Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Rencana Nico


__ADS_3

Nico kembali ke rumah sakit, dia mendengar ada keributan di luar kamar Reva. Dia melihat pak Dewantoro, Elena bersama anak-anak yg tirinya sedang berdebat dengan Rendy.


"Apa yang mereka lakukan? Tidakkah itu mengganggu sekali? Benar-benar memalukan!" geramnya.


Dia melihat Rendy sepertinya kewalahan melawan mereka semua, dia mendengar percakapan mereka dari balik dinding perbatasan koridor menuju lobby depan lift lantai itu.


"Rendy, untuk sementara waktu serahkan tanggung jawab perusahaan itu ke ibumu sampai kakakmu sembuh total. Dia sudah berpengalaman dan tahu bagaimana cara menjalankan perusahaan.


Dan kamu juga sedang merawat kakakmu disini, untuk sementara waktu biarkan Pramudya memegang perusahaan itu" ujar pak Dewantoro memberikan penjelasan kepada Rendy.


"Aku pikir kalian disini untuk melihat kondisi kakakku, ternyata hanya untuk membahas soal itu saja. Dasar tak punya perasaan!


Jika mereka bersikap begitu aku tak heran, karena memang seperti itulah mereka. Tapi kau, kau itu ayahnya! Tidakkah Ayah merasa kasihan atau ada rasa peduli sedikit kepada kakakku?!" teriak Rendy marah.


"Sudahlah, gak usah di dramatis begitu. Kita semua tahu kalau aku dan ibuku lebih tahu dan berpengalaman dalam dunia bisnis ini, kalian baru pemula, jangan sampai lewat kesalahan kalian perusahaan jadi rugi nantinya" jawab Pramudya sok tahu.


"Apa?! Haha, kau harusnya berkaca saat berkata begitu. Dan tanyakan pada ayahmu itu, apa saja yang terjadi pada perusahaan selama kalian tidak ada? Dasar munafik!" geram Rendy.


Pak Dewantoro hanya diam tertunduk, karena dia menyadari semenjak ditangan Rendy perusahaan menjadi lebih baik dan harga saham naik secara signifikan, membuat perusahaannya mendapatkan untung besar.


"Untuk perusahaan dan yayasan milik ibuku, biar itu jadi urusan tanggung jawabku! Kau tak berhak atasnya, jika kau dan anak-anakmu nekad berbuat begitu, aku akan melaporkanmu kepada polisi sebagai perampasan, pencurian dan pemaksaan!


Ingat, Elena... Kau masih berhutang banyak dengan kami, dan jangan coba-coba kembali mengganggu kami lagi" ucap Rendy menatap kearahnya tajam.


"Rendy, sudahlah.." ayahnya mencoba menengahi.


"Dan kau Ayah, jika kau ingin semua perusahaan dan harta milikmu ingin diberikan kepada Elena dan anak-anaknya, terserahlah! Aku tak peduli, ambil saja semua milikmu itu.


Tapi jangan coba-coba kau sentuh milik ibu kami, hak kami itu. Apapun alasannya, kalian tak berhak" ujar Rendy lagi.


"Dasar keras kepala, ditolong kok begitu reaksinya!" teriak Pricilia ingin ambil bagian juga dia direncana itu.


Dari balik dinding itu Nico mendengar semuanya yang mereka katakan di sana, dia tersenyum kecut mendengar semua perkataan pak Dewantoro bersama istri dan anak-anak tirinya itu.


Dia melihat mereka meninggalkan Rendy sendirian di sana, sepertinya mereka sudah selesai membahas itu semuanya. Mereka semuanya berjalan menuju kearah Nico, melihat itu dia buru-buru bersembunyi.


"Dasar, sialan si Rendy. Keras kepala sekali dia!" gumam Pricilia, tapi bisa didengar oleh Nico.


"Sudah, untuk sementara kita tak perlu membahas ini dulu. Kita fokus saja dulu dengan rencana penyambutan kalian berdua nanti malam" kata pak Dewantoro.


