Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Eksploitasi Terhadap Anak-Anak


__ADS_3

"Saya lihat, keadaan dan kondisi disini sangat baik ya, Bu? Ibu hebat bisa menghandle panti dengan baik.." ucap Ericka sambil menyeruput secangkir teh hangat itu.


"Iya, syukurlah. Ini semua berkat usaha dan bantuan kita semua,, saya hanya meneruskan perjuangan ibu saya dulu, ketika beliau mangkat maka saya yang menggantikannya.." ucap ketua panti itu sambil sibuk memperhatikan jumlah nol diatas cek itu.


"Wah, ibu luar biasa, kalian wanita-wanita kuat dan tangguh bisa merawat dan mendidik anak-anak ini dengan baik, selain jasa mendiang ibunya, ibu juga sangat berjasa sekali dengan semua kesuksesan ini.


Saya yakin pemilik panti ini sangat sayang dan perhatian sekali dengan kalian, sehingga mempercayai almarhumah ibu dan ibu sendiri masih memegang panti ini, semuanya berkat usaha dan kerja keras kalian.." ucap Ericka lagi sambil tersenyum memperhatikannya.


Mendengar itu ketua panti langsung terdiam dan melihat kearah Ericka dengan pandangan intens, sepertinya dia mulai terpancing dengan ucapan Ericka barusan.


"Yaah, kau memang betul. Kami sebenarnya bukan pemilik panti ini, kami hanya mengurusnya saja, tapi kamilah yang bertanggung jawab atas semua anak-anak ini, jika bukan kami yang mengurusnya, kalau bagaimana mereka bisa hidup dan menjalani ini semua?


Anak-anak itu terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan usaha dan bisnis perusahaan keluarga mereka, mana mau mereka mengurus hal kecil seperti ini. Buktinya mereka hanya berkunjung sebulan sekali, kadang beberapa bulan kemudian baru datang.


Itu juga datang hanya sebentar, menyapa anak-anak lalu pergi lagi, padahal anak-anak ini juga mau kenal dengan mereka lebih baik lagi, atau sekedar bermain saja, tak sempat. Apa itu disebutkan pencitraan saja?


Hadeh, kalau dipikirkan yah, anak-anak itu masih terlalu muda diberikan beban begitu besar, mereka tak ada waktu untuk bermain ataupun beristirahat, waktu mereka dihabiskan untuk bekerja saja.


Dan saya yakin, mereka juga pasti jarang bertemu dan berkumpul antar bersaudara itu, dan saya dengar anaknya yang sulung itu menikah atas perjodohan, keinginan adiknya. Mungkin adiknya malu kali yah, kakaknya udah dewasa tapi belum menikah-menikah juga.." ucap ketua panti itu bergosip tentang mereka.


Ericka masih memaksakan diri untuk tersenyum, dan tidak terpancing dengan emosinya sendiri. Dia masih ingin membuktikan sendiri jika terjadi sebuah korupsi di panti ini.


"Jadi, menurut ibu mereka bagaimana?" tanya Ericka lagi.


"Yah, mereka tidak pantas memimpin panti dan yayasan ini, mereka belum cukup berpengalaman. Sebaiknya pengurus yang lama harus kembali memimpin itu semua, termasuk saya.


Saya tak biasa dan tak suka anak muda yang usianya dibawa saya suka memerintah dan menyuruh-nyuruh saya, saya tak suka. Gak sopan!" ucap ketua panti itu lagi.


"Oh, begitu. Tapi Bu, jika bukan karena mereka mungkin panti dan yayasan juga tak berjalan dengan baik juga, soalnya aliran dana juga berada ditangan mereka, semua gagasan dan ide-ide pembangunan dan fasilitas panti juga mereka yang bikin dan membangunnya.." ucap Ericka berusaha mengorek informasi dari ketua panti itu.


"Memang sih, dan itu wajar saja kan ini juga tanggung jawab mereka, wong panti dan yayasan ini milik keluarga mereka, kita ini cuma pengurus saja!" jawab ibu itu sewot.


Ericka hanya menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran ketua panti itu, mereka ingin mengambil alih kekuasaan dan kepemilikan panti dan yayasan, tapi tak mau keluar modal, jika ada uang yang harus dikeluarkan, baru mereka lemparkan tanggung jawab itu ke mereka.


