
Semua orang di ruangan itu terdiam, mereka tak tahu harus bicara apa. Rendy terlihat santai menikmati makan malamnya, sedangkan pak Dewantoro terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Elena, aku pikir apa yang dikatakan Reva ada benarnya juga. Yayasan itu dibangun oleh mendiang ibunya termasuk beberapa rumah sakit dan sekolah lainnya.
Selama ini Yayasan diserahkan kepadamu untuk diurus sementara selama Reva masih tahap belajar.
Sekarang dia sudah mampu memegang dan mengurus Yayasan tersebut, sebaiknya kau serahkan saja itu padanya. Semua effort yang kau berikan akan diganti sesuai kinerjamu selama ini.
Dan itu memang haknya Reva dan adik-adiknya dari peninggalan ibunya," ujar pak Dewantoro.
Perkataannya membuat Elena terdiam, dia tak bisa membalas perkataannya. Kata-kata terakhirnya sengaja ditekannya agar Elena bisa mengerti bahwa itu bukan miliknya.
"Setelah apa yang kubuat selama ini, inikah balasanmu Reva?" Elena mencoba menahan emosinya, terlihat matanya memerah.
"Memangnya apa yang kau berikan padaku dan adik-adikku? Dari kami kecil kau sudah merampas segalanya dari kami.
Dan kau juga menguasai harta milik ibuku dengan paksa, saat itu kami masih kecil mana mengerti tentang semua ini. Tapi aku sudah cukup besar dan mengerti semuanya itu.
Mendiang ibuku selalu menceritakan semua masalah pekerjaannya padaku, bukan cerita berat yang membuatku tak mengerti tapi dia bercerita seperti mendongeng makanya aku mudah memahami dan mengerti semuanya.
Cinta ibuku takkan bisa tergantikan oleh siapapun,termasuk dirimu! Jadi, serahkan semua apa yang kau ambil dariku. Jika kau masih seperti ini, maaf saja aku terpaksa membawa ini keranah hukum" ujarnya tegas.
Semua orang terkejut mendengar pernyataan Reva, mata Elena sekejap membulat mendengar kata-katanya itu.
"Reva! Jangan berlebihan kamu yah, sudah cukup! Besok kita akan adakan rapat di Yayasan, nanti Ayah akan menghubungi bu Dewi selaku ketua Yayasan di kantor pusat.
Untuk mengumpulkan semua dewan dan ketua Yayasan yang lain termasuk para direktur dan dewan pengurusan di sekolah-sekolah dibawah naungan Yayasan Mutiara Hati" ujar pak Dewantoro memberi keputusan.
Tersirat guratan senyuman dibibirnya, dia sudah merasa menang duluan. Karena semua ketua dan dewan pengurusan di Yayasan termasuk di semua rumah sakit dan sekolah dia yang menunjuknya langsung.
Mereka semua dibawah kendalinya, apalagi dia sudah memegang kartu mereka semua. Jika ada yang berkhianat padanya, maka tak segan-segan dia menghancurkan karir mereka.
Semua orang di Yayasan itu tunduk dan takut padanya, hampir semuanya tak bisa membantah dan menolak perintahnya.
Makanya dia terlihat tenang-tenang saja, berbeda dengan Reva dia terlihat serius sekali dan dia juga terlihat diam saja, Elena tahu Reva tak memiliki siapapun di Yayasan tersebut.
"Baiklah, makan malam dan diskusinya sudah selesai mari kita istirahat atau silakan melanjutkan kegiatan kalian masing-masing.
Aku permisi dulu, kalian silakan lanjutkan saja urusan kalian" kata pak Dewantoro meninggalkan meja makannya.
Semua orang meninggalkan meja makan kecuali Reva dan Elena, Reva menatap tajam ibu tirinya itu. Sedangkan Elena nampak tersenyum puas.
"Kau tahu 'kan, tidak gampang menjatuhkanku. Semua usahamu itu akan sia-sia, semua orang di Yayasan itu pasti akan mendukungku.
Dan ayahmu, sudah pasti dia akan menyerahkan semua keputusannya kepadaku. Dia berkata seperti tadi hanya ingin dilihat lebih berwibawa didepan anak-anaknya.
Tapi seperti biasa, dia akan menurut padaku. Kau bukan siapa-siapa Reva, jangan besar kepala. Lihat apa yang akan kau dapatkan setelah membuatku marah.
Aku pastikan kau akan menyesal seumur hidupmu, jadi ini peringatan terakhir dariku kepadamu. Menurut sajalah, oke?!" kata Elena sambil menepuk bahu Reva lembut.
