
Keduanya sempat terdiam sejenak, dan akhirnya kembali tersadar dari pikiran masing-masing. Keduanya mendadak menjadi canggung, Ericka bangkit dari pangkuan Aaron dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
"Sa-saya permisi dulu, Tuan" ujarnya dan bergegas keluar dari ruangan itu.
"Tunggu!" seru Aaron mencegah Ericka pergi.
"Jangan panggil aku Tuan lagi, karena aku bukan tuanmu" ucapnya pelan.
"Tapi anda telah banyak membantu saya, suatu saat nanti saya ingin membalas kebaikan anda" ujar Ericka, dia tak ingin berhutang budi dengan siapapun.
"Aku ikhlas membantumu, dan berhentilah berbicara formal seperti itu. Aku tak suka! Dan kalau ada apapun, tolong cerita saja padaku" ujarnya Aaron lagi.
"Baiklah, Tuan eeh... Em, Aaron. Permisi" ujar Ericka menyudahi pembicaraan ini.
Dia keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk, baru saja dia merasa canggung dan bingung setelah mendapatkan kecupan dari Aaron.
Sekarang lelaki itu memintanya bersikap biasa saja kepadanya, apalagi saat dia menatap ekspresinya seperti terlihat sedih dan suaranya sedikit bergetar itu membuat Ericka tambah bingung.
"Ada apa ini? Kenapa sikapnya jadi berubah begitu? Dia lagi gak sakit kan?" gumamnya.
//
Tidak terasa waktu cepat berlalu, tiga bulan telah ia lewati. Sejak kejadian itu Ericka tak bertemu kembali dengan Aaron.
Aaron ada urusan di luar negeri, dia harus meninggalkan Ericka kurang lebih selama dua minggu bersama Jessy dan Stanley.
Dan sekarang dia sudah kembali, dan menunggu kedatangan Ericka dengan penampilan barunya.
"Seperti apa dia sekarang? Dua minggu serasa dua tahun bagiku" gumamnya sambil tersenyum tipis.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu kerjanya diketuk dari luar, dan masuklah Jessy dan beberapa anak buahnya. Terlihat dari senyuman mereka, sepertinya mereka akan menampilkan sesuatu yang membanggakan mereka.
"Permisi, Bos. Kita ingin menunjukkan seseorang kepada anda, ay yakin bos pasti suka dan bangga padanya" ucap Jessy dengan semangat.
"Sista, yuk masuk!" teriaknya meminta seseorang diluar sana untuk masuk ke ruangan itu.
Aaron terkejut melihat seseorang yang dia kenal nampak berubah penampilannya, gadis itu semakin cantik, wajahnya nampak berseri dan senyum manisnya menghiasi bibirnya indahnya.
Memakai dress selutut berwarna biru yang membentuk tubuh indah itu, dipadukan dengan blazer warna senada membuatnya nampak anggun dan dewasa.
Bak putri-putri bangsawan royal princess Britania, dia juga memakai topi kecil yang berornamen bunga-bunga menghiasinya kepalanya.
Ericka berjalan anggun menghadap Aaron, ditangannya dia memegang tas tangan kecil, dan sepatu high heels warna senada dengan pakaiannya.
"Selamat datang, Tuan. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, maaf saya baru bisa menyapa anda sekarang" ucap Ericka sopan, sambil sedikit menundukkan badannya memberikan penghormatan kepada Aaron layaknya royal princess.
Aaron terpaku melihat penampilan sekaligus sikap Ericka yang baru, dia senang melihatnya menjadi wanita terhormat seperti itu tapi disisi lain dia merindukan Ericka yang dulu, gadis pemalu juga manja itu, gadis polos dan suka bersikap spontan.
__ADS_1
"Halo Ericka, senang melihatmu kembali" ucap Aaron.
Dia meminta Ericka duduk di sofa tamu di ruangannya, dia juga meminta Jessy memanggil Stanley diluar sana ikut bergabung dengan mereka.
Jadilah mereka berempat berkumpul di ruangan itu, Aaron diam sejenak sebelum dia memulai berbicara.
