
"Maafkan aku..." ucapnya lirih.
Semuanya saling pandang tak mengerti dengan ucapannya, tiba-tiba ada seseorang yang muncul dari balik punggungnya.
"Ray-Raymond??!" ucap mereka semua tegang.
"Kalian mau kabur lagi yah?! Dasar tidak sadar diri kalian semua! Kalian tidak akan pernah keluar dari sini selamanya, haha!" ujarnya sadis.
"Maafkan aku, aku terpaksa mengatakan semua ini, jika tidak... Jika tidak Belinda akan, huuu!" Malika menangis ketakutan.
"Sudah, bawa mereka semua ke aula! Dan kumpulkan yang lain, kita kasih contoh kepada mereka yang melanggar aturan seperti apa!!" teriak Raymond, suaranya menggelegar memenuhi isi lorong itu.
Raymond tak datang sendiri, dia bersama beberapa orangnya datang mencari mereka setelah mengetahui ada yang kurang dari para buruh pekerja itu.
Mereka melihat dari layar Cctv yang mengarah ke lorong basemen para kelompok itu mencoba kabur tengah malam, bukannya terkejut tetapi dia malah tersenyum sinis. Sepertinya dia sudah mengetahui soal ini, tapi siapa yang memberitahukannya? Benarkah diantara mereka ada pengkhianatan?
Makanya dia dengan mudah menemukan mereka, Raymond menemukan Malika dan Belinda duduk sendirian didalam lorong. Dia memaksa Malika untuk memberitahukan keberadaan kelompoknya, jika tidak Belinda akan mengalami kesakitan disiksa oleh Raymond.
Malika tidak ingin itu terjadi, dia terpaksa mengatakan itu demi melindungi orang yang dituakan di sana. Lagian dia berpikir teman-temannya tidak akan berhasil keluar, mengingat mereka sempat berputar-putar saja didalam lorong itu.
Lorong itu banyak labirinnya, setiap sudut ada cabangnya makanya mereka mengandalkan peta yang sudah dibuat saat para temannya terdahulu.
Sekarang disinilah mereka, tertangkap oleh Raymond dan anak buahnya. Mereka dibawa ke aula besar tempat biasa mereka dikumpulkan, di sana sudah banyak para pekerja lain yang datang juga.
"Aku sengaja mengumpulkan kalian semua disini, agar tahu akibatnya jika mencoba untuk kabur. Selama ini kalian hanya mendengarkan rumor saja, sekarang kalian akan melihatnya langsung!" ujar Raymond dengan wajah bengisnya.
Semua orang ketakutan melihat apa yang akan terjadi, apakah Ericka dan teman-temannya akan dieksekusi didepan banyak orang itu??
//
Sementara itu, di negara tercintanya.
Reva bersiap untuk pergi ke kantor barunya, dia sudah siap semuanya dibantu oleh beberapa asistennya.
"Aku harus berubah dan berani melawan mereka semuanya, jika kita takut dan hanya setengah-setengah melawan maka mereka akan terus mendesak kita" ujarnya kepada Rendy.
"Aku tahu, Kak. Tapi ingat ada batasannya juga. Jangan sampai Kakak melakukan kekerasan, aku tak mau usaha kita akan sia-sia jika Kakak masuk penjara!" ujar Rendy sewot.
Dia masih ingat kelakuan kakaknya itu yang begitu kasar menghadapi para pengganggunya, tiba-tiba saja pukulan keras mendarat di kepalanya.
Plak!
"Auh! Sakit, Kak!" teriaknya.
Baru saja dibilangin, ternyata dia juga mendapatkan pukulan keras dari sang kakak yang galaknya minta ampun.
"Mulutmu itu di jaga, ini Kakakmu yang kau ajak bicara" ujar Reva gemes sambil meraup mulut Rendy.
Rendy kesal minta ampun dengan kakaknya itu, dia tambah khawatir dengannya apakah dia bisa menjaga sikapnya didepan para direksi di perusahaan itu?
"Apa yang kau pikirkan? Tenang saja, aku tau apa yang harus aku lakukan" ujar Reva dengan senyuman sinisnya, dan membuat Rendy makin khawatir melihatnya.
//
//
Di sebuah gedung tinggi yang menjulang, ada sebuah perusahaan besar yang berada di sana, perusahaan yang hampir bangkrut oleh kekuasaan pemimpinnya yang korupsi dan tidak bertanggung jawab.
Di sanalah Reva berada sekarang, dengan penampilan yang anggun dan berkelas dia melangkah keluar dari mobilnya. Pintu mobil itu dibukakan oleh sang sopir dan dia sudah di tunggu oleh para asisten dan sekretarisnya diluar sana.
__ADS_1
Dia sengaja membawa rombongan ke sana, agar dia menunjukkan ke semua orang bahwa dia juga berkuasa dan orang-orang itu tau siapa yang mereka hadapi.
tidak tanggung-tanggung dia membawa semua asistennya, para staf kepercayaannya juga para bodyguard untuk menjaganya dari serangan yang tidak tahu darimana berasal.
Dia sudah seperti bak Princess disambut oleh orang-orangnya yang berdiri berjejer samping kanan kiri jalan menuju pintu masuk kantor itu.
Sebelumnya, Rendy yang melihat itu semuanya kaget bukan main. Sejak kapan Reva mengatur ini semua? Dan orang-orang itu siapa?
"Kak, apa Kakak sedang main-main atau gimana?! Kenapa banyak orang disini, apakah mereka orang sewaan untuk menakuti para direksi itu atau bagaimana?!" teriak Rendy.
Saat turun ke lobby menuju kantornya, dia melihat puluhan orang yang menunggu Reva dengan beberapa mobil mewah menunggunya di sana.
Dia takut mereka mengganggu ketenangan hidup damai para warga apartemen, kalau mereka semua mengamuk kan gak lucu!
"Enak saja orang sewaan! Mereka semua adalah orang-orangku yang akan membantuku nanti, itu belum seberapa jika aku kumpulkan nanti dikira orang mau demo lagi!
Lagian kamu gak usah heboh deh! Semuanya aku udah urus, sudah laporan ke pengurus dan security gedung ini. Jadi mereka sudah tau" ujar Reva menjelaskan semuanya.
"Tapi sejak kapan Kakak mengatur semuanya, kok aku gak tahu" ujar Rendy bingung.
"Aku tidak ingin melibatkanmu dalam hal ini, ingat aku pernah bilang ke kamu kalau urusan ini biar aku yang tangani, aku serius dan tidak main-main dalam hal ini.
Kau harus percaya kepada Kakakmu ini, yakinlah aku tau apa yang harus aku lakukan" ujar Reva dengan wajah yang sangat serius.
"Baiklah, tapi ingat jangan berbuat kriminal!" ujar Rendy mengingatkannya.
"Kau pikir Kakakmu ini apa?!" teriak Reva murka.
Dia siap melayangkan tendangan mautnya, sebelum itu terjadi Rendy sudah kabur duluan pergi ke kantornya.
Kembali ke Reva yang sekarang.
Dia menatap gedung itu, gedung cukup tua yang masih berdiri kokoh didepannya. Ada perasaan sesak di dadanya, ingat mendiang ibunya yang bersusah payah membangun perusahaan ini hingga besar, dan akhirnya direbut paksa oleh si nenek sihir, Elena.
Semuanya mengangguk kompak, Reva memasuki gedung itu dengan langkah elegan dan penuh percaya diri. Orang-orang yang tidak mengenalinya merasa heran melihat gadis cantik nan elegan masuk ke gedung itu diikuti beberapa orang, asisten dan sekretarisnya juga tiga orang bodyguard.
Mereka dicegat oleh security di sana, hanya ada dua security yang jaga itu juga sudah tua dan satu lagi anak muda tapi lagaknya songong minta ampun.
"Maaf, Nona. Ada keperluan apa datang kesini? Apakah sudah ada janji" ujar salah satu security yang jaga, pria tua yang seharusnya udah pensiun.
Reva memandanginya dengan seksama, meskipun sudah tua tapi orangnya cukup aktif dan tanggap, dia juga ramah menyambut tamu. Berbeda dengan temannya satu, pria muda asik aja main Hp.
"Saya belum ada janji, saya datang mendadak tapi saya yakin para atasan diatas sana tahu dengan saya" ucap Reva sopan juga.
"Siapa, Pak? Kalau gak ada janji usir saja!" teriak security muda itu sibuk dengan Hpnya tanpa melihat siapa yang dia ajak bicara.
Reva geram sekali dengan orang itu, dia menatap sekelilingnya semua orang sibuk dengan pekerjaannya tak ada yang peduli dengannya.
"Kurang ajar anak itu!" umpat bodyguardnya.
Dia ingin memberikan pelajaran kepada satpam itu tapi dicegah oleh Reva, dia tidak ingin membuat kekacauan di hari pertamanya.
Reva dan orang-orangnya langsung saja masuk tanpa menghiraukan satpam tua tadi yang nampak begitu khawatir, dia mungkin takut dipecat jika membiarkan orang lain masuk ke gedung itu.
"Bapak tenang saja yah, tidak akan terjadi apa-apa nantinya" ujar Reva masih ramah padanya.
Mereka naik kedalam lift, ada beberapa orang didalam lift itu ikut dengan mereka satu lift. Ada sekitar empat orang yang ikut masuk ke lift diantara cewek-cewek seksi yang selalu berbicara tidak berhenti, sangat ramai sekali didalam lift oleh suara mereka berdua tanpa melihat kesemua orang yang merasa risih oleh keduanya.
"Tau gak, katanya nih perusahaan sudah bukan milik bu Elena lagi loh. Udah diambil sama anak-anak tirinya" ucap salah satu wanita itu.
__ADS_1
"Menurut gw sih wajar aja, sayy... Kan ini juga perusahaan ibu kandung mereka" jawab temannya santai sambil ngemil keripik kentang pedas, sepedas omongan mereka.
"Iya sih, aku juga dengar jika bu Elena itu, pelakor..." ujar wanita tadi setengah berbisik, tapi semua orang bisa dengar juga.
"Huss!" ujarnya mengingatkan temannya sambil ngelirik kearah semua orang yang ada di lift.
"Eh, aku dengar anak tirinya yang cewek model. Cantik, kira-kira cantikan mana gw ama dia? Haha!" wanita itu nyeletuk lagi.
Baru aja senang Reva dipuji, eh si congor malah ngebandingin dia sama si congor.
"Sabar, sabar Reva ini ujian" gumamnya menarik nafasnya dalam-dalam.
"Cantikkan gw kaleee, haha!" jawab temannya si wanita.
Beruntung sekali mereka setelah itu pintu lift terbuka dan mereka pergi keluar dengan sukacita tanpa tahu yang digosipkan ada dibelakang mereka.
Jika tidak alamat wajah sama mulut mereka udah di raup sama Reva saking keselnya, dia langsung dicegah para bodyguardnya ketika ingin menyusul para cengcorang itu.
"Sabar, Bu. Sabar... Ingat kata-kata pak Rendy, jangan berbuat kriminal" ujar asistennya yang bernama Susy.
Reva makin kesel aja ketika nama adiknya disebutkan, lah ini bosnya sebenarnya siapa sih? Reva berusaha mengendalikan emosinya.
Ting!
Pintu lift terbuka lebar di lantai paling atas, lantainya para penguasa di gedung dan perusahaan ini. Reva yang perasaannya masih mumet tambah semangat berjalan keluar dari lift itu.
Mereka disambut oleh sorotan mata-mata tajam tanda tak suka, ada beberapa orang yang ada di lantai itu dengan penampilan perlente.
"Bu, anggun Bu..." bisik Susy mengingatkan ketika Reva mulai berjalan tergesa-gesa kembali.
Mendadak dia berjalan anggun lagi, jiwa modelnya mendadak muncul kembali. Tapi gak pake dadah yah.
"Maaf, anda siapa yah? Sudah ada janji dengan para direksi kami? Aku liat tidak ada daftar tamu akan datang sepagi ini dan tidak ada telpon juga dari bawah" ucap salah seorang wanita berpakaian seksi dan super minim.
"Kami tidak perlu ada janji untuk kesini, karena kami-" belum selesai sekretaris Reva berbicara wanita itu mulai menyela perkataannya.
"Maaf ya, ini perusahaan tidak sembarang orang bisa masuk seenaknya begini. Kami tuh sibuk tau! Gak ada waktu meladeni kalian!" ujar wanita itu minim akhlak.
Reva dan lainnya melihat kesekelilingnya, mereka hanya sibuk ngerumpi sama makan-makan saja, gak ada tuh sibuk dengan pekerjaan atau pun laptopnya.
Paling buka laptop buat main media sosial sama main Hp, tikt*k an!
"Kami lihat kalian tak punya kesibukan berarti" sindir Susy sang asisten.
Reva diam saja dia memperhatikan mereka semua, kali ini biarkan para anak buahnya yang melawan para icikiwir ini, soalnya bukan levelnya untuk dia ladeni.
Para bodyguard sudah bersiap-siap untuk kemungkinan terburuknya, orang-orang itu mulai memperhatikan mereka dengan raut wajah ditekuk.
"Dengar yah, kalian itu tamu. Bersikaplah yang sopan! Aku tak peduli seberapa besar dan kuasanya bosmu itu!" ujar wanita itu sambil menunjuk muka Reva dengan lancang.
Reva emosi dia ingin meraup itu muka tapi udah keduluan sama Susy, asistennya. Wanita itu berteriak bibir sensualnya itu sedikit jontor dicubit oleh Susy.
"Ada apa sih, ribut-ribut ganggu orang saja!" terlihat seorang wanita cantik dan seksi keluar dari ruangan dengan penampilan sedikit kusut.
Dia menghampiri mereka sambil sekali-sekali merapikan penampilan dan rambutnya, seketika dia berhenti berbicara dan terkejut melihat Reva.
"Kau?!!" teriaknya.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung
Kira-kira siapakah wanita itu? Yuk kasih semangat author dengan like, coment dan juga hadiahnya. Terimakasih 🥰❤️🌹