"O iya, gara-gara masalah ini kita hampir melupakan acara pesta kita nanti malam yah" ucap Elena sumringah, wanita sosialita ini memang gemar sekali berpesta.


"Dimana, Bu? Aku lupa soal itu" tanya Pricilia.


"Kamu ini, bisa-bisanya ikutan lupa. Biasa, di ballroom hotel milik kita, pukul 20.00 kamu sudah ada di sana.


Ibu gak mau kamu datang terlambat, pastikan kamu datang oke?!" tanya Elena pada Pricilia.


"Yes, Mom!" sahut Pricilia.

__ADS_1


Pak Dewantoro sedang mengangkat telpon dari seseorang, dia pergi sedikit menjauh dari mereka. Mereka menggunakan kesempatan itu untuk membahas soal perusahaan dan yayasan itu.


"Bagaimana, Bu.. Apakah kita akan menyerah sampai disini saja? Kalau perusahaan ayah sudah pasti akan kita kuasai, tapi perusahaan dan yayasan milik mereka juga penting.


Yang aku dengar semenjak semua itu ditangani oleh Reva, perusahaan itu berjalan stabil dan keuangannya juga meningkat" ujar Pricilia.


"Tenang saja, tidak gampang merebut itu semua dari mereka. Yang jelas tujuan utama kita tetap sama, mengambil itu semuanya sampai habis tak bersisa" ujar Elena dengan seringai mengerikan.


Tidak lama kemudian pak Dewantoro pergi menemui mereka dan pulang ke rumah bersama.


Riiinggg!


Suara ponsel Nico berbunyi, untung saja mereka semuanya sudah pergi jadi aman untuknya.


"Halo, ada apa?" tanya Nico menerima telpon dari salah satu anak buahnya.


"Pak, menurut informasi nanti malam pihak kepolisian akan menemui Pricilia di rumahnya untuk melakukan penangkapan atas perbuatannya itu" lapor anak buahnya.


"Katakan kepada informanmu itu bahwa mereka akan mengadakan pesta di ballroom hotel milik Wijaya grup, grebek saja mereka di sana" kata Nico.


"Baik, Pak" kata anak buahnya.


Nico sudah memulai banyak rencana untuk menjebak Pricilia, tentu saja dia tak bisa melakukan itu semua sendiri. Selain dibantu oleh beberapa anak buahnya, dia juga ingin Rendy juga tahu semua apa yang terjadi kepada kakaknya.


"Aku harus menemuinya, bagaimanapun dia harus tahu" gumamnya.


"Kak, bangun! Jangan tidur terus... Bantu aku melakukan ini semua, aku tak bisa sendiri. Maaf yah, aku selalu merepotkan Kakak.. Aku tak pernah bisa menjalankan pekerjaan dengan benar, haha!


Karena itu, aku mohon dengan sangat. Bantu adikmu ini, adik tak pernah bisa mandiri ini.. Agar aku bisa menjalankan rencana kita, tujuan kita. Agar kita bisa berkumpul kembali, dengan adik kita juga. Ericka, hiks..." Rendy yang terlihat kuat dan berusaha tegar akhirnya luruh juga tangisnya.


Nico tak tahan melihat mereka berdua, dia jadi tak sabar menyerahkan semua harta milik mendiang ibunya, tapi dia masih berpikir secara logika, dengan apa dia menjelaskan semuanya jika mereka bertanya.


Tidak mungkin kan tiba-tiba dia berkata ibunya sebenarnya ahli waris salah satu konglomerat terkaya di negeri ini, yang ada dia dicap pembohong dan bisa-bisanya nanti dia difitnah menyogok mereka nantinya.


"Sebaiknya aku pikirkan itu nanti saja, sekarang aku fokus saja ke masalah ini dulu" gumamnya.


Tok! Tok! Tok!


Dia mengetuk pintu agar Rendy tak kaget melihat kehadirannya, setelah mengetahui yang datang adalah Nico. Wajahnya nampak datar dan dingin.


"Hai, Rendy" sapa Nico ramah.


