
Semuanya nampak tegang menatap Reva diatas podium, mereka melihat gadis nampak berbeda dengan Elena. Dari auranya terlihat jiwa kepemimpinannya, dia nampak serius sekali dihadapan mereka semua.
"Aku tak peduli kalian berpikir apa tentangku, tapi aku ingin kalian semua serius menjalankan yayasan ini. Kalian memang seperti pekerja sosial, tapi ingat kalian itu digaji. Digaji untuk bekerja bukan untuk bersantai-santai seperti ini" ucap Reva sambil mengedarkan pandangannya.
"Aku rasa tidak perlu mengadakan acara penyambutan seperti ini, buang-buang uang dan waktu. Bukannya aku tak mau dekat dengan kalian ataupun hal semacam itu, tapi ada waktunya untuk hal itu.
Hari ini jam kerja, ada banyak orang-orang yang perlu kita bantu. Ingat kita ini mitra pemerintah, jangan abaikan amanah yang diberikan kepada kalian.
Aku tak tahu bagaimana cara kalian bekerja dengan pemimpin terdahulu, tapi aku tidak suka bersantai atau bermain-main. Adakalanya kita boleh bersantai, tapi disaat bekerja fokuslah dengan pekerjaan itu. Aku takkan mengulangi lagi perkataanku, segala perkataanku adalah peraturan jadi patuhilah.
Aku tahu kalian lebih tua usianya dibandingkan aku, kalian juga jauh lebih berpengalaman dari aku, tapi selama aku melihat dan menilai kalian tak ada satupun yang bertanggung jawab sepenuhnya dengan pekerjaan kalian" ucap Reva lagi.
"Kami juga butuh istirahat, kami juga lelah bekerja terus-terusan. Kau tahu sendiri kami ini sudah tua, dan kami juga jauh lebih berpengalaman darimu, terus kenapa kamu terus mencecar kami dan mencari-cari kesalahan kami?!" ujar salah seorang pemimpin yayasan itu.
Reva tersenyum mendengar ucapan ibu itu, akhirnya mereka bersuara juga setelah lama mendengarkan dirinya berbicara cukup lama.
"Betul itu, kau seharusnya lebih menghormati kami! Meskipun kau adalah atasan atau pemimpin kami, kau itu masih junior disini dan harus mendengarkan ucapan orang yang lebih tua darimu" sahut juga salah satu ibu-ibu yang ada di sana.
"Kami kecewa kepadamu, kami pikir kamu bisa diandalkan dan bisa mensejahterakan hidup kami para pegawai ini. Tapi kau malah sibuk menguras keringat kami ini, lagian apa salahnya dengan pesta ini?
Ini hanya penyambutan biasa, tidak seperti kami merayakan penyambutan para pemimpin lainnya. Urusan pekerjaan bisa dilakukan oleh pegawai junior lainnya, lagian mereka biasanya bisa menunggu lebih lama lagi" sahut ibu-ibu bertubuh tambun.
"Kau sangat angkuh, berbeda sekali dengan Elena. Kami merindukannya..." sambung ibu-ibu itu sambil berkaca-kaca.
Disambut juga dengan anggukan ibu-ibu yang lain, mereka mulai menggunakan keahlian mereka dengan memanipulasi keadaan seolah Reva lah yang bersalah dan jahat disini.
"Mulai deh drama ini emak-emak!" ujar Susy geram dengan kelakuan mereka, diiringi anggukan Mona.
"Jadi, kalian merindukan Elena? Kalian ingin aku bekerja seperti Elena? Ingin menuruti semua keinginan kalian? Bagus, oke kalau begitu!" sahut Reva dengan lantang.
Terlihat ekspresi mereka nampak begitu sumringah mendengar ucapan Reva barusan, mereka tersenyum lega.
"Tapi ada syaratnya..." Reva menatap mereka semuanya dengan tatapan tajam dengan senyuman sinisnya, membuat semua orang yang ada di sana tertegun.
