
Beberapa tamu mulai berpamitan untuk pulang, dan ada juga yang baru datang. Tapi tidak seramai pagi dan siang tadi, sekarang sudah menjelang sore hari, rumah besar itu juga mulai sibuk lagi untuk menyiapkan acara tahlilan untuk nanti malam.
"Maaf menggangu kesibukan kalian, tapi sebelum itu saya mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang terlibat dalam mengurus semua perawatan dan pemakaman ibu saya.." ucap tante Sonia sambil memperhatikan semua orang.
Sekarang ini, tante Sonia mengumpulkan semua anggota keluarga juga orang-orang yang terlibat dalam pengurusan mendiang oma Mariani, dia bersama yang lainnya berkumpul di ruang keluarga yang cukup luas untuk mereka semua.
Ruangan yang cukup jauh terpisah dari rumah duka, agar tak mengganggu aktifitas para pelayan dalam menyiapkan acara tahlilan nanti malam, dan juga agar semuanya tetap fokus dengan pembicaraan mereka saat ini.
"Aku dan Seno sengaja mengumpulkan kalian semua untuk membicarakan perihal ibuku, aku tau ini terlalu cepat tapi aku dan adikku ini harus mengatakannya segera sebelum terlambat, karena sekarang ini begitu banyak orang-orang yang memanfaatkan keadaan orang lain yang sedang berduka.." ucap tante Sonia lagi sambil menatap anggota keluarga yang lainnya.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Sonia." Ujar seorang wanita paruh baya, usianya tak jauh dari tante Sonia.
Tante Sonia memperhatikan semua orang itu, terutama anggota keluarga yang lain, para sepupunya dari pihak ibu maupun ayahnya. Mereka semua nampak begitu dingin dan datar menatap tante Sonia, om Seno juga Stacy, termasuk Ericka dan lainnya juga kena tatapan sinis.
"Ini perang keluarga jilid ke berapa lagi nih, kagak bosen apa berantem mulu?!" bisik Erick ke telinga William, membuat kakaknya itu meraup mulutnya agar tetap diam.
"Aku ingin mengatakan perihal surat wasiat mendiang ibu dan ayah, termasuk hak warisan untuk mendiang Larasati untuk anak-anaknya ini juga.." ucap tante Sonia menanggapi ucapan sepupunya tadi.
"Silakan.." jawab wanita paruh baya tadi terlihat santai, yang lain juga.
Reaksi mereka yang terlihat biasa-biasa saja itu sedikit membuat tante Sonia dan lainnya terkejut, diluar perkiraan mereka yang menyangka akan ada perdebatan lagi mengenai hak waris ternyata tidak sama sekali, atau mungkin belum terjadi?
Beberapa pengacara bergantian membacakan surat wasiat dari oma Mariani bersama suaminya itu, semua anak dan cucu-cucunya mendapatkan haknya dalam porsi masing-masing, termasuk untuk Zacky dan Arlon.
Tentu saja itu mengagetkan tante Sonia dan om Seno, dengan apa yang dibuat oleh kedua anaknya, tapi mendiang ibunya masih menyayangi mereka dan memberikan hak mereka juga, meskipun jumlahnya lebih kecil dibandingkan dengan yang lainnya.
Dan terakhir juga memberikan surat wasiat untuk Reva dan adik-adiknya mengenai warisan untuk mereka, sedangkan para sepupunya setiap keluarga diberikan masing-masing diberi satu perusahaan untuk mereka kelola sendiri.
__ADS_1
"Begitulah isi surat wasiat mendiang ibu dan bapak untuk kalian semua, terima kasih untuk bisa bersikap baik dengan mendengarkan kami menyelesaikan semua ini, tanpa ada kesalahan sedikitpun juga.." ucap seorang pengacara itu mengakhiri semuanya.
Tentu saja pembicaraan mengenai surat wasiat itu didampingi oleh beberapa pengacara dan notaris keluarga lainnya yang dipercayakan mengurus hal ini semua. Setelah itu salah satu pengacara membagikan satu persatu berkas tanda bukti surat wasiat yang telah ditandatangani dan dibubuhi materai resmi oleh mendiang oma dan opa terdahulu.
"Semua ini adalah asli dan legal, sudah terdaftar di badan hukum, jika ada keluhan atau keberatan mengenai isi surat wasiat dan hak waris ini, silakan mengajukan gugatan ke pengadilan.." ujar salah satu pengacara tersebut.
Semuanya diam dan mengangguk tanda setuju, kemudian beberapa pengacara dan notaris mengundurkan diri untuk berpamitan, selain sudah menjelang sore hari, mereka juga harus cepat memproses pelegalan hak waris itu agar tak ada masalah dikemudian harinya.
Tinggallah mereka semua yang masih tetap tinggal dan duduk di ruang keluarga itu, semua saling diam dan mulai saling tatap-tatapan. Kemudian beberapa dari anggota keluarga para sepupu tante Sonia dan om Seno mulai bangun dan pergi dari sana, tante Sonia mencegah mereka untuk pergi dari sana sebentar.
"Tunggu sebentar, ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian.." pinta tante Sonia dengan lembut kepada para sepupunya itu.
Ada empat kepala keluarga yang tinggal, sementara para istri atau suami mereka dan anak-anaknya memilih untuk pamit keluar dari sana. Tinggallah mereka saja di sana termasuk Reva dan adik-adiknya termasuk juga William dan Erick.
Sementara Nico, Geraldine, dan Aaron juga memilih keluar karena itu diluar kapasitas mereka, dan tak ada hubungannya dengan mereka juga. Meskipun Nico bagian dari keluarga, dia tak ingin menginterpretasikan urusan mereka. Dia dan lainnya memilih menyibukkan diri untuk membantu mempersiapkan acara tahlilan nanti malam.
