
Dua bulan telah berlalu, pernikahan antara Rendy dan Andriana seharusnya akan dilaksanakan pada bulan depan terpaksa dimajukan satu bulan lebih cepat, itu semua atas permintaan sang kakak, yaitu Reva.
Karena tanggal dan bulan pernikahan mereka yang seharusnya di bulan depan sama dengan tanggal HPL Reva akan launching baby born, Reva tak ingin hari pernikahan adiknya itu sama dengan perkiraan tanggal lahir anaknya, karena itu pasti akan merepotkan sekali, dia ingin sekali banyak terlibat dalam pernikahan adiknya itu.
"Itu kan baru HPL, sayang.. Belum tentu juga kamu lahir tanggal segitu," ucap Nico kepada istrinya itu.
"Iya aku tau, terus gimana kalau lahirannya lebih cepat dari tanggal yang diperkirakan? Kan aku gak bisa liat Rendy nikah dong, aku mau juga ngurusin dia secara aku ini kakaknya. Tanggung jawab sebagai seorang kakak dimana ini kalau gak ngurusin dia!" sungut Reva.
"Bukan begitu, kan yang bantuin dia juga banyak. Sekarang juga kita gak sendiri lagi kayak dulu, ada banyak keluarga yang akan membantu kita mengurus pernikahan Rendy... Lagian, apa kamu gak khawatir sama my baby.. Kalau mommy nya kecapean, dia juga bisa ngerasain, sayang..
Emang kamu mau si utun launching duluan padahal belum waktunya, terus kamu beneran gak bisa ikut euforia menyambut pernikahan Rendy sebentar lagi, hem?" tanya Nico gemas pada sang istri.
"Yaaa, gak mau! Aku ingin dia lahir pas waktunya aja, ketika dia memang sudah waktunya lahir dalam keadaan sehat dan kuat itu aja.. Hem, aku gak akan capek-capek kok, janji?!" pinta Reva sambil memelas manja kepada sang suami.
Kalau melihat Reva dalam mode seperti itu, Nico mau gak mau terpaksa mengikuti maunya dia. Karena jarang-jarang cewek badas macam Reva mau manja-manja sama suaminya seperti itu.
Hari itu, semuanya nampak begitu sibuk karena dalam hitungan beberapa hari lagi pernikahan Rendy akan dilaksanakan. Pernikahan akan dilakukan disalah satu hotel bintang lima milik keluarga Wijaya, semua tamu penting telah diundang, Wedding organizer nya akan dipercayakan kepada salah satu WO terkenal yang biasa dipakai oleh beberapa artis terkenal ibukota, dan para pejabat di negeri ini.
Hari ini, Rendy dan Andriana melakukan acara fitting baju pengantin untuk beberapa acara nantinya, dari acara adat, akad dan juga beberapa resepsi juga. Rencananya akan dilakukan tiga kali resepsi, yaitu resepsi untuk para keluarga, kerabat juga beberapa tempat dekat, resepsi kedua untuk para tamu penting seperti para kolega, rekan kerja dan tamu-tamu penting lainnya, dan yang terakhir adalah pesta rakyat, dan tentu saja itu adalah ide gilanya Reva dan Erick.
"Ribet amat sih, cukup pestanya yang sederhana aja! Gak mesti tujuh hari tujuh malam kayak gitu, kayak nikahan anak sultan aja!" ujar Andriana protes.
"Lah, emang kamu gak nyadar selama ini nikahnya sama siapa?" goda Rendy sambil tersenyum smirk.
"Idih, kepedean! Dimana-mana anak sultan tuh selalu pakai pakaian bermerek, mobil mewah, liburan kemana-mana, dan hobinya selalu flexing dimana-mana!" ujar Andriana sok tau.
"Aku ini orangnya gak mau kayak gitu, hidup riya' itu namanya! Kamu tau istilah down to the earth, nah itu aku!" kata Rendy sambil merapikan rambutnya.
Andriana hanya mencebikan bibirnya mendengar ucapan Rendy barusan, untuk fitting baju dilakukan di rumah saja, seorang desainer terkenal sengaja diminta untuk merancang baju pernikahan mereka dibuat seusai dengan karakteristik si mempelai.
Desainer datang juga bersama beberapa pegawainya yang lain, karena ada begitu banyak baju yang harus mereka coba. Termasuk baju untuk Groommaids dan Bridesmaids juga, ada juga beberapa baju seragam untuk keluarga juga, semuanya mendapatkan bagian termasuk beberapa orang-orang terdekat dengan mereka juga.
