Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Reva Dan Sikap Bijaknya


__ADS_3

"Ibuu!" teriak si kembar bersamaan, saat itu kondisi ibu mereka begitu lemah karena sakit memikirkan bisnis mereka hampir bangkrut.


Setelah mendengar percakapan Reva dan kedua putrinya itu, ada perasaan sesak di dadanya. Tubuhnya langsung ambruk ke tanah.


Untung saat itu Reva berada diposisi dekat dengannya, hingga sigap menangkap tubuh lemah itu.


"Ibu, Ibu kenapa?! Bangun Bu!" teriak mereka saat melihat ibu mereka pingsan di pangkuan Reva.


Mereka menangis dan mengguncangkan tubuh wanita tua itu, terdengar suara gaduh diluar pak Saifuddin keluar bersama kedua rekan Reva tadi.


Mereka penasaran apa yang terjadi, pak Saifuddin terkejut istrinya pingsan dipangkuan Reva dan ditangisi anak-anaknya.


"Ini ada apa, Nak? Ibumu kenapa?!" Tanyanya terlihat panik.


Reva dan kedua rekannya membawa tubuh istri pak Saifuddin masuk kedalam, tubuhnya direbahkan di atas sofa di ruang tamu itu.


Stella mengambil air minum dan minyak kayu putih untuk diolesi ketubuh ibunya.


Sedangkan Stellie sedang mengipasi tubuhnya agar tidak kegerahan, sungguh hal aneh padahal ruangan itu dingin karena ada Ac-nya.


Begitulah jika sedang panik dan dilanda rasa kekhawatiran berlebihan, hingga bisa saja melakukan hal-hal tidak masuk akal, sepertinya saat ini.


"Sayang, kamu kenapa? Bangunlah, jangan seperti ini?!" terlihat rasa kekhawatiran diwajah tuanya itu.


Sedangkan stellie masih menangis memandangi wajah ibunya itu, jika terjadi sesuatu terhadap ibunya maka dia akan menyesal seumur hidupnya.


"Minggir sebentar, biarkan aku mengolesi tubuhnya dengan minyak ini!" Ujar Stella.


Dia terlihat panik sekali, dia berusaha membuka tutup botol itu tapi kelihatan susah sekali, tangannya gemetaran karena panik dan pandangannya juga tidak fokus.


Reva mengambil alih dan merebut botol minyak itu, dengan cekatan dia membuka botol itu dan mengolesi tubuh istri pak Saifuddin dengan minyak itu.


Belum lama kemudian, beliau bangun dan menatap kedua putrinya itu. Beliau pun menangis, dia berusaha untuk bangun dari posisinya.


Tapi ditahan oleh suaminya, dia harus lebih banyak istirahat setelah apa yang terjadi tadi. Reva memandanginya dengan perasaan sedikit cemas.


"Biarkan aku bangun!" Jawabnya dengan tegas.


Pak Saifuddin sedikit terkejut melihat perubahan sikap istrinya itu, memang istrinya agak lebih tegas dalam mendidik anak-anaknya itu dibandingkan dirinya.


Hanya saja sikapnya agak aneh menurutnya hari ini, beberapa hari ini istrinya sakit karena stress memikirkan usaha mereka itu.


Setelah mendapat investor dengan dana yang sangat besar, seharusnya dia lebih baik lagi kondisinya. Tetapi malah pingsan dan menangis, apa yang terjadi sebenarnya?


"Bu, tenanglah dulu. Kamu kenapa? Apa yang menyebabkan kamu pingsan begitu?


Jika Ibu masih merasa lelah, ayo... kita kekamar dan beristirahat dulu." Bujuk pak Saifuddin.


Istrinya mengabaikan sikap pak Saifuddin lalu menghadap Reva dan kedua putrinya itu.


"Jujur saja, Ibu tidak tahu apa yang kalian bicarakan tadi. Dan Ibu juga hanya menangkap beberapa kata saja yang Ibu dengar.


Nak, Non Reva... katakan apa yang terjadi sebenarnya, aku akan mendengarkan dan bersikap bijak nantinya" ujarnya sambil menyandarkan kepalanya ke sofa, dalam keadaan duduk.


"Maksud Ibu apa? Stella, Stellie... Ibumu kenapa? Dan Non Reva, apa anda mengetahui sesuatu?" Tanyanya penuh selidik.


Reva serba salah jadinya, kenapa sekarang malah posisinya dia yang diintrogasi?


"Bapak, Ibu... Jangan salah faham dulu, ini bukanlah masalah serumit yang dipikirkan" Reva masih berusaha tenang.

__ADS_1


"Kami yang salah Pak, Bu... Jangan libatkan Nona Reva" ujar stella.


Kedua orang tuanya kebingungan, ada masalah apa ini? Sepertinya ini bukanlah masalah kecil, apa mungkin kedatangan Nona Reva berkaitan dengan putri mereka?


"Apa maksudmu? tolong ceritakan yang lengkap, terus terang Bapak dan Ibu tidak mengerti!" Sahut pak Saifuddin merasa kesal dengan putrinya itu.


Stella dan stellie menceritakan keseluruhan yang terjadi pada mereka. Mulai dari sekolah, pertemanan mereka dengan Julia dan Della, hingga berujung pembullyan itu.


Kedua orang tua mereka terhenyak mendengar cerita putri kembarnya itu, mereka tidak menyangka akan menerima fakta bahwa putri mereka tak semanis itu.


Ada bulir-bulir air mata yang menetes dikeduanya, kelopak mata yang mulai keriput itu, menatap nanar kedua putrinya itu


"Ini salah kami, yang tak bisa mendidik mereka. Kami sibuk dengan urusan pekerjaan dan bisnis, sampai melupakan tugas sebagai orang tua.


Jika putri kami melakukan kesalahan fatal, silakan beri sanksi pada mereka dan kami tidak akan ikut campur.


Hanya satu pinta kami, jangan sakiti mereka, jangan lukai mereka. Jika mereka salah, itu karena kami. Jika ingin membalas pukulan terhadap mereka, maka pukul lah kami.


Saya sebagai manusia terlalu jumawah, menyombongkan diri padahal bukan siapa-siapa. Mungkin ini hukuman yang diberikan Tuhan kepada saya.


Sekali lagi saya mohon maaf Nona" ujarnya tertunduk lesu, terlihat sekali gerakan tubuhnya menahan rasa malu akan tindakan putri kembarnya.


Disamping itu mereka menahan amarah kepada kedua putrinya itu, matanya merah menyalak.


"Kalian berdua, masuk ke kamar kalian masing-masing!" katanya sangat tegas kepada kedua putrinya itu.


"Ta-tapi Ayah..." keduanya terisak menangis, luka mereka semakin sakit saat melihat dan mendengar perkataan ayah mereka dihadapan Reva.


Bagi mereka, harga diri dan kehormatan keluarga dan ayahnya sudah runtuh dihadapan Reva dan orang banyak. Ini semua karena mereka, sesak di dada membuat keduanya tak bisa berkata-kata lagi.


"Diamlah! Seharusnya kalian malu dengan kalian sendiri, bertingkah seolah putri raja padahal kalian bukan siapa-siapa!


Apa kalian lupa ajaran yang aku dan Ibumu berikan, untuk bisa menghormati orang lain?!


Mereka menurut, tak ada lagi cara untuk membantah ayah mereka. Berlahan dengan langkah gontai mereka menuju ke kamar.


Mereka masih mencoba mendengar pembicaraan itu dibalik pintu kamarnya, berharap Reva tidak menghukum kedua orang tuanya.


Bagaimanapun juga itu salah mereka, mereka yang harus bertanggung jawab.


"Pak, saya tahu semua tindakan Bapak dan Ibu dalam mendidik anak sudah benar. Kadang saya iri dan cemburu kepada mereka memiliki orang tua hebat seperti kalian.


Tetapi anak juga titipan, begitu juga orang tua. Kita tidak bisa memilih dilahirkan dari keluarga mana, dan memilih anak yang seperti apa. Semuanya takdir Tuhan yang harus kita jalani.


Pak, saat saya masih kecil. Mendiang Ibu saya sangat baik sekali, dia sering memberi nasehat dan kata-kata yang menenangkan.


Dan itu sudah terjadi belasan tahun yang lalu, tetapi saya masih mengingatnya dengan jelas.


Tetapi itu hanya kenangan, saya sudah tak bisa bertemu dan memeluknya lagi. Saat ini, saya yang menjadi ibu bagi adik-adik saya.


Ironis bukan, saat kecil aku dituntut dewasa agar bisa menjaga mereka. Bukan harta Pak, bukan juga kekuasaan yang menjaga kami.


Tetapi rasa kasih sayang dan saling memiliki satu sama lain itu yang mendekatkan kami.


Memang, perselisihan itu ada terjadi tapi tidak menyurutkan kasih sayangku pada mereka.


Aku rasa kalian juga begitu, dan aku bukan siapa-siapa yang bisa memberikan kata-kata seperti itu kepada Bapak dan Ibu.


Saya hanya ingin mengatakan, berikan mereka kesempatan. Jika kalian memaafkan mereka, maka aku juga akan memaafkan mereka.

__ADS_1


Jika kalian merasa mereka pantas dihukum karena telah membuat kalian malu, maka aku juga akan merasa begitu.


Pak, Bu... melihat kalian saya merasa melihat ayah dan ibuku dulu, melihat mereka seperti melihat adik-adikku sendiri" ujar Reva berusaha tersenyum.


Air matanya pun jatuh di pipi lembutnya itu, entah kenapa hari ini rasanya beda sekali. Ah si*l, seharusnya aku tak kesini?! gerutunya.


"Non Reva, anda baik sekali. Aku yakin itu semua ajaran yang diberikan mendiang ibunya Nona.


Tetapi maaf Nona, sepertinya kami harus membatalkan perjanjian kontrak ini.


Kami tidak pantas dan layak menerima ini semuanya, kami malu jika harus menerima modal ini dari Nona.


Maafkan kami" ujar pak Saifuddin sambil menyerahkan map berisikan kontrak dan perjanjian modal saham investasi yang diberikan Reva untuknya.


"Kenapa bisa begitu, Pak? Ini tidak ada urusannya dengan masalah yang terjadi, saya memang berniat berinvestasi di perusahaan Bapak dan Ibu." Sahut Reva heran.


Dia bingung dengan mereka menolak investasi miliaran demi menjaga rasa malu mereka, bahkan orang-orang lain bisa melakukan apa saja, bahkan rela melakukan hal yang paling memalukan sekalipun itu harga diri mereka.


"Tidak apa Non, setidaknya ini kami bisa menjaga harga diri yang masih tersisa ini. Sekali lagi kami mohon maaf atas perlakuan putri kami terhadap adiknya Nona.


Dan terima kasih untuk semuanya, terima kasih" ujarnya sambil menyerahkan map merah dikedua tangannya.


Reva orangnya pintar dan tangguh, apapun yang dia putuskan itu harus terjadi. Dia memiliki beberapa usaha milik pribadinya dari hasil dia menjadi Model.


Berkat kedisiplinan dan kerja kerasnya, usaha kecil-kecilan miliknya menjadi maju dan berkembang pesat menjadi usaha yang sangat besar.


Dia juga ingin itu terjadi kepada perusahaan yang dia berikan modal sebagai investasi, dia harus mewujudkan apapun yang terjadi, apalagi setelah dia tahu mereka ini orang-orang baik.


"Baiklah kalau begitu, aku akan melakukan hal yang ingin kalian lakukan. Panggilkan kedua putri kalian kemari, aku akan memberi mereka sanksi jika itu bisa menebus rasa bersalah kalian" ujar Reva dengan tegas dan tatapan dingin.


Auranya kepimpinan terlihat di sana, dia sangat tegas dan tak ada yang bisa membantah perintahnya.


Kedua suami istri itu masih terlihat bingung dan heran, lalu istri pak Saifuddin memanggil keduanya.


Stella dan stellie menghadap Reva sambil berdiri dengan kepala menunduk. Terlihat mata mereka sembab, kelihatannya mereka banyak menangis didalam kamar tersebut.


Reva melihat mereka dengan sendu, mereka sebenarnya anak-anak baik hanya saja lingkungan dan pertemanan yang buruk membuat mereka seperti itu.


"Sepertinya kalian banyak merenung didalam kamar, apa kalian sudah menyadari kesalahan kalian? Sudah tahu apa yang akan kalian lakukan nanti?" ujar Reva menatap mereka dengan tajam.


Sementara itu, kedua orang tua mereka hanya diam melihat anak mereka. Mereka hanya berharap Reva tak menghukum berat kedua anaknya.


"Satu-satunya cara yang bisa memaafkan kalian adalah, bantu aku membujuk ayah dan ibu kalian agar mau menerima kembali dana investasi yang kuberikan tadi.


Jika berhasil akan ada hadiah besar untuk kalian" ujar Reva dengan senyuman lembut.


Semuanya terbelalak mendengar perkataan Reva, sama sekali tak terbayangkan oleh mereka akan mendapatkan pernyataan darinya seperti itu.


"Ta-tapi Nona-" Stellie berusaha menelaah ucapan Reva tadi.


"Panggil aku Kakak!" Sahut Reva memotong perkataannya.


Mereka dibuat terkejut dua kali oleh Reva, mereka menangis terharu sambil berpelukan. Terdengar beberapa kali permintaan maaf dari mereka dan tentu juga ucapan terima kasih dari mulut mereka tiada hentinya.


Reva meninggalkan mereka saling mencurahkan isi hati antar keluarga saja, dia pamit pulang setelah mendapatkan hasil dia inginkan.


Pak Saifuddin menerima kembali dana investasi itu dan membangun hubungan baik lagi antara kedua putrinya dengan Reva bersama keluarganya itu.


Sepanjang jalan, Reva tak hentinya tersenyum. Dia membayangkan jika keluarganya masih utuh, mendiang ibunya masih ada ... Ah, sudahlah.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2