
Julia, Della dan kedua temannya yang lain dibawa ke sebuah taman dikawasan rumah sakit itu.
Mereka masih tertunduk diam, cukup lama Reva maupun Nico memperhatikan mereka. Kali ini Nico tidak akan banyak bicara, dia membiarkan Reva mengurus sendiri masalahnya.
"Kalian satu sekolah dengan Ericka, teman sekelas 'kan?!" tanya Reva.
Semuanya masih diam tak menjawab Reva, sesekali mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Kenapa kalian melakukan hal itu kepadanya? Apa dia pernah melakukan sesuatu kepada kalian?" tanyanya lagi.
Masih tak ada respon dari mereka, mereka hanya saling pandang lalu menunduk lagi.
"Aku pikir semua temannya Ericka baik semuanya, karena dia tak pernah mengeluh apapun padaku.
Dia juga anaknya pintar dan berprestasi, aku pikir teman-temannya juga begitu.
Aku tak peduli seperti apa dia berteman dengan siapapun, yang penting mereka baik dan saling mengerti.
Kalau Ericka pernah melakukan kesalahan, aku mohon maaf. Dan jangan sakiti dia lagi, hatinya terlalu rapuh untuk itu." Kata Reva.
Kali ini dia berbicara dengan nada lembut, dia mencoba memahami anak-anak ini. Bagaimana pun juga dia pernah mengalami diposisi itu, dimana dia pernah dipojokan dan disalahkan oleh sesuatu yang tak pernah dia lakukan.
Dan dia berharap kali inipun juga begitu, anak-anak ini tidak melakukan kesalahan dan mereka teman baik adiknya itu.
"Apa kau bilang, baik? Hem, dia gadis bodoh pura-pura lugu. Berpura-pura menderita demi mendapatkan simpati orang lain.
Aku benci dengan orang itu, dia itu sombong tak mau bergaul dengan yang lain. Selalu sendiri, merasa paling pintar dan tidak mau berbagi.
Kenapa? Merasa dari keluarga konglomerat? Punya kakak seorang Model Idol? Pintar? Heh, sombong!" jawab Julia.
Setelah sekian lama diam, akhirnya dia menjawab juga. Tapi dia salah memulainya, tatapan Reva begitu tajam dengannya.
Reva mengepalkan tinjunya, berusaha menahan emosinya itu. Beberapa kali dia menghembuskan nafasnya, berusaha tenang.
"Kalian mungkin tidak terlalu mengenalnya, dia menyendiri karena merasa insecure dan perasaannya sangat sensitif.
Aku mohon pengertiannya, aku harap kalian mau berteman dengannya. Jika kalian sudah saling mengenal aku yakin akan lebih mudah kalian berteman, Yah?" ujar Reva.
Dia masih berharap anak-anak itu bisa saling mengerti dan kesalahpahaman itu telah usai.
"Apa kau bilang?! Perasaannya sensitif, insecure? Seharusnya dia yang mengerti posisinya sendiri.
Jangan berharap orang akan selalu mengasihaninya terus, sampai kapan dia minta belas kasih orang lain!
Bahkan kami semua, mungkin semua satu sekolah telah tahu siapa dirinya. Makanya dia insecure, jadi penyendiri karena malu, kali yah!
Hahaha... anak haram sepertinya apa yang diharapkan, orang tuanya saja tak peduli, setiap kali ada acara sekolah selalu pembantu yang datang.
__ADS_1
Dan kau? Kau pun datang setelah acara kelulusannya, selama ini kemana kau?!" bentak Julia.
Tak ada rasa takut sedikitpun darinya, sedangkan temannya yang lain sudah nampak gelisah dengan jawabannya.
Mereka tidak ingin mendapat masalah lagi, apalagi yang mereka hadapi sekarang seorang Reva, model terkenal dan juga memiliki sifat temperamen.
"Jaga mulutmu kalau bicara! Kau tahu apa yang kau ucapkan bisa jadi Boomerang untukmu.
Kali ini kau kelewatan, aku berusaha tenang dan sabar pada kalian setelah apa yang kalian lakukan pada adikku!
Kali ini tak ada ampun untuk kalian, terutama untuk kamu! Mulutmu harus diberi pelajaran biar tahu etika kalau bicara!" teriak Reva menahan amarahnya.
Dia hendak mengangkat tangannya, dia ingin sekali menghajar gadis itu. Tetapi niatnya terhalang oleh Nico.
Nico menahan tangan Reva agar tak menampar Julia, tidak tahu apa yang terjadi jika Nico tidak ada di sana.
Sedangkan Julia, dia meringkuk ketakutan badannya gemetaran. Dia pikir akan habis hari ini dihajar oleh Reva.
Ternyata antara mulut dan tubuhnya tidak ada sinkronisasi, ketika mulutnya berbicara kasar seolah dia benar dan tak takut apa-apa.
Setelah dihadapi dengan bahaya, tubuhnya meringkuk ketakutan. Kata-kata beraninya itu hilang seketika.