"Aku gak bisa bayangin, gimana capeknya mereka nanti. Pesta segitu gedenya bakalin diadain, ckck! Apa gak gempor tuh kaki berdiri mulu!" ujar William sambil menatap calon pengantin yang masih berdebat soal resepsi pernikahan mereka nanti.
"Ntar lu nikah nanti bakalan gw bikinin kayak gini juga!" sahut Erick sambil mematut baju yang akan dia coba nanti.
"Duit dari mana?!" ledek William.
"Tuh ada sponsor!" sahut Erick cepat sambil memoyongkan bibirnya kearah Reva dan Nico.
"Dasar lu!" ucap William sambil menjitak kepala Erick.
__ADS_1
Geraldine sedari tadi hanya diam saja, hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua, Ericka yang duduk tak jauh darinya menatap dan mencoba mengartikan tatapan Geraldine ke William.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Ericka tiba-tiba kepada Geraldine.
"Bagus kok, cocok. Aku suka!" jawab Geraldine sambil tersenyum mematut diri dengan gaun ditangannya.
"Maksudku, William bukan gaunmu!" ujar Ericka sambil menahan tawanya melihat Geraldine mendadak salah tingkah.
Siang itu, Mansion besar itu mendadak ramai oleh semua anggota keluarga, seperti om Richard sekeluarga, tante Sonia, om Seno dan juga stacy termasuk juga pak Darul beserta saudara dan keluarga lainnya juga datang. Reva sengaja mengundang mereka semua untuk mencoba pakaian yang akan mereka pakai di hari pernikahan Rendy nanti, termasuk beberapa sahabat dan orang terdekat yang mendapatkan bagian juga.
Semuanya berkumpul di satu ruangan, sudah seperti berada butik saja, beberapa pakaian menumpuk untuk mereka coba semua, karena rencananya pesta akan dilaksanakan cukup lama seusai keinginan Reva, termasuk Rendy juga.
"Haha! Aku kasihan melihat Andriana, lihat dia terlihat begitu frustasinya melihat begitu banyak tumpukan baju yang akan dia pakai nanti, haha!" ledek Erick.
"Ya mau gak mau, maklumi saja ini adalah pernikahan kedua dari keluarga Wijaya, tapi ini untuk pertama kalinya mereka mengadakan pesta pernikahan, waktu Reva menikah, boro-boro resepsi, selamatan nasi kuning juga kagak!" sahut William juga.
"Makanya gak heran jika kak Reva lebih antusias dibandingkan mereka berdua, tapi untungnya Andriana mengerti dan mau mengikuti ide gila calon kakak iparnya itu, hihi!" ujar Erick lagi.
"Ide gila lu juga! Lagi ngapain sih pake ada acara orkes segala, mana pake badut lagi. Udah gitu ngundang kang jualan gerobak lagi didepan panggung, lu kira pasar malem!" ujar William sewot.
"Biar semua kalangan bisa menikmati pesta pernikahan mereka juga, untuk badut buat kak Reva, katanya buat di utun! Biar baby nya bisa ngerasain juga kebahagiaan pernikahan pamannya itu, lagian itung-itung buat bantuin UMKM juga kan, membantu perekonomian rakyat, hahaha!" sahut Erick ngakak.
Rendy ingin semua orang merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang dia rasakan saat ini, dia mengikuti keinginan kakaknya itu bukan tanpa alasan. Selain kakaknya yang tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan resepsi pernikahannya dulu, dia juga ingin mengundang beberapa orang lain yang kurang beruntung seperti dirinya dulu.
Rencananya pesta rakyat nanti, dia dan keluarga juga akan membagikan beberapa sembako, amplop berisi uang dan juga beberapa pakaian untuk para tamu undangannya nantinya.
Tentu saja para tamu itu adalah anak-anak yatim, para kaum duafa, para masyarakat sekitar lainnya. Tentu saja niat baiknya itu disambut baik oleh semua anggota keluarga, dan dengan senang hati mereka akan membantu.
Setelah beberapa saat kemudian, acara fitting baju sudah selesai. Semua orang mulai membubarkan diri karena mereka memiliki kesibukan yang lainnya juga, tinggallah beberapa orang saja yang berada di sana.
Diatas balkon, ketiga bersaudara itu sedang duduk sambil menatap langit cerah dan tanaman-tanaman bunga di taman samping rumah, bunga-bunga itu mulai bermekaran lagi, nampak begitu indah sekali.
"Andriana dimana?" tanya Reva.
"Dia sedang mencoba sekali lagi beberapa baju yang sekiranya belum pas untuknya, maklumlah pernikahan kami akan dilaksanakan beberapa hari lagi, meskipun dia terlihat cuek, tapi sebenarnya dia sangat antusias sekali!" jawab Rendy sambil tersenyum senang.
"Tentu saja, bagi wanita pernikahan itu segalanya. Suatu momen tidak akan pernah terlupakan, jadi jangan sampai ada yang terlewatkan.. Jika ia ingin tampil sempurna dihari bahagianya itu, wajar saja. Karena dia akan menjadi pusat perhatian nantinya.." ucap Reva juga.
Mendengar itu, Rendy dan Ericka saling berpandangan lalu menatap kakak tertua mereka itu. Reva terkejut saat mendapatkan pelukan hangat dari kedua adiknya itu, dia faham dengan apa yang dilakukan oleh mereka.
"Hei, aku tak sedang membicarakan diriku! Aku hanya ingin menyampaikan pandanganku soal pernikahan bagi seorang wanita, itu saja! I'm oke, fine?!" ujar Reva lagi, menyakinkan Rendy dan Ericka.
__ADS_1
"Sure?!" tanya Rendy dan Ericka bersamaan.
Reva mengangguk sambil tersenyum, akhirnya mereka melepaskan pelukannya dan senang melihat raut wajah Reva yang terlihat bahagia itu.
Di sisi lain, William diam-diam sedang memperhatikan Geraldine yang begitu sibuk membantu beberapa pegawai milik desainer itu tadi, membereskan beberapa pakaian yang akan mereka pakai nanti.
"Udah, samperin aja!" ucap Erick tetiba saja sudah dibelakangnya.
"Astaga, bikin kaget aja!" sahut William sambil mengelus dadanya.
"Benar kata Erick, kalau kau beneran suka kepadanya temui dan katakan perasaanmu. Wanita itu paling tidak suka dengan lelaki plin-plan, apalagi wanita tipikal seperti Geraldine, dia lebih suka lelaki yang gentleman, gak neko-neko!" sahut Nico juga.
"Sejak kapan kalian berada di belakangku?!" tanya William tanpa perduli dengan segala ucapan Erick dan Nico barusan.
Mendengar pertanyaan William tak penting itu, keduanya hanya mendengus kesal lalu pergi meninggalkannya. Melihat dirinya dicuekin oleh adik dan sahabat sekaligus bosnya itu, William nampak begitu kesal lalu mengejar mereka.
"Hei!" katanya sambil menyusul keduanya.
"Percuma bicara dengan orang plin-plan dan kebanyakan mikir kayak kamu, pantesan begitu banyak wanita gak pada betah sama kamu, ternyata kamu susah diajak komitmen. Jadi gak heran jika Geraldine gak pernah menanggapi serius setiap kata dan perbuatanmu itu!" ucap Nico kesal menatap sahabatnya itu.
"Iya nih, udah dibantuin juga buat dapetin dia malah responnya kayak gitu, gak asik lu!" sahut Erick juga.
"Bukan begitu, masalahnya --" William ingin mengatakan situasi Geraldine saat ini.
"Masalahnya karena orientasi seksualnya bukan? Itu bisa diubah jika ada niatan dan kemauan, William! Asalkan dia dibantu dan didukung keinginannya itu, she is sick, Will! Saat ini satu-satunya orang yang dapat dia percaya buat sembuhin dia itu kamu, understand? huh?!" ucap Nico lagi.
"Maksudnya aku kudu... Gitu sama dia?" tanya William sambil memainkan kedua tangannya memberi kode gitu.
Plak!
Sontak kepalanya kena geplak sama Erick dan Nico, mereka benar-benar tidak faham jalan pikiran William, yah maklum saja. Mantan playboy yang sekarang ini mencoba tobat memang benar-benar harus sabar dalam menanggapinya, dan harus bisa memberikan penjelasan yang benar-benar bisa dia mengerti, dan pastinya harus sabar.
"Aku normal kok..." suara lembut ikut menyahuti pembicaraan mereka.
Tentu saja itu mengagetkan mereka semua, saat ketiganya menoleh kebelakang ternyata sudah ada Geraldine dibelakang, wajah William langsung memerah, begitu malunya dia sempat berpikir dan mengatakan sesuatu yang tak pantas didengar oleh Geraldine.
"Apa dia denger semuanya, yah? Mampus aku, alamat ditolak lagi nih!" gerutunya dalam hati sambil menahan malu.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1