"Lagian, anak-anak panti ini tak perlu ini dan itu, yang penting mereka makan dan minum gratis, ada tempat tinggal, ada tempat tidur, ada pakaian ganti dan bisa sekolah, kalau mau main mah dimana saja bisa!


Buat apa coba bikinin taman bermain segala, gak penting! Itu perpustakaan, buat apa? Kalau mau belajar bisa dikamar mereka kan? Tv, buat apa? Yang ada anak-anak itu akan malas kerjanya cuma nonton dan main saja, mereka harus belajar bersyukur karena diberikan tempat tinggal gratis!

__ADS_1


Maka dari itu, semua pekerja kebun, peternakan, budidaya lele semua mereka yang urus. Biar mereka tau, susahnya cari makan itu gimana!" ucap ketua panti itu.


Dia lupa siapa yang diajak bicara itu, dia tak peduli dan takut jika orang lain membicarakan tingkah lakunya, seolah dia sudah siap semuanya.


"Lah, memang itu mereka kerjakan sedari dulu ya, Bu. Yang mengurus kebun, peternakan dan budidaya ikan itu?" tanya Ericka lagi.


"Sebenarnya ada pekerja lain diluar panti ini, anak-anak hanya membantu sedikit buat mereka belajar, seperti apa cara berkebun, mengurus ayam atau memelihara ikan itu seperti apa.


Setelah saya pikir, sebagian anak panti ini ada yang sudah besar dan mengerti bagaimana caranya berkebun, berternak dan memelihara ikan, jadi manfaatkan saja keahlian mereka.


Uang untuk menggaji para pengurus dulu kan bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat!" ucap ketua panti itu tak peduli dengan anak-anak itu.


"Bukankah mereka semua masih anak-anak, Bu? Masih pada sekolah.." tanya Ericka mulai geram dengan kelakuan ketua panti itu.


"Sebelum sekolah mereka bisa mengurusnya dulu, setelah pulang juga bisa mengurusnya lagi. Toh setelah lulus juga mereka akan tetap berada disini, mengurus semua ini!" ujar ketua panti itu sambil memeriksa ponselnya.


"O ya, bagaimana jika kita berkeliling sambil ngobrol saja? Sekalian kita lihat bagaimana anak-anak itu bekerja, jika ada anak yang Nona sukai untuk bekerja di rumah, silakan dipilih saja, untuk pengurusan dan administrasinya bisa kita bicarakan nanti.." ucap ketua panti itu tanpa rasa malu atau takut.


Ericka terdiam, dia cengo dengan ucapan ketua panti itu. Maksudnya apa tadi? Dia sengaja memperkejakan anak-anak panti ini kemudian untuk dijual jasanya? Bukankah ini yang dinamakan eksploitasi terhadap anak-anak?


"Bo-boleh, Bu.." jawabnya gugup, dia tak tahu apa saja akan dia lihat nanti.


Priiittt!


Suara peluit melengking dengan kencangnya ditelinga Ericka, ketua panti itu mengumpulkan anak-anak di taman bermain untuk menghadap kearahnya, mereka nampak tergopoh-gopoh berlari kearahnya, dan berbaris rapi dan diam sambil menundukkan wajah mereka, seperti takut menatap wajah perempuan paruh baya itu.


"Anak-anak, waktu bermain kalian sudah selesai, saatnya belajar lagi. Agar kalian besar nanti bisa menggantikan kakak-kakak kalian yang bekerja di kebun, di peternakan dan perikanan itu.


Ingat, kita harus belajar dan menghargai semua bantuan yang ada, dan tidak boleh manja ataupun bermalas-malasan! Faham?!" tanyanya pada anak-anak itu.


"Faham..." jawab anak-anak pelan dan takut.


Ericka hanya bisa diam saja untuk saat ini, dia belum bisa berbuat apa-apa kepada mereka, suatu saat nanti dia akan membalas semua perlakuan ketua panti itu kepada anak-anak ini.


"Baiklah, cepat pergi sana.." ucap ketua panti itu.


"Tapi, Bu.. Mereka kenapa tidak ikut belajar dan bekerja seperti kami?" tanya salah satu anak panti itu menunjuk kearah anak-anak yang usianya masih terlalu dini untuk mengerti itu semua.

__ADS_1


"Mereka itu masih kecil, nanti jika sudah umur tujuh tahun seperti kamu mereka juga ikut bergabung dengan kalian. Sudah jangan banyak bertanya, cepat pergi sana!" jawab ketua panti itu gusar.


"Ba-baik, Bu.." ucap anak itu takut dengannya.


Dia berlari ikut bergabung dengan lainnya, sedangkan Ericka hanya menatapnya kasihan, mereka seharusnya banyak bermain dan belajar, malah sibuk bekerja dan mereka tak diberikan kesempatan untuk memilih keinginan mereka ketika besar nanti, karena mereka sudah dipilih nanti akan seperti apa, jadi petani, peternak, atau hanya berkecimpung dengan ikan saja.


"Apa yang dia pikirkan, anak-anak berusia dibawah tujuh tahun bisa apa? Mereka hanya bisa makan, main, tidur dan buang air saja!" ucap ketua panti itu.


"Ibu, kenapa ibu bisa melakukan itu semua? Apa tidak takut jika ketahuan atau anak-anak itu bisa mengadukan ibu ke luar? Ke pemilik panti ini?" tanya Ericka mulai tak tahan.


"Jika mereka ingin, sudah dari dulu mereka melaporkannya. Tapi mereka masih berpikir panjang, jika mereka melaporkanku, dan aku tak disini lagi, siapa yang akan mengurus mereka?


pengurus baru? Yakin orang baru itu tulus kepada mereka? Yakin kelakuannya tidak lebih buruk dariku? Aku hanya meminta mereka bekerja saja, tidak melakukan kekerasan, mereka bisa sekolah dan bermain diluar, disini mereka juga bebas mau makan dan ngemil sepuasnya, bahkan fasilitas juga lengkap.


Jika ada pengurus baru, aku yakin mereka takkan sebebas saat bersamaku, dan aku yakin mereka tidak akan betah ditinggal disini. Karena bisa jadi mereka akan diperlakukan dengan buruk orang pengurus itu!" jawab ketua panti itu.


"Oh, begitu ternyata. Dia menanamkan sugesti kepada anak-anak ini, jika tak ada dirinya maka mereka tidak akan bisa apa-apa, jika ada orang baru, maka mereka akan terancam. Hem, strategi cukup bagus untuk bertahan disini, dia tahu semua peraturan yang dia buat semuanya menguntungkannya.


Makanya dia sangat sulit untuk dilengserkan dari posisi ini, selain ancaman dan sugesti darinya, anak-anak tak bisa berbuat apapun.." gumam Ericka dalam hati.


Mereka berjalan kearah perkebunan itu, dia melihat ada beberapa anak-anak yang begitu sibuk dengan pekerjaan mereka. Sebagian anak-anak membersihkan rumput, sebagian anak yang memanen hasilnya, dan sebagian lainnya memupuk dan menyiram tanaman itu.


"Hei, kau! Enak sekali kau malas-malasan yah sedangkan yang lainnya sibuk bekerja, tapi kay malah enak-enakan duduk disini!" tegur ketua panti itu mengagetkan anak itu.


"Maaf, Bu. Saya baru beristirahat sebentar.." ucap anak itu dengan gugup.


"Istirahat sudah selesai, cepat kerja lagi!" ucap ketua panti itu ketus.


Membuat anak itu takut seperti mau menangis, kasihan sekali, ternyata mereka hanya diberikan kebahagiaan semu saja di panti ini, selebihnya mereka juga akan diperas tenaganya disini.


"Aku rasa untuk hari ini cukup, besok saja akan berkunjung lagi Bu.." ucap Ericka mulai gak tahan berada d sana, dia merasa sedang uji nyali saja.


"Baik, Nona! Ditunggu yah, saya senang bisa mengobrol dengan Nona seperti anda ini, tidak terlalu banyak omong dan komplain seperti pengunjung yang lain.." ucap ketua panti itu senang.


Ericka hanya tersenyum, sepertinya sebelum dirinya kesini sudah ada beberapa pengunjung yang datang kesini, tapi memang orangnya seperti ini, tak ada takutnya ataupun ada rasa malu, dia bebal saat para pengunjung datang ke sana.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2