Dia tersenyum puas setelah mengejek Reva dan mematahkan semangatnya, Reva terlihat menahan emosinya wajah terlihat memerah menahan rasa sakit dihatinya.
Gelas ditangannya dia lempar sembarang, dia meluapkan emosinya.
Praangg!!
Suara gelas pecah terdengar seisi ruangan, serpihan kaca berserakan dimana-mana. Mendengar suara gelas pecah, Elena tersenyum sinis dia tahu anak tirinya itu pasti sedang mengamuk.
__ADS_1
Pramudya dan Pricilia lagi asik berbincang di ruang tamu terkejut dengan suara gelas pecah itu, belum lama setelah itu ibu mereka datang dari arah yang sama dari suara itu.
"Ibu, siapa yang melakukan itu tadi?" tanya Pricilia.
"Biarkan saja, Reva lagi mengamuk jangan ganggu dia jika tak ingin celaka" ujar Elena tersenyum sinis.
"Mungkinkah dia tidak terima keputusan ayahnya? Tapi kenapa, bukankah itu menguntungkannya?" sahut Pricilia heran.
"Dasar bodoh! Jelas dia akan rugi dan kalah dalam pemilihan nanti, kamu tahu 'kan jika Ibu memimpin Yayasan sudah belasan tahun.
Tidak mudah menjatuhkannya, semua orang di Yayasan adalah orang-orangnya Ibu semua" ujar Pramudya menimbali adiknya itu.
"O iya, yah... Tidak terpikirkan olehku, haha! Mampus tuh bocah, dia makin terpuruk nantinya dia" timbal Pricilia terlihat senang sekali.
"Pram, besok hubungi media telpon beberapa kenalan wartawan mu. Umumkan bahwa besok akan ada pemilihan ulang ketua dan pengurusan Yayasan yang baru.
Minta mereka membuat berita yang baik-baik tentang Ibu, beritakan sebaliknya tentang Reva. Aku harus menghancurkan karirnya itu sekalian.
Biar dia tahu inilah jika terus menerus membangkang padaku, apalagi mencoba mengkhianati ku.
Aku akan menghancurkannya sekalian" ujar Elena terlihat geram sekali.
Pramudya mengiyakan perintah ibunya itu, terlintas dibenaknya untuk melihat Reva hancur dan tak ada tempat berpijak. Maka dia akan datang sebagai penolong baginya.
Dia sudah tak sabar menunggu momen itu, berbeda dengan Pricilia dia langsung pamit ke kamarnya untuk menelpon.
Bergegas dia menelpon Nico, dan memberi kabar tentang Reva itu. Tentu saja Nico terkejut, dia khawatir dengan Reva.
"Dengar Nico, kau harus menepati janjimu itu. Karir Reva akan hancur, kau harus segera memberikan kerjasama bisnismu itu kepadaku.
Impianku untuk menjadi Model terkenal akan terwujud, dari brand-brand milikku juga harus aku juga yang membintanginya.
Nico terlihat malas menanggapi berita darinya, saat ini dia mulai dekat dengan Reva. Dia juga tak ingin Reva menderita, terlebih lagi Reva sedang memperjuangkan haknya bersama adik-adiknya itu.
"Terserahlah, aku tak peduli lagi dengan rencanamu itu.
Aku sudah punya rencana sendiri dalam mendekati Reva, aku sudah tak terikat dengan perjanjian apapun denganmu.
Selama ini aku menunggu rencanamu tapi tak terlaksana, sehingga aku harus bergerak sendiri. Sekarang rencana-rencananya itu sudah tak berguna lagi untukku" jawab Nico dingin.
"Apa maksudmu?! Kau tak bisa mengabaikanku Nico, semua rencana dan rahasia kita sudah kita lakukan sejak lama.
Kau tak bisa mengabaikan itu semua! Kalau tidak aku akan membocorkan semuanya pada Reva," sahut Pricilia mengancamnya.
"Apa kau mengancamku?!" geram Nico
"Iya, aku mengancammu. Kenapa, kau takut?! Makanya jangan berurusan denganku Nico, aku bukan orang yang mudah kau permainkan." Sahut Pricilia jumawah.
"Sepertinya kau salah berurusan dengan orang, sepertinya kesombonganmu melupakan siapa diriku.
Kau sudah mengancam ku, tidak ada hari esok lagi untukmu. Bersiap-siaplah, tutup saja pintu kamarmu dengan rapat!" Jawab Nico, lalu langsung mematikan teleponnya.
Dia geram sekali, beraninya Pricilia mengancamnya sepertinya Pricilia lupa siapa Nico.
