehari masuk sudah berbuat ulah.
Kamu juga tahu, ibu takkan membantumu. Sedangkan Reva aset bagi agensi dan perusahaannya.
Jika kamu ingin menang, lakukan usahamu sendiri tanpa campur tangan orang lain" kata Pramudya berusaha menasehati adik kembarnya itu.
"Diam kamu, aku bilang jangan ikut campur! Ini urusanku dengannya, biarkan aku menyelesaikannya sendiri" ucap Pricilia.
Dia berlalu pergi meninggalkan Pramudya sendirian, dia sangat kesal sekali dengan saudaranya itu.
Saat dia ingin keluar, tidak sengaja menabrak bi Mirna yang masuk dari arah luar.
Bi Mirna membawa paper bag yang berisikan piala dan piagam milik Ericka.
"Apa yang kau lakukan?! Kau ingin membunuhku, hah!" Reaksi berlebihan Pricilia itu memancing Pramudya dan mendekatinya.
"Kamu kenapa sih, marah-marah terus? Apalagi sekarang?!" tanya Pramudya tidak sabar menghadapi adik kembarnya itu.
Pramudya melihat bi Mirna masih terduduk dilantai, terlihat sekali wanita tua itu ketakutan sehabis dibentak Pricilia.
"Bangunlah, kenapa masih duduk disitu?!" kata Pramudya kepada bi Mirna.
"I-iya, Tuan, maaf..." kata bi Mirna hati-hati.
__ADS_1
Pramudya dan Pricilia melihat isi paper bag ditangan bi Mirna.
"Apa yang kau bawa itu? Punya siapa itu?" tanya Pricilia penasaran.
"Ini punya non Ericka, Nona" jawab bi Mirna.
"Punya dia? Apa yang dia lakukan sehingga bisa memiliki itu?" tanya Pramudya cukup heran.
"Apalagi kalau bukan mencuri, dengan apa coba dia mendapatkannya.
Bergaul dengan orang juga tidak, teman apalagi? Heh, gadis bodoh itu. Untuk siapa dia tunjukan semua itu" Pricilia mencemooh Ericka.
Pramudya juga nampak terkekeh mendengar pernyataan Pricilia, bi Mirna nampak geram dengan perlakuan mereka.
"Tidak begitu, Nona. Non Ericka mendapatkannya dari penghargaan yang diberikan oleh sekolah" jawab bi Mirna.
"Apa? Yang benar saja kamu kalau bicara. Aku tahu kamu mengenalnya lebih baik dari kami, tidak heran jika kamu terlihat mendukungnya.
Tapi kamu harus ingat, disini kamu bukan siapa-siapa. Babu banyak tingkah kamu!" teriak Pricilia, dia masih dongkol dengan bi Mirna.
"Tunggu dulu Pric, apa kau punya bukti kalau Ericka mendapatkannya dari penghargaan itu?" tanya Pramudya.
"Em, tidak Tuan" bi Mirna tertunduk malu, dia menyesal kenapa tadi tidak memfoto Ericka saat itu.
"Hah, sudah kuduga. Sia-sia saja kamu bertanya, jawabannya akan sama saja, pembohong tetap saja pembohong" ujar Pricilia melengos berlalu pergi.
"Bisa-bisanya kamu berbicara begitu tanpa adanya bukti.
Aku akan mengadukan perilaku mu pada ayah dan ibu, aku pastikan kamu akan dipecat." Ucap Pramudya dengan senyuman sinis nya.
Bi Mirna tertunduk lesu, dia tidak menyangka akan mendapatkan respon seperti itu.
Seharusnya dia diam saja tadi, tapi tetap saja dia tak bisa menahan diri ketika harga diri Ericka diinjak-injak oleh saudara tirinya itu.
**
"Kamu cantik kalau berdandan begini, cobalah untuk berdandan sekali-kali." Kata Reva sambil tersenyum kepada adiknya itu.
Seandainya yang berbicara itu orang lain, dia sudah pasti tersinggung.
Karena yang berbicara ini kakaknya, dia bisa memahaminya.
"Aku tak bisa berdandan Kak, tadi pagi aku dibantu bi Mirna dan Mila.
Lagian aku malu harus berdandan, lagi pula aku juga tidak akan kemana-mana" jawab Ericka.
"Jika kamu mau, aku bisa mengajarimu berdandan. Tidak usah terlalu over, mulai saja dulu dengan cream wajah dan lips cream.
Dengan begitu, wajahmu sedikit cerah sayang" jawab Reva dengan lembut.
Dia tahu perasaan adiknya itu sangat sensitif, dan tidak mudah untuk mendekatinya apalagi mendapat kepercayaannya.
