Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Misi 3


__ADS_3

Bu Weni merasakan nyeri di pelipis kirinya, dia mengerjap-ngerjapkan matanya dan membuka matanya secara berlahan, semula pandangannya yang kabur berlahan kembali terang, dia menatap ke sekelilingnya, dan baru menyadari dimana dirinya saat ini.


"Ini dimana? Tempat apa ini? Auh, sakit sekali.." ucapnya sambil meringis menahan rasa sakit di pelipis kirinya.


Ada sedikit darah mengalir pelan di sana dan dia mengusapnya, dia sangat syok apa yang dia alami saat ini, terjebak di tempat yang asing, terluka dan sekarang dikurung didalam ruangan kecil seperti jeruji besi, mirip penjara saja.


"To-tolong.." terdengar suara lirih meminta tolong.


"Siapa itu?! Sus, Susi?! Itu kamu?!" teriak bu Weni menyahuti suara dari bilik sampingnya.


"Bu, Bu Weni?! Kita dimana ini, aduh!" teriak asistennya bu Weni.


Sepertinya dia juga baru sadar sama seperti dengan dirinya, sama bingungnya dan sama takutnya. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat kearah mereka, diujung lorong tempat itu samar-samar terlihat bayangan beberapa orang berjalan menuju ketempat mereka dikurung.


Pencahayaan yang minim di tempat itu membuat bu Weni dan asistennya tidak terlalu jelas melihat siapa yang datang, ketika beberapa orang yang datang hampir mendekati mereka tiba-tiba saja lampu yang ada di sana langsung mati dan beralih ke lampu lampu didalam kurungan mereka yang menyala, menyoroti mereka yang sedang kesusahan berusaha melepaskan diri.


"Siapa kamu?! Apa maumu? Lepaskan aku! Sialan!" teriak bu Weni marah.


Pada saat bersamaan ruang penjara tempat asistennya dikurung dibuka oleh beberapa pria tak dikenal, mereka membawa asisten bu Weni keluar dari sana dan ditempatkan secara terpisah, mereka akan diintrogasi secara terpisah.


"Mau apa kalian?! Lepaskan, bu Weni! Tolong saya!" jerit asistennya tak terima.


"Diamlah, aku juga dalam kesusahan!" teriak bu Weni membalas asistennya tadi.


Selang beberapa saat kemudian, tinggallah dia seorang diri bersama beberapa orang didepannya itu, dia masih belum mengenali siapa mereka karena didepannya sekarang ini benar-benar gelap tanpa penerangan kecuali lampu kecil yang hanya menyoroti dirinya seorang.


"Bagaimana, apa kau sudah mengerti kenapa kau terkurung didalam sini?" terdengar suara lembut berbicara dengannya, tepat dihadapannya saat ini.


"Siapa kau?! Hem, apa kau Nona Ericka?!" tebak bu Weni sambil memicingkan matanya.


Saat ini dirinya terikat di sebuah kursi kayu, kaki dan tangannya terikat kuat, ditambah lagi dirinya dalam keadaan terluka dan lemah, jadi dia masih syok menerima kenyataan yang terjadi kepadanya saat ini.


"Kau benar ini aku.." seringai Ericka sambil mendekatinya dibalik jeruji besi.


"Sialan kau gadis licik! Ternyata dibalik sikapmu yang lembut dan bersahaja, ternyata kau ini rubah juga! Mau apa kau?! Menginginkan panti asuhan tersebut?! Mau merebut paksa anak-anak itu?! Silakan! Ambil semuanya, tapi sebelum itu lepaskan aku dan.. Tukar saja semuanya dengan barang-barang mewah milikmu itu, maka.. Semuanya menjadi milikmu seutuhnya!" ucap bu Weni, berusaha untuk bernegosiasi dengannya.


"Hem, ternyata kau belum mengerti situasi saat ini, Nyonya! Untuk apa aku mengurungmu disini hanya sebuah panti asuhan, jika tempat itu saja sudah menjadi milikku! Berpikirlah lagi, apa yang akan kau tawarkan kepadaku agar aku bisa melepaskanmu?" ucap Ericka sambil tersenyum mengejek.


"A-apa maksudmu jika panti asuhan tersebut milikmu? Bu-bukankah itu miliknya mendiang Larasati, dan warisan dari mertuanya?" tanya bu Weni terlihat gugup sekali.


"Terus??" tanya balik Ericka, membiarkan bu Weni berpikir lagi.


"Hah?! Jangan-jangan kau ini adalah.. Ta-tapi aku sudah melihat anak-anaknya Larasati, dan aku tak pernah melihatmu sebelumnya! Siapa kau?!" tanya bu Weni masih tak mengerti.