"Kalian harus mengikuti aturan dariku, menaati peraturan yang ada. Mungkin aku akan merombak sedikit peraturan yang ada disini, dan mungkin juga akan mengganti beberapa pegawai yang ngeyel.
Jika kalian masih ingin bekerja disini, ikuti aturan yang aku buat. Jangan banyak alasan ini itu, apalagi sampai membandingkan aku dengan Elena, jika terdengar olehku ada yang berbicara seperti itu maka akan aku usir dari yayasan ini.
Aku tak peduli seberapa tuanya usia kalian, seberapa lamanya kalian berbakti disini. Aku tak peduli, dan aku tak mau tau apapun alasan kalian buat. Mengerti?!" ucap Reva dengan tegas.
__ADS_1
"Ta-tapi..." seorang ibu berusaha mencoba berbicara tapi lidahnya terlalu keluh untuk dia ucapkan.
"Mungkin kalian belum mendengar ataupun tak mau tahu bahwa aku juga melakukan hal yang sama terhadap beberapa perusahaan dan yayasan yang lainnya.
Bagi pegawai yang tak menaati peraturan akan aku usir dari perusahaan ataupun yayasan ini, aku tak peduli dengan usia, jabatan dan masa dia bekerja di tempat itu.
Aku tak peduli dengan asumsi kalian ataupun predikat kalian berikan kepadaku, aku adalah aku, dia adalah dia. Dua orang yang berbeda, jangan kau samakan ataupun bedakan" ucapnya kembali sambil menatap semua orang yang ada di sana.
"Kalian harus ingat ini, aku adalah Revalina Wijaya anak pertama dari tiga bersaudara dari Larasati Pohan dan Dewantoro Wijaya.
Aku dan adik-adikku adalah pewaris sah dari semua ini, kalian harus patuh terhadapku, ingat itu!" bentaknya mengakhiri perkataannya diatas podium itu.
Semua orang terdiam memandangi Reva berjalan melewati mereka semua, Reva langsung menuju para pegawai junior ataupun pegawai dengan posisi rendah yang terlihat sibuk bekerja.
"I-Ibu? Apakah acaranya sudah selesai? Ah, biarkan kami yang mengerjakan ini semua" ucap salah satu pegawai itu dengan gugup.
"Tidak apa, ini sudah siang waktunya kalian beristirahat dan makan siang. Didalam masih ada makanan yang bisa kalian nikmati, makanan lebih bisa kalian bawa pulang ataupun bisa bungkuskan kepada pegawai yang didepan seperti security, cleaning servis, ob ataupun tukang kebun" ucap Reva dengan lembut.
Sikapnya jauh berbeda saat dia berbicara diatas podium tadi, dia bisa menilai orang dari tatapan matanya. Dia lebih peduli dengan para pegawai yang seperti itu dibandingkan para pemimpinnya.
"Ta-tapi, Bu" pegawai itu terlihat sungkan dan mungkin saja dia takut dengan para pemimpin lainnya.
Lalu Reva menghampiri para tamu dan perwakilan dari sekolah ataupun rumah sakit dibawah pimpinan yayasan miliknya itu.
"Maaf Bapak-bapak dan Ibu-ibu, jika pelayanan di tempat kami ini kurang memuaskan. Dikarenakan ini sudah siang hari dan sudah memasuki jam makan siang, silakan masuk dulu makan siang bersama kami.
Kebetulan hari ini adalah hari pertama saya berkunjung ke yayasan ini, jadi mereka memberikan sedikit sambutan kepada saya. Semoga kedepannya pelayanan kami berikan bisa menjadi lebih baik lagi" ucap Reva dengan ramah dan lembutnya.
Semua pengunjung yang datang begitu terkesan dengan sambutan Reva yang hangat kepada mereka, sangat berbeda dengan pegawai sebelum-sebelumnya.
