Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Dua Wanita Bar-bar


__ADS_3

Setelah mendapat transferan dari Rendy, Reva langsung membayar tagihannya. Setelah itu dia kembali lagi berkeliling mall mencari barang yang dia inginkan.


Triing!


Suara Hpnya berbunyi, tertera no asing di sana dia merasa aneh karena tidak pernah memberikan nomor Hpnya ke sembarang orang.


"Halo, dengan Revalina. Siapa ini?" tanyanya datar.


"Halo, Bu. Saya Andriana... Saya diminta pak Rendy untuk menemui Ibu, maaf kalau boleh tau posisi Ibu dimana? Saya sekarang berada di Mall, Bu" terdengar suara lembut Andriana.


Reva terlihat lega, ternyata yang menelpon dia adalah Andriana sekretaris Rendy. Tapi kenapa dia ada disini?


"Aku sekarang ada di lantai tiga tepatnya di depan D'Boutique, kamu kesini saja" jawab Reva santai.


"Baik, Bu. Saya akan segera kesana" sahut Andriana sopan.


Reva masuk kedalam toko itu, dia melihat banyak koleksi-koleksi barang baru yang ada di sana. Sebenarnya dia pelanggan di toko itu tapi akhir-akhir ini dia jarang berbelanja, jangankan belanja mau keluar kamar aja males. Kan lagi sedih kemarin itu.


"Permisi, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" seorang pelayan wanita muda dengan sopan menghampirinya.


Reva melihat kearahnya, dia sedikit bingung karena banyak pelayan baru yang tidak dia kenali. Biasanya para pelayan di sana tahu jika Reva belanja mereka akan segera melayaninya tanpa harus bertanya. Maklum, Reva pelanggan VIP di sana.


"Aku ingin melihat beberapa koleksi terbaru kalian, dan juga aksesoris yang cocok untuk setelan pakaian itu" Reva menunjuk salah satu pakaian yang terpajang didepan etalase kaca depannya.


"Baik, saya akan ambilkan" ujar pelayan itu.


Tidak lama kemudian, datanglah sosok dua makhluk yang tak diharapkan oleh Reva. Wanita menyebalkan tadi datang bersama pacarnya, yaitu pria uzur yang pantas jadi bapaknya.


"Hai, Grace! Apa kabar?! Wah, semakin cantik saja. Halo Mas, ceria sekali hari ini kayaknya" sapa salah seorang pelayan toko di sana.


Dia nampak begitu akrab dengan pasangan itu, Reva tidak peduli dan mengacuhkan mereka. Ternyata wanita itu menyadari kehadirannya, dan entengnya berjalan kearah Reva.


"Halo, Nona. Ngapain kamu disini? Entar ngak sanggup bayar lagi loh, ingat ini toko beda ama yang tadi lebih bonafit dan harganya lebih mahal sama yang dipakai sama situ" ujar wanita itu berbicara sinis kearah Reva.


Reva tidak menanggapinya, dia sibuk berkeliling melihat-lihat koleksi-koleksi pakaian yang ada di sana.


"Eh, tuli kamu yah?! Aku dari tadi ngomong ngak ditanggepin, dasar Vangke!" teriak wanita itu, menarik perhatian pengunjung dan para pelayan.


Reva celingak-celinguk, dengan muka sok polos dia menatap wanita itu.


"Oh, situ ngomong sama saya... Kirain ngomong sama manekin ntuh!" ejek Reva dengan muka dipolos-polosin.


Wanita bernama Grace itu merasa terhina plus sakit hati karena kejadian di toko sebelumnya, berteriak kepada orang-orang didalam toko itu.


"Hei, semuanya. Hati-hati sama orang ini, tadi aku ketemu dia di toko sebelah. Dia gak bisa bayar belanjaannya, gak tau kenapa dia bisa lolos di sana mungkin habis nyopet kali!" ujar Grace memprovokasi para pengunjung.


Semua orang menatap sinis kearahnya dan medekap tas mewah mereka agar tidak kecolongan, pelayan yang bersama Grace tadi menghampiri mereka.


"Maaf, Nona. Demi keamanan pengunjung kami harap Nona keluar dari sini dengan tenang" dia berbicara dengan sopan tapi raut wajahnya sama sekali tidak sopan.


Menatap Reva dengan pandangan hina, seolah Reva gadis miskin yang tak mampu bayar belanjaan yang di sana. Padahal kalau mau Reva sanggup beli dan bayar tunai semua pakaian yang ada di sana plus toko-tokonya.


"Maaf, Nona. Menunggu lama, saya harus mengeluarkan ini dari gudang karena stok pakaian yang ada hanya sedikit. Ini koleksi terbaru kami, dan pakaian ini diproduksi hanya beberapa lembar saja" ujar pelayan yang pertama tadi melayani Reva.


"Eh, kamu ngapain bawa-bawa ini baju kesini?! Kamu tahu siapa dia?" Grace memarahi pelayan itu.


"Maaf, Nona. Saya hanya melayani pelanggan saja" jawab pelayan itu dengan sopan.


"Bawa kembali barang-barang itu ke dalam gudang, dan keluarkan lagi jika ada pelanggan VIP saja" ucap pelayan bersama Grace tadi.


"Hei, Aku pelanggan VIP loh! Sini aku mau lihat juga" ujar Grace nampak kegirangan melihat barang-barang terbaru.


Sedangkan pelayan dan pacarnya nampak gelisah, kalau pacarnya sudah pasti gelisah takut uangnya bocor lagi. Kalau pelayan itu seharusnya senang dong, kan ada pelanggan yang mau beli. Tapi kok terlihat gelisah begitu?


Reva hanya diam mengamati mereka semua, tidak ada yang tahu apa yang dipikirkannya. Seandainya mereka tahu wanita ini sangat kuat, mungkin tidak akan ada yang mencoba mengganggunya.


"Eh, ngapain masih disini?! Keluar sana!" teriak Grace ketus kearah Reva dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Dia tersenyum licik karena berhasil mempermalukan Reva dan membalasnya tadi, setelah melihat label harganya ia menarik nafas dalam-dalam. Sang pacarpun terlihat panik.


"Yang..." dengan wajah memelas dia menatap kearah pria tambun itu.


"Lain kali saja yah, kan kita mau nonton sama makan juga" ujar sang pacar menolaknya secara halus.


"Nontonnya di rumah aja gak apa, Yang... Makan pun cuma KFC doang juga gak apa. Yang penting aku mau baju ini!" ucap Grace sudah seperti anak kecil yang minta dibeliin jajan.


Reva menatapnya jijik, murahan sekali ini orang?! pikirnya.


"Gak bisa, ayo pulang!" pacarnya itu mencoba menarik tangannya keluar, tapi wanita itu menahannya dan mengambil pakaian itu.


Tentu saja para pelayan lain panik, bagaimana jika mereka tiba-tiba lari kabur bawa dagangannya. Kan yang rugi mereka, bisa-bisa gaji mereka dipotong dan yang mengerikan ialah dipecat dari pekerjaan.


"Bu Reva!" teriak Andriana dari luar masuk kedalam butik itu.


"Hai, aku disini!" seru Reva melambaikan tangannya kearah Andriana yang masih celingukan mencarinya.


"Maaf, Bu. Tadi saya ke toilet dulu, kebelet pipis. Hehe!" ujarnya tanpa canggung didepan bosnya.


Reva tersenyum melihat tingkah konyol sekretaris Rendy ini, entah kenapa baru ketemu langsung membuatnya suka pada anak ini.


Setidaknya Andriana tidak seperti yang lain, mencoba mencari muka atau perhatian berlebihan kepadanya. Atau sekedar memperlihatkan kelas atau level mereka sejajar atau tidak.


"Tunggu sebentar yah, aku mau bayar dulu" ucap Reva.


"Permisi, jika gak ada yang beli aku mau dong!"ujar Reva kepada para pelayan itu, kayak sama teman aja atau memang ngeledek ini!


"Maaf, Nona, Sudah saya katakan tadi untuk segera pergi jika tidak-" pelayan itu terhenyak tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Reva langsung menutup mulut pelayan itu dengan kartu platinum miliknya yang sudah terisi penuh tanpa batas oleh Rendy tadi.


"Pakai kartu ini, aku mau semua koleksi terbaru di toko ini" ujar Reva dingin.


"Jika kurang pake kartu ini" Andriana juga menaruh black card diatas meja etalase kaca didepan mereka.


Dia juga geram melihat tingkah pelayan itu tadi, para pelayan dan Grace yang masih di sana terlihat melongo sampe netes air liurnya melihat dua kartu berlian itu.


Para pelayan itu membungkus rapi semua pakaian branded koleksi terbaru milik toko itu termasuk yang ultimated, membuat Grace yang melihatnya semakin iri dan penyakit hati yang lainnya makin kambuh.


"Mas, masa' kita kalah sama gembel kayak gitu?!" ucapnya merengek kepada kekasihnya itu.


Sang pacar hanya tertegun melihat Reva Andriana, siapa sangka dua wanita ini ternyata lebih seksi dan hebat dibandingkan Grace, pacarnya sendiri. Dasar berondong tua!


"Total semua Rp 899. 897.540, Nona" ujar petugas kasir yang di sana.


Semua orang yang di sana termasuk Grace melongo mendengar harga belanjaan mereka, sedikit lagi mencapai 1M itu belanjaan.


Para pelayan dan semua pengunjung merasa deg-degan melihat kasir menggesekkan kartu milik Reva, ting! Transaksi berhasil.


Semua pelayan kicep melihat Reva, apalagi melihat sorot mata Andriana yang mengintimidasi mereka semua jadi takut melihatnya.


Sedangkan Reva masih cuek berjalan-jalan melihat koleksi barang milik toko itu, tiba-tiba manajer toko itu keluar dari pintu ruangannya dan melihat Reva.


"Nona Reva, apa kabar?! Sudah lama sekali tak melihat anda!" Seorang wanita cantik berpenampilan anggun menyapa Reva dengan ramah.


"Bu Nindy, apa kabar?" Reva pun bercipika-cipiki dengannya.


Semua pelayan dan Grace tambah gugup dibuatnya, bagaimana tidak Nindy sang manajer terkenal dingin dan tak mudah didekati itu nampak akrab dengan Reva, sedangkan dengan Grace dia berusaha mendekati sang manajer begitu susah sekali.


"Saya lagi ada kerjaan di luar, makanya tak bisa mampir lagi ke sini. Sekarang saya datang untuk mengunjungi tempat ini" ujar Reva memberi alasan.


"Nona, barangnya sudah siap mau kami antarkan kemana?" ujar pelayan muda itu, pelayan ramah yang pertama bertemu dengan Reva.


Reva mengirimkan alamat apartemennya yang baru, dia sengaja pindah agar tak ditemui lagi sama orang-orang lama yang dia kenal.


Grace sadar kalau Reva bukan tandingannya, wanita ini pasti orang hebat melihat dia mampu membayar belanjaan dengan harga fantastis ditambah lagi kenal akrab dengan manajer toko itu.

__ADS_1


Saat matanya berkeliling melihat kearah lain, matanya terbelalak lebar saat melihat foto Reva di pajang di salah satu banner ditoko itu, Reva tersenyum anggun dengan pakaian mewah sambil memegang botol parfum brand termahal!


"Oh, God! Dia ternyata seorang model terkenal!" teriaknya dalam hati, seketika hatinya semakin ciut dan mengecil.


Jika dibandingkan, dia hanya batu kali dibandingkan dengan Reva si batu permata, dia melipir pelan-pelan keluar bersama sang pacar.


"Mau kemana, Mbak?" sapa Andriana ceria kearahnya.


Grace mengumpat dalam hatinya, kenapa sih ni dodol ganggu aja?! teriaknya dalam hati.


