
"A-apa Maksudmu?!" geram Elena, berusaha menahan emosinya.
Dadanya naik turun berusaha mengendalikan diri, kalau tidak memikirkan keberadaannya sekarang mungkin dia sudah mengamuk.
"Ibu Elena, maaf jika pembicaraan ini sedikit pribadi. Tapi saya harus menyampaikan semua pesan dari klien saya.
Bu Elena, sudah berapa lama anda menikah dengan Pak Dewantoro? Kalau boleh tau, sedekat apa anda dengan anak-anaknya?" Tanya William dengan intonasi penekanan.
Semua orang di ruangan itu mulai tegang, jantung Elena berdetak tak karuan. Dia merasa dipojokan, dia menatap suaminya itu yang hanya diam sambil menatap kosong didepan.
"Maaf, Pak Pengacara... Kita tidak sedang di pengadilan, saya rasa anda cukup keterlaluan dalam mendalami masalah ini. Apalagi ini sudah masuk ke ranah pribadi" jawab pengacara Elena.
"Oh, begitu. Maafkan saya kalau begitu... Karena saya merasa ini bukan rapat pemegang saham tapi lebih ke pengadilan.
Kenapa? Karena yang mencoba mengambil milik orang yang bukan haknya itu, dinamakan pencuri. Betulkan?!" Balas William.
"Pak William, kami tak perduli dengan anda itu siapa dan klien siapa. Jika anda melewati batas lagi, maka anda akan kami paksa keluar!" tegas pengacara Elena.
Terlihat Elena tersenyum sinis kepada William, dia sangat tidak suka padanya. Tapi dalam hati mengagumi juga kecerdasan Reva mencari pengacaranya.
"SUDAH, CUKUP!" Teriak dengan lantang pak Dewantoro.
"Pengacara William, tolong bersikap sedikit hormat kepada kami diruangan ini. Jika ada yang ingin anda sampaikan mengenai rapat pemegang saham ini, silakan katakan saja.
Jika sudah tak ada lagi, maka kita akan langsung memutuskan hasil rapat ini. Tidak ada Jeda atau istirahat, apapun alasan atau hasilnya harus ada nama yang akan keluar hari ini juga!
Keputusan dianggap mutlak dan absolute tidak bisa diganggu gugat, dan langsung ditanda tangani oleh kuasa hukum yang terikat dengan undang-undang berlaku.
Jadi, katakan saja apa hasilnya dari rapat ini," tegas pak Dewantoro memberi perintah dan peringatan.
Semua orang diam tertunduk, mereka akui lelaki paruh baya ini masih memiliki karisma dan pengaruh yang cukup kuat.
Aura kepemimpinannya sangat kuat dan tegas, dia pandai memimpin segala hal kecuali rumah tangganya. Dia suami dan ayah yang pengecut.
"Baiklah, saya pengacara dari Pak Dewantoro. Kehadiran kami disini sebagai penengah dan tidak memihak siapapun.
Adapun hasil yang kami bacakan ini merupakan diskusi dari kami semua setelah menilai semua wancana dan pembelaan dari pihak kuasa hukum masing-masing." Kata pengacara itu.
Semua penasaran dengan hasil yang akan dibacakan oleh pengacara itu, dia pengacara pak Dewantoro sedikit banyaknya pasti ada intervensi darinya.
Maka semua orang akan bisa melihat dan menilai pak Dewantoro akan memihak siapa. Istrinya atau anaknya?
"Menurut penilaian kami, semua pihak memiliki wancana dan rencana yang bagus untuk kelangsungan hidup Yayasan dan perkembangan perusahaan ini.
Semua juga punya alasan yang tepat untuk mempertahankan atas kepemilikan dan kepemimpinan perusahaan dan Yayasan tersebut.
Menimbang dan memilih, akhirnya kami memutuskan bahwa perusahaan-perusahaan besar dan semua Yayasan Mutiara Hati akan dijatuhkan atas kepemilikan, atas nama Revalina Wijaya dan adik-adiknya.
Atas dasar hukum yang berlaku sesuai undang-undang, bahwa nona Revalina dan adik-adiknya memiliki hak atas ahli waris mendiang ibu kandungnya.
Sesuai juga dengan wasiat beliau sebelum meninggal, bahwa semua aset perusahaan dan Yayasan yang dia miliki semuanya atas nama anak-anaknya." Ujar pengacara itu menjelaskan.
__ADS_1
Berbagai ekspresi dan keluhan dari semua orang diruangan itu, ada yang bahagia dan lega seperti pengacara Reva yaitu William dan teamnya.
Dan ada juga yang terlihat kesal dan kecewa, Elena beberapa kali mengutuk suaminya atas ketidak berpihaknya dia dengannya. Amarahnya sudah meradang.
Apalagi beberapa kali dia mendengar beberapa bawahannya mengungkapkan kekecewaan mereka, dan mulai ragu mendukungnya.
"Tetapi..." sambung lagi pengacara itu.
Semua terdiam menunggu kelanjutan keputusan itu, semua menduga keputusan sudah final ternyata masih ada keputusan lainnya.
"Karena ketidakhadiran nona Reva, membuat hasil keputusan tidak dikatakan sah sepenuhnya. Hasil dikatakan sah jika kedua belah pihak tergugat dan digugat sama-sama hadir disini.
Kedatangan pengacara tergugat tidak membuat hasil menjadi sah, kecuali ada perwakilan yang sah dari pihak nona Reva" sambungnya lagi.
Senyum sumringah dari bibir Elena ditambah wajahnya terlihat lega sekali. Dia tahu, suaminya itu pengecut dan masih dibawah kendalinya.
Pada akhirnya, semuanya menjadi miliknya. Semua pendukungnya memberi selamat, mereka nampak lega dan senang sekali.
Berbeda dengan William dan teamnya, mereka merasa ini tidak adil dan kesan merendahkan.
"Bapak tidak mengindahkan kedatangan saya, kalian tidak menghargai perjuangan nona Reva? Apa hak kalian memutuskan sepihak atas semua itu?!" Ucap William menahan emosinya.
"Kami sudah mengatakan dari awal, Pak... Ini semua atas keputusan-" belum selesai dia berbicara, tiba-tiba terdengar pintu terbuka.
Ternyata Rendy masuk bersama Nico dan rekan lainnya, semua orang menjadi tegang. Wajah Elena pucat, emosinya kembali meradang.
"Apa yang dilakukan anak bodoh ini disini?! Apa dia ingin melakukan sesuatu hal bodoh lagi?! Anak sama ayah, sesuatu perpaduan yang unik, sama-sama pengecut!" gumamnya.
Yang dia takutkan adalah Nico, apakah dia mengancam Rendy karena Reva? Bayang-bayang ketakutan terlihat diwajahnya, saat ini putrinya tidak ada kabar, ditambah kedatangan pengacara kondang yang bayarannya fantastis dan tidak mungkin Reva mampu membayarnya.
Dan sekarang, Rendy datang bersama Nico? Apa semua ini berkaitan dengannya. Apa anakku telah diancam? pikirannya berkecamuk.
"Maaf kami datang terlambat, ada sesuatu hal yang harus kami lakukan dulu sebelum datang kesini.
Kami ini datang sebagai pihak tergugat, saudara Rendy dan nona Ericka datang sebagai klien kami. Saat ini saudara Rendy juga mewakili adiknya nona Ericka yang tak bisa datang.
Jadi suara dari Tuan Rendy juga merupakan suara adiknya, jadi... Apakah kami melewati sesuatu hal?" Tanya pengacara itu.
"Mereka sudah memutuskan, kalau semua perusahaan besar dan Yayasan Mutiara Hati atas nama kepemilikan dan kepemimpinan kepada nona Reva dan adik-adiknya.
Berarti, itu juga haknya Tuan Rendy dan nona Ericka. Tapi karena ketidakhadiran nona Reva mereka mengatakan bahwa hasil keputusan tidak sah!" Sahut William masih geram.
"Tapi menurut saya keputusan mereka yang tidak sah, mereka tidak bisa memutuskan keputusan begitu saja.
Harus ada alasan yang konkrit untuk menjelaskan hasil keputusan tersebut," sambung William lagi.
"Ta-tapi Pak..." jawab pengacara pak Dewantoro terbata-bata.
Dia bingung harus menjelaskan apa, saat ini semua mata tertuju padanya. Dia melihat kearah pak Dewantoro, ternyata bosnya itu juga terlihat gelisah.
"Dengar Pak pengacara, anda harus merubah kembali keputusan anda dan team untuk memutuskan hasil akhir rapat ini.
__ADS_1
Saat ini kehadiran Tuan Rendy sudah cukup sebagai perwakilan yang sah untuk kedua saudarinya. Anda tak bisa menggunakan kata-kata menyebalkan lagi, dengan alasan keterlambatan segala" ujar William lagi.
Dia masih kesal dengannya, terutama kepada pak Dewantoro itu. Lelaki paruh baya yang tidak memiliki pendirian, masih sayang anak tapi takut istri.
"Tidak bisa! Hasil sudah dibacakan, sesuai dengan keputusan bahwa ini tidak bisa diganggu gugat lagi!" Ucap Elena berteriak.
Kekhawatiran membuatnya hampir hilang kendali, dia takut kehilangan semuanya.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa di pengadilan sesungguhnya!" Ucap William dengan sengit.
Dia dan rekan se timnya berkemas membereskan berkas-berkas diatas meja dan bersiap pergi.
"A-apa?! Pengadilan?" Katanya gugup.
Satu kata yang dia takutkan dalam kasus ini yaitu pengadilan, dia menoleh kearah pengacaranya. Pengacaranya berusaha menenangkannya, tapi itu tak cukup baginya.
Dia harus memenangkan rapat pemegang saham ini tanpa harus ke pengadilan, dalam pikirannya kalau masalah ini dilimpahkan di pengadilan, maka nama baik dan reputasinya jadi taruhan juga.
Dia menatap suaminya itu, malah dia juga ikut-ikutan berkemas pergi juga. Semua orang bersiap akan keluar dari ruangan itu, tak ada cara lain selain menurut saja dengan keputusan itu.
"Nyonya jangan khawatir, selama proses ke pengadilan kita akan pikirkan lagi cara menenangkan atas gugatan ini.
Sekarang kita sudah tahu, lawan kita agak sulit karena ada dua lawan yang harus kita hadapi.
Nyonya percayakan saja ini pada kami, lagian masih ada waktu perpanjangan masa jabatan Nyonya di perusahaan dan Yayasan ini.
Manfaatkan ini, Nyonya... Minta bantuan berbagai pihak, kapan perlu kita 'main cantik' saja" ujar pengacara itu sambil mengedipkan matanya sebelah.
Dia mengisyaratkan sesuatu kepada Elena, dan Elena pun tahu maksudnya. Dia tersenyum licik, dia tahu harus berbuat apa.
*
Sementara diluar ruangan itu, Rendy dan Nico juga beberapa rekan mereka termasuk kedua pengacaranya berdiri di samping ruang rapat itu.
Mereka menunggu pak Dewantoro keluar dari ruangan itu, dan benar saja ketika pak Dewantoro keluar dia langsung di hadang oleh Rendy.
"Ayah, aku ingin bicara padamu. Berdua saja" katanya dengan lembut pada ayahnya itu.
"Kau ingin bicara apa lagi? Kau sudah besar dan dewasa, bisa mengambil keputusan sendiri tanpa harus minta persetujuan Ayah.
Jika kau sudah mengambil keputusan, maka tanggung jawablah dengan keputusan itu. Ayah pikir kamu sudah dewasa sampai harus bertindak seperti ini" ucap pak Dewantoro seraya berjalan meninggalkan mereka.
Rendy tertunduk sedih melihat kepergian ayahnya itu, tapi dia harus tega melakukannya. Jika tidak, akan selamanya ayahnya tunduk dibawah kaki Elena.
"Good Job, Bro... Gak usah takut, semuanya akan baik-baik saja" ujar Nico sambil menepuk lembut bahu Rendy.
"Dimana kakakku?!" Ujar Rendy menatap tajam kearah Nico.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1