"Aku anaknya yang paling kecil, apa kau pernah mendengar nama Ericka Victoria?" tanya Ericka sambil memicingkan matanya.


"Ericka Victoria? Ooo... Hahaha! Ternyata kau ini adalah anak yang tak diakui itu! Haha, dasar menyedihkan! Kenapa? Apa kau berencana ingin merebut panti asuhan itu dari kedua kakakmu itu? ckck, menyedihkan sekali kamu ini, Nona!" ucap bu Weni sok tau.


"Siapa yang kau maksud menyedihkan? Kami atau dirimu saat ini yang jelas-jelas terkurung disini?!" tiba-tiba saja Rendy datang menyahutinya.


"Pa-pak Rendy?! Ka-kau disini jugaa??" tanya bu Weni gelagapan.


Tentu saja, Rendy pada awalnya hanya ingin mengawasi saja akhirnya turun tangan juga, dia tidak terima adiknya dihina begitu saja, dia sangat membenci orang-orang yang mudah berbicara menyakiti perasaan orang lain.


"Ternyata anda belum mengerti situasi anda saat ini, bu Weni.. Saat ini anda tertangkap basah karena telah menyalahgunakan kekuasaan, menjual anak-anak tersebut dan mengeksploitasi mereka selama ini!


Selama ini kami sangat percaya denganmu, karena kau ini adalah orang lama dan kepercayaan mendiang ibu kami, tapi apa balasan yang kami terima.. Kau khianati kepercayaan kami, dan mengotori tempat berlindungnya anak-anak tersebut dengan perbuatanmu itu!" teriak Rendy sudah tak tahan lagi.


Bu Weni terdiam, dia tak bisa berkata-kata lagi ataupun membalas semua ucapannya Rendy, dia benar-benar kena skakmat oleh atasannya tersebut. Dengan mengelak juga percuma, karena dia benar-benar tertangkap dan semua bisnis kotornya itu sudah terkuak.


"Sekarang katakan, sejak kapan kau melakukan ini? Dan kau jual kepada siapa aja anak-anak itu sebelumnya?!" tanya Rendy meradang.

__ADS_1


"Se-sejak dulu sekali, a-aku lupa.. Ampun, Pak! Lepaskan saya, saya benar-benar menyesal!" ucap bu Weni ketakutan.


"Tadi kau sangat sombong sekali, sekarang nyalimu ciut seketika! Jangan sekali-kali kau menghina adikku, dia juga bagian dari keluarga Wijaya dan Pohan! Kau Mengerti?!" bentak Rendy.


"Ampun, Pak..." sahut bu Weni sambil tertunduk.


"Katakan sekali lagi, sejak kapan bisnis kotormu ini? Jangan bilang lupa, meskipun kau bilang menyesal ataupun khilaf aku takkan percaya sedikitpun denganmu.." ucap Rendy lagi.


Saat ini dia berdiri disamping Ericka, keduanya menatap bu Weni dengan penuh intimidasi membuat wanita paruh baya itu tak berkutik, bagaimanapun juga dia tak bisa mengelak lagi.


"Sudah dua puluh tahun lebih bi-bisnis ini berjalan, ta-tapi aku tak sendiri! A-ada seseorang yang membantuku selama ini" ucap bu Weni pelan dan terbata-bata.


Arah matanya berkeliling mengitari setiap tempat, seolah ketakutan ada yang mengintainya. Terlihat dari postur tubuhnya yang tiba-tiba meringkuk ketakutan dan menundukkan kepalanya begitu saja, Ericka dan Rendy saling tatap dan tersenyum, dan ternyata kecurigaan mereka terbukti, jika selama ini ada yang membantunya.


"Katakan, siapa yang membantumu selama ini?!" tanya Ericka juga.


"A-aku tidak tau.." ucap bu Weni pelan.


"Ck! Jangan bohong, karena percuma kami tidak akan percaya denganmu!" sahut Rendy juga, kesal.


"Saya benar-benar tidak tahu, Pak! Se-selama ini kami hanya berkomunikasi lewat email dan telpon kabel saja, itu juga dia yang menghubungiku!" ucap bu Weni mencoba menyakinkan mereka berdua.


Keduanya saling tatap, lalu sedikit berbisik dan kembali menatapnya kembali. Mereka memperhatikan gerak-gerik bu Weni dan setelah yakin wanita paruh baya itu jujur, barulah keduanya pergi meninggalkannya begitu saja.


"Mau kemana, Pak! Bu! Tolong, jangan tinggalkan saya sendirian disini, lepaskan! Lepaskan saya.." ucapnya memohon.


"Kami akan lepaskan setelah membuktikan semua ucapanmu itu!" ucap Ericka setelah berbalik menatapnya sinis.


