
Bi Mirna diminta oleh pak Johan bekerja seperti biasa, dia minta untuk merahasiakan penemuan mereka itu termasuk kepada Milah.
"Bekerja seperti biasa saja, Bi... Aku akan pergi menemui tuan, permisi" ujar pak Johan.
Dengan perasaan cemas dan campur aduk, bi Mirna mengikuti saran pak Johan. Dia masih membersihkan kamar Ericka seperti biasa, dia merindukan anak itu.
*
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?" terdengar suara pak Dewantoro dari dalam.
Pak Johan masuk kedalam dan sedikit membungkukkan badannya, dia menghampiri pak Johan dan membisikan sesuatu ke telinganya.
"Jangan berlebihan, anak itu baik-baik saja. Paling dia ikut kakaknya pergi, kau tahu Rendy tidak akan membiarkannya disini sendirian." Ujar pak Dewantoro.
Dalam hatinya pun bertanya-tanya, apakah benar pernyataan pak Johan tadi bahwa Ericka dalam bahaya?
Satu-satunya orang yang bisa membahayakannya yaitu istrinya itu, tapi rasanya tak mungkin kalau Elena bisa senekat itu untuk mencelakainya?
Lagian anak itu bisa apa, dia hanya bocah polos yang tidak tahu apa-apa. Tidak mungkin bisa membahayakan mereka, sampai Elena bisa mencelakainya karena dianggap bahaya.
Dilain tempat.
Elena dan para pengacaranya mulai berangkat ke pengadilan, acara persidangan akan dilakukan pagi hari karena sibuknya jadwal mereka.
Saat itu, mereka masih didalam perjalanan menuju ke pengadilan. Elena duduk didalam mobil mewahnya sambil menatap keluar, dia memikirkan Ericka.
"Anak itu kenapa bisa mempunyai luka separah itu, di wajah lagi. Satu-satunya aset berharganya yaitu wajah cantiknya itu.
Jika wajahnya rusak parah, apakah mr. Robert akan menerimanya? Rasanya tak mungkin. Aku harus melakukan sesuatu kepada anak itu" gumamnya.
"Nyonya, kita akan langsung ke pengadilan atau ke kantor dulu? Mengingat jadwal persidangan akan ditunda dulu sekitar satu jam lagi" kata asistennya yang duduk di depan.
"Kita tetap akan ke pengadilan, menunggu satu jam tidak akan terlalu lama. Kita bisa melakukan banyak hal dalam kurun waktu itu" ujarnya menimbali asistennya.
Mereka terus melaju kearah pengadilan, Elena menelpon dokter yang merawat Ericka dan menanyakan keadaannya seolah menjadi seorang ibu yang baik.
"Bagaimana, Dok? Apa kita bisa melakukan operasi pada wajahnya?" tanyanya tak sabar.
"Bisa, Nyonya. Hanya saja hasilnya mungkin tidak sempurna" jawab dokter diseberang telpon itu.
"Tidak apa, untuk sementara kita bisa menutup luka itu dulu. Nanti kita akan melakukan operasi kembali untuk menutupi bekas lukanya dengan sempurna" kata Elena.
Dia tersenyum sinis, kini anak itu berada digenggamannya. Dia sudah tak peduli lagi dengan perusahaan dan yayasan milik Larasati Pohan, dia sekarang fokus ke suami dan anak tirinya itu.
"Anak itu bisa aku jual ke mr. Robert sebagai pelunas hutang kami. Dan saat ini, lelaki itu sedang rapuh. Akan mudah mempengaruhinya saat ini.
Sama seperti dulu, waktu istrinya aku fitnah dan memutuskan hubungan dengan anak kandungnya sendiri. Hehe!
Lelaki bodoh, sekali lagi kau ada di genggamanku. Aku akan fokus ke perusahaan dan yayasan milikmu saja, karena aku berhak atas itu semua.
Tentu saja, karena saat ini aku satu-satunya istrimu yang sah dan selamanya kau jadi milikku" gumamnya diiringi kekehan kecilnya.
Supir dan asistennya hanya diam saja mendengarnya mengoceh sendiri, mereka orang kepercayaan Elena yang tidak akan mengkhianatinya kapanpun.
"Cari orang yang berusaha melukai anak itu, aku ingin tahu seperti apa orang itu. Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya, karena sudah menggantikanku untuk melakukan hal kotor itu" ujarnya lagi kepada asistennya.
"Baik, Bu" jawab asistennya singkat.
*
Sementara itu, pak Dewantoro juga berangkat ke pengadilan ditemani oleh pak Johan dan juga beberapa orang kepercayaannya, termasuk pengacara dan asistennya, Bram.
__ADS_1
"Kita langsung ke pengadilan, aku penasaran seperti apa hasilnya nanti. Aku tak perduli dengan semua perusahaan dan yayasan itu, karena itu tak penting.
Aku ingin melihat keadaan anak-anakku juga, aku sudah lama tak melihat Reva dan bagaimana keadaan Rendy sekarang." Kata pak Dewantoro.
"Bagaimana jika mereka yang memenangkan gugatan mereka, Pak?" tanya pengacaranya itu.
"Biarkan saja, itu sudah sewajarnya. Dan itu memang hak mereka, lagian aku juga bisa lebih tenang karena lega bisa melepaskan tanggung jawab itu.
Sekarang mereka bisa mengurus harta warisan ibu mereka itu, lagian aku tidak tahu sampai kapan mereka akan bertahan dengan perusahaan kecil dan yayasan yang sudah lama tidak jalan itu" ujar pak Dewantoro.
Tentu saja, ditangan Elena perusahaan besar dan maju itu tiba-tiba mengalami kemunduran dan hampir bangkrut. Karena penyimpangan dana gelap dan korupsi yang dilakukan Elena.
Belum lagi yayasan itu juga hampir dibubarkan karena sudah beberapa tahun tidak jalan dan tidak melakukan kegiatan lagi, semua dana bantuan dari pemerintah tidak mereka amanatkan ke penerima beasiswa atau bantuan lainnya.
Tidak heran jika Elena sudah mulai tidak tertarik lagi dengan perusahaan dan yayasan itu, dia mempertahankan keduanya hanya demi gengsi dalam pergaulan sosialitanya saja.
"Kalau begitu, nantinya nona Reva dan tuan Rendy akan fokus ke perusahaan dan yayasan itu, Pak.
Bagaimana dengan jabatan di perusahaan kita, apakah tuan Rendy masih memimpinnya?" tanya lagi seorang manajer kepercayaannya.
"Aku ingin anak itu bersama kakaknya juga ikut didalam perusahaanku, tapi aku tak bisa memaksa jika mereka tidak mau.
Kalian semua tahu sifat Reva, keras dan teguh pendirian. Sampai kapanpun dia tidak ingin terlibat dalam perusahaan selama masih ada Elena dan anak-anaknya di sana.
Sedangkan Rendy, aku yakin anak itu masih mau memimpin perusahaanku. Dia tidak akan membiarkan begitu saja harta ayahnya jatuh ke tangan orang lain.
Setidaknya aku memiliki satu orang anak kandung yang mewarisi hartaku dan meneruskan perjuanganku." Kata pak Dewantoro.
"Jika mereka meminta bantuan Bapak untuk menjalankan perusahaan dan yayasan itu, apa Bapak akan membantunya?" tanya pengacaranya lagi.
"Mungkin aku tidak akan terjun langsung membantunya, aku akan meminta orang lain mengawasi dan membantu mereka.
Bagaimanapun juga, mereka masih anak-anakku dan juga tanggung jawabku ..." jawabnya lirih.
**
Tidak terasa mereka sudah sampai di pengadilan, pak Dewantoro bertemu dengan istri dan pengacaranya. Ada banyak pengacara bersama istrinya itu, apakah dia serius ingin mempertahankan perusahaan dan yayasan tersebut? batin pak Dewantoro.
"Sayang, kamu datang untuk membantuku?" tanya Elena dengan senyuman yang hangat kepada suaminya itu.
"Aku datang untuk kalian semua, untuk istri dan anak-anakku" jawab singkat pak Dewantoro.
Elena tersenyum kecut mendengar jawaban suaminya itu, dia mengapit lengan suaminya itu, dan berjalan mesra kearah ruang sidang diikuti para pengacara dan orang-orang kepercayaan mereka.
Saat mau masuk keruangan itu, mereka berpapasan dengan Rendy, Nico dan kedua pengacara andalan mereka, William dan Robin.
Pak Dewantoro tak melihat Reva maupun Ericka bersama mereka, mungkin Reva menjaga Ericka dan memilih tidak ikut di persidangan ini, pikir pak Dewantoro.
"Hai, kita bertemu lagi. Wah, kalian mau pawai atau apa? Ramai sekali" ejek William melihat rombongan Elena dan pak Dewantoro.
"Yah, setidaknya kami sudah berusaha sebaik mungkin. Kalian berempat saja, yakin bisa menang?" Elena pun membalas ejekan William.
"Kasus ini receh, tak perlu banyak orang melakukan hal ini. Kau kira ini perang mau bawa pasukan sebanyak ini? Haduh! Tobat ya, Bu... Harta anak yatim masih mau di embat juga?!" balas lagi William.
Elena emosi dengan perkataannya, dia ingin maju dan membalas dengan tamparannya tapi dihalangi oleh suami dan orang-orangnya.
Sedangkan William dan lainnya tersenyum mengejeknya, lalu pergi meninggalkan mereka masuk kedalam ruang sidang itu.
Semuanya sudah hadir, dari kedua belah pihak tim kuasa hukum masing-masing sudah membeberkan semua bukti kepemilikan sah dan pernyataan menurut klien mereka.
Sekarang tiba saatnya mereka menunggu keputusan dari hakim, semua orang menunggu dengan perasaan was-was.
"Baiklah, hadirin yang terhormat kami akan menyampaikan hasil keputusan dari persidangan ini. Menurut hasil pengamatan dan penilaian kami, ada beberapa poin-poin yang menentukan hasil sidang ini.
__ADS_1
Pertama, semua aset perusahaan dan Yayasan Mutiara hati dengan atas nama kepemilikan yang sah yaitu mendiang ibu Larasati Pohan. Bukan Ibu Elena Bexxa.
Yang kedua, menurut surat wasiat mendiang, bahwa semua harta warisannya termasuk semua perusahaan dan yayasan ini akan diberikan kepada ketiga anaknua, yaitu Revalina Wijaya, Rendy Putra Wijaya dan terakhir Ericka Victoria Wijaya.
Selama mereka masih dibawa umur, maka semua harta warisannya akan dikelola oleh Bapak kandungnya, yaitu Bapak Dewantoro. Bukan Ibu Elena Bexxa.
Dan yang ketiga, saat ini anak-anak ini sudah tumbuh besar dan dewasa sudah selayaknya mereka menerima kembali harta warisan mendiang ibunya, untuk mereka kelola sendiri."
Semua pernyataan dan perkataan hakim memberatkan tim kuasa hukum Elena, mereka merasa was-was apa yang akan terjadi nanti.
Karena Elena sudah memperingati mereka, jika dia kalah maka mereka akan mendapatkan setengah bayarannya. Dan jika dia menang, maka mereka akan mendapat dua kali lipat bayarannya.
Sedangkan Elena juga merasa gugup dan khawatir, bukan karena takut kalah dipersidangan tetapi takut nama baiknya akan tercoreng oleh persidangan ini.
Karena beberapa kali hakim menyebutkan namanya, dan nampak sekali dari semua pernyataan itu bahwa dia memiliki kesalahan besar karena menahan lama harta anak-anak itu.
"Dan, satu penemuan yang mengejutkan sekali. Bahwa menurut laporan keuangan dari beberapa perusahaan dan yayasan yang dia kelola, banyak sekali laporan yang tidak sesuai dengan faktanya.
Menurut bukti-bukti yang diajukan pihak tergugat, bahwa Saudari Elena Bexxa juga melakukan korupsi dan penyimpangan-penyimpangan dana gelap masuk ke beberapa rekening atas namanya juga nama anak-anaknya." Elena terkesiap ketika ia mendengar pernyataan hakim tersebut.
Pak Dewantoro hanya menghela nafas berat, dia sudah menduganya pasti itu ulahnya. Karena tidak mungkin perusahaan-perusahaan besar itu bisa bangkrut begitu saja.
Sedangkan Rendy dan Nico nampak puas sekali dengan semua pernyataan hakim, mereka bukan hanya ingin mengambil kembali hak atas kepemilikan aset itu, tetapi juga ingin melihat Elena dipermalukan disini.
"Baiklah, dengan ini kami putuskan bahwa semua aset harta warisan milik mendiang ibu Larasati Pohan akan dikembalikan kepada ahli waris yang sah.
Termasuk semua perusahaan-perusahaan besar dan beberapa yayasan dan termasuk beberapa sekolah dan rumah sakit dibawah naungan Yayasan Mutiara Hati.
Demikian keputusan dari hasil persidangan ini, dan hasil ini dinyatakan sah secara mutlak dan absolute tidak bisa diganggu gugat" ujar hakim memberi keputusan.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan palu menandakan hasil sidang sudah diputuskan dan tandanya acara Persidangan telah berakhir.
Rendy merasa senang dan lega sekali, dia senang karena telah berhasil mempertahankan apa yang seharusnya menjadi miliknya dan saudari-saudarinya.
Dia menatap Nico yang turut bahagia, sambil memeluk kedua sahabatnya. Rendy merasa bersalah juga dengannya karena sempat curiga dengannya. Tapi dia penasaran, apakah dia benar-benar tulus membantunya atau karena kakaknya?
"Nico, kau sudah berjanji kepadaku bahwa kau akan membawaku ke kakakku" kata Rendy kepadanya.
Nico yang tadi sedang berbahagia karena berhasil memenangkan sidang tersebut bersama kedua sahabatnya, langsung berhenti dan menatap Rendy.
"Tentu saja, aku ingat akan janjiku itu. Baiklah, mari kita temui Reva dan memberinya kabar gembira ini" ujar Nico sambil tersenyum ramah.
Rendy agak sedikit kikuk menghadapi keramahannya, biasanya lelaki ini sangat dingin dan kaku dan tiba-tiba berubah menjadi sangat hangat sekali sikapnya.
Keempat pria muda dan tampan itu keluar dari ruang sidang itu dengan perasaan lega dan senang, disudut ruang sebelah seseorang sedang memperhatikan mereka.
"Syut, syut... Tuan Rendy, hei! Tuan Rendy!" ternyata itu pak Johan yang menyelinap di ruangan itu.
Rendy sadar ada yang memanggilnya, dia menghampiri pak Johan. Tidak butuh lama, pak Johan langsung membisikkan sesuatu ketelinganya.
Rendy nampak geram dan marah sekali, dia langsung berlari keluar mengejar mobil Elena yang sedang parkir diluar.
Sedangkan pak Johan sangat kaget melihat reaksi tuan mudanya, langsung lari mengejarnya. Termasuk juga Nico, William dan robin yang penasaran dengan sikapnya itu.
Braaakk!!
Suara benturan keras dari depan sana, suara apa itu?
...----------------...
Bersambung
__ADS_1
Tolong bantu support author yah, dengan like ,coment dan Vote kamu bisa memberi semangat author untuk terus berkarya. Terima kasih 😊🙏