Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Curahan Hati Rendy


__ADS_3

Besok paginya.


Semuanya berjalan seperti biasanya, kegiatan di pagi hari setiap harinya selalu sama. Rendy bertekad ingin keluar dari kamarnya untuk berjalan-jalan ditaman samping rumahnya.


"Aku lelah selalu ada didalam kamar, aku juga harus melatih saraf otot-otot kakiku agar aku bisa kembali berjalan lagi. Dan kembali beraktivitas seperti biasanya, aku sudah lama tak ke kantor.


Apa semuanya berjalan baik-baik saja? Tak ada Elena dan anak-anaknya bukan berarti semuanya aman kan? Siapa tahu sisa-sisa anak buahnya masih ada di sana tanpa aku sadari.." gumamnya sendiri.


Dia sekarang lagi duduk di bangku taman sambil menghadap Matahari pagi, sambil menghirup udara pagi yang masih segar, Ericka yang baru selesai berolahraga lari pagi, melihat kakaknya duduk santai ditaman itu.


"Tumben dia keluar dari kamarnya, apa dia sudah merenungi semua kejadian semalam? Sebaiknya aku samperin dan tanyakan langsung saja.." gumamnya.


Dia menghampiri kakaknya itu, Rendy sedikit terkejut dengan kehadiran Ericka tapi dia berusaha biasa saja. Ericka duduk di samping kakaknya itu.


"Gimana, apa kaki kakak sudah bisa digerakkan sepenuhnya?" tanya Ericka sekedar berbasa-basi.


"Sudah lebih baik, walau kadang masih ada rasa nyeri dilututku" jawab Rendy.


Beberapa saat mereka diam tak berkata-kata ada rasa canggung diantara mereka, setelah kejadian semalam. Rendy ingin bangkit dari duduknya, buru-buru ditahan oleh Ericka.


"Kakak mau kemana? Boleh bicara sebentar?" pintanya.


"Aku sudah selesai disini, kamu mau bicara apa? Aku sedang tak ingin berdebat denganmu!" jawab Rendy dingin.


"Aku tak ingin berdebat ataupun ngajak ribut, gak kok! Aku hanya butuh teman cerita.." ucap Ericka pelan, sambil menundukkan wajahnya.


Melihat ekspresi adiknya itu, Rendy menjadi iba. Dia pun jadi tak enak jika meninggalkan dirinya begitu saja.


"Baiklah, mau cerita apa?" tanyanya, kembali duduk disamping Ericka.


"Mungkin agak panjang, apa kakak tidak akan bosan mendengarnya?" tanya Ericka lagi.


"Aku tak ada kegiatan lain, kalau mau cerita, cerita saja. Aku akan mendengarkan semua ceritamu..," sahut Rendy.


"Aku senang kita kembali bersama lagi, kak Reva menikah dan sebentar lagi kita akan punya keponakan yang lucu, dan aku juga berharap kakak juga akan seperti itu bersama kak Andriana.." ucap Ericka.


Mendengar nama Andriana disebutkan, perasaan Rendy tiba-tiba sakit sekali, badannya bergetar dengan wajah memerah mencoba menahan sesuatu di dadanya, bayang-bayang wajah cantik kekasihnya itu hadir di pelupuk matanya.


"Kenapa, kau membahasnya?" tanyanya dengan suara bergetar.


"Kakak, maaf jika aku lancang.. Apakah kakak masih mencintainya? Apa kakak masih berniat ingin menikahinya?" tanya Ericka penasaran.


"Apa masalah itu harus aku katakan padamu, Ericka? Biarkan itu jadi urusan kami!" ucap Rendy sambil tertunduk lesu.


"Aku tau, hanya saja.. Aku tak tega melihat kak Andriana semalam.." ucap Ericka menggantung.


Rendy hanya diam saja, Ericka tau kakaknya saat ini juga gelisah dengan hubungan mereka, hanya karena emosi sesaat dia menghancurkan hubungan yang dia bangun sejak lama.


"Baiklah, aku akan bercerita tentang lainnya saja. Dan maaf, aku tak berniat mengatakan itu, aku hanya menyayangkan saja hubungan kalian harus berakhir seperti itu.." ucap Ericka lagi sambil menghela nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


"Siapa bilang hubungan kami berakhir? A-aku masih mencintainya sama seperti dulu, dan janjiku akan aku penuhi untuk menikahinya.." ucap Rendy terbata-bata menyampaikan isi hatinya itu.


"Niat dan perasaan kakak akan terbuang sia-sia kalau kakak pendam sendirian saja, jika kakak memang masih mengharapkan dirinya, katakan! Ungkapkan semua perasaan kakak kepadanya.


Agar dia tahu jika dia tak memendam sendirian perasaan itu, sehingga dia masih bisa menunggumu. Berharap sesuatu yang tak pasti itu menyakitkan, kak" ucapnya menyakinkan kakaknya.


"Deuh, Ericka! Bisanya kamu ngomong kayak gitu, padahal kamu sendiri masih belum yakin dengan hubunganmu dengan Aaron, bego emang! Bisa ngomongin orang, sendirinya kayak gitu!" gumamnya dalam hati.


"Apa kamu pikir dia akan seperti itu? Apa dia tak lelah merawatku yang seperti ini? Aku ini tak memiliki apa-apa, Ericka. Semua yang kita miliki ini adalah milik ayah dan ibu.


Apa kau tak memikirkan jika suatu saat nanti, ada sebuah pengkhianatan disuatu hubungan? Aku takut jika aku tak memiliki apa-apa lagi dia akan pergi begitu saja," akhirnya Rendy mengungkapkan semua perasaannya tentang hubungannya dengan Andriana.


Termasuk semua kekhawatirannya selama ini, Dia menceritakan semua apa yang ada didalam pikirannya, tentang ayah mereka, tentang persaudaraan mereka, dan tentang pikiran semua orang mengenai dirinya.


"Kenapa kakak pusing-pusing memikirkan itu semua? Apa kakak masih ragu dengan ini semuanya? Setelah bertahun-tahun lamanya bersama? Kenapa baru memikirkan sekarang?


Apa kakak tak memikirkan perasaannya? Perasaan kami? Orang-orang yang benar-benar tulus dan sayang sama kakak, dan itu jelas dan terbukti. Tapi semuanya hilang seketika ketika ada seseorang yang meracuni pikiran kakak dan menganggap kami ini tak ada.


Dan kakak dengan mudahnya percaya dengannya dan mencurigai kami, apa tak menyakitkan buat kami, kak? Untuk masalah ini hanya aku dan kak Andriana yang tahu..


Kami tak ingin kak Reva kembali sedih dan terluka melihat keadaan kakak, dia menyayangimu sama dengan menyayangi aku, tak ada bedanya. Dan begitulah caranya mengungkapkan perasaan sayangnya kepada adik-adiknya.


Kakak, aku baru sekarang merasakan kebahagiaan, cinta dan rasa sayang yang tulus diberikan oleh orang-orang. Aku bahagia bisa bersama kalian lagi dan dikelilingi oleh orang-orang yang peduli denganku.


Jika mengingat kembali, lima tahun sebelumnya, hari-hariku dipenuhi air mata.


Siksaan lahir dan batin selalu aku dapatkan dari sini, rumah ini adalah saksi bisu semua penderitaan yang aku dapatkan.


Dan sebelumnya, aku selalu merasa dunia ini tak adil bagiku, kenapa hanya aku yang tak pernah merasakan kasih sayang orang tua? Kenapa hanya aku yang menderita?


Tapi dilain sisi aku bahagia, masih ada orang-orang yang peduli denganku, masih ada orang yang mencintaiku dengan tulus, perjuangan kak Reva yang slalu melindungiku, dan aku tau kakak juga diam-diam memperhatikan aku dulu.


Jadi, rasa benci itu dikalahkan oleh rasa cinta, penderitaan yang aku lewati bertahun-tahun lamanya tak terasa bagiku karena selalu ada orang yang menguatkanku.


Apa kakak tak merasakan hal itu juga? Setidaknya pikirkan kak Andriana yang selama ini berada disisimu, kami saudara-saudaramu, dan kak Nico dan lainnya juga.


Janganlah menaruh curiga dan benci begitu juga hanya sebuah kata-kata dari seseorang yang baru kakak kenal, atau mungkin baru kakak temui lagi" panjang lebar Ericka bercerita berharap kakak mau mengungkapkan isi hatinya dan termasuk menceritakan siapa orang itu.


"Ternyata aku sangat lemah yah, aku malu menceritakan ini dan mengeluhkan ini semuanya kepadamu, sedangkan aku lupa jika kamu telah melewati ini semua.


Kalau kamu lebih menderita daripada aku rasakan saat ini, kamu benar! Aku harus kuat, ah! Aku benar-benar bodoh kenapa aku gampang sekali terhasut!


Baiklah, aku akan mencoba menghubungi Andriana kembali. Semoga dia mau memaafkan aku, kalau dia meminta suatu kepastian lagi kepadaku, aku bisa menikahinya sekarang juga!" ucap Rendy bersemangat.


"Benarkah?!" tiba-tiba saja ada suara lain yang menyahuti omongannya.


Rendy dan Ericka terkejut ada Andriana yang berdiri di samping mereka, sedari tadi mereka tak menyadari jika gadis itu sudah mendekati mereka sejak tadi.


"Kak Andriana, sejak kapan ada disini?! Ngagetin aja!" ucap Ericka antara terkejut dan senang.

