
Gerimis kecil di iringi suara gemuruh di langit malam itu, menambah suasana hati Reva semakin sakit rasanya. Dia menatap kembali rumah itu, dia menangis pilu.
Dia sudah bertekad pergi dari rumah itu selamanya, rasa sakit mengalahkan segalanya. Dia melupakan adik-adiknya, dan dia melupakan janji-janjinya.
Dia menyerah, kekuatannya sudah sampai pada batasnya. Dia keluar tertatih-tatih, menahan perih dikakinya yang terus-menerus mengeluarkan darah.
Saat itu, Nico datang tepat waktu. Reva hampir kehilangan kesadarannya, penglihatannya mulai kabur. Samar-samar dia melihat bayangan orang didepannya.
Brukk!
Reva pingsan tak sadarkan diri, Nico sigap menangkap tubuhnya. Dia langsung menggendong tubuh Reva dan masuk kedalam mobilnya.
Dia melaju dengan kencang membawa Reva pergi dari rumah itu, hati dan perasaannya hancur saat melihat orang terkasihnya menderita.
Pada saat itu juga, Pramudya melihat Reva dibawa oleh Nico perasaannya bergemuruh. Panas hatinya melihat adegan Nico memeluk dan menggendong Reva.
Itu mengingatkannya dengan kejadian Nico mencium Reva waktu di rumah sakit.
"Halo, aku minta tolong padamu. Tolong buntuti mobil hitam yang baru keluar dari rumahku.
Ikuti mobil itu sampai mana dia berhenti, setelah itu hubungi aku lagi. Tenang saja, aku akan membayarmu seperti biasa" ujar Pramudya.
Dia menghubungi seseorang untuk mengikuti mobil Nico, dia tidak ingin kehilangan Reva.
Sedangkan pak Dewantoro masih syok dengan apa yang terjadi, dia masih mencerna apa yang diucapkan oleh Reva hingga dia harus pergi dalam keadaan berdarah-darah seperti itu.
Dia terduduk lemas, dia menangisi keadaan putrinya itu. Dia mengutuki dirinya sendiri, yang tak bisa berbuat apa-apa.
"Maafkan Ayah Reva, Ayah tahu ini semua salah. Tapi Ayah tak bisa berhenti dan menghentikannya.
Ayah sangat bahagia dengan keluarga ini, Ayah tidak ingin kehilangan Elena dan juga tak ingin kehilangan kalian juga.
Ayah tahu, Ayah sangat egois. Tapi Ayah mohon untuk mengalah sekali saja, dan mengerti keadaan Ayah ..." ujar pak Dewantoro lirih.
Sementara itu, Pricilia mengintip dari jendela kamarnya yang diatas melihat Nico bersama Reva diluar sana. Dia merinding, berarti ancamannya benar terjadi.
Anak itu benar-benar datang padanya, lain kali dia harus bersikap lebih hati-hati lagi menghadapinya.
"Mereka pasangan yang sangat serasi, sama-sama menyeramkan." Ujarnya bergidik, buru-buru menutup horden jendelanya takut ada penembak jitu mengawasinya.
Berbeda dengan Rendy, dia menangisi keadaan kakaknya itu sambil tiada henti menyalahkan dirinya sendiri.
"Aku bodoh, pengecut! Aku anak laki-laki satu-satunya yang harus diharapkan dan lebih bisa diandalkan tapi tak bisa berbuat apa-apa!
__ADS_1
Maafkan Rendy kak, maafkan Rendy yang bodoh ini. Kakaaak!" Ujarnya terguguh dalam tangisnya.
*
Dalam perjalanan menuju rumah Nico. Reva seperti berhalusinasi. Dia ditidurkan di sofa belakang oleh Nico, sedangkan dia menyetir sendiri didepan.
"Ibu, maafin Reva, Reva gak bisa jagain adik-adik lagi. Reva gak sanggup lagi Bu, Reva capek.
Bu... Reva kangen ibu, Reva ingin ikut ..." lirihnya. Dia berhalusinasi sedang bersama ibunya, terlihat dengan samar senyum tipis di bibirnya dengan butiran bening mengalir di pipinya itu.
"Reva, bertahanlah. Aku akan menjagamu dan adik-adikmu, tenanglah kamu tidak sendirian. Kalian juga tak se miskin itu...
Ibumu mewarisi harta milyaran kepada kalian yang dititipkan kepadaku, bertahanlah sayang..." ujarnya, dadanya bergemuruh dia seperti merasakan apa yang dirasakan Reva saat ini.
"Halo dok, tolong datang ke rumah saat ini juga! Segera, ini darurat aku lagi diperjalanan ke rumah. Aku harap dokter sudah ada di sana sekarang!" perintahnya kepada dpkter pribadinya.
Dia sangat cemas, Reva mulai kehilangan kesadaran lagi. Dia mengebut membawa mobilnya, tanpa sadar ada yang mengikutinya.
**
Mobil itu mendekati sebuah rumah berpagar besi yang di cat warna hitam, gerbang itu membuka otomatis saat mobil Nico mendekatinya.
Sedangkan mobil SUV yang mengikutinya menunggu diluar perumahan mewah itu, dia tak bisa mengikuti mobil Nico sampai kedalam.
