
Tiga mobil mewah berwarna hitam itu berjalan beriringan menuju sebuah bangunan bergaya Eropa dengan kastilnya, Ericka dibawa masuk kedalam sana dan dikurung didalam sebuah ruangan.
"Awasi dia, jangan sampai lepas lagi. Aku tak ingin tuan marah kepada kita" terdengar suara mr. Alfred memberi perintah kepada seseorang diluar sana.
Ericka hanya bisa menangisi nasibnya, dia menyesali semuanya. Seandainya dia lebih berani seperti kakaknya mungkin dia tidak akan berada di situasi ini, seandainya dia lebih kuat dia juga takkan tertindas selama ini.
"Berikan aku kesempatan, Tuhan. Jika aku keluar dari sini dan bebas dari mereka semua, aku akan memilih sendiri hidupku, jika aku diberi kesempatan lagi aku akan merubah hidupku lagi.
Aku sudah lelah, aku sudah muak dengan semuanya. Izinkan aku merebut kembali hidupku, kebebasanku yang mereka renggut dariku!" ucap Ericka didalam isak tangisnya.
"Jika itu keinginanmu, mungkin Tuhan bisa mengabulkannya" terdengar suara lelaki dari balik lemari yang berdiri disisi pojok ruangan itu.
Seorang lelaki yang sangat dikenal oleh Ericka, dia menghampirinya dan melepaskan semua ikatan di dirinya.
"Hiro?! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Ericka heran.
"Aku ditugaskan mr. Alfred untuk melayani sejumlah tamu yang hadir di acara pernikahanmu nanti, aku kesini sedang mengambil beberapa barang di ruangan ini.
Sepertinya mereka tidak tahu kalau ada orang lain disini, sehingga tak menyadari keberadaanku. Ericka, sepertinya Tuhan mendengarkan doamu dengan mengirimkan aku sebagai penolongmu.
Ericka, jika kamu berhasil keluar dari sini tolong temukan Ayumi dan lainnya. Sampaikan permintaan maaf ku padanya dan pada teman-teman yang lainnya" ucap Hiro sambil berkaca-kaca.
Ericka bisa melihat penyesalan diwajahnya, Hiro terbebani rasa bersalah kepada semua temannya yang dia tinggalkan, terutama kepada Ayumi yang selalu bersamanya.
"Iya, jika aku berhasil keluar aku pasti akan menemukan mereka dan menyampaikan pesan kamu kepada mereka semuanya" ucap Ericka terharu.
Keduanya mengendap-endap keluar dari kamar itu, terlihat penjaga diluar sedang sibuk menerima telpon dari seseorang membelakangi mereka.
Dengan hati-hati keduanya melangkah keluar dari kamar itu dan menutup pintunya, ada sedikit hentakan dipintu itu mereka sudah khawatir penjaga itu menyadarinya.
Tapi keberuntungan saat ini berpihak kepada keduanya, penjaga itu memakai headset ditelinga mungkin tidak terlalu fokus dengan sekitarnya.
Hiro menarik tangan Ericka berlari menyusuri koridor lantai itu, dengan bersusah payah Ericka berlari yang menggunakan gaun dan sepatu hak tinggi itu. Tibalah mereka di suatu tempat yang agak berbeda dari tempat lain.
Tempat itu sepertinya dikhususkan buat para pelayan di rumah itu, melihat dari bentuk bangunan dan juga furniturnya yang nampak biasanya dibandingkan tempat tadi.
"Kau tunggu saja disini dulu, jika situasi menguntungkan kau bisa keluar dari tempat ini dari pintu samping ruangan ini.
Aku akan pergi, jika aku terlalu lama menghilang nanti mereka akan curiga.
Selamat tinggal Ericka, sampaikan permohonan maafku kepada semuanya" ucap Hiro sambil memeluk Ericka.
Dia keluar dari ruangan itu, dia dikejutkan oleh seorang pengawal yang berdiri didepan pintu ruangan itu.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini? Melihat dari penampilanmu, seharusnya kau berjaga didepan untuk melayani para tamu nanti" ucap penjaga itu.