Saat ini bu Weni benar-benar ketakutan, dia tidak tahu harus bagaimana lagi, saat ini dia dikurung entah dimana, terpisah dengan asistennya dan dia tak memiliki apapun saat ini, jangankan untuk menelpon, berteriak juga percuma.


"Jangan membuang energimu percuma, Nyonya. Kau berteriak sekuat mungkin tidak akan ada yang mendengarkanmu, karena kita saat ini jauh berada dibawah tanah, sejengkal lagi kita berada dikerak bumi dimana neraka berada.


Jadi, tidak usah capek-capek menyiksamu, cukup lempar saja kebawah kau akan langsung masuk neraka, untuk manusia seperti dirimu ini sudah sepatutnya berada di sana, dasar tak punya hati! Kau tega menjual dan menyiksa anak-anak tersebut, mereka tak tahu apa-apa kenapa jadi korban nafsu serakahmu itu!" teriak salah satu penjaga di sana kesal kepadanya, tiba-tiba saja dia teringat kepada anak-anaknya di rumah.


"Tidak, kita sangat berbeda! Kami ini semua adalah para preman pensiun, kami sudah tobat, kebanyakan para penjahat kelas kakap yang kami bawa kesini termasuk anda, Nyonya! Dan orang-orang seperti anda ini sangat layak berada disini dan merasakan apa itu siksa neraka dunia, sebelum neraka asli menghampirimu.


Dan satu lagi, meskipun kami jahat sekalipun.. Kami tidak pernah menyakiti wanita, orang tua apalagi anak-anak seperti yang anda lakukan selama ini, kecuali itu anda. Untuk mengeksekusi anda, ada seseorang yang ahli soal itu.." ucap penjaga itu menyeringai.


Tiba-tiba datang seorang penjaga wanita berbadan sangat atletis, meskipun dia wanita tapi badannya sangat kekar berotot, bu Weni mendelik ketakutan melihatnya, tiba-tiba saja dia menangis ketakutan sampai tak sadar mengompol di sana.


"Ieww, jorok amat si ibuk! Eh, neng.. Jangan terlalu galak ataupun kasar sama dia, liat belum apa-apa aja udah ngompol aja!" ucap penjaga tadi sambil menatap bu Weni jijik.


"Iya, Kang! Ini aku berdiri aja deh, liat aku aja dia udah kayak gitu.." ucap si penjaga wanita itu, sambil miris menatap bu Weni.


"Sekali-kali interogasi dia, siapa tau setelah diintimidasi terus menerus dia mau berbicara, siapa saja yang membantunya selama ini dalam menjalankan bisnis kotornya ini.." bisik temannya itu.


"Sip, Kang.." sahutnya lagi.


Setelah itu penjaga itu keluar dari sana dan membiarkan temannya menjaga bu Weni sendirian di sana.


.


.


Sementara itu, Susi, asistennya bu Weni juga diinterogasi oleh beberapa pengawalnya bu Weni, jawabannya juga sama dia tak tahu apa-apa, karena selama ini dia dan teman-temannya hanya menjalankan misi dan tugasnya sesuai arahan bu Weni langsung.


"Bagaimana ini, Kak? Kita takkan pernah tau siapa saja yang membantunya selama ini!" ucap Ericka kesal.


"Kalau begitu, kita serahkan saja dia ke polisi saja.." sahut Rendy juga kesal sekali.


"Jangan dulu, aku yakin perihal hilangnya bu Weni pasti diketahui oleh orang yang membantunya selama ini, aku yakin orang itu berusaha kabur dan menghilang saat ini.." ucap Ericka.

__ADS_1


"Jadi?" tanya Rendy tak mengerti.


"Kita manfaatkan saja momen itu untuk memeras bu Weni, aku yakin dia tidak akan diam saja mengetahui jika partner bisnisnya kabur begitu saja, sementara dia terpenjara disini," ucap Ericka tersenyum penuh arti.


Rendy pun tersenyum mengerti maksud dari Ericka, dia juga tahu apa yang harus dia lakukan, sementara itu tanpa mereka sadari ternyata penjaga wanita yang menjaga bu Weni dengan gampangnya mengintrogasi bu Weni tanpa hambatan, sepertinya wanita paruh baya itu benar-benar takut dengannya.


Saat Ericka dan Rendy hendak pergi dari sana, tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika mendapatkan laporan dari penjaga itu bahwa mereka berhasil menekan bu Weni dan mendapatkan informasi yang sangat penting lainnya.


"Bagus, kita sudah mendapatkan apa yang kita cari selama ini. Setelah ini, lepaskan bu Weni dan asistennya, sesuai janjiku. Tapi melepaskan mereka didepan kantor polisi saja, biarkan polisi yang bekerja selanjutnya.." ucap Ericka.


