Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Perubahan Sikap Julia


__ADS_3

Sementara itu di rumah sakit, Ericka dibantu bi Mirna bersiap-siap untuk pulang. Cukup tiga hari saja di sana sudah membuatnya senang.


Entah apa yang ada dipikirannya, yang jelas dia merasa ada sedikit kebebasan untuknya. Selama ini dia hanya boleh keluar kalau sekolah saja, setelah itu tidak boleh keluar.


Dia hanya mengurung diri di kamar, saat membuka pintu kamarnya itu rasanya sesak di dada. Setiap sudut ruangan besar itu terasa sempit untuknya, tak ada penerimaan untuknya dari orang-orang di rumah itu.


Makanya saat di rumah sakit meskipun hanya tiduran saja di sana, cukup membuatnya senang. Setidaknya dia tidak harus mendengar segala bentuk hinaan untuknya.


Selama itu juga, dia tidak pernah dijenguk oleh ayah dan ibu tiri beserta saudara-saudara tirinya. Ada rasa kecewa di dirinya, tapi dia sudah menduga ini akan terjadi karena tidak mungkin mereka akan membuang waktunya hanya untuk dirinya seorang.


"Bi, aku mau jalan-jalan sebentar yah di sekitaran rumah sakit. Gak lama kok, mumpung masih disini." Ucapnya sembari tersenyum ceria.


"Kamu ini, orang tuh yah kalau dirawat di rumah sakit kebanyakan gak betah. Pengen cepat-cepat pulang.


Lah kamu, kayak habis dari wisata seneng banget. Hehe! Yah sudah, jangan jauh-jauh yah, nanti kalau non Reva datang kita langsung pulang" ujar bi Mirna tersenyum melihat Ericka.


Ericka melompat kegirangan, dia seperti menghirup udara segar. Dia memeluk bi Mirna tanda terima kasihnya. Setelah itu dia pergi keluar kamar inap tersebut.


Dia menyelusuri koridor rumah sakit itu, di menatap setiap dinding dan ornamennya. Ada beberapa poster dipajang di setiap dindingnya, berbagai imbauan dan imbuhan dari rumah sakit terpajang di sana.


Dia baca satu persatu, dia melihat dokter dan perawat yang begitu sibuk keluar masuk ruangan pasien. Dan beberapa pegawai rumah sakit yang terlihat sibuk.


Dia turun ke lantai bawah, di sana juga lebih ramai lagi orang-orang berdatangan untuk berobat. Berbagai pasien dengan segala jenis penyakitnya datang untuk berobat.


Ada orang tua dan dewasa, juga anak-anak hingga balita yang datang. Seperti orang aneh, Ericka memperhatikan mereka. Jujur saja, baru kali ini dia merasa bebas berkeliaran sendiri.


Biasanya dia selalu dikawal jika ingin keluar rumah, rasa kebebasan itu tidak ada. Dia senang bisa melakukan apa saja sendiri, seperti saat ini.


Dia sekarang berada diluar gedung rumah sakit, dia duduk disekitaran taman rumah sakit itu. Ada beberapa pasien dan kerabatnya yang duduk bersantai di sana.


Mereka menikmati udara sejuk diluar sana, ada yang sengaja berjemur atau terapi jalan di jalan setapak khusus jalan terapi.


Ericka nampak senang sekali, tapi dia tidak sadar ada yang memperhatikannya sedari tadi. Seseorang yang menaruh dendam padanya.


Saat dia hendak kembali kedalam rumah sakit, seseorang memanggilnya, Julia datang dengan senyuman ceria menyapanya.


"Ericka, hai! Maaf aku baru datang menjengukmu, emm... Kamu sudah bisa jalan-jalan sendiri?" Tanyanya heran menatap Ericka nampak sehat-sehat saja.


"I-iya, te-terima kasih sudah datang" ucapnya terbata-bata, dia masih takut dengan Julia.


Rasanya aneh sekali dia datang menjenguknya, orang yang paling membencinya yang setiap hari kerjaannya mencari cara untuk membullynya.


Tiba-tiba datang dan bersikap ramah dengannya, ada apa sebenarnya yang terjadi? Ini bukan akal-akalan dia untuk melakukan hal yang buruk untuknya, 'kan?!


"Em, Ericka... Bisa bicara sebentar denganku, aku tidak akan lama kok. Bisa yah?" Pintanya sedikit merendahkan suaranya.


"Mau bicara apa? katakan saja sekarang, aku ingin kembali bi Mirna pasti sudah lama menungguku" jawab Ericka dengan enggan.


Mau seramah atau sebaiknya dia, Ericka tetap tidak percaya dengannya. Tapi saat itu, perubahan ekspresi wajah Julia berubah. Dia nampak sedih sekali.

__ADS_1


"Maafkan aku Ericka, aku sudah banyak berbuat jahat padamu. Aku tahu, semua kulakukan saat ini akan sia-sia saja karena kamu sudah tak percaya lagi padaku" ujarnya, terlihat air matanya mengalir dipipinya.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Julia? Katakan saja apa yang kau inginkan." Jawab Ericka, hatinya sedikit melunak ketika melihatnya menangis.


"Kemarin kakakmu datang ke rumah dan menemui orang tuaku, dia mengatakan semua yang terjadi diantara kita selama ini.


Awalnya ada penolakan dari orang tuaku yang mengira kita berteman baik selama ini. Akhirnya mereka bisa mengerti setelah aku menjelaskan ke mereka semuanya, tentu saja mereka marah padaku dan aku dihukum semalam oleh mereka.


Setelah mengalami semuanya, aku jadi mengerti apa yang kau alami selama ini. Jadi aku mohon, maafkan aku Ericka. Hik...hik!" Dia menangis tersedu didepannya.


Ericka merasa tidak enak karena semua orang mulai memperhatikan mereka. Dia tidak ingin menjadi penyebab Julia menangis seperti itu.


"Baiklah, mari kita bicarakan ini dulu di sana. Tidak enak kalau dilihat orang, nanti dikiranya aku yang membuatmu menangis" ujar Ericka sambil menuntun Julia duduk disalah satu bangku di taman itu.


Ericka terlihat sedang berusaha menenangkan Julia yang mulai menangis tersedu-sedu. Dia berusaha menenangkannya dengan memberikannya minum.


Setelah mulai tenang, dia sudah bisa diajak bicara tenang kembali. Dia terlihat pucat sekali, tatapannya sendu.


"Ericka, aku benar-benar menderita sekarang ini. Apalagi aku baru mendengar usaha orang tuaku mulai bangkrut, dan ibuku dikeluarkan dari pengurusan di yayasan sekolah.


Saat ini kami benar-benar tidak memiliki apapun, dengan ini aku mohon padamu. Tolong katakan pada kakakmu Reva, untuk mencabut tuntutannya kepada orang tuaku." Katanya sambil menangis lagi.


Ericka bingung apa yang dibicarakan oleh Julia, apa hubungannya dengan kakaknya atas kebangkrutan yang dialami oleh keluarganya?


"Tolong jelaskan lagi, apa maksudmu tadi? Apa kakakku terlibat atas permasalahan yang dialami oleh keluargamu?" Tanya Ericka penuh selidik.


"Ti-tidak, jangan katakan itu! Ka-kakakmu orang baik kok!" Ujar Julia terlihat gelagapan.


Melihat ekspresi Julia ketakutan seperti itu, sepertinya Reva sudah melakukan sesuatu terhadap keluarganya Julia. Makanya Julia terlihat ketakutan.


Entah apa yang dilakukan kakaknya itu, apa dia mengancamnya atau melakukan sesuatu yang lebih buruk lagi?


"Jawab pertanyaanku Julia, apa kakakku mengancam kalian?" tanya Ericka dengan wajah serius.


Julia sedikit mengangguk pelan, seperti ada keraguan di dirinya. Ericka tahu betul perasaan itu, karena dia pernah mengalaminya.


"Baiklah, aku akan coba berbicara padanya. Tapi apa kau tidak akan-" belum selesai Ericka berbicara, Julia sudah memotong perkataannya.


"Aku tidak akan mengganggumu lagi Ericka, aku janji! Lagian Della sudah pulang kampung bersama keluarganya.


Sedangkan Stella dan Stellie sedang sibuk membantu usaha keluarganya, hanya aku sendiri disini.


Ericka, kamu mau 'kan menjadi temanku?!" Ucapnya dengan wajah memelas.


Entah kenapa, Ericka menjadi kasihan padanya. Sekarang Julia bukan siapa-siapa lagi, teman-temannya meninggalkannya. Dia tahu betul rasanya di asingkan.


"Iya, aku mau" jawabnya dengan senyuman tulus.


Julia nampak berkaca-kaca dia menatap Ericka dengan pandangan haru, lalu memeluknya dengan tangisannya.

__ADS_1


"Baiklah, Ericka. Terima kasih sudah memaafkanku, dan mau berteman denganku. Aku akan berusaha menjadi teman terbaik untukmu.


Dan tolong katakan pada kak Reva, untuk mencabut gugatannya kepada keluargaku dan mengembalikan posisi ibuku di yayasan sekolah. Yah?!" Pintanya dengan wajah sendu.


"Iya, aku akan coba." Jawab Ericka dengan singkat.


"Baiklah, aku pamit dulu yah. Aku tidak bisa meninggalkan ibuku lama, dia sedang sedih sekarang. Terima kasih untuk semuanya Ericka" ucapnya sembari melambaikan tangannya lalu berlalu pergi.


Perasaan Ericka sekarang begitu lega, dia bahagia karena sudah terlepas dari rasa ketakutan yang melandanya selama ini.


Sekarang dia bisa sedikit lega sudah tak punya masalah lagi dengan teman-teman sekolahnya dulu, bahkan dia punya teman baru sekarang.


Saat membalikkan badannya dia terkejut, Reva sudah ada dibelakangnya.


"Kamu kenapa terkejut begitu melihatku? Dan apa ini, senyum-senyum sendiri?" kata Reva heran melihat tingkah adiknya itu.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya senang saja, bisa jalan-jalan sebentar sebelum pulang dan dikurung lagi." Kata Ericka tersenyum pada kakaknya itu.


Reva terlihat sedih dan merasa kasihan pada adiknya itu, sampai detik ini dia merasa belum bisa membuat adiknya bahagia.


"Bagaimana, masih mau jalan-jalan?" tanya Reva lagi.


"Gak Kak, kasihan bi Mirna sudah menunggu lama." Jawabnya sambil berlalu pergi.


Dan di sana bi Mirna sudah menunggunya sambil membawa beberapa barang bawaannya. Ericka buru-buru menghampirinya untuk membantunya, bi Mirna nampak kerepotan dengan bawaan sebanyak itu.


"Ih, Kakak. Masa' Bi Mirna disuruh bawa barang sebanyak ini sendirian!" Ujar Ericka sedikit dongkol.


"Gak kok Non, saya sendiri yang mau bawa sendiri. Lagian daripada naik turun ambil barang, lebih baik Bibi turun sekalian bawa barangnya.


Jadi Non Reva dan Non Ericka gak usah naik dan turun lagi," kata bi Mirna.


"Uhh, baik banget sih Bibi aku yang satu ini. Hehe!" Kata Reva sambil memeluk bi Mirna.


Bi Mirna terlihat heran melihat tingkah Ericka nampak sedikit berbeda, dia melihat Reva hanya mengangkat bahunya, dia juga tidak tahu apa-apa.


"Ada apa ini? seneng banget kayaknya!" Ujar bi Mirna nampak menggodanya.


"Katanya lagi senang Bi, ya udah... Karena Ericka lagi senang, mari kita ajak dia makan sebentar diluar." Kata Reva bersemangat.


Bi Mirna geleng-geleng lihat tingkah adik kakak ini, ya begitulah Reva jika adiknya senang maka dia lebih senang lagi, begitupun juga kebalikannya.


Mereka pergi kesebuah restoran cepat saji, Reva memesan makanan cukup banyak untuk mereka makan.


Lagi asik menikmati makanannya, Ericka berbicara padanya.


"Kak, tadi Julia menemuiku. Katanya kakak kemarin mendatangi keluarganya untuk mengancam mereka yah?" Kata Ericka tiba-tiba.


Reva tersedak mendengar ucapan adiknya itu, bi Mirna buru-buru memberinya air minum. Reva terlihat marah sekali, dasar bocah tengik! Berani-beraninya dia datang menemui adikku?!

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2