
William mengebut di jalanan, dia tak perduli dengan peringatan dari Geraldine atau mungkin dia sudah tak bisa mendengar apapun lagi, karena saat ini pikirannya benar-benar lagi kacau, dia hanya ingat dengan opa nya saja saat ini.
"Will, bisa tenang sedikit! Jangan kayak gini, di sana ada Erick dan keluarga lainnya yang sudah datang juga. Kamu jangan kayak gini!" teriak Geraldine sambil berusaha menenangkan William.
Tapi lelaki itu tak memperdulikan peringatannya, dia diam sambil menyetir mobilnya dengan cepat. Wajah datarnya itu hanya terpaku dijalanan, air matanya tak berhenti mengalir tanpa bersuara.
Beberapa menit sebelumnya.
Saat selesai sarapan, William kembali ke kamarnya untuk bersiap kembali ke rumah sakit untuk menggantikan Erick menjaga opa Harja, dia sengaja meninggalkan Ponselnya untuk di charger. Saat dia memeriksa ponselnya, dia menerima begitu banyak notifikasi dari Erick dan petugas kepolisian yang berjaga di sana.
Perasaannya merasa was-was dan hatinya tak tenang, dia menelepon balik Erick tapi tidak diangkat, berulang kali dia menelepon tapi tidak diangkat juga, perasaannya semakin tidak enak, William kembali menelepon kali ini ke petugas kepolisian, dia hanya ingin bertanya keadaan opa di sana tapi dia malah mendapatkan berita yang tidak mengenakkan.
Dia buru-buru pergi ke rumah sakit, dia langsung menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas nakas samping tempat tidurnya, setelah itu dia langsung keluar dengan membanting pintu kamarnya karena terburu-buru.
Geraldine yang baru saja keluar dari kamar Ericka melihat William keluar dari kamarnya dengan terburu-buru, dia berteriak memanggilnya tapi lelaki itu tak menoleh ataupun menyahutinya, membuat gadis merasa khawatir dengannya, ditambah lagi sikap William yang terlihat gelisah dan tak tenang.
"William!" panggil Geraldine.
William bergegas masuk kedalam mobilnya dan hendak melajukan mobilnya segera, Geraldine tahu situasi saat ini tak bisa mengajak William berbicara, dia langsung ikut naik mobil sebelum mobil itu melaju kencang meninggalkan hotel ini.
Ericka sempat mendengar teriakan Geraldine ikut keluar mau melihat apa yang terjadi, dia malah melihat Geraldine berlari mengejar William, dia ingin mengejar juga tapi tak bisa, saat ini dia sedang membantu kakaknya untuk mengurus semua perlengkapan untuk dibawa pulang ke rumah, dan juga pembatalan resepsi pernikahan Rendy nanti siang.
Untungnya pihak WO mau mengerti apalagi alasan pembatalan pesta tersebut adalah mengenai kondisi kakek mereka yang lagi kritis, yah meskipun bukan kakek kandung tapi opa Harja juga kakek mereka.
"Ini mereka kenapa sih, kok teleponku gak diangkat?!" ujar Ericka bingung sendiri.
Dia berapa kali mencoba menelepon William dan Geraldine tapi tak ada yang mengangkatnya, tapi setelah beberapa menit kemudian telponnya diangkat juga sama Geraldine.
"Maaf, bu! Saat ini saya bersama William, dia dari tadi diam saja tak bisa diajak bicara. Saya juga tak mengerti ada apa ini, tapi sepertinya kami menuju ke rumah sakit, nanti saya kabarin lagi," ujar Geraldine menjelaskan semuanya.
Mendengar itu, Ericka menceritakan itu semua ke saudara-saudaranya dan mereka semua bergegas menuju rumah sakit juga.
Sekarang ini..
William benar-benar mengebut dijalan, semua mobil atau kendaraan lain didepannya langsung dia salib begitu saja, entah berapa kali dia diteriaki oleh beberapa pengendara lainnya karena mengebut di jalanan.
"William awas!" teriak Geraldine saat melihat ada truk didepan mereka.
William yang sempat kehilangan fokus langsung membanting setirnya, dan kecelakaan maut itu dapat dihindari juga. Tapi satu hal yang dia tak sadari, kepala Geraldine sempat terantuk di dasbor mobilnya hingga memar.
__ADS_1
"Will.." panggil Geraldine pelan, sambil menahan sakit.
Tapi William tidak mendengar ataupun memperhatikan dirinya, sehingga gadis itu merasa ketakutan. Dia takut William berubah, dia takut lelaki itu kehilangan kendali dan malah mencelakai mereka dijalan itu.
Sesampainya di rumah sakit, William bergegas masuk kedalam menuju ruangan dimana opa berada, sedangkan Geraldine tak bisa mengejarnya begitu saja, dia berusaha menenangkan dirinya sendiri karena kepalanya yang sakit akibat terantuk dashboard dan membuat kepalanya menjadi sakit.
Bruk!
"Auh!" dia sempat oleng dan tak sengaja terpeleset di koridor rumah sakit saat menyusul William.
Dengan tertatih dia berjalan menahan sakit menyusul lelaki itu, seorang perawat lewat saat melintasinya dan memperhatikannya saat beberapa orang menatap Geraldine dengan perasaan kasihan.
"Ya ampun, mbak! Keningnya berdarah, ayo ikut saya.. Kita obati dulu," ujar perawat itu sedikit terkejut melihat kondisi Geraldine.
"Emm, gak usah Sus. Saya harus menyusul teman saya, mau ke sana" tunjuk Geraldine ke ruangan UGD.
"Nanti mbak bisa kesana setelah lukanya diobati, saya gak bisa biarin mbak pergi begitu saja dalam keadaan terluka begini, padahal saya adalah perawat dan ini adalah rumah sakit," ujar perawat itu.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih" ucap Geraldine tersenyum melihat ketulusan perawat tersebut.
Perawat itu membawanya kesebuah ruangan dan langsung mengobatinya, dia bertanya kenapa bisa terluka seperti itu dan heran karena Geraldine seperti tidak merasakan rasa sakitnya.
"Tadi kepala saya sempat kejedot di dasbor mobil, kayaknya memar dan bikin pusing. Makanya pas jalan badan saya gak seimbang dan bisa terjatuh kayak tadi, dan mengenai ujung bangku di sana tadi, rasa sakit gak seberapa dibandingkan rasa sakit hati yah, haha!" ucap Geraldine menjelaskan semuanya sambil bercanda.
Dia juga melihat tante Sonia, om Seno juga Stacy. Tidak lama kemudian, jenazah opa Harja keluar dari ruang UGD dan sudah siap dibawa pulang ke rumah duka, tante Sonia dan om Seno menawarkan diri menjadikan rumah mereka sebagai rumah duka.
"Kalian berdua tinggal di apartemen rasanya tak mungkin juga melakukan takziah di sana, biar saja kami ikut membantu mengurus jenazah almarhum, bagaimanapun juga dia adalah paman kami juga..
Dan kami sudah memaafkannya dan mengikhlaskan kepergiannya, kami harap kalian berdua juga begitu. Tak perlu sungkan ataupun merasa tidak enak, kita ini keluarga dan kami senang jika kalian mau menerima niat baik kami ini.." ucap tante Sonia sebelumnya.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya William dan Erick setuju jenazah opa akan dimandikan dan disemayamkan di rumahnya tante Sonia dan nantinya akan dimakamkan di pemakaman keluarga.
Jenazah opa didorong menuju mobil ambulans menuju rumah tante Sonia, Ericka dan lainnya yang baru sampai langsung pergi lagi ikut dengan mobil jenazah bersama iring-iringan mobil lainnya.
"William.." Geraldine tetap berusaha menggapai tangan lelaki itu, tapi rasanya berat.
Entah saat ini William yang tidak fokus atau dia memang tak melihatnya, lelaki itu tak bergeming sedikitpun dia seolah tak melihat siapapun didepannya.
Gadis itu merasa sedih dan kecewa, dia merasa diabaikan. Pikirannya saat ini kalau William benar-benar berubah dan akan meninggalkannya.
__ADS_1
"Aku tau kamu sedang berduka, aku tau rasanya karena aku juga pernah berada diposisi itu, tapi.. Setidaknya kamu melihatku dan mendengarku, sesakit itukah perasaanmu sehingga membuatmu buta dan tuli tidak memperhatikan orang-orang di sekelilingmu.." gumamnya sambil menatap William yang semakin menjauh dari pandangannya.
Geraldine langsung terduduk karena terlalu lelah baginya untuk menahan rasa sakit kepalanya juga rasa sakit dihatinya, pandangannya tiba-tiba berkabut dan dia terjatuh pingsan.
Deg!
Tiba-tiba William merasa jantungnya berdegup lebih kencang, bukan karena merasa sedih atas kehilangan kakeknya tapi ada perasaan lain yang tak bisa dia ungkapkan, ada perasaan sedih lainnya selain rasa sedih kehilangan kakeknya.
"Ada apa denganku?" gumamnya sendiri sambil mengusap air matanya.
Sedangkan Erick merasa melihat Geraldine dibelakangnya tapi saat dia menoleh tidak ada siapapun dibelakangnya.
"Sudah ada kabar dari Geraldine?" tanya Nico kepada Ericka, mereka satu mobil bersama Reva juga.
"Gak ada kabar apapun darinya, mungkin saat ini dia bersama William.." jawab Ericka berusaha berasumsi positif.
Sebenarnya Geraldine selalu mengabarinya walau dalam keadaan apapun, baik itu masalah pekerjaan ataupun masalah lainnya. Tapi kali ini dia berbeda, tak ada kabar apapun darinya sejak tadi.
.
.
Saat ini mereka semua sudah sampai di rumah tante Sonia, dan semuanya sudah disiapkan oleh beberapa kerabat lainnya untuk menyambut kedatangan jenazah, karena sebelumnya tante Sonia sudah menghubungi pak Darul dan lainnya juga.
Dua jam, tiga jam sampai saatnya jenazah opa mau dimakamkan belum juga tanda-tanda kehadiran Geraldine, Ericka berusaha menghubungi gadis itu tapi telponnya mati, membuatnya semakin khawatir.
"Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan gelisah terus dari tadi," bisik Reva penasaran.
"Dari tadi aku tak melihat Geraldine, aku hubungi juga telponnya gak aktif. Aku jadi khawatir," ujar Ericka berbisik juga.
"Mungkin dia sibuk membantu yang lainnya, dan mungkin lagi menenangkan William juga.." ujar Reva.
"Tapi semuanya kan sudah disiapkan oleh beberapa kerabat yang disini, lagian dari tadi William dan juga Erick tak jauh dari jenazahnya opa.." bisik Ericka dengan nada panik.
"Tenanglah, mungkin dia berada di suatu tempat saat ini. Bersikaplah lebih tenang jangan membuat semua orang memperhatikan sikapmu itu!" ujar Reva memperingatinya.
Ericka mengangguk saja sambil sesekali memperhatikan di sekelilingnya, berharap dia menemukan Geraldine ditengah-tengah para pelayat itu.
.......
__ADS_1
...----------------...
Bersambung