"Kenapa menginap di hotel? Bungalow ini cukup besar dan luas untuk kita semua, ada begitu banyak kamar yang luas dan bagus untuk kalian semua.." ucap tante Sonia kepada mereka semua.
"Memang, ini sangat luas dan besar sekali.. Tapi apakah ada ruang khusus untuk kami? Bukankah selama ini kehadiran kami tak diinginkan?" tanya sepupunya yang tadi.
Mendengar hal itu tante Sonia, om Seno dan Stacy terdiam dan tertunduk malu. Itu semua membuat Reva dan adik-adiknya semakin penasaran dengan konflik keluarga ini.
"Maafkan atas semua kesalahan kami dimasa lalu, Mas.." ucap om Seno pelan.
"Huuffthh... Sudahlah, lupakan semuanya. Toh ini semua sudah terjadi, dengan menyadari semua kesalahan kalian dan ikhlas meminta maaf, sudah cukup bagi kami.. Sebenarnya kami semua tak menginginkan ini semua, hak waris ini tak penting bagi kami, karena soal harta, Alhamdulillah kami masih lebih dari mampu!
Tapi keluarga? Apa keluarga bisa diganti? Gak bisa, meskipun suami istri bisa bercerai jika memiliki anak mau tak mau pasti akan berhubungan lagi meskipun tak bisa bersama lagi, tapi keluarga yang keluar dari darah yang sama apa bisa seperti itu? Tidak bisa, Sonia, Seno! Tidak bisa.." ucap pak Darul, sepupu tertua dari mereka.
__ADS_1
"Orang tua kita bersaudara kandung, seharusnya hak waris milik mendiang orang tua kami dibagikan kepada mereka, malah dirampok, dirampas oleh mendiang ibumu itu! Padahal dia tak memiliki haknya sedikitpun, apalagi dia juga cuma menantu di keluarga kami!
Ayah kalian juga tak memiliki cukup nyali untuk mencegah perbuatan istrinya itu, apalagi paman kami juga mendukungnya, sudah cukup baginya tak bisa berbuat apa-apa, istri dan adik bungsunya dipihak yang sama, mengalahkan orang tua kami yang cuma dua orang saja, dua lawan tiga apa sebanding?!
Mau tak mau orang tua kami mengalah, meminta bantuan hukum juga percuma, semuanya sudah disabotase, beberapa oknum pihak hukum juga bekerja sama dengan mereka, dengan uang semuanya mudah bagi mereka," ucap bu Sulastri, adik pak Darul.
"Kami pikir setelah itu, tidak ada lagi masalah yang dibuat oleh mendiang ibu kalian dan pamanku itu, ternyata begitu banyak masalah yang terjadi melibatkan mereka berdua, sehingga ayah kalian sendiri tidak tahu apa saja yang mereka perbuat selama ini, termasuk pengkhianatan itu juga.
Jujur, aku merinding setelah mengetahui semua ini. Aku masih tak menyangka itu semua terjadi kepada keluarga ini, dan kalian bahkan mendapatkan karmanya karena pasangan kalian juga selingkuh, bukan dengan orang lain tapi dengan suami dan istri iparnya sendiri! Gila gak tuh!" sahut juga bu Mariam, saudara sepupu kedua mereka.
"Sudahlah, gak usah dibahas lagi. Toh semuanya sudah mendapatkan karmanya apa yang selama ini mereka perbuat, ini baru hukum dunia, belum hukum akhirat. Kita lupakan saja semua, kembali saja seperti semula. Seperti yang kau katakan tadi kak Sulastri, kita ini keluarga gak bisa tergantikan.
Bukan karena hak waris yang menyatukan kita, tapi ada hal lain yang menyatukan kita.. Mungkin dibalik semua musibah ini pasti ada hikmahnya, semoga yang telah mendahului kita semua amal ibadahnya diterima di sisi Allah, yang sakit disembuhkan, dan yang dipenjara segera bertobat dan bisa menyadari semua kesalahannya, agar kedua keponakanku yang lain bisa berkumpul lagi bersama kita..
Dan satu hal yang pasti, kita juga memiliki anggota baru, ah tidak! Anggota lama yang sudah hilang, kini kita temukan juga. Selamat datang anak-anak, maaf atas semua ini membuat kalian bingung. Jadikan saja semua ini pelajaran buat kita agar bisa menghargai sebuah arti ketulusan keluarga, dan sebuah pengkhianatan tidak akan pernah bisa menghasilkan hal baik apapun itu.." ucap seorang lelaki yang tampak lebih muda dibandingkan dengan yang lainnya, pak Mario adiknya bu Mariam.
Semuanya tanpa sadar menitikkan airmata, masing-masing menyadari kesalahannya dan mulai membuka hati dan pikirannya untuk keluarga dan dirinya sendiri, tanpa diminta semuanya berdiri saling peluk dan memberi semangat.
Tante Sonia dan om Seno nampak bahagia sekali, semua keluarganya kembali berkumpul lagi seperti dulu, meskipun mereka tanpa suami dan istri juga anak-anak mereka yang lain, setidaknya ada hal baik dibalik semua ini.
Di balik dinding pembatas ruangan itu, ada beberapa orang yang ikut menyimak hasil pembicaraan mereka, ikut terharu dan menangis bahagia juga. Mereka adalah istri, suami dan juga anak menantu juga cucu-cucu dari para sepupu keluarga tante Sonia.
Sepertinya mereka semua sudah tahu perihal hubungan keluarga itu, jadi ikut bahagia dengan apa yang terjadi saat ini. Melihat mereka semua tanpa bahagia dan menangis terharu, Nico dan lainnya yang tak tahu apa-apa ikut senang aja apapun yang terjadi, selama itu kebahagiaan untuk semua orang.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1