Di hidupnya, hanya tiga orang yang dia percaya. Kakaknya Reva, bi Mirna dan Mila.
Bahkan Rendy tak ada di hatinya, karena kakaknya satu itu berbeda dengan Reva.
Reva mengeluarkan satu paket Skincare miliknya yang ada didalam tasnya.
"Kamu coba pakai ini dulu yah, kurang lebih satu Minggu hasilnya akan terlihat.
Saat pesta nanti, kamu pasti nampak lebih berkilau dari biasanya." Ujar Reva sudah membayangkan pesta nanti.
Ericka nampak bingung, apakah kakaknya ini serius soal pesta itu? Bukan semerta-merta hanya membela harga dirinya sajakah?
"Kakak, apa kamu benar-benar ingin membuat pesta untukku?" tanya Ericka dengan ragu.
"Tentu saja, Kakak sudah bersemangat sekali. Kapan lagi coba kita akan bersenang-senang begitu.
Kebetulan ada momen ini, kita manfaatkan. Kenapa, kamu tidak percaya?" tanya Reva menatap lekat adiknya itu.
__ADS_1
"Bukan begitu Kak, hanya saja aku merasa sangat berlebihan.
Aku tak terbiasa, aku takut akan membuatmu malu" jawab Ericka lesu.
"Hei, semangat lah. Ada Kakak disini oke? Kamu tak perlu khawatir" sambung Reva.
Dia celingukan mencari sesuatu.
"Bi Mirna kemana? Kok gak kelihatan, sebentar yah kakak mau lihat bi Mirna dulu" kata Reva kepada Ericka.
Reva penasaran apa yang bi Mirna lakukan, kenapa lama sekali? Dia takut meninggalkan adiknya itu.
Seharusnya bi Mirna ada bersama Ericka sebelum dia pergi.
Saat dia hendak turun ke bawah, dia melihat semua kejadian Pramudya dan Pricilia merendahkan bi Mirna.
Termasuk penghinaan mereka terhadap adiknya itu, terlihat olehnya bi Mirna berusaha membela Ericka didepan mereka.
Dia jadi begitu yakin dengannya, saat bi Mirna diancam oleh Pramudya dia nampak geram sekali.
"Tenanglah bi, tidak akan terjadi apa-apa padamu nanti" gumam Reva lalu berlalu pergi ke kamar Ericka kembali.
Saat dia masuk kamar Ericka, dia dikejutkan oleh perlakuan para pelayan pada Adiknya itu.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Reva murka.
**
Sebelum kejadian itu.
Saat Pricilia melihat penampilan Ericka sangat berubah, dia tidak terima.
Dia mengirim pesan kepada salah satu pelayan suruhannya, untuk berpura-pura membantu Ericka membersihkan diri.
"Perhatikan baik-baik, jika Reva sudah pergi dan dipastikan dia sudah menghilang.
Lakukan pekerjaanmu dengan baik, mengerti?!" Pricilia mengetik pesan itu kepada pelayan suruhannya.
Pelayan itu mengajak satu temannya lagi untuk membantunya, dia mengiming-imingi temannya akan diberi uang banyak oleh Pricilia jika mau melakukan itu.
Tentu saja temannya mau, apalagi dia pikir Ericka akan sendiri. Tidak akan ada yang menolongnya.
Mereka mengawasi kamar Ericka, saat melihat Reva keluar dan melihatnya berlahan menjauh mereka langsung masuk kamar Ericka.
"Kalian kenapa masuk kesini? Siapa yang menyuruh kalian?!" tanya Ericka heran dengan kedatangan dua pelayan itu.
"Maaf Nona, kami disuruh nona Pric eh maksud saya Nona Reva untuk membantu anda membersihkan diri" jawab mereka.
Tentu saja itu bohong, itu bagian dari skenario mereka.
Ericka nampak bingung, baru saja kakaknya keluar dan para pelayan ini masuk.
Dia terlihat pasrah ketika para pelayan itu membuka gaun yang masih dia pakai, mereka sangat kasar sekali.
Mereka tidak takut kalau gaun itu akan rusak, atau Ericka akan terluka.
Mereka terus saja membuka pakaian Ericka dengan kasar, padahal Ericka sudah mengatakan dia tidak mengizinkannya.
Mereka terus memaksanya, sehingga mereka melukai kulitnya dengan kuku-kuku mereka yang tajam.
Gaun mewah itu sudah tak berbentuk lagi, sudah robek-robek. Manik-maniknya berjatuhan, rambut Ericka berantakan dengan kulit penuh cakaran mereka.
Tiba-tiba pintu kamar dibuka, mereka kaget melihat Reva dengan amarah.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?!" teriak Reva dengan murka.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1