Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Siapakah Mereka?


__ADS_3

Ericka sudah makan maupun berganti pakaian, dia tidak diperbolehkan untuk turun lagi dari kasurnya dikarenakan harus benar-benar istirahat, paling tidak sampai kakinya sembuh.


"Tapi bagaimana dengan Azzam, Kak?" tanya Ericka khawatir.


"Azzam? Anak itu? Tenang saja, sudah ada orang yang menjaganya. Nanti jika dia sudah siuman, dia akan dipindahkan ke rumah sakit terdekat. Setidaknya kita bisa mengawasinya dari sini.


Dan dia akan dibawa ke panti asuhan dibawah naungan yayasan Mutiara Hati, jadi kita bisa mengawasinya dan bisa menjaganya lebih baik lagi.


Ericka, Kakak mau nanya.. Apa penyebab kamu mau menyelamatkan anak itu? Apa karena dia terlihat menyedihkan? Atau, karena kalian mirip?" tanya Reva hati-hati.


"Bisa dikatakan begitu, Kak.. Karena aku tak mau ada anak yang bernasib sama sepertiku, setidaknya aku lebih baik masih ada kakak, kak Rendy dan bi Mirna. Tapi anak itu benar-benar sendirian, dia menanggung semuanya penderitaan itu.


Dengan hidup penuh kekurangan, lingkungan buruk dan keluarga toxic, kasihan dia.. Aku jadi ingin membangun sebuah yayasan untuk anak-anak yang bermasalah seperti Azzam.." jawab Ericka sambil merenungkan sesuatu.


"Tujuan kamu mulia dan sangat bagus sekali, Kakak akan dukung kamu. Kamu benar, masih banyak anak-anak diluar sana yang hidupnya lebih menderita dibandingkan kita.


Sejenak aku berpikir, hidupku yang paling menderita di dunia ini, haha.. Dasar manusia, tidak pernah merasa bersyukur sekali, hufft... Ya sudah kamu istirahat saja dulu, kakak mau turun dulu, bye..." ucap Reva sambil menyelimuti tubuh Ericka dengan selimutnya.


Di turun dari lantai atas dan melihat Nico bersama yang lain masih di ruang tamu, dari ekspresi wajah mereka sepertinya sangat serius sekali.


"Mas.." panggilnya ke Nico.


"Hai, sayang... Kemarilah, duduk sini ada yang ingin kami katakan padamu, emm... Ericka mana?" tanya Nico.


"Ericka istirahat di kamarnya, dia masih harus istirahat, kakinya belum pulih benar" jawab Reva sambil duduk disampingnya.


"Begini, seharusnya kami bicarakan soal ini kepadamu dan Ericka.. Tapi dengan kamu saja aku pikir sudah cukup, mudah-mudahan Ericka mau menerima dan setuju" ucap Nico serius.


"Ini masalah apa sih?! Kok jadi serius begini, aku jadi takut loh.." ucap Reva khawatir.


"Aku, emm.. Kami ingin membahas banyak hal dengan kalian, tapi aku harap kalian tak salah faham.." ucap Nico yang berbicara berputar-putar saja dari tadi.


"Maksudnya?" ucap Reva tak mengerti.


"Begini..." Nico masih ragu-ragu untuk mengatakannya.


"Kami yang membantu Ericka selama di London, dia kami bentuk menjadi gadis yang kuat, berani dan pandai dalam mengatasi semua masalah apapun itu.


Dan maaf... Jika kami tak jujur dari awal, seharusnya kak Reva dan kak Rendy harus tau semuanya, apalagi Ericka yang menghilang begitu saja karena diculik.


Dan aku suka padanya, sekarang aku bisa menerima konsekuensinya apapun itu!" ucap Aaron cepat, dia begitu gugup menunggu jawaban dari Reva.


",Hei! Apa-apaan ini bocah!" Nico terkejut mendengar pernyataan Aaron yang tiba-tiba itu, dia takut istrinya mengamuk mendengar itu.


Bukan apa-apa, dia tahu betul tabiat Istrinya yang tak bisa mengontrol emosinya, apalagi Reva kalau sudah terbawa emosi orangnya suka meledak-ledak meluapkan amarahnya.


Apalagi Aaron mengatakan semuanya tanpa berpikir panjang lagi, dia sudah khawatir melihat reaksi istrinya itu. Mereka deg-degan menunggu jawabannya.


"Ooo.." jawab Reva singkat.

__ADS_1


"Haah?!" ucap Nico dan Aaron bersamaan heran tak mengerti.


"Iya, aku tau kok. Kami tahu semua apa yang kalian lakukan selama ini.." jawab Reva santai.


"Apaaa?!" sekali lagi dua orang lelaki itu menjawab bersamaan.


"Iya, kami sudah curiga sejak kemarin melihat sikap kalian. Dan kalian pikir kami ini bisa dibohongi apa?! Salah besar jika kalian sampai berpikir seperti itu.


Dan kamu Mas, ugh! Mau marah, kesel atau mau apa lagi aku rasa gak ada gunanya. Aku tau banget kamu itu seperti apa, meskipun niat kamu baik tapi kalau diam-diam itu rasanya bagaimana yah? Au ah, pusing aku sama kamu!" ucap Reva bete.


Semuanya sedikit lega mendengar jawabannya, meskipun terlihat kesal tapi Reva sepertinya mau menerima dan mengerti maksud mereka.


"Dan kamu, katanya tadi suka sama Ericka. Yakin kamu? Kalau cuma mau main-main mending gak usah! Dia itu sangat sensitif, dia sudah banyak mengalami sakitnya dibohongi dan dikhianati.


Jadi, jangan coba-coba buat menyakiti hatinya apalagi sampai menangis, aku akan membuatmu menyesal!" ucap Reva memandangi Aaron tajam.


"A-aku tak seperti itu, Kak. Aku janji akan membuatnya selalu bahagia dan tersenyum selalu.." ucap Aaron gugup sambil menelan salivanya, dia begitu gugup menatap Reva dengan tatapan tajam calon kakak iparnya itu.


"Tenang saja, sayang.. Aku akan mengawasinya nanti, dan percaya saja sama kami yaahh.." ucap Nico menimbali istrinya itu.


"Dan kamu, kita belum selesai!" ucap Reva kepada suaminya itu.


"Apalagi sayang.. Kan tadi udah selesai~~" ucap Nico pelan dengan nada sok manja, yang denger merasa geli dibuatnya.


"Apaan sih Mas, kasihan yang jomblo!" ucap Reva sambil melirik Aaron dan lainnya.


Mereka hanya tersenyum saja melihat tingkah bos mereka yang absurd itu, tidak lama kemudian bi Mirna datang untuk mengatakan makan siang mereka sudah siap.


"Bi, kok aku ngerasa rumah lebih sepi dari biasanya.." ucap Reva heran.


"Iya, Non. Kami mengurangi beberapa pelayan dan pengawal dikarenakan kondisi tuan dan nyonya saat ini, terutama orang-orang yang pernah dipekerjakan oleh nyonya dulu.


Kami takut semuanya tidak terkendali kalau tidak ada yang mengawasi, dan ini sudah disetujui oleh pak Johan dan mas Bram juga" ucap bi Mirna sambil melayani mereka makan.


"Ada benarnya juga sih, terima kasih ya Bi.. Kalau gak ada kalian kami tak tahu akan jadi seperti apa rumah ini" sahut Reva lagi.


"Gak apa, Non.. Kami sudah lama bekerja disini, jadi kami tahu semua seluk beluk dan permasalahan di rumah ini apa. Kami hanya bekerja secara profesional saja" ucap bi Mirna lagi.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka kembali berkumpul di ruang tamu, dan kali ini Nico ingin membahas tentang warisan ibu mereka. Sudah lama sekali dia ingin membahas soal itu, tapi tak pernah ada waktu dan Reva selalu menghindar jika dia mulai membahas soal itu.


"Sudah aku katakan dari awal, aku gak mau bahas ini dulu.. Setidaknya tunggu sampai Rendy ataupun Ericka sembuh dulu, kami harus berkumpul semua agar lebih enak membicarakannya" ucap Reva mulai bosan membahas topik itu lagi.


"Itu memang benar, tapi kamu adalah anak pertama dan aku yakin adik-adikmu akan setuju. Sebelum membahas tentang peralihan kekuasaan dan balik nama semua aset perusahaan dan lainnya atas nama kalian..


Aku ingin membahas sesuatu yang lebih penting dari itu, dan aku yakin ini perhubungan dengan menghilangnya Ericka selama seharian kemarin" ucap Nico serius.


Reva menatapnya lekat, termasuk kepada Aaron, Stanley dan Jessy. Semuanya serius dan Reva tambah khawatir dibuatnya.


"Maksud kamu, Ericka kemarin diculik karena warisan itu?" tanyanya.

__ADS_1


"Kemungkinannya seperti itu, yang aku dengar ada beberapa paman dan bibi ibumu yang tidak setuju atas warisan itu, dan turun ke anak-anaknya juga.


Karena jumlah warisan yang diterima ibumu nilainya sangat besar dan bernilai sangat tinggi, jadi berhati-hatilah" ucap Nico.


"Tapi buat apa?! Toh kami juga bersaudara, mana mungkin mereka ingin mencelakai kami. Jika itu semua karena harta, lebih baik kami tak menerimanya" ujar Reva kesal dan sangat kecewa jika itu benar terjadi.


"Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepannya, Reva. Soal harta, uang.. Gak ada yang namanya saudara, setau aku denger, hubungan ibumu memang tak baik dengan keluarga kakekmu" kata Nico lagi.


"Coba kamu jelaskan lagi padaku apa yang terjadi dengan masa lalu ibuku? Mm... Lebih tepatnya masa lalu nenek kakekku" ucap Reva.


"Mereka itu sepasang kekasih, tapi hubungan mereka tak disetujui keluarga mereka. Karena persaingan bisnis dan masalah lainnya, aku kurang begitu mengerti.


Tapi intinya yang kuketahui, nenekmu melahirkan ibumu dan kekurangan darah cukup banyak dan akhirnya meninggal dunia, bahkan ibumu sempat dinyatakan ikut meninggal juga.


Padahal oleh salah satu anggota keluarga kakekmu, ibumu dibawah ke panti asuhan dan ditukar dengan jenazah bayi lain untuk menyakinkan mereka bahwa ibumu benar-benar sudah meninggal.


Kakekmu putus asa, dan kehilangan gairah hidup meskipun sudah dinikahkan kembali oleh orang tuanya dengan wanita pilihan mereka dan memiliki anak lain, tapi dia masih teringat dan memikirkan mendiang Istri dan anaknya.


Kau tahu, sepandai-pandainya kita menyimpan bangkai, maka bau busuk itu akan tetap tercium juga. Begitu juga dengan kejadian itu, dia mengetahui tentang kontroversi itu dari dokter yang menangani kelahiran ibumu.


Dia merasa bersalah karena menyimpan sebuah rahasia besar yang selama ini ditutupi olehnya, dikarenakan uang suap yang dia terima dari saudara kakekmu.


Dan sayangnya saat itu usia kakekmu sudah tak lama lagi dikarenakan penyakit yang dia derita, dan kakekmu meminta kakekku yang orang kepercayaannya untuk menyampaikan amanatnya ke ibumu.


Tapi mereka sangat kesulitan menemukan ibumu, sampai kakekmu meninggal dan dilanjutkan oleh kakekku. Begitu juga sampai ke ayah dan aku, sayangnya kami baru mengetahui soal ini saat ibumu sudah tiada.


Jadi, semuanya menjadi milik kalian, hak kalian. Keluarga kandung ibumu kami tak banyak mengetahui, karena semenjak kematian ibumu mereka menghilang tanpa kabar.


Ada yang bilang mereka pindah ke luar negeri, keluar kota dan sampai ada yang bilang mereka hilang karena diculik, tapi itu semuanya hanya rumor belaka.


Sampai disini saja aku katakan padamu, aku takut keluarga kakekmu mengetahui keberadaan kalian dan mencoba merebutnya kembali harta warisan itu yang sudah menjadi hak milik kalian" ucap Nico menjelaskan semuanya.


"Tapi, mengapa?" ucap Reva tak percaya saat mendengar semua kebenaran itu.


"Kami tak tahu, tapi satu kenyataan yang pasti bahwa anak-anak kakekmu dari istri keduanya tak rela ayah mereka membagi harta itu kepada ibumu.


Dan mereka juga termasuk orang-orang yang sangat berpengaruh di negeri ini, banyak para pejabat, pengusaha, dan orang-orang penting lainnya yang mereka ciptakan.


Jadi, kita harus hati-hati dalam menyelidiki ini. Dan jangan percaya kepada siapapun selain kita disini, mungkin ada beberapa orang yang sangat kita percayai jika ingin melibatkan mereka" jawab Nico lagi.


"Huuft! Kenapa jadi rumit begini?! Baru saja tenang, tiba-tiba dihadapkan oleh masalah baru lagi.." ucap Reva sedih.


"Sudah, kamu tenang saja. Percayakan saja mereka kepada kami.. Aku ingin kamu istirahat dan tidak banyak pikiran, pikirkan anak kita.." ucap Nico pelan sambil mengelus perut Reva yang masih rata itu, baru enam minggu, paling sedikit buncit saja.


"Ya udah, kita hubungi dulu mas Bram dan pak Johan. Mereka pasti sedikit banyaknya tau tentang ibu, saat mendiang masih gadis dan tinggal di panti saat itu" ucap Reva lagi.


Dia menghubungi mereka sambil mengajak yang lainnya masuk ke ruang kerja pribadi ayahnya, mereka berharap mendapatkan sesuatu mengenai mendiang ibunya di sana.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2