"Baik, Bu.." ucap penjaga tadi.


Mereka sudah diluar bangunan tua itu, ternyata Geraldine sudah menunggu mereka di sana bersama beberapa orang. Mereka bersiap pergi dari sana dan melanjutkan misi selanjutnya.


"Bagaimana keadaan panti saat ini?" tanya Rendy.


"Pak William sudah menghubungi saya sebelumnya, dia bilang tidak lama kepergian kita polisi juga datang menggerebek panti asuhan itu, para pengasuh dan anak-anak panti sudah diselamatkan dan diamankan dengan baik.


Sementara asisten bu Weni yang lain juga langsung ditahan, dan katanya tak susah mengintrogasi mereka setelah ditekan sedikit oleh polisi, para asistennya juga langsung mengakui semua perbuatan bu Weni itu" ucap Geraldine menjelaskan semuanya.


"Bagus, semua sesuai prediksi kita semua. Sekarang apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Rendy lagi.


"Kak, kapan hari lamarannya?" tiba-tiba saja Ericka nanya begitu.


"Beberapa hari lagi, mungkin besok aku gak bisa bantu kalian untuk menjalankan misi ini karena aku dan Andriana akan sibuk menyiapkan acara lamaran kami nanti, kenapa?" tanya Rendy bingung, karena pertanyaan Ericka diluar konteks pembicaraan mereka saat ini.


"Menurut kalian, apa mereka akan diam saja setelah kejadian hari ini? Aku yakin mereka sedang melakukan sesuatu dan merencanakan strategi lainnya.." ucap Ericka lagi, membuat Rendy dan Geraldine tambah bingung.


"Katakan saja apa maksudmu? Aku gak ngerti, Eri.." tanya Rendy tambah bingung.


"Kemarilah, dengarkan aku.." ucap Ericka sambil membisikkan sesuatu kepada Rendy juga Geraldine.


"Wah, kau mau jadikan hari lamaranku jadi ajang pertarungan?!" ucap Rendy tak terima.


"Bukan, bukan itu maksudku! Hari lamaran kakak akan aman tanpa gangguan, tapi malam harinya kita akan mengadakan acara pesta untuk mengumumkan pertunangan kalian ini.." ujar Ericka meluruskan maksudnya tadi.


"Dan pada acara itu mereka pasti akan datang dan melakukan sesuatu, dan pada saat itu juga kita akan menjalankan misi selanjutnya untuk menjebak mereka, waahh.. Keren, aku setuju!" sahut Geraldine langsung faham maksud Ericka.


"Oh, aku kira kalian akan mengacaukan hari lamarannya.." sungut Rendy malu-malu.


"Enggaklah, Kak! Acara lamaran tetap berjalan sesuai ketentuan, itu adalah salah satu acara sakral kalian berdua, aku gak mau mengacaukannya. Karen itu, kita akan mengadakan acara lamarannya di rumah pamannya kak Andriana yang jauh itu, agar aman dari gangguan.


Malam harinya barulah kita jalankan misinya dengan alasan pengumuman hari pertunangan kalian, maka dari itu.. Acara lamaran nanti yang sederhana saja, kita akan undang kerabat terdekat dan orang-orang yang kita percaya saja" ujar Ericka lagi.


"Iya, iya! Aku faham.." ucap Rendy juga.


"Baiklah, misi hari ini kita berhasil. Semoga untuk rencana selanjutnya juga berhasil!" ucap Rendy lagi senang.


"Amin!" sahut Ericka dan Geraldine serempak.


"Btw, kita harus segera pergi ke kantor polisi juga untuk memberikan keterangan selanjutnya, agar kasus bu Weni ini segera diselesaikan.." ucap Ericka.


"Benar, William dan pak Nico juga sudah menunggu di sana.." ujar Geraldine juga.


"Cieee, dari tadi ngomongin William mulu.. Bagaimana, sudah ada perasaan cenat-cenut di hati?" tanya Rendy, menggoda Geraldine yang terlihat gelisah serba salah.


"Bu-bukan itu, aku hanya menjelaskan apa yang terjadi, sesuai laporan.." ucap Geraldine gelagapan.


"Kok gugup? Jadi beneran yah?! Haha, lanjut aja, Sist! Aku dukung kok, dia itu dulu playboy tapi semenjak kenal kamu dia tiba-tiba tobat dan insaf mendadak, haha!" goda Rendy lagi.


Membuat Geraldine bersemu merah, dia tidak terlalu yakin dengan hatinya saat ini, apa benar dia sudah menerima lelaki itu atau hanya sekedar kagum saja. Dia takut, jika nantinya akan saling menyakiti, entah itu William yang sakit hati atau mungkin itu dia..

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2