"Pergilah kalian! Jika tidak, kalian akan habis oleh wanita ini. Dan kuharap kalian pergi dan tak muncul lagi dihadapan Ericka dan kami semuanya," ujar Nico.
Dia juga terlihat menahan amarahnya kepada Julia, dia juga tak tahan mendengar kata-kata kasar dari mulutnya itu.
"Lepaskan aku, Nico! Apa yang kau lakukan?! Jangan biarkan mereka pergi sebelum aku menghajarnya.
Terutama mulut gadis busuk itu, anak kurang ajar! Awas kau nanti yah, kubuat kau menderita. Aarrgh!" teriaknya.
Sedangkan mereka semua sudah berlari menjauh dari mereka berdua, Julia dan teman-temannya bergegas pergi dari tempat itu.
Ada senyuman puas diwajahnya, setidaknya dia berhasil mengungkapkan perasaannya. Dia tidak suka kepada Ericka, dia tidak ingin Ericka lebih hebat dibanding dirinya.
Penghargaan bergengsi yang dia idam-idamkan malah dibawa si upik abu, pikirnya.
Apalagi rasa kecewa dihatinya setelah mengetahui sang idola adalah kakak dari orang yang dia benci.
Semakin menjadi-jadi rasa benci itu, dia puas sekali. Dia mengajak teman-temannya menenangkan diri disebuah cafe langganan mereka.
*
Disebuah cafe dibilangan tempat tongkrongan anak-anak remaja, di sana mereka berkumpul untuk menenangkan diri.
Suasana cafe yang tenang, musik yang mengalun lembut ditambah hawa sejuk di ruangan ber Ac itu.
Membuat mereka menjadi lebih baik, pikiran mereka sekarang menjadi tenang dan mereka larut dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Seharusnya ini tidak terjadi, dan aku harap ini yang terakhir. Julia ..." kata Della, kata-katanya terdengar lirih.
Dia lelah, hampir frustasi dibuatnya. Sebelumnya dia sudah diwanti-wanti oleh orangtuanya untuk tidak membuat masalah kelak.
Apalagi dia baru tahu bahwa kantor pengacara dan notaris ayahnya juga tergabung oleh badan hukum milik Nico.
"Diam lah Della! Kau sama sekali tak membantu." Julia mendengus kesal.
"Maaf Julia, kali ini Della benar. Sebenarnya kami juga masih takut, kau tahu bahwa keluarga kami dari kalangan biasa saja dibanding mereka.
Dan orang tua kami hanya pengusaha biasa saja, kami tak ingin usaha orang tua jadi bangkrut gara-gara masalah ini." Ujar kedua temannya itu.
Julia menatap semua teman-temannya satu-persatu, dia tersenyum sinis terhadap mereka.
"Kalian benar-benar hebat, sebelumnya kalian mendukungku. Setelah semua ini, kalian pergi seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Kalian lepas tangan dan melimpahkan semua kesalahan ini kepadaku sendirian.
Siapa coba yang membujukku untuk datang ke pesta itu? Kamu 'kan?! Kamu juga yang membantuku menyusun semua rencana ini!
Lalu kenapa sekarang bisa bicara seperti itu? Aku tak akan jatuh sendirian, jika terjadi apa-apa terhadapku atau keluargaku, kalian juga akan menanggungnya bersamaku." Ujar Julia menggeram didepan teman-temannya itu.
Dia bangkit dari duduknya dan berlalu pergi setelah membayar tagihan minuman mereka.
"Bagaimana ini Del? Bisa bahaya nih?!" ujar salah satu temannya itu.
"Tenanglah, tidak akan terjadi apapun terhadap kita. Jika ada masalah, bukan kita yang menanggungnya tetapi hanya dia sendirian saja." Jawab Della sambil tersenyum sinis.
"Tapi apa tidak apa-apa meninggalkannya sendirian?" sahut temannya yang lain.
"Kau tahu, sejak awal dia melakukannya sendirian. Kita hanya mensupport saja apa yang dia lakukan, so...
Biarkan saja dia sendirian, lagian kita tak butuh dia lagi. Sekolah telah selesai, kita melanjutkan hidup masing-masing saja sekarang.
Oke?! Sampai jumpa lagi teman-teman!" ujar Della sambil melangkah pergi dengan senyuman tak kalah sinis nya.
Semenjak awal juga mereka berteman karena faktor saling menguntungkan, mereka mau berteman dengan Julia karena orang tuanya juga pengurus yayasan sekolah itu.
Begitu juga mereka berteman dengan Della karena orang tuanya pengacara, jika keluarga mereka berurusan dengan hukum maka orang tua Della akan membantu.
Begitu juga dengan teman-temannya yang lain, sekarang tidak ada lagi pertemanan simbiosis mutualisme diantara mereka lagi.
Yang ada sekarang saling menjatuhkan demi menjaga diri masing-masing.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1