Apalagi mereka juga baru mengetahui bahwa gadis cantik ini adalah pemimpin selanjutnya, melihatnya saja orang-orang sudah tertarik dengannya.
"Nona, anda sangat baik sekali berbeda sekali dengan para pegawai yang ada disini terutama bagian pemimpinnya. Untuk membuat surat-surat permintaan saja dipersulit, kadang harus minta uang ongkos segala.
Padahal kami sudah melakukan prosedur sesuai dengan aturan yang ada, kami juga melakukan semua ini demi kebaikan semua orang, demi anak-anak itu" ucap salah satu perwakilan dari pihak pengunjung.
Dia adalah seorang lelaki sudah cukup umur, namanya pak Burhan. Beliau ini adalah pemilik panti asuhan dibawah naungan yayasan Mutiara Hati.
Mendengar hal itu membuat Reva semakin panas saja, dia harus merombak total para pemimpin yayasan ini termasuk yang di cabang-cabangnya agar tak ada lagi orang-orang yang terzolimi oleh perilaku mereka.
__ADS_1
Sementara itu, diluar gedung itu ada beberapa orang yang terlihat mengawasi yayasan itu.
Dari salah satu mereka ada yang memegang kamera dan memotret segala kegiatan dan pergerakan Reva.
Bak Deja vu, mereka juga tak sadar sedang diawasi juga. Setelah sekian lama mereka mengawasi dan berniat pergi, mereka terkejut saat membalikkan badan.
Ada tiga orang berbadan besar dengan otot-otot tubuh yang keras menghadang mereka, salah satu lelaki itu merampas kamera, Hp bahkan menggeledah tubuh mereka.
"Kamera ini kami sita, jangan berbuat macam-macam jika tidak ingin berurusan dengan kami. Jangan ganggu nona Reva dan orang-orangnya, jika tidak nasib kalian akan sama seperti kamera ini.
Dan sampaikan kepada orang yang menyuruh kalian untuk menjauh, dan jangan pernah berpikir untuk berbuat nekat lebih jauh lagi dari ini. Karena kami tahu semua pergerakannya" ucap lelaki itu sambil menatap keempat lelaki didepannya.
Tiga orang lelaki berbadan besar bak personal trainer, melawan 4 orang lelaki lebih kecil dibandingkan mereka bagaikan melawan anak kecil saja.
Mereka tak perlu mengotori tangan mereka, cukup dengan menakutinya saja mereka pasti akan mengerti dan takut kepada mereka. Dan ternyata benar mereka langsung pergi ketika ketiga lelaki itu melepaskan mereka.
"Maaf, Nona. Sepertinya rencana kita gagal, entah bagaimana caranya tapi kami juga sedang diikuti dan diawasi.
Untuk sementara waktu jangan hubungi kami saat ini, permisi" ucap salah satu keempat lelaki tadi didalam telponnya.
"Sial!" terdengar umpatan diseberang telpon itu, suara seorang wanita muda.
Sementara itu, ketiga lelaki berotot tadi pun memberikan laporan kepada atasannya.
"Bos, aman terkendali. Mereka ketahuan tepat waktu, saat mereka ingin pergi kami tahan mereka dan mengambil kamera dan chip di Hp mereka.
Nona Reva aman untuk saat ini" ucapnya mengakhiri telponnya.
Di sebuah kafe, terlihat Rendy dan Nico sedang mengamati Hpnya Nico setelah dia menerima panggilan tadi.
"Firasatku benar kan, Kak. Pasti akan ada orang-orang yang akan mencelakakan kak Reva, karena dia bekerja sendiri aku takut dia terluka lagi.
Aku tahu dia selalu ditemani oleh asisten dan sekretaris dan juga beberapa bodyguardnya, tapi entah mengapa rasanya kurang saja gitu" ucap Rendy khawatir.
"Kamu gak usah khawatir, aku akan menjaganya. Percayakan semua ini kepadaku yah" ucap Nico sambil menepuk bahu Rendy.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1