
Malam itu, Ericka tidur terlelap dengan nyenyak. Rasa lelah menderanya, kelelahan saat berkeliling mencari pekerjaan dan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang cukup membuatnya lelah.
Saking nyenyaknya tidur tidak sadar apa yang terjadi pada malam itu, Stanley terbangun dari tidurnya dia mendapat telpon dari seseorang yang membuatnya terjaga semalaman.
Sesekali dia melihat kearah jendela dibalik gordennya untuk melihat ada apa diluar sana, dia ingin keluar tapi tidak ingin meninggalkan Ericka sendirian di rumah ini.
Sementara diluar gedung itu.
"Baiklah, sudah ada perintah dari bos. Mari kita eksekusi sekarang, jangan buat keributan, ingat dengan misi senyap? Itu yang akan kita lakukan" ujar seseorang yang memimpin dari mereka.
Disaat mereka memulai aksinya untuk masuk ke gedung itu, terlihat ada sinar lampu begitu terang menerangi mereka. Sebuah mobil Porsche hitam menyorotkan lampunya tepat kearah orang-orang itu.
Didepan mobil itu berdiri seorang lelaki berperawakan tinggi dan memiliki tubuh yang proporsional, kulitnya yang putih sangat kontras dengan pakaiannya yang serba hitam itu.
Penampilannya sangat rapi, setelan jas lengkap dengan dasinya dipandukan kemeja putih dengan rambut ditata rapi lengkap dengan kacamata hitam menghiasi wajah tampan itu.
Dia berjalan kearah mereka, dengan penampilannya itu cukup mengintimidasi mereka. Ditambah karisma dan pembawaannya yang penuh wibawa, membuat orang-orang itu sedikit tertegun melihatnya.
"Kalian mau kemana malam-malam begini? Apakah tidak akan mengganggu waktu istirahat para penghuni gedung ini?" ujar pria itu.
"Siapa kau? Jangan urusin kegiatan kami, pergi sana jika tak ingin terluka!" ujar pemimpin mereka itu.
Seorang lelaki berperawakan tinggi dengan tubuh cukup besar dan memiliki tato di bagian lehernya, dia berjalan menuju lelaki tadi.
"Siapa kau, hah?! Apa tujuanmu kemari? Bukankah suatu hal yang aneh malam-malam begini kau datang kemari?" tanyanya menatap curiga kepada sang lelaki tadi.
"Seharusnya pertanyaan itu aku tujukan kepada kalian, apa yang kalian lakukan malam-malam begini dengan membawa beberapa senjata begitu? Kalian ingin membunuh orang?!" jawab lelaki itu.
"Diam kau, banyak bacot rupanya! Hei kalian, sebelum membereskan yang didalam bereskan dulu yang ini!" perintahnya.
Ada belasan lelaki bertubuh besar lengkap dengan senjatanya bersiap menyerang lelaki tadi seorang diri, mereka menyerangnya bersamaan. Menendang, memukul, bahkan menggebukinya dengan pemukul kayu mereka.
Tapi siapa sangka dengan seorang diri lelaki itu bisa mengatasi mereka semua, dia berhasil mengelak dari semua serangan mereka bahkan kebalikannya mereka yang dia hajar habis-habisan olehnya.
Bak di film-film action Hollywood, dia melawan mereka semua. Di saat itu perhatikannya teralihkan oleh beberapa orang yang berhasil kabur naik ke tangga bangunan itu, alhasil dia kena pukulan dari mereka. Disaat dia kewalahan menghadapi mereka semua, tiba-tiba datang rombongan orang bertubuh besar lengkap dengan tato-tato mengerikan dibeberapa bagian tubuh mereka.
Dengan tangan kosong mereka memberikan serangan terhadap sekumpulan lelaki tadi.
"Bos, lindungi Nona itu. Kami sudah menghubungi Stanley, dia sudah berjaga di atas!" ucap salah satu lelaki bertato itu.
__ADS_1
Mereka semua saling membalas pukulan dengan kelompok lelaki yang pertama datang tadi, dua kelompok geng mafia besar saling bertarung entah sedang memperebutkan apa.
Sementara lelaki itu tadi berlari ke anak tangga menuju ke lantai atas tempat Ericka dan Stanley berada, saat sampai di atas dia sudah melihat Stanley bertarung melawan beberapa lelaki diluar rumah itu.
"Bos, Nona! Nona ada didalam, tolong lindungi dia!" teriak Stanley sambil menghajar beberapa lelaki dihadapannya.
Lelaki itu masuk ke rumah Stanley, didalam sudah berantakan sekali sepertinya ada pertarungan hebat tadi. Dia masuk kedalam kamar, dia tidak melihat siapapun di sana tetapi keadaan kamar itu tidak jauh berbeda dengan di ruang tamu tadi.
Saat dia hendak keluar, sayup-sayup dia mendengar suara isak tangis didalam lemari kayu pakaian. Pelan-pelan dia membuka pintu itu, dan dia melihat Ericka duduk meringkuk ketakutan didalam sana.
"Akh!" spontan Ericka berteriak.
"Syut, hei! Jangan berteriak, aku tidak akan menyakitimu" ucap lelaki itu.
Dia langsung menggendong Ericka keluar dari dalam lemari itu dan dia dudukan di atas ranjang kamar itu, lelaki itu menatap lekat wajah Ericka.
"Kamu jangan takut yah, aku akan melindungi kamu mulai dari sekarang" ucap lelaki itu sambil tersenyum.
Didalam kamar yang hanya diterangi lampu pijar yang terangnya tak seberapa, Ericka bisa melihat wajah lelaki itu. Dengan sedikit luka diwajahnya tak menutupi wajah tampannya itu.
"Kau siapa? Apa hubunganmu dengan Stanley atau para penjahat itu?" tanya Ericka takut-takut.
"Lebih tepatnya, apa hubungan Stanley denganku? Maka aku akan menjawabnya, Stanley dan aku bersahabat. Aku datang untuk membantunya, melawan para penjahat yang ingin mencelakaimu" kata lelaki itu.
Prangg!
Mereka dikagetkan suara kaca pecah didepan, tiba-tiba Stanley masuk dengan sedikit luka diwajahnya.
"Sebaiknya kalian pergi, mereka memanggil bantuan. Cepat pergi, lewat jendela saja di sana ada tangga menuju kebawah" ucap Stanley sedikit terengah-engah mengatur nafasnya.
"Ta-tapi bagaimana denganmu?" tanya Ericka, dia sedikit takut dengan lelaki itu.
"Nanti aku akan menyusul yah, tenanglah. Kamu aman bersamanya" ujar Stanley sambil mengusap lembut kepala Ericka.
Ericka sedikit terkejut dengan sikap Stanley yang nampak berbeda seperti biasanya, dia yang biasanya cuek dan slengean tiba-tiba begitu lembut kepadanya.
"Ayo..." ujar lelaki itu tadi sambil menarik tangan Ericka.
Mereka keluar lewat jendela kamar itu, dan dibawahnya ada balkon kecil dan disampingnya ada tangga besi lurus kebawah yang tersambung ke balkon-balkon di lantai bawah, sampai akhirnya turun ke lantai paling bawah.
__ADS_1
Lelaki tak sedikitpun melepaskan genggaman tangannya dengan Ericka, mengendap-endap mereka pergi meninggalkan gedung itu. Ericka sempat melihat pertarungan hebat antara dua kubu geng mafia didepan gedungnya tadi.
Dia ketakutan, ada apa ini? Apa hubungan ini semua dengannya? Apakah yang dibilang Elena dulu itu semua benar, bahwa dia pembawa sial bagi semua orang?
Dia berhenti berlari, dan melepaskan genggaman tangan itu secara paksa. Lelaki itu pun berhenti dan melihat Ericka yang terlihat ragu-ragu kepadanya.
"Kenapa? Ayo kita pergi, kita tidak punya waktu sebelum mereka menyadari semuanya" ucap lelaki itu.
"Siapa kamu? Benarkah kau sahabatnya Stanley? Siapa mereka semua, kenapa mengejarku?" tanya Ericka dengan suara sedikit bergetar.
"Kau akan tahu semuanya nanti, ayo kita pergi" ucap lelaki itu dingin.
"Jelaskan dulu kepadaku, biar aku tahu apa yang terjadi kepadaku. Aku capek terus berlari seperti ini!" teriak Ericka.
"Hanya kau yang tahu apa yang terjadi kepadamu, jika ingin bertanya, tanyakan sendiri kepada dirimu sendiri" ucap lelakinya itu.
"Tapi..." Ericka ingin membalas perkataannya yang tak masuk akal menurutnya.
Tiba-tiba saja lelaki itu langsung menggendongnya, membawanya menuju ke mobilnya yang sudah terparkir tidak jauh dari sana.
Tentu saja Ericka tak terima dia memberontak dari gendongan lelaki itu, tapi lelaki itu tak bergeming. Dia menurunkan Ericka kedalam mobilnya.
Setelah dia masuk juga, dia langsung tancap gas membawa mobil sportnya itu membelah jalanan kota London malam itu, seperti tak pernah mati kota itu masih saja ramai meskipun sudah malam hari.
Ericka hanya diam saja, dia melihat kearah kaca mobil itu menatapi jalanan kota London. Dalam hatinya dia bergumam, kenapa dia selalu membawa kesialan bagi semua orang?
"Aku tak ingin begini terus, kemanapun aku pergi selalu seperti ini. Seandainya aku diberikan kesempatan lagi, aku ingin berubah. Akan kubalaskan semua dendamku kepada mereka semua yang telah menghancurkan hidupku ini" ujarnya itu.
"Bisa aja, kalau mau. Jangan hanya niat saja tapi harus diiringi usaha juga" jawab lelaki itu sambil tersenyum kearahnya.
Ericka terkejut lelaki itu menimpali perkataannya seperti itu, dia tak sadar suara hatinya bisa terdengar oleh orang itu.
"Bagaimana kau bisa..." dia tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya.
"Tentu saja aku bisa mendengarnya, kau mengatakannya dengan jelas begitu" jawab lelaki itu sambil tersenyum geli melihat ekspresi terkejut Ericka.
Sedangkan Ericka malu sendiri dengan tingkahnya itu, bagaimana bisa dia mengatakan hal itu kepadanya. Orang yang baru dia temui itu.
"Dasar memalukan" gumamnya sambil memalingkan wajahnya yang memerah itu.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung