Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Plastic Surgery


__ADS_3

Siangnya Ericka bersama Jessy dan ditemani oleh Stanley pergi ke klinik sesuai dengan janji yang sudah ditetapkan oleh Jessy dan dokter Chaterine.


Ericka yang masih bingung dan gak tahu apa-apa terpaksa ikut saja, karena sebelumnya dia tidak diberitahu soal operasi wajahnya itu.


"Aku tak bisa menemanimu, kalian pergi saja. Kalau perlu apa-apa hanya hubungi saja manajer atau asistenku. Jess, aku percaya padamu bisa melakukan yang terbaik untuknya.


Dan kau Stanley, jaga mereka jangan sampai kejadian tempo hari terulang lagi. Dan kau, nurut saja apa katanya. Gak usah ngebantah, ini semua demi kebaikanmu" kata Aaron memberikan arahan kepada mereka semuanya.


Terutama kepada Ericka yang terlihat bingung dan panik, kalau dipikir wajar saja karena dia tiba-tiba telah dijadwalkan harus operasi hari ini.


Akhirnya mereka pergi juga, sepanjang jalan Jessy terus berbicara kepada Ericka. Dia memberitahukan bahwa operasi itu demi kebaikannya, terus memberinya semangat untuk tidak takut di operasi dan nyerocos terus gak berhenti.


Tapi tak satupun ditanggapi oleh Ericka, dia sibuk menata hatinya untuk berusaha siap menjalani prosedur itu yang katanya demi kebaikannya.


Bukan apa-apa, dia masih teringat dengan kejadian dulu setelah dia dioperasi wajahnya dijahit pertama kali, efek obat bius sudah hilang dia merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Waktu itu rumah sakit dokter Anwar belum memiliki peralatan canggih dan obat-obatan yang belum memadai. Hanya sekedarnya saja, Elena saja memaksanya melakukan operasi di sana.


Sesampainya di sana, dia ragu-ragu untuk keluar dari mobil. Dia masih gemetaran karena masih trauma, rasa sakit masih membayang-bayanginya.


"Duh, bocah! Stanley, gendong dia terus langsung bawa ke dalam!" pinta Jessyke Stanley.


"Siap!" jawab Stanley, dia langsung sigap menggendong Ericka tanpa permisi.


"Apa-apaan sih! Lepasin gak?! Stanley, turunkan aku!" teriak Ericka.


Tapi teriakannya tak dihiraukan oleh Stanley ataupun Jessy, mereka masuk ke dalam klinik itu dan ditunggu oleh beberapa perawat lengkap dengan kursi roda.


Bak orang kesakitan, Ericka didudukkan diatas kursi itu dan dibawa ke ruang perawatan.


"Jess, Jessy! Aku mau dibawa kemana?! Jessyyy!" teriaknya.


Sedangkan perawat yang membawanya santai saja membawanya ke sebuah ruangan diujung koridor klinik itu.


"Ish, berisik sekali ni bocah! Udah, gak usah takut you gak akan diapa-apain" ujar Jessy.


Setelah itu dia dan Stanley masuk ke ruangan dokter yang akan menangani Ericka, dan di sana sudah ada dokter Chaterine.


Mereka mulai membahas prosedur operasi Ericka, gak langsung di operasi hari itu. Karena Ericka harus melewati beberapa tahap sebelum operasi dimulai.


Setelah satu minggu berlalu, setelah melewati beberapa tahap dan prosedur akhirnya operasi pun dimulai.


Kali ini Aaron ikut menemaninya, hari ini satu lantai di klinik itu dipakai untuk menangani Ericka seorang. Aaron yang perfeksionis tak ingin ada yang kurang ataupun gangguan lainnya.


Selain dia, jessy dan Stanley yang menemani Ericka. Di sana juga ada beberapa bodyguard miliknya berjaga, sedikit banyaknya menarik perhatian beberapa pengunjung di sana.


Salah satunya seorang wanita paruh baya dengan beberapa orang yang menemaninya, dia sedang menemani putranya melakukan perawatan setelah mengalami 'kecelakaan' waktu itu.


"Siapa mereka? Sepertinya orang penting sekali yah, sampai satu lantai disewa untuk mereka" tanya wanita itu.


"Kami tak tahu siapa mereka, yang jelas pasti salah satu konglomerat di kota ini. Mungkin anak ataupun istri si konglomerat yang mau operasi plastik, mungkin" jawab salah satu orang yang menemani wanita itu.