"Hai..!" jawabnya dingin.


"Bagaimana dengan Reva, apa sudah ada perkembangan dengan kondisinya?" tanya Nico berbasa-basi.


"Dia dinyatakan koma sampai hari ini, kata dokter ada komplikasi di otaknya hingga tak bisa bekerja maksimal. Mungkin dibawah alam sadarnya dia bisa mendengar apa yang kita katakan padanya, dan bisa merasakan sentuhan.


Tapi dia tak bisa bereaksi apapun, hanya diam seperti orang tidur. Aku mencoba apa yang disarankan oleh dokter, mengajaknya berbicara untuk merangsang otaknya agar bisa membantunya beregenerasi kembali" ucap Rendy menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Itu yang dia sukai dari Nico, entah ia berpura-pura atau tidak, setidaknya saat bertemu dia bisa melihat suasana dan kondisi saat ini. Ketika mereka ada di rumah sakit untuk melihat Reva, itulah yang akan dia katakan atau tanyakan yaitu tentang kondisi Reva.


Bukan seperti ayahnya, datang bersama istri dan anak-anaknya hanya untuk membahas soal perusahaan dan harta saja, jangankan untuk menanyakan kondisi Reva, masuk kedalam kamar untuk melihat Reva saja tidak.


"Rendy, maaf aku baru menemuimu sekarang" ucap Nico pelan.


"Kakak kemana saja beberapa hari ini? Kenapa menghilang? Katanya sayang sama Kak Reva, tapi kok gak pernah datang?" cecar Rendy kepadanya.


"Aku gak pernah pergi kok, aku selalu ada didekatnya. Aku selalu ada berada disekitarmu" kata Nico.


"Bohong" jawab Rendy menatapnya sinis.


"Mari, ada yang ingin aku tunjukkan" ucap Nico sambil menarik tangan Rendy kesebuah lemari kayu bertirai kain.


Alangkah terkejutnya Rendy melihat dibalik lemari kayu itu ada pintu menuju ke sebuah kamar kecil tapi memiliki fasilitas yang lumayan lengkap.


"Disinilah aku selama ini berada, jadi aku bisa melihat kondisi Reva dan menemaninya ketika kamu keluar sebentar" ucap Nico berbicara apa adanya.


"Kenapa Kakak tak datang saja langsung, daripada seperti itu? Ah, Kakak pasti tidak suka dengan ayah yah?" ujar Rendy lagi.


"Ren, sebenarnya ada banyak yang ingin aku katakan padamu.Tapi sebelum itu, nanti malam sempatkan waktumu untuk ikut denganku" kata Nico.


"Tapi, bagaimana dengan Kak Reva? Siapa yang akan menjaganya?" tanya Rendy khawatir.


"Aku sudah menghubungi sekretaris dan asistennya untuk menjaga dan mengurusnya, nanti juga ada beberapa bodyguard yang akan menjaga kamar ini" ujar Nico.


"Baiklah kalau begitu, tapi... Aku juga akan menyuruh orangku untuk berjaga" ucap Rendy.


"Baiklah, kita akan bertemu nanti malam didepan ballroom hotel milik ayahmu pukul 7 malam, tidak boleh lewat sedikit pun" ucap Nico.


"Kenapa, kau ingin aku juga ikut menghadiri acara pesta mereka itu?" tanya Rendy sinis.


Rupanya dia juga tahu tentang rencana pesta Elena nanti malam, tentu saja karena dia tadi juga ditawari juga untuk datang.


"Tidak, bukan itu. Ada yang lebih penting dari itu" jawab Nico.


"Apa itu?" tanya Rendi.


"Nanti malam kau akan tahu..." jawab Nico lagi.


Keduanya sempat terdiam beberapa saat, lalu kemudian Nico bertanya sesuatu hal yang mengejutkan Rendy.


"Rendy, bagaimana menurutmu tentang pernikahan? Apakah kau mau jadi wali nikah kakakmu??" tanya Nico dengan tiba-tiba.


"A-apa? Nikah??" tanya Rendy terkejut.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2