
Ericka menarik tangan Azzam menjauh dari tempat itu, mereka bersembunyi dibalik dinding salah satu gerai toko yang ada di sana. Ericka berusaha menenangkan Azzam yang sedari tadi hanya menangis saja.
"Tenanglah, Kakak tidak akan membiarkan mereka menyakitimu" ucapnya kepada anak itu.
"Iya, Kak.." jawabnya sambil terisak.
Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat kearah mereka dan berhenti tidak jauh dari mereka, Ericka berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun, dan mencoba menenangkan anak itu agar berhenti menangis.
"Syut, diamlah.. Nanti kita ketahuan lagi" bisiknya.
Anak itu mengangguk, mereka meringkuk ketakutan bersembunyi dibalik dinding dan ditutupi tumbukan kardus didepannya.
"Sunyi, apakah mereka sudah pergi?" ucapnya bingung.
Dia berusaha mengintip dari cela sisi kardus itu, dia tak melihat apapun didepannya dan mungkin saja para penjahat itu sudah pergi.
"Ayo kita pergi dari sini sebelum kita ketahuan oleh mereka" ucapnya pada anak itu tanpa menoleh.
Dia bergerak maju sambil celingukan berusaha waspada, kalau-kalau penjahat itu datang kembali. Tapi ada yang aneh, tidak terdengar anak itu bersuara atau suara langkah kakinya mengikuti sejak tadi.
Perasaannya campur aduk dengan segala pikiran di otaknya, dia sangat terkejut saat menoleh kebelakang Azzam sudah dalam dekapan sang ibu yang sama sekali tak menginginkannya.
"Hahaha! Dasar bodoh, kau pikir kau sangat pintar hah?! Wanita jal*ng ini berusaha menjadi pahlawan kemalaman rupanya!" ucap wanita itu menatapnya sinis.
Belum lama kemudian, datang juga beberapa lelaki tadi. Mereka nampak gusar melihat Ericka dan Azzam, mungkin lelah berlari mencarinya.
Plak!
Tangan kasar itu mendarat di wajah anak tak berdosa itu, ayah yang seharusnya melindunginya kini bagaikan musuh dalam selimut. Ericka tak bisa berbuat apapun karena sudah ditahan oleh teman lelaki itu tadi.
"Dasar anak tak tahu diri! Aku sudah membesarkan dirimu tapi apa yang kau buat?! Sudah untung aku menikahi ibumu dan menjadi ayahmu, aku rasa lelaki itu beruntung bisa meninggalkan ibumu dan anak seperti dirimu ini!" ucap lelaki itu sambil memukuli anak itu.
Dia menghajar Azzam seperti menghajar lelaki dewasa, dia tampar, pukul, injak beberapa kali dia membenturkan kepala anak itu ke sisi dinding gang sempit perbatasan antara gerai satu ke gerai lainnya.
Ericka hanya bisa menangis dan menutup matanya tidak tega melihat anak kecil itu diperlakukan seperti itu, sedangkan sang ibu hanya diam menunduk tidak berbuat apa-apa.
"Dasar bajingan! Jika kau tak menginginkannya kenapa kau biarkan dia terus berada disisimu! Tinggalkan dia, biarkan dia hidup sendiri.
Dan kau wanita tak tahu diri, sudah tahu tabiat lelaki itu jelek kenapa kau mau dia menikahimu?! Kau hanya ingin membunuh anakmu saja!" geram Ericka.
"Ayah kandungnya tak bertanggung jawab, aku berusaha membuangnya saat didalam kandungan, tapi anak ini sangat kuat sekali, masih hidup saja sampai saat ini.
Beruntung dia mau menikahiku, setidaknya aku tak malu melahirkan anak tanpa suami, seharusnya dia bersyukur bisa hidup sampai sekarang!" jawab wanita itu tanpa dosa.
"Dasar manusia jahat kalian! Aku sendiri tak bisa mendeskripsikan manusia seperti apa kalian ini! Binatang saja begitu sayang pada anaknya, tapi kalian malah begini.." ucap Ericka geram.