"Sial*n, ahh! Aku sudah kehilangan waras sampai melupakan siapa dirinya!" katanya berteriak sambil melempar Hpnya.
Dia celingukan lalu menutup pintu dan jendela kamarnya, lalu menguncinya. Dia takut ancaman Nico benar-benar jadi nyata.
__ADS_1
Sementara itu diruang makan tadi, Reva bangkit dari duduknya dan berjalan kearah ruang kerja ayahnya.
Pecahan gelas tertusuk ditelapak kakinya itu, dia melupakan rasa sakitnya karena rasa sakit hatinya lebih perih dibandingkan luka tusuk itu.
Dia berjalan melewati ruang keluarga itu, dimana Elena dan Pramudya sedang berbincang mengenai rencana mereka.
Mereka terkejut melihat Reva berjalan dengan ekspresi datar sedangkan kakinya berdarah-darah, bekas bercak darah menempel dilantai tempat dia lewati.
"Kenapa dia? Sudah jadi gila rupanya?!" ujar Elena bergidik melihatnya.
Reva terus berjalan dan menatap lurus kedepan tanpa menghiraukan mereka, berjalan menuju ruang kerja ayahnya.
Brak!
Reva membuka pintu ruangan itu dengan paksa, membuat pak Dewantoro terperanjat kaget.
"Reva! Apa-apaan kamu ini-" dia ingin memarahi anaknya itu tapi melihat kondisi anaknya itu, membuat ekspresinya berubah.
"Ayah, buktikan bahwa Ayah benar-benar peduli dan sayang padaku dan adik-adikku.
Aku tak meminta lebih atau apapun dari Ayah, aku hanya meminta satu, kembalikan apa yang menjadi milik ibu ditangan kalian selama ini.
Aku tahu Ayah, semuanya berasal dari uang Ayah tapi itu semua hak mendiang ibu dan kami anak-anaknya berhak atas itu.
Bukan harta dan kuasa Ayah, aku hanya meminta keadilan saja. Mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kami sedari dulu.
Ayah, apa pernah aku dan adik-adikku menyusahkanmu? Apa kami pernah membuatmu malu?
Katakan Ayah, jika sekiranya kami hanya merepotkan dan menyusahkan. Kami akan pergi dari rumah dan kehidupan Ayah beserta keluarga Ayah.
Seharusnya dari dulu kami pergi, bukankah begitu Ayah? Maka dari itu, satu kupinta kembalikan hak kami yang kalian rampas dari dulu" dengan suara bergetar dia berusaha kuat didepan ayahnya itu.
Air matanya mengalir tanpa suara, wajahnya pucat dan keringat dingin mengucur ditubuhnya.
Dia sadar telah banyak mengeluarkan darah diluka kakinya itu, dia mencoba bertahan tapi tak bisa dia mulai limbung tapi bertahan dengan pegangan disisi kursi didepan meja kerja ayahnya itu.
Pak Dewantoro tak tahu harus berbicara apa, dia lebih mengkhawatirkan kondisi Reva.
"Ayah, ini adalah permintaan terakhirku. Setelah itu, aku tidak akan pernah lagi turut ikut campur masalah keluargamu dan pekerjaanmu.
Ayah, aku akan bersama adik-adikku jika itu keinginan Ayah. Agar Ayah tidak terbebani oleh kami dan tidak pusing dengan segala tingkah kami lagi.
Ayah akan bahagia dengan keluarga dan kehidupan selanjutnya tanpa kami lagi, aku mohon maaf jika selama ini bersikap kurang ajar padamu" derasnya air mata Reva, hampir sederas darah yang mengalir ditelapak kakinya.
Dia menuju pintu keluar dengan tertatih-tatih, sekilas dia melirik ayah yang tak bergeming sedikitpun. Hatinya sakit, tak ada kata sepatah pun dari mulut orang tua itu.
Dia hendak pergi dari rumah itu tanpa memikirkan kondisi tubuhnya, saat itu Pramudya dan Elena melihatnya hendak pergi.
Pramudya hendak membantunya yang sedang terluka dan kesusahan itu, tapi dihentikan oleh Elena.
"Biarkan saja dia, salahnya sendiri melawan dan bersikap kurang ajar pada orang tua. Akhirnya kena karma 'kan?!" dia mendengus berlalu pergi.
Sedangkan Reva terus menuju pintu keluar rumah, Pramudya hanya bisa menatapnya tanpa bisa berbuat apa-apa padanya.
"Bodoh, seharusnya dia mendengarkan kami dari dulu. Dia tidak akan menderita seperti sekarang ini jika menurut" gumam Pramudya kesal.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung