
Keesokan harinya..
Semua orang kembali berkumpul di rumah sakit, keadaan tante Sonia jauh lebih baik dibandingkan kemarin. Tapi air matanya masih mengalir di pipinya, walaupun dia sudah berusaha untuk bisa menstabilkan tekanan emosinya, tapi rasa sakit itu terlalu besar.
"Ibu dan bapak boleh masuk kedalam sebagai perwakilan keluarga, kami ingin kalian bisa menyampaikan salam perpisahan kepada beliau untuk terakhir kalinya.." ucap seorang dokter yang datang menghampiri mereka semua.
Mendengar hal itu tante Sonia kembali terisak, dia tak bisa menahan sesak di dadanya saat kembali melihat ibunya didalam sana. Dengan sabar dan tabah om Seno membopong kakaknya yang nampak begitu lemah saat berjalan menuju ruang operasi itu.
Stacy menangis di pelukan Ericka, semuanya berkumpul termasuk William, Geraldine, Erick, dan om Richard juga Azka. Mereka datang untuk mensupport keluarga itu. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas, berharap semuanya cepat berlalu.
Om Seno dan tante Sonia dibantu oleh beberapa perawat untuk mensterilkan diri, setelah mencuci tangan dan memakai pakaian dikhususkan untuk menjaga tubuh mereka, keduanya masuk kedalam ruang operasi itu, mereka melakukan hal itu untuk tetap menjaga sterilisasi didalam ruang operasi tersebut.
"Bu, Pak.. Kemarilah," ucap seorang dokter memanggil keduanya.
Didalam ruangan itu begitu banyak alat-alat medis dan berbagai macam peralatan kedokteran lainnya, ruang operasi nampak begitu menakutkan bagi tante Sonia, ada beberapa dokter ahli didalam ruangan itu dan juga beberapa perawat yang akan membantu mereka nantinya di sana.
"Apa kalian siap?" tanya dokter itu tadi.
Tante Sonia dan om Seno hanya diam terpaku, mereka melihat kondisi ibu mereka diam saja berbaring diatas bangsal operasi itu, dengan bergetar tante Sonia menghampiri sang ibu, dia menggenggam erat tangan tua yang sudah banyak berkeriput itu.
"Bu, Sonia dan Seno disini.. Kami datang untuk menyampaikan salam perpisahan, semoga ibu lebih tenang dan bahagia setelah pergi dari sini, tidak usah banyak memikirkan kami, kami sudah besar dan cukup tua dan tentu bisa mengurus diri, tanpa bantuan ibu lagi..
Bu, meskipun sulit tapi kami akan berusaha untuk bisa hidup tanpa ibu lagi, kami akan berusaha merubah segalanya menjadi lebih baik lagi, maafkan semua kesalahan kami yang pernah kami lakukan dulu, anak-anak yang dulu pernah ibu zolimi juga datang, mereka menunggu diluar..
Mereka telah memaafkan ibu dan mencoba mengikhlaskan semuanya, sekarang kami telah berhubungan baik dengan semua orang. Doakan semoga kami berdua bisa menyelesaikan amanat yang pernah tertunda dulu, keinginan ayah dan ibu akan kami lanjutkan, semoga ini akan menjadi amal jariyah kalian berdua di akhirat sana, maafkan kami bu, dan kamipun juga sudah memaafkan ibu, tetaplah tenang dan bahagia di sana..." ucap tante Sonia dengan suara pelan dan bergetar.
Siapapun didalam ruangan itu bergetar hatinya mendengar suara hati seorang anak kepada ibunya, sekecil ataupun sebesar apapun kesalahan mereka, tetaplah mereka adalah orang tua juga anak-anaknya, kasih sayang itu tak ternilai harganya, tidak harta ataupun uang yang bisa membelinya..
Setelah itu, tante Sonia mundur dan membalikkan badannya dan memeluk om Seno, dia tak kuasa menahan pilu dihatinya, om Seno hanya diam, dia seorang lelaki, pantang terlihat lemah dihadapan semua orang, meskipun dia nampak tegar, percayalah hatinya sangat rapuh.
"Dengan seizin dan keikhlasan hati ibu dan bapak, izinkan kami semua menyampaikan bela sungkawa ini kepada mendiang juga kepada keluarga ibu dan bapak.." ucap seorang dokter mewakili mereka semua yang ada didalam ruangan itu.
Setelah itu, seorang dokter yang memimpin jalannya proses operasi itu mengumumkan hari, tanggal dan bulan juga tahun kematian oma sesuai pada hari ini.
__ADS_1
Tante Sonia dan om Seno keluar dari ruangan itu dengan lesu dan lunglai, om Seno yang sedari tadi hanya diam kini tanpa malu menunjukkan sisi lemahnya, dia menangis didalam pelukan sang kakak.
Sebelum keluar dari ruangan itu, mereka melihat para dokter mulai melepas semua alat medis bantuan pernafasan mendiang sang ibu, dengan begitu selesai sudah perjuangan sang ibu untuk tetap bertahan di dunia ini.
"Om, tante..." Reva tak tahan juga, dia menangis di pelukan suaminya.
Melihat itu Nico langsung mengajaknya keluar sebentar, dia tak ingin Reva kembali stres. Sementara itu Stacy, sang cucu kesayangan, satu-satunya cucu perempuannya oma Mariani pingsan disisi Ericka dan Andriana.
Keduanya meminta beberapa perawat untuk menyediakan ruangan untuk keluarga itu beristirahat, lelah hati dan perasaan menguras tenaga mereka, apalagi Stacy, meskipun dia terlihat kuat, dia juga memikul beban yang cukup berat dipundaknya.
Ericka, Andriana juga Geraldine diminta untuk menemani mereka, dan membantu keperluan mereka jika membutuhkan sesuatu. Sedangkan para lelaki masih setia menunggu diluar ruang operasi itu, dan bersiap melakukan banyak hal untuk kepulangan jenazah dan memakamkannya pada hari itu juga, sedangkan beberapa orang pelayan dan pihak keluarga lain juga sudah bersiap di sebuah bungalow milik keluarga untuk menyambut kepulangan jenazah oma Mariani.
.
.
Di sebuah bangunan tua, puluhan dan mungkin ratusan para napi ditahan di lapas itu dengan berbagai macam kasus kejahatan, diantara mereka ada tiga orang lelaki yang dimana mereka nampak kuat dan berkuasa, tapi di sana mereka tak lebih dari seorang budak dan samsak hidup bagi para napi buas dan kejam lainnya.
"Aku rindu rumah, rindu mama, oma..." ucap Zacky, badannya babak belur dihari kedua dia ditahan di sana.
"Papa dan tante Sonia tidak akan memaafkan kita, Om.. Kita akan berada disini selamanya, apalagi kita juga terhubung dengan opa Harja juga soal penyerangan oma, meskipun kita tak tahu apa-apa soal penyerangan itu..." ujar Arlon meratapi nasibnya itu.
Om Adjid yang sedari tadi hanya diam saja tampak menyesali perbuatannya itu, meskipun terlambat dia ingin sekali bertemu dengan tante Sonia dan mendiang almarhumah oma, meminta maaf dan ingin mengakhiri semuanya dengan tenang.
"Aku menyesal, seandainya dulu aku tak gelap hati dan tidak serakah mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi..." gumam om Adjid lesu.
Keadaan tak jauh berbeda di lapas wanita itu juga, otoritas senior dan junior sangat terasa, perbudakan dan perundungan sering terjadi dan menjadi kegiatan sehari-hari mereka. Tante Sarah yang selama ini berlagak nyonya besar kini tak ubah seorang kacung bagi para napi wanita yang ada di sana.
Apalagi di sana dia bertemu dengan mantan rekanannya juga, orang yang selama ini menjadi bawahannya kini malah dia menjadi bawahannya, siapa lagi kalau bukan bu Weni dan para pesuruhnya.
"Halo, Nyonya besar! Apa kau sudah mencuci bajuku?! Jangan lupa, bersihkan juga peralatan 'medis' kita yah, haha!" ujar bu Weni memerintahnya dengan kasar.
Mendengar perintah bu Weni, seketika tante Sarah lemas, dia tau baju-baju yang akan dia cuci nanti tidaklah sedikit, akan begitu banyak cucian yang dia kerjakan, entah pakaian siapa saja yang berada di sana, membuat dirinya mendadak mual adalah ketika mendengar perkataan peralatan 'medis' yang dimaksudkannya itu adalah, alat-alat untuk mereka menyiksa para napi yang terlihat lemah dan tak berguna dimata mereka, salah satunya adalah tante Sarah sendiri.
__ADS_1
Dia seketika mual melihat ada beberapa bekas bercak darah yang menempel di beberapa alat atau kain yang dipakai untuk menyiksa mereka, para sipir tahu tapi mereka tak mau tahu dan tak peduli dengan apa yang terjadi didalam tahanan tersebut.
Membuat tante Sarah berulang kali ingin mati saja karena mustahil baginya untuk pergi ataupun kabur dari sana, takkan ada lagi yang bisa menolongnya, dia merindukan disaat bersama keluarganya, dia merutuki nasibnya yang salah langkah selama ini.
.
.
.
Di rumah sakit.
Operasi pengangkatan beberapa organ tubuh mendiang oma Mariani berlangsung cukup lama, karena ada beberapa organ tubuh yang lainnya harus diangkat. Jadwal pemakaman akan dilaksanakan pada sore hari kemungkinan akan diundur, sepertinya akan dilakukan keesokan harinya.
Saat ini, Wijaya tiga bersaudara itu sedang duduk istirahat di sebuah taman rumah sakit, setelah menunaikan ibadah sholat Azhar mereka menyempatkan diri untuk menenangkan diri sejenak di tempat itu.
"Bagaimana keadaan om Seno, tante Sonia dan Stacy?" tanya Rendy kepada Ericka.
"Masih sama, hanya saja mereka nampak lebih tenang daripada sebelumnya. Biarkan saja, nanti ada masanya mereka bisa mengendalikan dirinya sendiri, menenangkan diri, dan butuh waktu untuk mereka menerima semua itu.." jawab Ericka.
"Dan operasinya bagaimana?" tanya balik Ericka.
"Masih berlangsung, tapi katanya tidak akan lama lagi selesai. Sepertinya pemakaman tidak bisa dilakukan sore ini, kemungkinan besok pagi baru bisa, kecuali jika kita nekat mau makamin pada malam hari pasti bisa..
Masalah siapa yang mau makamin orang pada malam hari? Semuanya pada gak mau, mereka pasti ingin istirahat dan juga berbagai alasan lainnya, jadi yaahh.. Besok pagi," jawab Rendy.
Setelah itu keduanya kompak menoleh kearah Reva yang sedari tadi diam saja, sadar sedang diperhatikan oleh adik-adiknya Reva langsung tertawa, dia tau apa yang ada didalam pikiran mereka berdua.
"Aku sehat dan baik-baik saja, plis lah.. Jangan jadi seperti Nico kalian, terlalu overprotektif tau gak! Aku gak akan merasa stress sendiri atau sampai capek, aku akan mengawasi saja, oke?!" ujar Reva menyakinkan kedua adiknya itu.
Dalam hatinya dia begitu bahagia memiliki suami dan adik-adik yang begitu memperhatikan dirinya, tidak ingin dia terluka ataupun merasa sedih, kini masa-masa sulit telah mereka lalui bersama, kini kebahagiaan sedang menanti..
...----------------...
__ADS_1
Bersambung