"Sudah tak usah banyak tanya, setelah anakku selesai diperiksa kalian harus cepat kembali! Dan kita mulai lagi pencarian gadis itu sebelum tuan mengamuk" jawab lagi lelaki bertubuh besar dan berjenggot lebat.


Wanita paruh baya itu terlihat ketakutan mendengar perkataannya tadi, setelah itu anak wanita itu keluar sambil memakai kursi roda.

__ADS_1


"Mah..." sapa putranya itu, wajahnya nampak pucat dan memakai dress khusus pasien.


Dia sengaja dipakaikan seperti itu, karena baru selesai melakukan pemeriksaan.


"Sebentar lagi, lukanya sembuh. Sekarang ini harus melakukan pemulihan dulu, jangan dulu pakai ****** ***** atau apapun. Cukup kain aja buat menutupi.


Jangan sampai kena iritasi lagi, kalau tidak kita terpaksa mengoperasi ulang. Dan peni*s palsu ini akan dicabut kembali" kata dokter yang merawatnya tadi.


"Jangan, Dok! Jangan dicabut, saya tak ingin harga diri saya hilaaang, huuu!" lelaki dewasa itu menangis seperti anak kecil saja.


"Hus, diam kamu! Lagian buat apa kamu pakai itu?! Tidak berfungsi juga kan" ujar ibunya menenangkan putranya itu.


"Tapi setidaknya bisa dipakai buat pipis, Bu. Aku gak mau jongkok kayak perempuan!" ujar putranya itu.


"Iya, yah! Sudah selesai belum pemeriksaannya? Kalau sudah selesai kita harus kembali! Kita harus menemukan anak itu!" ujar wanita itu sambil menatap tajam kearah lain.


"Emang Ericka belum ditemukan, Bu? Gadis itu harus ditemukan dan aku bisa membalaskan dendamku kepada Reva dan lelaki bajingan itu!" ujar Pramudya geram.


Yah, mereka adalah Elena dan Pramudya. Mereka sementara waktu tinggal di London untuk menjalani pengobatan dan operasi kelamin si Pramudya.


Mereka bekerja sama dengan mr. Robert untuk melakukan pembalasan ke keluarga Wijaya, Elena begitu dendam dengan Reva dan adik-adiknya.


Dia juga membenci suaminya karena tak lagi mendukungnya, dia berencana ingin menghancurkan keluarga itu setelah urusannya dengan putranya itu selesai dan Ericka ditemukan dan bisa memberikannya ke mr. Robert untuk melunasi hutang-hutangnya mereka.


Apalagi di Indonesia dia sudah tak memiliki apapun lagi, semua hartanya habis untuk melakukan pengobatan Pramudya dan membayar denda juga hutang-hutangnya.


Sedangkan agensi modelnya ditangani oleh Pricilia, dia tak tahu nasib agensinya ditangan anak manjanya itu.


Mereka keluar dari klinik itu ditemani oleh beberapa anak buah mr. Robert, takut kalau mereka kabur.


"Kenapa?" tanya Aaron.


"Aku mengenali salah satu mereka, lelaki bertubuh besar itu pernah melawanku malam itu. Aku yakin dia mengenaliku juga" jawab Stanley.


"Kau benar, aku juga mengenalinya. Sebelumnya dia juga aku hajar malam itu, tapi apa yang mereka lakukan disini? Siapa wanita tua dan lelaki di kursi roda itu?" tanya Aaron.


"Aku tak tahu, sepertinya mereka ada hubungannya dengan semua ini" ujar Stanley lagi.


"Kita harus berhati-hati lagi, Jangan sampai ada yang mengusup lagi kesini. Sepertinya aku harus menambah personil lagi disini" ujar Aaron.


Mereka kembali ke ruangan operasi untuk mengetahui hasil operasi anak itu, ternyata operasi telah selesai dan Ericka ditempatkan ke sebuah ruangan yang sudah disterilkan.


Aaron, Jessy dan Stanley hanya bisa melihatnya dari dinding kaca dibalik kamar itu. seluruh wajah Ericka terbalut perban, dia dipasangi selang oksigen dan diinfus juga.


Hampir seluruh wajahnya tertutup sempurna, kecuali mata, hidung dan mulutnya yang tidak kena perban.


Mereka memandangi anak itu, sepertinya dia masih tertidur karena efek obat bius belum hilang. Mereka menemui dokter yang baru keluar dari kamar itu.