"Jadi, Ericka... Sebenarnya ada banyak yang ingin aku ceritakan dan sampaikan padamu, pertama-tama aku ingin mengatakan bahwa sebenarnya Stanley ini bekerja denganku.
Tadinya dia hanya pekerja paruh waktu, sekarang dia bekerja seterusnya bersamamu. Menjadi pengawal pribadimu" ujar Aaron.
"Iya, saya sudah tahu sejak lama. Sejak anda pertama kali bertemu dengan saya, saya tahu dia adalah salah satu anak buah anda.
Karena tak mungkin anda terus-menerus menyuruhnya ini itu sedangkan dia hanya menurut saja.
Tapi, Tuan. Tidak salah kan jika seorang majikan berteman dengan anak buahnya? Kenapa tidak kalian berteman saja, seperti yang anda ucapkan dulu?
Saya yakin Stanley adalah orang baik, karena saya sudah merasakan kebaikannya. Dan Anda seseorang yang bijak, saya yakin anda pandai dalam bersikap" ucap Ericka.
Mereka semuanya terdiam mendengar perkataan Ericka yang cukup bijak itu, meskipun dia ikut membantu Ericka berubah seperti ini, tapi Jessy tak sanggup menahan air mata terharunya, melihat gadis didikannya tumbuh dewasa.
"Ya, kau benar sekali. Nona... Tapi apa kau tidak tahu, kalau aku dan Stanley memang bersahabat? Selama ini kami hanya bersikap profesional saja, ketika dia sedang bertugas kami berperan bos dan anak buah.
Diluar itu, kami sahabat. Begitulah, silakan konfirmasi ke Jessy dan Stanley" sahut Aaron.
Dengan sedikit menahan rasa malu dan emosinya, dia menatap Stanley dan Jessy. Dan keduanya pun mengangguk tanda setuju apa yang diucapkan oleh bosnya tadi.
"You kan tidak nanya soal itu ke ay, mana ay tahu jika you gak tahu apa-apa" ucap Jessy.
"Sorry, aku juga gak tahu kalau kamu masih mengira kami membohongi kamu. Kalau begitu, aku sudah pasti akan menjelaskan semuanya" ucap Stanley sambil menatap Ericka.
Mendengar Stanley berbicara aku kamu ke Ericka, membuat Aaron panas dingin. Sedangkan dengannya, Ericka malah berbicara formal.
"Jadi, sudah sedekat apa mereka? Secara mereka sudah kenal lama, Ericka juga pernah tinggal di rumahnya lama dan sekarang mereka selalu bersama" gumamnya dalam hati.
Ada rasa sakit dan tidak enak dihatinya melihat kedekatan mereka, dia melihat Ericka juga terlihat merasa nyaman bersama Stanley.
"Jadi, apalagi yang ingin anda katakan lagi, Tuan?" tanya Ericka memecahkan lamunannya.
"Eh, iya? Sampai mana kita tadi?" tanyanya linglung.
"Ah, iya! Tentang hubunganku dengan Stanley, itu semuanya benar. Dan kedua, aku harap kamu dengarkan aku dulu dan jangan marah...
Sebenarnya aku tahu semuanya tentang identitas aslimu, Ericka. Termasuk kenapa kamu bisa ada di negeri yang sangat jauh dengan negaramu sendiri.
Aku tahu semuanya, aku sengaja merahasiakan ini semua menunggu kamu sudah siap dengan segala hal, termasuk mental kamu.
Dari awal aku yang membantumu bebas dari kurungan mr. Robert, aku meminta salah satu anak buahku untuk membantumu kabur dari sana. Mereka yang sengaja menyamar jadi pengawalnya.
Termasuk kepada teman-teman pelayanmu waktu masih di sana, mereka menolongmu atas kesadaran diri mereka sendiri, dan juga atas dorongan semangat dari anak buahku.
__ADS_1
Dia sengaja memprovokasi mereka agar tersulut emosinya untuk melawan mr. Robert, setidaknya dengan membantumu kabur, sedikit banyaknya mereka bisa melakukan hal yang benar demi melawan bos kejam itu" ujar Aaron menjelaskan semuanya.
"Kenapa kamu juga tak menolong mereka, bukankah mereka secara tak langsung membantumu?" tanya Ericka yang ikut-ikutan menyebut aku kamu ke Aaron karena orang itu memanggilnya begitu.
"Aku juga ingin begitu, tapi tak bisa. Kalau aku menolong mereka semuanya, aku takut penyamaran anak buahku terungkap. Aku rasa kami bisa mengerti" ucap Aaron lagi, dia senang Ericka bisa menyeimbangi cara bicaranya.
Setelah itu, Aaron kembali bercerita soal dia bekerja sama dengan Nico untuk menyelamatkan dirinya dari tangan mr. Robert dan genggaman Elena.
Aaron juga menceritakan semua rencana dirinya dan Nico untuk menyembunyikan dirinya sementara waktu, karena saat ini kondisi keluarganya sedang tidak baik-baik saja saat itu.
Dan sekarang waktunya sudah siap, Ericka sudah disiapkan untuk kembali ke tanah air. Dia akan kembali ke rumahnya, rumah yang dia tunggu belasan tahun, rumah yang menjadi saksi bisu atas hinaan dan caci maki yang dia terima selama ini.
Mendadak emosinya hampir tak terkendali karena mengingat itu semua, dia menangis sesenggukan dibahu Jessy dan melihat itupun Jessy ikut menangis juga.
Sadar ini bukan waktu yang tepat, maka Aaron mengurungkan jadwal keberangkatan mereka ke Indonesia.
"Sepertinya kita butuh waktu lagi untuknya, sampai dia bisa mengendalikan emosinya" ujarnya kepada Jessy dan Stanley.
//
Sementara itu, dikediaman mr. Robert suasana di sana begitu mencekam. Mr. Robert baru saja mengamuk memecahkan salah satu vas antik kesayangannya.
"Ingat, aku sudah banyak memberikan kamu waktu untuk mencari anak itu! Dan sebentar lagi waktumu habis, jika sampai besok gadis itu tak muncul juga...
Maka putra kesayanganmu itu akan menjadi penggantinya, akan aku jadikan dia sesuatu yang membuatnya takut! Apa?! Kejantanannya hilang, dia memiliki yang palsu! Bagaimana jika dia kujadikan pelayan disini dan menjadi salah satu 'wanita' untuk menghibur para pengawalku!
Bagaimana?! Kau setuju?!!" bentak mr. Robert ke Elena.
Wajah Elena pucat ketakutan, dia menatap Pramudya yang mulai menangis ketakutan seperti anak kecil, Pramudya menggeleng cepat untuk tidak menyetujui keinginan mr Robert itu.
"Tidak, Tuan! Jangan lakukan itu, kasihanilah kami, aku janji besok akan menemukan gadis itu!" ujar Elena sambil berlutut didepan mr. Robert.
"Baiklah, aku tunggu sampai besok malam. Jika tidak putramu sebagai gantinya" ujar mr. Robert sebelum meninggalkan mereka berdua saja di ruangan itu.
"Ibu, Ibu! Aku tidak mau tinggal disini selamanya apalagi menjadi pemuas nafs* para bajingan disini!" rengek Pramudya.
"Sudah diam kamu! Kepala Ibu pusing sekali, bagaimana caranya kita bebas dari bajingan ini" ujar Elena sambil memijit kepalanya yang mendadak pusing sekali.
Tiba-tiba Hpnya berbunyi, dan dia lihat ada nama suaminya tertera di panggilan itu. Elena ragu menjawabnya, setelah beberapa kali ada panggilan itu akhirnya dia mengangkatnya juga.
"Ha-halo?" sapanya gugup.
Setelah cukup lama dia mendengarkan, ekspresinya mendadak berubah menjadi sangat ceria.
"Benarkah, mas?! Syukurlah kalau begitu" ujarnya senang sekali.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1