"Ay, aku lupa! Bu Nindy, aku mau merekomendasikan sesuatu boleh tidak?" tanya Reva.


"Boleh, apa itu?" tanya Nindy dengan ramah.


"Aku mau pelayanannya ditingkatkan lagi, terutama para pelayan yang berjaga didepan yang melayani tamu.


Karena jika tamu yang datang siapa pun itu kita harus melayaninya dengan baik, tanpa memandang siapa dia. Bukankah kalau bekerja itu harus profesional?" tanya Reva.


"Oh, tentu saja itu" jawab Nindy sambil melototi para pelayannya.


Dia tahu Reva berbicara seperti itu karena pasti ada sesuatu yang tidak dia ketahui.


"Maaf, Nona Reva. Para petugas sebelumnya sudah dipindahkan ke kantor pusat untuk mendapatkan pelatihan lagi, makanya disini rata-rata petugas baru" ujar Nindy berusaha sesopan mungkin.


"Oh, begitu. Pantas saja saya tak melihat mereka yang biasa melayaniku" ucap Reva masih ramah.


Para pelayan itu semakin menundukkan wajahnya ketakutan, gara-gara satu pelayan songong mereka semua kena dampaknya juga.


"Baiklah, aku permisi dulu yah. Sampai nanti" ujar Reva kepada Nindy.


Reva dan Andriana berjalan melewati mereka semuanya, diiringi para pelayan mengantarkan mereka keluar dengan sopan.


Reva melewati Grace dia mengibaskan rambutnya hingga mengenai wajah Grace, dia tersenyum sinis kearahnya. Merah padam muka Grace karena dipermalukan Reva.


Dia berjalan ingin mendahului Reva, tapi tergelincir oleh kaki Andriana.


"Ups, sorry. Kamu gak papa?" tanya Andriana selembut mungkin.


Grace langsung pergi dengan cepat lalu disusul oleh sang pacarnya, eh sempat-sempatnya tuh berondong tua mengedipkan matanya kearah Reva dan Andriana sambil menggerakkan jempolnya minta dihubungi.


"Mbak, jangan cepet-cepet ntar pacarnya diambil orang!" teriak Andriana.


Lelaki itu terkejut melihat reaksi Andriana berteriak begitu, Grace menoleh kebelakang melototi sang pacar yang genit itu.


Reva dan Andriana tertawa melihat mereka, sungguh perpaduan yang membagongkan antara calon kakak ipar dan adik ipar ini.


"Yuk, ah! kita belanja lagi" ajak Reva sambil menggandeng tangan Andriana.


"Tapi, Bu. Saya harus kembali ke kantor, saya datang ingin memberikan kartu ini saja sebenarnya" ucap Andriana menolak dengan sopan.


"Udah, gak apa. Ayo" ujar Reva lagi.


"Tapi, Bu. Nanti pak Rendy..." Andriana masih ragu, dia takut kena omel lagi sama si bos galak itu.


"Udah, gak usah takut. Bos kamu itu ayah juga adikku, mereka gak akan marah tenang saja. Jika Rendy marah, laporkan saja padaku" ucap Reva sambil mengedipkan matanya.


"Gak ada penolakan di kamusku, aku sudah lama sekali tidak belanja dan punya teman kayak gini, yuk nanti aku traktir semuanya" ujar Reva menarik tangan Andriana.


Mereka berjalan menyusuri koridor mall itu yang penuh barang-barang yang mewah memanjakan mata itu.


Rendy dengan seseorang menatap mereka berdua sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, gak habis pikir olehnya ternyata kedua wanita yang dia sayangi itu sama bar-barnya.


"Kenapa menatapnya disini saja, Kak? Samperin dong kalau kangen" goda Rendy kepada orang itu.


"Gak usah, Ren. Ntar yang ada aku ditendang terus dijambak lagi kayak wanita tadi" ujar Nico bergidik ngeri.


Rendy hanya tertawa melihat tingkahnya, keduanya sama saja, gak Reva gak juga Nico, sama-sama gengsi kalau mengakui mereka tuh saling kangen sebenarnya.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2