"Dia butuh istirahat total, karena dia harus menjalani serangkaian prosedur lagi. Pemulihan sampai wajahnya benar-benar sudah pulih dan membaik sepenuhnya" ujar dokter itu seraya berlalu pergi.


"Aku tak bisa menemani dia terus-terusan disini, aku serahkan semua tanggung jawabnya ke kamu Jess. Dan kau Stanley, harus tetap waspada" ucap Aaron.


"Baik..." jawab keduanya.


Mereka seperti biasa, melakukan kegiatan rutinitas seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada gangguan ataupun masalah yang mereka hadapi, Ericka pun bisa menjalani pemulihan tanpa masalah apapun.

__ADS_1


Sambil menunggu pemulihan, dia belajar dan berlatih banyak hal, termasuk belajar menembak dan berlatih ilmu bela diri.


"Memangnya kau butuh ini semua?" tanya Stanley heran.


"Iya, buat jaga-jaga. Siapa tahu kan aku di serang tiba-tiba oleh orang yang tak dikenal" jawab Ericka santai.


"Kalau untuk menembak aku rasa tak perlu, karena kau takkan dibekali senjata apapun. Bisa-bisa kau akan membunuh orang, lagian tuan Aaron pasti takkan mengizinkan" jawab Stanley sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju.


"Tapi kalau aku sedang sendiri, terus dalam bahaya gimana?!" tanya Ericka lagi ngotot.


"Aku kan ada bersamamu, kau tidak akan dalam bahaya apapun" jawab Stanley tersenyum penuh arti.


"Bukan begitu, masalahnya--" perkataannya langsung dipotong oleh Stanley.


"Kalau kau mau belajar ilmu bela diri, boleh! Tapi tidak dengan menembak ataupun menggunakan senjata apapun" ujar Stanley cepat.


"Benarkah?! Wah, aku senang sekali" ucap Ericka terlihat girang dan loncat-loncat seperti anak kecil.


"Hem, dasar bocah" gumam Stanley tersenyum melihat tingkah Ericka yang seperti anak kecil itu.


Maka mulailah Ericka dengan seabrek kegiatan rutinitasnya.


Jika bersama Jessy, dia akan mulai lagi dengan kelas fashion, make up dan pelajaran lainnya menjadi wanita anggun dan elegan, wanita berkelas lainnya.


Sedangkan saat bersama Stanley, dia akan belajar banyak hal dalam ilmu bela diri. Dari segala jenis ilmu bela diri dia jalani, mulai dari taekwondo, muangthai, sampai Wushu pun dia pelajari.


Jadilah Ericka menjadi gadis yang kompletable, gadis yang serba bisa. Selain dengan kegiatan rutinitasnya yang melelahkan itu, dia juga harus kuliah bareng Aaron.


Dimana muridnya hanya dua tapi gurunya banyak banget, Ericka kadang sekali-kali mengantuk mengikuti pelajaran yang sama sekali tidak dia mengerti.


"Hooaaammffh, akhirnya kelas berakhir juga" ujarnya sambil merenggangkan kedua tangannya.


"Kamu bisa gak sih ikutin kelas dengan baik?!" tanya Aaron kesal.


"Aku capek, Tuan. Aku harus melakukan banyak hal setiap harinya, dari pagi sampai malam" jawab Ericka malas-malasan.


"Tapi setidaknya kau harus serius soal ini, aku gak gampang mengumpulkan beberapa guru besar dan dosen itu, mereka berasal dari beberapa universitas besar di dunia" jawab Aaron dingin.


"Iya, yah! Aku percaya. Aku istirahat dulu yah..." ujar Ericka nampak kelelahan.


Dia ingin bangkit dari duduknya dan menuju kamarnya, tapi tangannya ditarik oleh Aaron. Karena posisinya tubuhnya yang lemah, dan ditarik begitu saja otomatis badannya langsung nemplok ketubuh Aaron yang masih terduduk diam dikursinya.


"Apa kau menggodaku?" ujar Aaron menatap tajam kearah Ericka.


Ericka yang masih speechless disaat posisinya yang tak karuan itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Nafas harum dan hangat dari Aaron sejenak membuatnya terdiam.


"Dia tampan, dan wangi. Tapi sayangnya galak..." gumam Ericka dalam hati.


Cup!


Ericka kaget, tiba-tiba ada benda kenyal-kenyal kayak jelly mendarat di bibirnya. Apa-apaan tadi? Apakah si kulkas habis cium dia?? pikirnya.


...----------------...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2