"Diam kau! Dasar jal*ng sialan, awas--" lelaki itu setelah habis-habisan memukul Azzam dia juga ingin memukul Ericka, tapi gagal.
"Berhenti! Angkat tangan kalian semua, kalian takkan bisa kabur kemana-mana karena kalian sudah terkepung!" terdengar suara seseorang diujung gang itu.
Betapa terkejutnya mereka melihat ada tiga polisi berbadan tegap mengacungkan pistolnya kearah mereka, mereka ingin berbalik dan kaget sekali melihat ada beberapa orang sudah menunggu mereka diarah sebaliknya.
Mau gak mau mereka hanya menurut, tak ada tempat untuk bersembunyi dari sana ataupun jalan untuk melarikan diri. Ericka langsung berlari menuju Azzam yang pingsan tak sadarkan diri, hidung dan mulutnya mengeluarkan darah, seluruh tubuhnya lebam, bengkak dan ada beberapa bagian tulangnya patah.
"Maafkan, Kakak tak bisa melindungimu! Ayo kita pergi dari sini.." ucapnya sambil menangis.
__ADS_1
Badannya yang kecil itu cukup kuat menggendong anak berumur 10 tahun itu, entah karena dia kuat atau anak itu terlalu kurus, tapi ketika dia ingin berjalan menuju depan sambil menggendong Azzam, ada seseorang yang ingin meraih Azzam dari gendongannya, dan tentu saja itu mengagetkannya.
"Lepaskan! Siapa kamu?!" bentaknya, dia takut ada orang lain yang ingin menyakiti Azzam lagi.
"Tenanglah, sayang.. Ini aku!" terdengar suara yang tak asing di telinganya.
"A-Aaron?!" betapa terkejutnya dia melihat lelaki yang sudah membuat hatinya berdebar-debar itu ada di sana.
"Kenapa kau ada disini?" tanyanya heran.
"Nanti saja kita bahas soal itu, kita bawa dulu anak ini ke rumah sakit, segera!" ucap Aaron sambil meraih Azzam dalam gendongan Ericka.
Sejenak Ericka terpaku karena terkejut melihat lelaki itu tiba-tiba ada dihadapannya, lalu segera sadar ketika Aaron mulai memanggil namanya dan menyusul orang itu.
"Aku tak tahu betul dengan daerah ini, tapi tak terlalu jauh dari Jakarta. Jadi kita ikuti saja mobil polisi itu kemana dia akan membawa anak ini" ucap Aaron sambil melajukan mobilnya mengikuti mobil didepannya.
Polisi mengantar mereka kesebuah rumah sakit terdekat untuk menangani Azzam segera, anak itu kritis dan tak sadarkan diri akibat dianiaya ayah tirinya itu.
Sedangkan ibu dan ayah tirinya sudah diringkus masuk kedalam penjara bersama teman-temannya yang lain, kali ini mereka tidak akan mudah keluar dari penjara, karena hukuman berat sudah menanti akibat penelantaran dan penganiayaan anak tersebut.
Ericka dan Aaron sedang menunggu diluar ruang ICU, mereka menunggu Azzam yang sedang ditangani oleh beberapa dokter di sana. Setelah beberapa saat seorang dokter keluar bersama perawat lainnya.
"Bagaimana dengan anak itu, Dok?!" tanya Ericka penasaran.
"Lukanya cukup parah, ada beberapa tulangnya yang patah dan kami juga melihat ada beberapa bekas luka lama ditubuh anak itu, sepertinya dia mengalami penyiksaan ini cukup lama.
Sebaiknya kalian melaporkan kejadian ini kepolisian, dan kalau mau saya bersedia menyediakan laporan visum untuk anak ini" ucap dokter itu.
"Baik, Dok.. Terima kasih, mohon bantuannya!" ucap Ericka sedikit lega.
Bruk!
Ericka pingsan seketika, dia kelelahan dan menahan rasa sakitnya cukup lama dan akhirnya tubuh itu tak bisa menahannya lagi, Aaron sangat panik sekali, dia membawa Ericka kepada dokter yang lainnya, untuk diperiksa keadaannya.
Ericka dirawat didalam kamar rawat inap di rumah sakit itu, ruang VIP yang mewah biasanya digunakan oleh pasien eksekutif, ketika bangun hari sudah pagi, entahlah mungkin siang.
Dirinya sedikit memicingkan matanya karena silau oleh sinar matahari yang masuk lewat celah gorden jendela kaca kamar itu, Ericka melihat Aaron tertidur disampingnya, tidur sambil duduk memegang tangannya.
"Kamu baik sekali, aku tak tahu harus bagaimana tanpa bantuanmu. Selama ini aku kuat dan bisa berdiri sendiri dengan kakiku berkat bantuanmu, meskipun aku tak tahu siapa orang yang menyuruhmu melakukan semua ini.
Tapi terima kasih, aku sungguh berterima kasih... Karena kamu selalu ada untukku, aku sungguh--" ucapannya terhenti ketika tangan Aaron semakin mengeratkan genggamannya.
"Aku juga sungguh berterima kasih kepadamu karena sudah membuat hari-hariku sedikit berwarna, darimu aku bisa mengolah emosiku dengan baik.
Aku yang selama ini dingin, tak berperasaan, kejam.. Setelah mengenal dirimu aku bisa mengontrol emosiku, Ericka. Aku bisa tersenyum dengan ikhlas tanpa dibuat-buat, dan aku juga bisa tertawa lepas lega.
Semuanya karena kamu, sudah hampir dua bulan semenjak kepulanganmu ke Indonesia, aku merasa sepi lagi.. Karena aku merindukanmu, rindu sosok polos dan bawelnya kamu, tingkahmu yang menggemaskan itu.
Haha, aku kangen kamu.. Karena aku sayang, aku cinta.." ucap Aaron sambil menatap lekat Ericka.
Ericka hanya terpaku mendengar ucapan Aaron itu, lelaki dingin dan selalu menunjukkan emosinya dengan datar itu kini menatapnya sendu, matanya yang berbinar saat menatapnya, orang pertama yang dia anggap sebagai penolongnya itu, ternyata menyimpan rasa begitu dalam kepadanya.
Dia hanya tersenyum saat Aaron mengecup keningnya dengan lembut, lelaki itu menatapnya penuh cinta sambil mengusap lembut kepalanya, tanpa dia sadari ada seseorang menatap mereka dari luar.
Seseorang yang sudah lama memendam rasa kepadanya, meskipun dirinya adalah ciuman pertama bagi gadis itu tapi tak bisa dipungkiri jika dirinya bukanlah cinta pertamanya.
__ADS_1
"Aku harap kau selalu bahagia, dan jangan menangis lagi.. Aku akan ikhlas menerima semuanya asalkan itu yang kau inginkan, karena aku akan bahagia jika mau bahagia" ucap lelaki itu menatap sendu kearah Ericka.
Tiba-tiba ada yang mengusap punggungnya dari belakang, dia menoleh ternyata ada Jessy ada di sana untuk menguatkannya. Jessy memintanya untuk pergi sedikit jauh dari ruangan itu.
"Apa perasaanmu sudah lebih baik sekarang,, ternyata dia tak memilihmu, melainkan bos mu!" ucap Jessy.
"Tidak, aku tidak apa-apa meskipun rasanya ada sakit dihati. Kata orang udah sudah biasa jika melihat orang yang kita cintai lebih memilih dengan orang lain, bukan diri kita.
Dan aku pikir ada benarnya juga, toh kami juga tak memiliki hubungan apa-apa, hanya sebatas klien, partner, teman.. Tak lebih itu, tapi sakit rasanya diam-diam mencinta tapi orang itu tak peka.
Sudahlah, tak perlu dibahas lagi! Aku sudah ikhlas, dan biarkan aku pelan-pelan melupakan perasaan ini. Mari kita fokus saja dengan misi kita disini" ucap Stanley berusaha menahan setitik air yang berusaha keluar dari matanya.
Jessy bisa memahami perasaan teman sekaligus partnernya itu, sedangkan didalam ruangan itu bos mereka sedang menemani teman dan juga orang terdekat mereka, yaitu Ericka.
Didalam kamar itu, Aaron tak pernah melepaskan pandangannya ke Ericka, gadis itu risih dengan tatapannya, mau ngelap ingus saja rasanya gak nyaman kalau diliatin terus begitu.
"Hentikan, tatapanmu itu membuatku tak nyaman. Udah kayak Cctv tau diawasi seperti itu" ucap Ericka gusar.
"Haha! Sorry, sorry.. Aku tak bermaksud seperti itu, maaf yah.." ucapnya sambil tersenyum manis.
"Coba kamu ceritain ke aku, bagaimana bisa kamu ada disini? Sejak kapan?" tanya Ericka penasaran.
"Kan sudah kubilang aku akan menyusulmu.. Aku akan meminta secara resmi kepada keluargamu untuk menjadikan kamu istriku" ucap Aaron santai.
"A-apa?!" ucap Ericka terkejut dengan ucapannya tadi.
"Kenapa? Kamu gak suka?" tanya Aaron.
"Bukan begitu, ini terlalu cepat.." ucap Ericka lagi.
"Aku tidak datang untuk menikahimu sekarang, aku tidak akan memaksamu.. Kita lakukan ketika kamu sudah siap, kapan perlu kita bisa menikah berbarengan dengan kakakmu, atau setelahnya.." ucap Aaron lagi.
"Apa maksudmu tadi, menikah berbarengan dengan kakakku? Kak Reva kan sudah menikah, maksudmu kak Rendy?" tanya Ericka bingung.
"Eh, kamu gak tau kalau kak Rendy sudah bertunangan?! Maaf, maaf.." ucap Aaron jadi serba salah, karena keceplosan.
Ericka menatapnya curiga, dia memperhatikan lelaki didepannya itu lekat dan secara intens, tentu saja itu membuat Aaron tambah salah tingkah, dan tambah merasa menyesal.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku? Jawab jujur, bagaimanapun juga pasti kebenarannya akan ku ketahui, lebih baik kamu cerita saja padaku, daripada aku mengetahui kebohongan lainnya" ucap Ericka sambil menatapnya tajam.
Baru saja dia senang dan bahagia dengan kehadiran lelaki itu di hidupnya, entah mengapa dia merasa dikhianati lagi, matanya mulai berkaca-kaca menatap Aaron.
"Jangan menatapku seperti itu, baiklah aku akan mengatakan semuanya dan berjanjilah untuk mengerti dan percaya bahwa aku, ah tidak! Kami maksudku, melakukan semua ini demi dirimu juga.." ucap Aaron merasa bersalah menyembunyikan fakta itu.
"Kebaikan apa yang kamu maksudkan untuk diriku itu? Apa masih dikatakan sebuah kebaikan kalau dari awal sudah ada kebohongan!" ucap Ericka menatapnya tak percaya.
"Pergilah, aku ingin sendiri dulu. Aku capek.." ucap Ericka lagi.
Dia merebahkan diri di kasurnya dan menyelimuti diri sampai kepalanya, bersembunyi dari pandangan Aaron. Dia memunggungi lelaki itu sambil menahan tangisnya.
"Baiklah, istirahatlah.. Aku akan kembali kalau dirimu sudah tenang" ucap Aaron lagi.
Dia keluar dari kamar itu dengan perasaan hancur, akibat dirinya tak sengaja mengucapkan sebuah kata dia akhirnya tak mampu lagi menahan rahasia itu, rahasia jika dia selama ini mengetahui identitas aslinya jauh sebelum mereka bertemu, dan perasaan itu juga datang jauh sebelum dia menatap langsung gadis itu.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung