Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Keputusan Mutlak Tidak Bisa Digugat


__ADS_3

Besok paginya, semua orang dikejutkan oleh perintah pak Dewantoro untuk berkumpul di lapangan rumah itu. Karena pak Dewantoro ingin mengumumkan berita penting untuk mereka semua.


Semua orang yang bekerja di rumah itu berkumpul, baik itu pelayan, supir, pengawal, tukang kebun bahkan para asisten dan manajer pribadi pak Dewantoro juga ikut berkumpul.


"Ada apa ini? Kenapa kita semua dikumpulkan disini?"


"Apakah ada yang membuat kesalahan? Atau akan ada pengurangan karyawan? Aduh, mana cicilan motor belum selesai?"


"Kayaknya kita bakalan dapat bonus deh.."


"Atau akan ada peraturan baru lagi?"


"Please, jangan ditambah jam lemburnya!"


"Gw mau ngedate.."


Itulah kira-kira apa yang ada dipikiran oleh mereka semua, karena mereka baru saja mendapat berita itu dari kepala pelayan mereka yaitu Nia dan pak Johan selaku kepala pengawal rumah itu.


"Dasar bodoh, mereka semua takkan mau mengerti! Aku akan selamanya menjadi kepala pelayan ini, aku akan berada disini selamanya.


Aku harap nona Pricilia segera pulang, agar aku bisa memerasnya lagi dan mengambil keuntungan dari semua permasalahan yang ada, hihi!" gumam Nia dalam hati.


Karena sebelumnya, pak Dewantoro memanggil pak Johan untuk menyampaikan berita itu kepada semua orang, untuk para pelayan biar tanggung jawab Nia untuk menyampaikan berita ini.


Ternyata dia salah faham, dia tak akan menyangka berita apa yang akan diberitahukan nanti. Dia mengira akan diangkat selamanya menjadi kepala pelayan dan mendapatkan keistimewaan untuk itu.


Beberapa saat kemudian, pak Dewantoro datang bersama pak Johan diiringi oleh Elena, Pramudya dan Ericka.


Semua orang terdiam dan menunggu berita apa yang akan disampaikan nantinya, segala pikiran mereka bercampur aduk dan perasaan semakin was-was saja.


"Selamat pagi semuanya, maaf saya harus mengumpulkan kalian sepagi ini. Sebelum kalian menjalani aktivitas seperti biasa, saya harus menyampaikan beberapa berita penting ini.


Pertama, saya ucapkan terima kasih atas kerja keras kalian selama ini dalam mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai pekerja di rumah saya ini, dan saya akan memberikan apresiasi sebesar-besarnya" ucap pak Dewantoro mengawali pembicaraannya.


Semuanya masih menunggu dengan harap-harap cemas, terlihat Elena maupun Pramudya yang terlihat kebingungan. Sepertinya mereka tidak tahu apa-apa.


"Kedua, saya akan memberikan reward kepada siapa saja yang mengerjakan atau melaksanakan tanggung jawab pekerjaan sebagai mana mestinya.


Saya juga takkan mentolerir kepada siapa saja yang tidak melakukan pekerjaannya dengan baik, yang memberikan perintah semaunya, ataupun sering malas-malasan.


Saya akan memecatnya begitu saja, saya takkan memberikan reward apapun baginya apalagi dia sudah mengkhianati kepercayaan yang saya berikan" sambung pak Dewantoro.


Dia diam sebentar sambil mengamati semua orang, wajar saja dia berhasil dalam bisnis dan usahanya, dia begitu berwibawa dan berani dalam melakukan apapun, bahkan para bawahannya ini tidak ada yang berani menatap matanya.


"Saya akan memberikan perubahan dalam susunan pegawai dirumah ini, saya harap kalian semuanya dapat menerimanya dan bertanggung jawab dengan semua ini.

__ADS_1


Jika ada yang tidak menerima keputusan saya ini, silakan bertanya langsung kepada saya tanpa harus membuat rumor dan keributan.


Saya ingin kalian benar-benar bertanggung jawab dengan pekerjaan kalian, saya sering mendapat laporan jika ada beberapa pegawai yang bekerja malas-malasan, suka memberi perintah seenaknya, dan mencoba berbohong dalam memberikan layanan.


Saya benar-benar akan menyingkirkan kalian semua jika ada kedapatan seperti itu, maka dari itu bekerjalah dengan baik dan patuhi semua perintah atasan atau majikan kalian jika memberikan perintah dan tugas tanpa ada yang mengeluh" ujar pak Dewantoro lagi.


"Baiklah, saya tahu kalian semuanya sedang sibuk dan saya tidak akan membuang waktu lagi. Pertama dan yang terpenting saya ingin memberitahukan semuanya tanpa terkecuali, bahwa saya...


Akan mengangkat kembali Bu Mirna Wati sebagai kepala pelayan di rumah ini, dan juga Milah Khairunnisa sebagai asistennya. Saya lihat dan nilai bahwa tidak ada yang bisa menggantikan mereka dalam hal ini.


Dan kedua, saya ingin memberitahukan kepada semuanya dan saya kira kalian semua juga tahu, bahwa Nona muda rumah ini sudah kembali. Saya ingin semuanya tanpa terkecuali menghormati dan menghargainya seperti kalian menghadapi saya.


Dia juga akan memberi perintah dan tugas kepada kalian, karena urusan pelayan dan rumah tangga kecuali diurus oleh Bu Elena, Nona Ericka juga bertanggung jawab soal itu" perintah pak Dewantoro.


Dia tak peduli dengan ekspresi kaget dan terkejutnya Elena dan Pramudya, dia juga tak peduli kasak-kusuk yang ditimbulkan oleh para pegawainya, banyak yang setuju dengan keputusan itu, ada juga yang belum bisa menerimanya.


"Untuk selanjutnya akan diteruskan oleh Nona Ericka, saya pamit dulu" ucap pak Dewantoro pamit untuk undur diri pergi dari sana sambil menuju mobilnya diiringi oleh beberapa pengawalnya.


Nampak Elena dan Pramudya mengikutinya tergesa-gesa, mereka ingin bertanya soal itu semuanya, dan meminta penjelasan atas penerimaan Ericka di rumah itu. Tapi pak Dewantoro tak kalah cepatnya, dia bergegas pergi dari sana dan meninggalkan mereka berdua yang masih kebingungan.


"Baiklah semuanya, tolong fokus ke saya sekarang! Okee, sebagai Nona muda di rumah ini dan juga majikan kalian tentunya akan memberikan pengarahan kepada kalian semuanya.


Saya baru dua hari disini, aku lihat tidak ada penyambutan apapun yang diberikan kepada saya. Jadi, aku minta besok kalian menyiapkan pesta untuk saya, pesta penyambutan yang besar dan mewah, undang semua tamu yang berkaitan dengan keluarga wijaya dan juga para koneksi lainnya.


Dia meninggalkan mereka semua dengan kebingungan semuanya itu, lalu berlahan mereka akhirnya pergi dengan perasaan tak menentu.


Kini, mereka harus sadar dan tahu kalau sekarang ini bukan lagi waktunya mereka bergosip, mereka harus segera Melaksanakan perintah tuan besar dan nona muda di rumah itu.


Karena situasi sekarang ini sangatlah berbeda dengan sebelumnya, kini nyonya besar dan anak-anaknya tidak lagi sekuat dulu.


"Ibu, apa yang terjadi sekarang ini?! Ini benar-benar membuatku bingung dan pusing!" ujar Pramudya begitu khawatirnya.


"Kau kira aku tak seperti itu! Aku sama bingung dan pusingnya, Pramudya! Dan mungkin aku lebih pusing darimu saat ini! Ya ampun, apa yang merasuki lelaki tua itu?!


Ini benar-benar sudah melewati batas, anak itu harus disingkirkan secepatnya jika tidak lama-lama aku bisa tersingkirkan dari sini! Kurang ajar, dia ingin bermain-main denganku rupanya!" teriak Elena murka.


Keduanya duduk diruang tamu dengan gelisahnya, masih berpikir bagaimana caranya untuk melawan dan membalas gadis itu, tiba-tiba Nia datang tergesa-gesa menghampiri mereka.


"Nyonya, Tuan muda... Tolong selamatkan aku, aku tak ingin pergi maupun digeser dari jabatan ini" ujarnya memelas.


"Jangan sekarang, Nia! Kepalaku sedang sakit sekarang, kau bekerja sajalah seperti biasanya!" ujar Elena, dia memijit kepalanya yang sakit itu.


"Tapi, Nyonya Pekerjaanku sudah direbut, bagaimana bisa aku bekerja kembali seperti biasa, dan aku.. Dan aku tak ingin jadi pelayan dan disuruh-suruh lagi seperti dulu" ujar Nia sambil merengut.