__ADS_1


Andriana hanya tersenyum saja sambil sesekali melirik Rendy, sedangkan lelaki itu hanya bisa menunduk malu dan memalingkan wajahnya.


"Apa yang kamu katakan tadi benar adanya, atau hanya emosi kesenangan sesaat?" tanya Andriana kepada Rendy.


"A-aku pikir bukan saatnya membahas soal itu.." jawab Rendy gugup.


"Aku malah berpikir sebaliknya, mengingat betapa bencinya kamu sama aku saat mengusirku semalam" ucap Andriana dingin menatapnya.


"Kata-katamu terus terngiang ditelingaku hingga aku gak bisa tidur, apa benar apa yang kamu katakan? Atau hanya sekedar emosi sesaat? Aku datang untuk meminta kepastian darimu, karena aku juga punya harga diri!" sambungnya dalam hati.


"Baiklah, sebaiknya kita masuk saja kedalam rumah dan bicarakan ini baik-baik didalam, oke?" ucap Ericka lagi.


Ericka merasa ada yang diam-diam memperhatikan mereka, entah itu siapa dan dimana, tapi hati dan nalurinya mengatakan mereka sedang diawasi. Akhirnya keduanya nurut dan masuk kedalam rumah.


Ericka membiarkan kakaknya berdua saja dengan Andriana membicarakan perihal hubungan mereka, mereka berdua berbicara di ruang keluarga, sedangkan Ericka masuk kedalam kamarnya.


Diam-diam dia sempat mengintip dari celah jendela arah balkon menghadap arah taman samping rumah, dan benar saja firasatnya itu. Terlihat dari atas rumah, Ericka melihat ada seseorang yang mengendap-endap memasuki area taman itu menuju rumahnya.


"Sepertinya dia ingin menyelinap kembali ke rumah ini, baiklah! Aku akan menyambutnya dengan senang hati" senyumnya dengan licik.


Dia kembali kedalam kamar dan bersiap menyambut kedatangan tamu tak diundang itu.


Seorang lelaki berperawakan tinggi dan tegap sedang berusaha menaik keatas rumah itu melewati balkon lantai dua rumah itu, dia memakai Hoodie sweater hitam dengan kupluk dan masker juga.


Dia berjalan mengendap-endap memasuki rumah itu, sambil celingukan dan akhirnya masuk kedalam kamar Rendy, dia nampak sangat gusar sekali karena target tak ada ditempat.


Karena alat perekam itu masih ada didalam kamar, Ericka masih bisa mendengar segala ucapan lelaki itu didalam kamar kakaknya itu.


"Sialan! Kemana dia?! Jangan-jangan dia berada di ruangan lain bersama para gadis itu lagi! Huft, semoga dia masih mau mendengarkan aku, dan menghiraukan mereka seperti biasa.


Pokoknya aku harus berhasil membujuknya untuk memberikan kami sebagian anak perusahaan ayahnya itu dengan harga murah, kalau tidak aku akan terus mengancam dan menerornya!


Hahaha! Dia takkan mudah lepas dariku begitu saja, dan aku tahu betul seperti apa dia orangnya. Akan sangat mudah mempengaruhinya disaat begini, disaat terpuruk seperti ini akan lebih mudah meracuni pikirannya dengan segala kebencian yang ada.


Benar kata papa, satu dua kali dayung, satu pulau terlampaui, haha! Mereka sangat bodoh, gampang sekali dibodohi, tapi wajar saja karena mereka tak punya ibu, haha!" ucap lelaki itu lalu pergi meninggalkan kamar Rendy.


Dia celingukan diluar kamar itu, lalu meletakkan suatu benda didinding didepan kamar Rendy, setelah itu dia pergi dari sana turun lewat balkon kembali.


Selang beberapa saat kemudian, Ericka tersenyum dan mengambil benda kecil yang menempel di dinding itu.


"Benar-benar sangat licik, dia sengaja memanfaatkan keadaan kak Rendy untuk tujuannya itu, aku mau lihat bagaimana reaksi kakakku itu ketika mengetahui fakta tentang orang itu.


Btw, aku juga penasaran seperti apa orangnya, sebaiknya aku lihat dulu seperti penampakan wujud manusia berhati iblis itu!" gumamnya sambil mengambil kamera kecil miliknya yang dia taruh disudut pintu kamar itu.


Dia membawa kedua benda itu, benda kecil milik lelaki itu langsung dia hancurkan, sedangkan kamera kecil miliknya dia sambungkan ke laptop miliknya.


Betapa terkejutnya Ericka melihat sosok orang itu, orang yang sangat dia kenal. Saat lelaki itu keluar dari kamar kakaknya, dia sempat melepaskan maskernya saat memasang kamera miliknya.


Dengan mudah dirinya bisa melihat dan mengenali wajah itu, dia begitu marah dan geram telah dibodohi oleh mereka, seharusnya kakaknya tau semua fakta tentang orang itu.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2