Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Sebuah Fakta Yang Mengejutkan


__ADS_3

Reva terbangun dari tidurnya, dia tidak menemukan Nico disampingnya. Dia bangun dari kasur itu dan berjalan keluar kamar, ketika dia hendak turun tangga dia mendengar suara percakapan orang dibawahnya.


"Aku pikir ini adalah waktunya, aku akan menyerahkan semua aset milik ibunya ini. Sudah waktunya Reva dan adik-adiknya menerima fakta bahwa mendiang ibunya bukan seperti orang lain katakan.


Meskipun mendiang ibu Larasati meninggalkan warisan kepada mereka, tapi itu semua beliau dapatkan dari pemberian suaminya, yaitu pak Dewantoro. Sedangkan semua ini milik ibunya sendiri, karena mendiang adalah ahli waris dari keturunan ningrat dua pengusaha tersukses dan terkaya di negeri ini.


Paman, bantu aku untuk menjelaskan ini semua kepada Reva dan adik-adiknya, aku takut mereka nanti salah faham dan berpikir yang bukan-bukan tentangku.." terdengar suara Nico berbicara dengan seseorang di ruang tamu.


Dengan perasaan campur aduk Reva menuruni anak tangga hati-hati, dia mendekati ruang tamu itu dan melihat Nico bersama beberapa orang yang ada di sana. Diantaranya adalah kepala pelayan, ketua pengawal kepercayaannya, ada pengacara dan notarisnya juga.


Dan beberapa orang yang tak dikenalnya, mereka berpakaian rapi lengkap dengan jas dan dasinya, dari penampilannya mereka seperti orang-orang kelas atas.


"Siapa mereka? Apa yang dibicarakan Nico itu? Ibu? Ahli waris? Warisan, warisan apa?" gumamnya bingung.


"Kami akan mencoba membantumu untuk menjelaskan ini semua kepada Reva, mungkin akan sulit dan butuh waktu, tapi kita tidak bisa mendesaknya untuk terus menerima kenyataan ini.


Mungkin ini akan sedikit menyakitkan baginya, sebuah rahasia besar kamu simpan rapat-rapat darinya dan adiknya," ucap lelaki paruh baya yang dipanggil paman oleh Nico tadi.


"Rahasia apa yang kau simpan, Mas?" tiba-tiba terdengar suara Reva dari belakang mereka.


Tentu saja itu mengagetkan mereka semua yang ada di sana, orang yang mereka bicarakan tiba-tiba ada dibelakang. Nico tak bisa berkata apa lagi, dia begitu kaget melihat Reva dengan pertanyaan seperti itu.


"Sepertinya dia sudah mendengar semuanya, sebaiknya aku ceritakan saja apa yang terjadi selama ini dengan mendiang ibunya" gumam Nico dalam hatinya.


"Reva, sayang... Kemarilah, ada yang ingin aku katakan padamu. Tenanglah, semuanya baik-baik saja.." ucap Nico mencoba membuat Reva tenang.


Reva yang sudah tak sabar mendengar jawaban dari Nico, tentu saja mengabaikan permintaan suaminya itu, dia hanya diam sambil menatap Nico dengan raut wajah serius dan dingin.


"Reva, sepertinya kamu sudah mendengar semuanya. Tidak ada yang salah, semuanya benar. Tapi aku mohon dengarkan dulu penjelasanku, ada sesuatu juga harus aku katakan padamu, tentang mendiang ibumu juga.." sambung Nico lagi.


"Aku tak mau mendengar apapun lagi, Mas. Aku hanya butuh kamu menjawab pertanyaanku tadi!" ucap Reva kesal.


"Reva, aku harap kamu sedikit untuk mengerti.. Aku melakukan itu semua-" ucapannya langsung dipotong oleh Reva.


"Sudahlah, Nic. Aku tak mau mendengar penjelasan apapun darimu lagi, yang aku tau kau sudah menyimpan sebuah rahasia besar selama ini! Dan kau tak memberitahuku sampai sekarang!


Jika aku tak bangun tadi, jika aku tak turun tadi maka aku takkan pernah tau tentang rahasia yang kamu simpan selama ini. Benarkah kamu menikahiku karena cinta? Atau karena harta warisan itu?!" bentak Reva.


"Reva! Jaga bicaramu, dengarkan aku dulu! Jangan berspekulasi sendiri!" ucap Nico mulai tak sabaran.


Mendengar Nico berbicara sedikit membentaknya, membuat Reva terkejut dan menangis berlari naik keatas menuju kamarnya.


"Reva!" teriak Nico hendak mengejarnya.


"Biarkan dirinya sendirian, Nak Nico.. Dia butuh waktu sendiri saat ini, yang penting jangan biarkan dirinya larut dalam kesedihan, dan jangan biarkan dia sendiri terus" kata paman itu sambil mencegah Nico yang hendak mengejar Reva.


"Tapi paman, dia kalau marah bisa begitu lama..." ucap Nico lirih.


"Yang sabar yah.." ucap orang itu.


Setelah itu mereka mulai membahas permasalahan warisan itu, dan mulai merencanakan penyerahan warisan dan semua aset atas kepemilikan ibunya itu.

__ADS_1


Meskipun dirinya tidak terlalu fokus dan masih memikirkan Reva, tapi Nico tetep berusaha agar dia tak melakukan kesalahan lagi.


Sedangkan di kamar, Reva menangis sesenggukan. Dia merasa dikhianati, dibohongi oleh orang yang sangat dia percaya. Reva yang begitu sulit untuk mempercayai orang, kini hatinya tercederai oleh Nico.


Tiba-tiba pikiran-pikiran buruk terlintas di kepalanya, dia sempat berpikir jika Nico tak tulus mencintainya, dia merasa hanya dimanfaatkan oleh Nico. Setelah puas menangis, dia bisa menenangkan sedikit perasaannya.


"Halo, Rendy. Bisa jemput kakak sekarang? Bantu juga kakak bawa barang-barang kakak disini, gak banyak kok paling dua atau tiga koper saja. Cepatlah, nanti aku jelaskan!" ucapnya ditelpon.


Dia kesal dengan Rendy yang begitu lamban menurutnya, tapi daripada itu Rendy lah yang merasa kesal oleh kakaknya itu, lagi makan malam romantis dengan Andriana malah dipaksa jemput kakaknya yang lagi marah-marah itu.


"Ada apa dengan kak Reva, Ren?" tanya Andriana.


"Gak tau! Mungkin berantem lagi sama kak Nico, biasanya dia yang suka ngambekan gitu! Biasalah cewe lagi hamil, sama kayak PMS, sensian mulu bawaannya!" ujar Rendy.


Mereka pergi dari restoran itu menuju rumah kakaknya, dalam hati pikiran Rendy pun juga penasaran ada apa dengan kakaknya itu? Karena biasanya Reva jika pergi tak pernah membawa barang-barangnya.


Jikapun itu tidur di apartemennya juga gak bawa barangnya, karena masih ada beberapa pakaian yang tertinggal di sana. Perasaannya sedikit cemas, sehingga tidak fokus dan membawa mobil sedikit ngebut.


"Rendy, hati-hati! Kamu ingin cepat-cepat mati yah?!" ujar Andriana kesal.


Andriana khawatir melihat Rendy seperti itu, pasti ada apa-apanya diantara dua kakak adik ini? pikir Andriana.


Tidak lama kemudian, Rendy dan Andriana sudah sampai di rumah itu. Mereka heran, sudah sangat malam tapi mereka masih menerima tamu, terlihat ada beberapa mobil yang tak dikenal oleh Rendy parkir di halaman rumah itu.


"Permisi..." ucapnya setelah masuk kedalam rumah itu.


Rendy dan Andriana melihat ada beberapa orang sedang duduk bersama Nico, mereka semuanya nampak begitu serius. Rendy melihat ada orang yang dia tahu, dia adalah pengacara Nico dari pihak ahli waris ibunya, soal itu dia tak tahu.


"Jangan-jangan ini semua ada hubungannya dengan kemarahan kak Reva, sehingga dia ingin pergi dari sini" gumamnya khawatir.


"Kebetulan sekali kamu datang Rendy, kemarilah ada yang ingin aku katakan padamu.." ucap Nico kepada Rendy yang masih kebingungan itu.


"Ren.." panggil Andriana bingung.


"Andriana, bisa minta tolong sebentar? Temui Reva dan tenangkan dia, jangan sampai membuatnya menangis terus menerus" pinta Nico dengan wajah serius.


Andriana menatap Rendy meminta persetujuan, Rendy mengangguk tanda setuju. Dia naik ke atas menemui Reva yang masih merasa sedih dan sakit hati.


Sedangkan Rendy berjalan menuju orang-orang itu dan duduk di samping Nico dengan bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya.


"Rendy, perkenalkan ini pak Jatmiko dan timnya. Mereka ini adalah utusan dari keluarga Pohan dan keluarga Sastrawinata, mereka datang ingin menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan dengan Reva, kau dan Ericka.." ucap Nico mencoba menjelaskan semuanya.


"Ada apa dengan kami? Keluarga Pohan? Seperti nama belakang ibuku, tapi ibu kan lahir dan dibesarkan di panti asuhan?" gumamnya dalam hati.


"Rendy, ada rahasia besar yang belum terkuak tentang asal usul ibumu.. Beliau sebenarnya adalah salah satu keturunan dan Ahli waris dari keluarga Pohan dan Sastrawinata, pernikahan nenek kakekmu tak disetujui karena perseteruan dua keluarga.


Yah macam Romie and Juliet gitu.. Hubungan mereka juga hampir mirip, kematian nenekmu karena melahirkan ibumu itu, membuat keluarganya menaruh ibumu ke panti asuhan, sedangkan kakekmu yang tak tahu jika ibumu masih hidup dan mengira mendiang sudah meninggal juga bersama nenekmu.


Keluarga Pohan, adalah keluarga ibumu.. Mereka menyesal telah membuang ibumu ke panti asuhan, sedangkan keluarga Sastrawinata keluarga kakekmu juga baru mengetahui bahwa ibumu masih hidup ketika kakekmu sedang sakit keras.


Kakekmu sempat menulis surat wasiat dan ingin memberikan sebagian hartanya kepada ibumu, tapi sebelum itu terjadi baik kakek maupun ibumu sudah meninggal. Jadi kami ingin memberikannya kepada kalian sebagai ahli waris berikutnya" ucap pak Jatmiko memberikan keterangan.

__ADS_1


"Tapi apa hubungannya dengan kak Nico?" tanyanya masih bingung.


"Mendiang kakek Nico ini adalah orang kepercayaan kakekmu, mendiang diberi kepercayaan untuk menyimpan semua amanah ini sampai ibumu ketemu, tapi sampai tutup usia beliau belum menemukan ibumu, dan diteruskan sampai ke ayah Nico dan juga Nico selanjutnya.


Percayalah, mereka ini orang-orang baik dan dapat dipercaya. Nak, aku tau kamu orangnya cerdas dan baik.. Kamu pasti bisa menilai orang dengan baik, apakah menurutmu dia bisa mengkhianati kalian? Tidak kan..


Sekarang ini dia berusaha mengembalikan milik kalian, dan melepaskan beban tanggung jawab yang besar ini. Bukan hal yang mudah menyimpan rahasia ini, Nak. Banyak rintangannya, dia harus bersembunyi dari keluarga Sastrawinata karena ada sebagian orang yang tidak setuju dengan hal itu.


Jadi, mengertilah.. Bantu dia, yakinkan kakakmu itu agar percaya dengannya" ucap pengacara itu menyakinkan nya.


"Lalu keluarga Pohan?" tanya Rendy lagi.


"Mereka juga menyerahkan sebagian hartanya untuk mendiang ibumu dan termasuk kalian, tapi saat ini masih dipegang oleh paman sepupu kalian. Menurutku sebaiknya kalian cepat mengambilnya sebelum disalahgunakan.." jawab pak Jatmiko.


"Maksudnya, Pak?" Rendy butuh penjelasan yang masuk akal untuknya percaya.


"Ingat Rendy, tidak semuanya orang itu baik maupun jahat, kau tahu betul itu. Begitu juga dalam keluarga, dalam dunia uang dan harta tak mengenal saudara.


Mereka saling berebut, mengambil yang bukan haknya. Saling adu domba dan memanipulasi kebenaran, jadi kita perlu hati-hati dalam menjalani hidup ini jangan sampai masuk kedalam lingkaran setan itu" ucap pak Jatmiko.


Rendy mengangguk-angguk saja mendengar penjelasan pak Jatmiko, dia juga diberi penjelasan kalau beliau juga menjalani amanah dari tetuanya dulu untuk menyampaikan amanah ini, dan merasa senang akhirnya tidak tugasnya selesai.


"Aku akan memikirkan ini dulu, Pak. Jujur saja saya masih kaget dan gak percaya dengan semua ini, tiba-tiba mendapat kabar seperti itu ni. Jika dipikirkan wajar saja jika kakak saya sampai kaget dan marah seperti itu.


Satu hal yang aku penasaran, kenapa kalian menyembunyikan ini semua begitu lama dari kami?


Sedangkan kami semuanya sudah cukup umur dan dewasa, kenapa baru sekarang memberitahu fakta dan kenyataan ini? Maafkan aku kak Nico, bukan aku membencimu, tapi aku pikir wajar bukan kalau kami marah padamu!


Selama ini kamu tau semua tentang kami, tentang musibah yang kami alami. Bahkan kamu juga tau penderitaan kami selama ini apa, seharusnya kamu beritahu kami sejak dulu tentang semua ini, agar kami tak berburuk sangka padamu!" ucap Rendy dengan nada kecewa dengan Nico.


Setelah itu mereka semua melihat Reva bersama Andriana turun kebawah sambil membawa kopernya Reva.


Andriana merasa tak enak dengan Nico dan semuanya, karena tak berhasil membujuk ataupun menenangkan Reva. Malah sebaliknya Reva malah turun bersama kopernya.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Nico gugup dan khawatir.


"Biarkan aku sendiri dulu, Nico. Untuk sementara aku pergi dulu dan jangan temui aku untuk saat ini" ucap Reva dingin.


"Tapi sayang kamu kan sedang hamil, aku gak setuju kamu pergi!" pinta Nico khawatir.


"Aku tau Nico, aku masih waras! Aku takkan membahayakan anakku sendiri hanya karena marah padamu!" jawab Reva ketus.


Dia pergi dari rumah itu diiringi oleh Andriana, Nico ingin mencegahnya tapi lagi-lagi dihalangi oleh Rendy.


"Biarkan saja kak Reva tenang dulu, aku akan menjaganya. Jika terjadi sesuatu dengannya aku pasti menghubungimu.." ucap Rendy lalu pamit menyusul Reva dan Andriana.


Nico terduduk lesu, dia tau akan seperti ini jika mengungkapkan semuanya. Tapi tak terbayangkan olehnya jika Reva semarah itu, dia merutuki diri sendiri.


Sedangkan Reva hanya menangis saja sepanjang perjalanan menuju apartemennya, Rendy dan Andriana hanya diam saja mendengar Reva menangis sendiri dikursi belakang.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2