Mendengar hal itu membuat Elena dan Pramudya makin sakit kepala saja, punya pelayan yang tak tahu diri memang membuat pusing tujuh keliling.

__ADS_1


"Kalau kau tak ingin posisimu direbut, maka pertahankan itu! Dan kau malah sibuk bermain bos dan bawahan, tapi kau tak sadar diri bahwa kau itu juga pelayan.


Aku tak memintamu bekerja semaumu, apapun yang terjadi itu semua salahmu, kau yang berbuat maka kau juga yang bertanggung jawab!" ucap Elena.


Perkataannya sungguh menyakitkan hati Nia, nyonya besarnya itu berusaha lepas tangan dari apa yang menimpanya saat ini, dia benar-benar merasa menyesal telah menuruti keinginan mereka, kalau ujung-ujungnya dia akan rugi sendiri.


"Tapi, Nyonya.. Bukankah semua ini atas perintah Nyonya sendiri, untuk mengawasi dan memberikan hukuman bagi para pelayan yang tidak bekerja sesuai keinginan, Nyonya..


Dan juga, memberikan perintah untuk memberi pelajaran bagi bu Mirna dan Milah, karena mereka mengingatkan Nyonya atas nona Ericka" ujar Nia tidak terima disudutkan.


"Diam kamu! Pelankan suaramu, jika ada yang mendengar dan mengetahui semua ini, kau akan mampus ditanganku!" bentak Elena.


Keduanya saling berdebat, sedangkan Pramudya terlihat beberapa kali mencoba menghubungi beberapa orang tapi tidak berhasil, suasana mereka disana begitu tegang, yang membuat Ericka yang memperhatikan mereka sejak tadi tersenyum puas.


Dia menghampiri mereka dengan berjalan santai dan anggunnya, membuat mereka semua nampak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba muncul itu.


"Aku menunggu kalian dari tadi di meja makan, ternyata kalian semua ada disini. Ayo, sarapan sudah siap dari tadi. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi!


Btw, aku tak tahu jika pelayan ini begitu akrab dan dekat denganmu, ibu.. Baguslah kalau begitu, ini akan mempermudah urusanku kepada kalian.


Dan kau, pelayan! Apa yang kau lakukan disini? Cepat bekerja, bantu teman-temanmu yang tengah sibuk itu. Btw, aku belum mengecek hasil pekerjaan kalian kemarin..


Setelah sarapan, aku akan datang kesana mau melihat hasil pekerjaanmu itu, dan jangan buat aku kecewa" ujarnya menatap tajam kearahnya.


Nia semakin ketar-ketir dibuatnya, dia tidak tahu apakah hasil kerjanya bisa memuaskan Ericka atau tidak, sedangkan Elena dan Pramudya tingkat emosinya sudah diubun-ubun dengan melihatnya saja.


Ericka melengos pergi meninggalkan mereka semua, dia tersenyum puas bisa membalas mereka sedikit demi sedikit demi balas dendam trauma masa lalunya dulu.


"Ini belum seberapa, masih banyak kejutan-kejutan lainnya!" gumamnya lagi.


Sedangkan bi Mirna dan Milah menunggunya dari tadi di kamarnya, mereka masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Apakah ini mimpi atau nyata bagi mereka.


"Nona, ya Tuhan.. Apa yang terjadi, katakan pada Bibi, Non?!" tanya bi Mirna minta penjelasan kepadanya.


"Tenang ya, Bi... Kalian rileks dulu, tidak terjadi apa-apa kok. Hanya saja posisi kalian sudah dikembalikan lagi, itu saja. Dan satu hal lagi, jangan biarkan orang lain bersikap kurang ajar padamu, bagaimanapun juga Bibi adalah senior disini.


Apalagi sekarang Bibi sudah memangku kembali tugas itu, jangan mau diremehkan lagi apalagi sampai dihina ataupun dilukai. Ingat itu?!" ujar Ericka memberikan penjelasan.


"O ya, aku mau sarapan dulu. Aku ingin kalian berdua yang melayani kami makan nanti, jangan biarkan orang lain yang melakukan hal itu" ucapnya lagi.


Bi Mirna dan Milah mengangguk mengerti, mereka segera berpakaian seragam yang sudah ditentukan untuk mereka, dan datang untuk kembali bekerja melayani nona muda nya itu.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2