Keamanan perumahan elit itu begitu canggih, tak sembarangan semua orang bisa masuk kedalam. Mobil itu menepi di bahu jalan, lalu menelpon Pramudya.
"Bagus, sampai disitu juga sudah lebih baik. Nanti kau kirimkan alamat perumahan itu, baru kita selidiki.
Kerja bagus, aku masukan 10juta ke rekeningmu dulu. Setelah itu ada lagi pekerjaan baru untukmu, baru bayaranmu bertambah" ujar Pramudya tersenyum sinis.
Mobil SUV itu melaju kembali ke jalanan meninggalkan sisi dari perumahan tersebut, dia tidak mengetahui keberadaannya terpantau oleh kamera Cctv bagian luar perumahan itu.
Sementara itu, didalam rumahnya Nico membawa Reva kedalam kamar tamu. Di sana sudah ada beberapa pelayan yang sudah menyiapkan keperluan Reva.
Nico meminta mereka untuk menggantikan baju Reva yang kebasahan karena hujan, sekalian menahan rembesan darah yang terus mengucur itu.
Dia menunggu dokternya yang belum datang, hatinya gelisah mondar-mandir berjalan tak tenang.
Belum lama kemudian dokternya datang dengan tergopoh-gopoh, dia tau sekali dengan tabiat Nico yang selalu on time itu.
"Kenapa lama sekali?! Cepatlah, bantu dia! Nanti saja menjelaskan keterlambatanmu itu!" Ujarnya kesal.
Dokter itu langsung menemui Reva dan memberi pertolongan kepadanya, dia dibantu oleh seorang perawat perempuan disampingnya.
__ADS_1
Sedangkan Nico masih menunggunya gelisah, kepala pelayannya menghampiri. Seorang lelaki tua berpenampilan rapi lengkap dengan jasnya.
"Tuan, sebaiknya Tuan juga membersihkan diri. pakaian anda basah semua dan ada bekas bercak darah yang menempel dibaju Tuan," ujarnya mengingatkan tuannya itu.
"Baiklah, tunggu disini. Kalau mereka sudah selesai, jangan biarkan dokter itu pergi. Aku ingin mendengar apa katanya mengenai ini langsung" katanya seraya berlalu kearah kamarnya.
Kepala pelayan itu tersenyum, baru kali ini dia melihat tuannya itu membawa tamu atau orang asing kedalam rumah pribadinya itu.
Nico sangat menjaga privasi pribadinya itu, dia tidak akan membiarkan sembarang orang masuk kedalam rumahnya itu.
Apalagi ini dia membawa seorang wanita, langsung dari dirinya. Dan ini menjadi hari bersejarah bagi mereka semua yang ada dirumah itu.
Untuk pertama kali, tuan mereka membawa tamu ke rumahnya dan itu seorang wanita. Terluka lagi, sesuatu hal yang aneh pernah tuannya lakukan.
Setelah itu, dokter keluar dari kamar Reva bersamaan dengan Nico juga baru selesai berganti pakaian.
"Bagaimana dok, apa lukanya sangat berbahaya? Dan kondisinya, apa dia tidak kenapa-kenapa?" Tanya Nico penasaran.
"Luka di kakinya cukup dalam, apalagi posisinya di telapak kaki. Kemungkinan dia tidak bisa berjalan untuk sementara waktu sampai dia pulih total.
Jangan biarkan dia duduk dengan menapakkan kakinya, itu akan menyebabkan tekanan pada lukanya. Dan akan lebih lama sembuhnya.
Untuk sementara waktu, dia harus bed dress. Jangan lupa dengan obatnya, harus diberi tepat waktu.
Dan dia juga mengalami demam tinggi, karena kekurangan cairan didalam darahnya. Tapi anak ini termasuk kuat fisiknya, dia bisa menahan rasa sakit yang begitu menyakitkan" ujar dokter.
"Maksud Dokter apa?" tanya Nico penasaran.
"Nona ini terkena serpihan kaca yang cukup besar, tertancap kedalam telapak kakinya sedalam 2.5 inci dan lebar 6 Cm. Dan itu cukup dalam untuk ukuran telapak kakinya," dokter itu menjelaskan.
Nico terdiam mendengarnya, dia meratapi nasib gadisnya itu. Dia masuk kedalam kamar yang disiapkan untuk Reva beristirahat.
Dia memandangi wajahnya dengan sendu, gadis malang ini berjuang sendirian melawan keluarganya. Sampai pada titik terendahnya, dia menyerah.
Tok! Tok! Tok!
Kepala pelayan masuk dan memberitahukan Nico sesuatu sambil berbisik di telinganya.
Nico nampak geram ketika mendengar berita yang dibisikkan itu, dia menatap wajah Reva. Lalu dia memberikan perintah kepada pelayannya untuk bersiap-siap.
"Besok pagi-pagi sekali kita berangkat, jangan ada yang tahu keberadaan kami berdua. Siapkan saja keperluan kami yang akan kesana nanti.
Kau hubungi saja orang-orang yang di sana, bahwa kami akan datang. Aku akan menyerahkan tugas rumah ini kepadamu" ujarnya berlalu pergi ke kamarnya.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung