
Disaat pak Dewantoro mau menemui Elena di ruang UGD, dia melihat ada beberapa orang yang berlarian menjauhi ruangan itu. Betapa terkejutnya dia melihat ada seorang perawat yang terluka sambil memapah dokter yang terkena luka tusukan.
"Ada apa ini?! Kenapa semuanya jadi kacau begini?!" gumamnya heran bercampur panik.
Saat dia mau mendekati ruang UGD itu dia ditahan oleh security, dia tidak diizinkan untuk mendekati ruangan itu karena menurut mereka ada pasien yang mengamuk.
"Sebaiknya Bapak pergi menjauh dari sini sebelum polisi datang untuk menenangkan pasien, kami dari pihak keamanan tidak bisa mengatasinya karena dia memegang senjata tajam.
Bapak liat kan tadi ada dokter dan perawat yang terluka karena terlalu dekat dengannya, untuk menghindari korban lagi sebaiknya Bapak pergi dari sini" ujar security itu.
"Tapi saya mau lihat, Pak! Saya mau memastikan jika itu bukan istri saya.." ujar pak Dewantoro memelas.
"Maksud Bapak?" tanya security itu heran tak mengerti.
"Saya ketiduran saat menemani istri saya, saat saya bangun dia sudah tak ada. Tidak ada yang melihatnya keluar dari rumah sakit ini, aku takut dia mengamuk disini.." pak Dewantoro terpaksa menceritakan semuanya.
"Mengamuk? Maksud Bapak istri anda mengalami gangguan mental?!" tanya security itu lagi.
"Katakanlah seperti itu..." sahut pak Dewantoro pelan.
Dia terpaksa berkata seperti itu, entah mengapa ucapan Ericka pagi tadi terus teringat olehnya. Jangan-jangan apa yang dikatakan oleh anak itu benar? Pak Dewantoro hampir frustasi dibuatnya, orang-orang terdekatnya satu persatu pergi begitu saja.
"Tolong Bapak ceritakan ciri-ciri fisik istri Bapak seperti apa? Agar kami bisa mencocokkan dengan pasien yang ada didalam.." ucap security itu serius.
"Usianya sekitar 50an tahun, tapi fisiknya lebih muda dari usianya, karena dia pandai merawat diri jadi masih awet muda dan cantik.." ucap pak Dewantoro membayangkan wajah istrinya sambil tersenyum.
"Ehem!" security itu membuyarkan lamunannya, terlihat muka security itu nampak serius dan tidak mau mendengarkan omong kosong tentang istrinya itu.
'O ya, maaf! Saya lanjut lagi, rambutnya digelung keatas dan ada ubannya sedikit didepan rambutnya. Dan ada tahi lalat dibawah dagunya" ucap pak Dewantoro masenjelaskan ciri fisik istrinya itu.
"Baiklah, Pak. Tunggu sebentar" kata security itu sambil meninggalkan pak Dewantoro dan dia menghampiri temannya yang berjaga didepan pintu.
Setelah cukup lama berdiskusi dengan temannya, security itu membuka sedikit pintu untuk melihat orang yang ada didalamnya, dan..
Prang!
Nyaris saja kepala security itu bocor kena timpuk mangkok stainless untuk sterilisasi alat medis yang ada di sana.
"Pergi!" terdengar suara teriakan dari dalam.
Deg!
Jantung pak Dewantoro berdegup kencang, dia begitu mengenali suara istrinya itu. Tanpa aba-aba lagi dia bergegas menuju ruangan itu tapi buru-buru dicegah oleh security itu tadi.
"Mau kemana, Pak?! Jangan, itu terlalu berbahaya! Bapak gak liat saya tadi kena timpuk olehnya, untung gak kena aja tadi" ucap security itu gusar.
"Tapi itu istri saya! Saya mengenali suaranya!" teriak pak Dewantoro berontak ingin melepaskan diri.
"Iya, saya tahu! Tadi saya sudah memastikan kalau itu memang istri Bapak, tapi tidak bisa ditemui sekarang, Pak! Istri anda sekarang lagi diluar kendali, emosinya tak bisa ditahan!" ucap security itu.
Sebelumnya.
Saat Elena dibawa oleh beberapa perawat dan dokter ke ruang UGD, dia sudah merencanakan untuk melarikan diri dari sana. Bahkan di kepalanya saat itu sudah merencanakan banyak hal, mulai dari membalas semua perbuatan Ericka kepadanya, menemukan Pramudya dan juga pergi dari sana untuk mencari Pricilia yang hilang tanpa kabar itu.
"Lukanya cukup dalam, dia kehilangannya banyak darah. Sebaiknya kita membawanya ke ruang inap lagi, dan memberikan perawatan lebih intensif dan mulai mencari pendonor darah yang cocok untuknya" terdengar suara dokter yang sedang berdiskusi dengan beberapa perawat yang ada di sana.
__ADS_1
"Tidak, aku tak boleh mati begitu saja sebelum membalaskan sakit hatiku ini!" gumamnya dalam hati.
Dalam keadaaan setengah sadar dibawah obat bius, dia berusaha bangun tapi badannya terlalu lemah untuk digerakkan, luka yang dalam membuatnya kehilangan banyak darah membuatnya lemas.
"Tidak, aku tak boleh kembali lagi kesana, aku tak ingin bertemu lagi dengan lelaki pengecut itu! Biarlah aku tak memiliki rumah itu agar terbebas dari mereka semua!" ucapnya dalam hati.
Entah kekuatan darimana membuatnya mampu bangun dan berdiri, dia melihat ada pisau dan gunting medis bekas menjahit luka tusuknya tadi, dan mulai menyambet ke segala arah.
Dokter dan perawat yang berdiri tidak terlalu jauh dari mereka kena sabetan pusau ditangan Elena, semua yang ada di sana berteriak dan berlari menjauhinya. Untungnya mereka berhasil mengurung Elena didalam sana.
Brak!
Brak!
Brak!
"Buka! Buka pintunya, biarkan aku pergi!" teriak Elena seperti kesetanan.
"Dia sangat kuat, padahal efek obat biusnya belum hilang" ucap perawat yang ada di sana.
"Jangan-jangan kesurupan lagi! Hiii!" sahut temannya lagi.
"Ngaco kamu! Mana ada yang kayak begitu, dia begitu karena terkena gejala panik sehingga membuatnya berbuat diluar batas kayak gitu" sahut temennya lagi.
Mendengar hal itu bukannya takut pak Dewantoro malah makin khawatir kepada istrinya itu, dia nekat menerobos masuk kedalam ruangan itu.
Pak Dewantoro masuk dan mengunci ruangan itu dari dalam, sehingga orang yang ada didalam tak bisa membukanya. Sedangkan pintu kaca ruang UGD itu terbuat dari kaca yang sangat tebal, sehingga susah dihancurkan ataupun membobolnya.
Semua orang hanya bisa melihat dari balik dinding kaca diluar sana, mereka melihat pak Dewantoro pelan-pelan mendekati istrinya itu. Dan entah tau darimana, segerombolan wartawan tiba-tiba datang menyoroti mereka.
"Bu, sayang... Tenanglah, ada aku disini. Letakkan pisau dan gunting itu.." ucap pak Dewantoro pelan.
"Pergi kamu! Aku tak membutuhkanmu lagi, aku hanya ingin pergi dari sini bersama anak-anakku!" teriak Elena.
"Baik, kita akan pergi dari sini. Tenanglah, turunkan senjata itu, bahaya! Itu bisa melukai orang bahkan dirimu sendiri," ucap pak Dewantoro khawatir.
Karena masih dibawa pengaruh obat bius, Elena tak sadar apa yang dia lakukan dan apa yang dia katakan. Karena sebelumnya, dokter dan perawat sempat menahan tubuhnya yang memberontaknya dan membiusnya lagi agar dia lebih tenang, dan gawatnya dokter salah memberi obat bius, dan parahnya kelebihan dosis.
Mereka tak menyadari kesalahan itu, karena mereka panik dan takut dengan pasien yang tiba-tiba mengamuk itu, apalagi dokternya tadi dalam keadaan terluka juga.
Tapi dari semua kesalahan itu, ada sebuah fakta yang mengejutkan pak Dewantoro, dia mengetahui langsung dari mulut Elena yang dibawa pengaruh obat bius itu.
"Hahaha, aku senang sekali bisa mengendalikan dirimu itu seperti boneka mainanku saja! Aku tak mencintaimu bodoh, aku hanya ingin hartamu saja, itu kenapa aku tak ingin memiliki anak darimu!" teriak Elena sambil mengacungkan pisau tajam kearah pak Dewantoro.
"Apa maksudmu?! Aku tak mengerti.." ujar pak Dewantoro bingung dengan ucapannya tadi.
"Dasar bodoh, kau termakan fitnah dariku. Haha! Istrimu itu mengandung anak kandungmu, tapi bagaimana bisa kau percaya omonganku kalau dia mengandung anak orang lain, hahaha!
Dan bodohnya lagi kau mengabaikan anak-anakmu demi diriku dan anak-anakku, haha! Kau itu terlalu mudah aku bodohi" ucap Elena dengan tertawa terbahak-bahak.
Pak Dewantoro tak menyangka dia mendengar langsung ucapan itu dari istri yang sangat dia cintai, dan bagaimana mungkin dia sebodoh itu bisa mempercayai dirinya begitu saja?
"Kau bohong kan? Bagaimana bisa kau berkata seperti itu?! Hei, sadarlah! Aku ini suamimu!" ucap pak Dewantoro makin mendekati Elena.
"Berhenti disana, jika tak ingin aku bunuh seperti istrimu yang bodoh itu!" ucap Elena lagi.
__ADS_1
Seketika pak Dewantoro terdiam, dia tidak sadar meneteskan air matanya. Bayangan-bayangan masa lalu kembali terlintas dibenaknya, Istrinya Larasati yang begitu cantik fisik dan hatinya harus mati karena pengkhianatan dirinya.
Tidak lama kemudian polisi pun datang, mereka membawa beberapa peralatan untuk membuka pintu yang sangat kuat itu. Pihak rumah sakit sengaja memasang pintu dengan keamanan yang sangat kuat untuk menghindari pasien ataupun keluarga pasien yang mengamuk itu.
Dan bahayanya lagi, pasien yang mengamuk terkurung bersama keluarganya dan sang pasien itu dalam pengaruh obat bius dosis tinggi, yang bicaranya ngelantur dan bisa bertingkah membahayakan orang lain.
Tapi untuk kasus Elena, meskipun dia berbicara ngelantur tapi semuanya benar, itu adalah kata-kata isi hatinya selama ini, semua rahasia yang dia simpan selama ini terbongkar sudah.
"Kenapa kau tega, Elena?!" tanya pak Dewantoro tak percaya.
"Seharusnya kau katakan itu kepada dirimu sendiri, kenapa kau tega mengkhianati istrimu dan meninggalkan anak-anakmu?! Bukan salahku atas semua ini, tapi salahmu mau menerimaku, haha!
Katakan, apa aku pernah memaksamu untuk melakukan semua ini?! Tidak bukan?! Jadi jangan mencoba menyalahkan aku atas semua ini, karena ini semuanya atas kebodohanmu sendiri!" ucap Elena menohok.
Bagaikan dihujam seribu anak panah, hatinya sangat perih sekali mendengar hal itu. Sebuah fakta yang dia ketahui sebenarnya, tapi dia berusaha menutup mata dan hatinya tidak mengakuinya.
Tidak lama kemudian polisi berhasil membuka pintu itu, para polisi yang ahli dalam menangani orang seperti Elena masuk dan bersiap untuk menangkapnya. Karena panik dan ketakutan, Elena langsung menarik pak Dewantoro dan tak sengaja melukai lengan tangan suaminya itu.
"Akh!" pak Dewantoro menjerit kesakitan.
Melihat itu para polisi itu sedang bersiap siaga, karena pelaku mulai menyandera korban apalagi sudah banyak orang yang terluka olehnya, jadi mereka harus berhati-hati.
"Bu Elena, dengarkan kami. Letakkan pisau itu, dan lepaskan suami Ibu segera!" ucap komandan polisi yang ada di sana.
"Tidak! Jika aku harus mati, diapun harus mati!" teriak Elena marah.
"Tidak ada yang mati hari ini! Lepaskan sebelum kami melakukan sesuatu" ucap komandan kepolisian itu geram.
"Baiklah, tapi kalian harus berjanji membiarkan aku pergi!" teriaknya.
"Baiklah!" ucap komandan itu bersiasat.
Sedangkan para wartawan diluar mulai heboh memberitakan kejadian itu langsung, bahkan breaking news ada dimana-mana diseluruh stasiun televisi nasional, dan tentu saja itu bisa dilihat oleh semua termasuk para klien, teman, rekan kerja, keluarga dan anak-anaknya.
Melihat itu, Rendy langsung bergegas kembali ke rumah sakit. Meskipun dia begitu membenci ayahnya, dia tetaplah ayah baginya.
"Tidak, aku takkan mengizinkan!" teriak Reva menghalangi keinginan Rendy.
"Kak, percayalah! Aku gak akan kenapa-kenapa, lagian di sana sudah ada polisi dan banyak orang juga. Aku hanya mau melihat ayah.." ucap Rendy.
"Buat apa?! Hem, buat apa?! Apa dengan melihatmu dia akan percaya dan berubah?! Tidak Rendy!" ucap Reva marah.
"Kali ini kakak harus percaya padaku!" ucap Rendy dan langsung pergi meninggalkannya.
"Rendy!" teriak Reva marah.
"Halo, Kak. Bisa datang ke apartemen? Temui kak Reva dan temani dia, jangan biarkan dirinya pergi. Aku akan pergi ke rumah sakit, ingin melihat langsung keadaan ayah.." ucap Rendy ditelpon.
Setelah itu dia pergi meluncur ke rumah sakit menemui ayahnya yang bertarung nyawa di tangan Elena, jangan-jangan malah Elena akan membawanya ikut pergi juga? Atau ada rencana lainnya?
...----------------...
Bersambung
Mohon dukungannya yah.. 🥰🙏
__ADS_1