"I-iya, Tuan. Saya dari dalam untuk buang air besar, sudah tak tahan lagi. Ini saya mau ke kamar dilantai atas untuk mengambil beberapa kain meja yang ada di sana" ucapnya sedikit gugup.
Pengawal itu menatapnya curiga, dia membuka pintu ruangan itu membuat Hiro semakin gelisah dan khawatir Ericka ketahuan.
"Em, baiklah. Aku akan menemanimu kesana, sekaligus mau menemani penjaga yang ada di sana" ucap pengawal itu seraya berlalu pergi.
Hiro sedikit heran dengan pengawal itu, apakah dia tak melihat Ericka didalam kamar itu? Ah, dia tak memikirkan hal itu yang penting Ericka dan dirinya selamat saat ini.
Saat itu Ericka sempat mendengar percakapan mereka, saat tahu pengawal itu akan membuka ruangan itu dia buru-buru mencari tempat persembunyiannya.
Makanya dia tidak ketahuan oleh pengawal itu karena dia bersembunyi dibalik lemari besar disamping rak kayu yang ada di sana.
Ericka mengendap-endap keluar dari ruang itu, di sana nampak suasana sepi sekali. Mungkin semua orang lagi sibuk dengan pekerjaan mereka, sedangkan tempat dia berada adalah tempat para pelayan beristirahat.
Saat dia membuka pintu keluar, tangannya ditarik dengan paksa dari arah belakangnya. Dia terkejut dan hampir berteriak, mulutnya langsung dibekap oleh seseorang itu.
"Zahrah??" Ericka terkejut melihat kehadirannya di sana.
"Syut, jangan berisik nanti kita ketahuan" ujarnya berbisik ke telinga Ericka.
Beberapa saat kemudian, pintu keluar itu dibuka dari arah luar dan masuklah beberapa orang pengawal dari luar itu. Sepertinya mereka habis beristirahat dan kembali bekerja lagi.
"Maafkan aku, tapi kenapa kau ada disini? Bukannya tadi kau berada di rumah? apakah kau juga sama seperti Hiro ditempatkan disini untuk-"
"Tidak ada waktu untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaanmu itu, Ericka. Sebaiknya kau cepat pergi dari sini sebelum mereka menyadari kehilanganmu dari sana, jangan sampai bantuan Hiro jadi sia-sia" Zahrah langsung memotong pembicaraannya.
"Baiklah, sampaikan ucapan terima kasihku kepada Hiro karena tak sempat tadi. Dan senang bertemu denganmu, Zahrah.
Meskipun hanya sebentar tapi pertemuan ini sangat mengesankan bagiku, terima kasih saudariku" ucap Ericka sambil memeluk dirinya.
"Iya, Ericka. Aku juga senang bisa bertemu denganmu setidaknya aku senang bisa mendengar kabar kakakku lewat dirimu.
Sekarang pergilah sebelum ketahuan, selamat tinggal Ericka, saudariku..." ucapnya pelan.
Keduanya berpisah, Ericka sempat menggantikan sepatunya menggunakan sepatu kets yang ada di sana. Dia menyelinap keluar dengan baik karena sudah diberitahu oleh Zahrah tempat untuk keluar dari sana.
Ericka sempat bertanya, kenapa dia tak ingin pergi dari sini sedangkan dia tahu tempat untuk pergi. Jawaban Zahrah sungguh menyakiti hatinya.
"Jika aku pergi, kemana aku akan pergi? Aku tak punya apa-apa disini, setidaknya disini aku punya tempat tinggal, ada makanan dan teman berbagi.
Jika aku pergi, maka aku akan sendirian. Tak ada rumah, makanan, teman ataupun uang. Mungkin aku akan lebih cepat mati jika diluar sana. Berbeda denganmu Ericka, kau punya kesempatan yang tak dimiliki oleh kami.
__ADS_1
Masih ada orang yang menunggumu, mereka yang akan menjagamu diluar sana. Maka gunakan kesempatan ini, pergilah... Semoga Allah mempertemukan kita kembali dalam keadaan baik" ucap Zahrah sebelum kembali masuk kedalam rumah itu lagi.
Saat ini, Ericka sudah berlari jauh dari rumah mewah itu. Dia tak peduli dengan tatapan heran dan aneh oleh semua orang yang menatapnya heran berlari menggunakan gaun pengantin membela jalanan kota London itu.
"Itu dia, kejar!!" terdengar suara para pengawal yang mengejarnya.
Ericka menyadari kalau dirinya sudah diketahui telah kabur kembali, dia tak ingin tertangkap lagi. Dia berlari dan bersembunyi di sebuah minimarket yang ada di sana.
Ternyata para pengawal itu juga mengejarnya sampai kesana, Ericka masuk ke ruang istirahat para karyawan minimarket itu dan melihat ada celana jeans dan sebuah jaket.
Dia menanggalkan gaunnya dan menggantinya dengan celana jeans dan jaketnya, untungnya dia memakai tank top jadi dia bisa lebih nyaman memakai jaket itu.
Dia memakai masker menutupi wajahnya, berjalan keluar meninggalkan minimarket itu sambil menundukkan wajahnya agar tak terlihat oleh para pengawal itu.
Sepertinya para pengawal itu curiga dengan penampilan seorang gadis yang baru keluar dari minimarket ini, diam-diam mereka membuntutinya.
Sadar dirinya sedang diikuti, Ericka mempercepat jalannya. Ketika dia berpapasan dengan gang kecil diantara cela restoran dan sebuah minibar, dia tarik oleh seseorang.
"Syut, jangan berteriak! Mereka akan mendengarmu dan habislah riwayatmu" ujar orang itu mendelik kearah Ericka.
Tubuh Ericka yang kecil itu terhimpit oleh tubuh kekar lelaki yang menariknya tadi, lelaki itu memakai setelan serba hitam, lengkap dengan jaket kulit hitam dan sarung tangan hitam miliknya.
Wajahnya tampan khas milik lelaki Amerika latin, dengan tubuh sedikit gelap dan wajah tampan maskulin dengan rambut sedikit klimis membuat nampak begitu jantan dan mempesona.
"Apa yang kau lihat? Dan tutup mulutmu itu, air liurmu sampai menetes begitu" ujar lelaki itu datar sambil mengawasi keadaan diluar.
Tadinya Ericka mengagumi wajah tampannya seketika sirna, lelaki itu tiba-tiba menjadi menyebalkan dimatanya.
Para pengawal tadi berjalan menuju arah mereka, karena sekelebat mereka melihat bayangan Ericka tadi di sana. Saat mereka melihat kearah gang kecil itu, dikejutkan oleh dua sejoli yang sedang bercumbu.
"Ah, maaf-maaf. Silakan dilanjutkan kembali" ujar salah satu pengawal tadi merasa tidak enak karena mengganggu keduanya.
Lelaki itu terlihat kecewa saat romantisnya diganggu oleh mereka, sedangkan si wanita terdiam, tubuhnya mematung karena dapat serangan tiba-tiba. Lelaki itu menatapnya lekat dan kembali memakaikan masker di mulutnya.
"Sorry, aku terpaksa karena tak tahu harus bagaimana menghindari mereka. Tak ada jalan keluar lagi dari sini, jika melawan mereka kita akan terpojok disini, mereka banyak sedangkan aku sendirian.
Hei, hallo... Apa kau mendengarkan aku?" tanya Lelaki itu terus menatap Ericka tanpa berkedip.
Ericka yang sudah tak fokus itu karena mendapat ciuman pertamanya, ditambah kelelahan seketika dia ambruk dipelukan lelaki itu.
"Ah, Sia*l! Pake pingsan segala, segitu tampannya aku sampai dia tak kuat menahannya" ujarnya sambil menyunggingkan bibirnya..
...----------------...
__ADS_1
Bersambung