
Pak Dewantoro pulang dari kantor dengan tergesa-gesa setelah dapat kabar dari bi Mirna jika Elena pingsan, sudah hampir satu jam ia pingsan dan tak sadarkan diri membuat bi Mirna harus menghubungi tuannya itu.
"Mana nyonya?!" tanya pak Dewantoro ketika baru sampai di rumah dan disambut oleh bi Mirna.
"Ada didalam kamar, Tuan.." sahut bi Mirna.
Pak Dewantoro langsung menemui istrinya itu, dan ternyata sudah sadar. Elena menangis sambil berbaring memunggungi pak Dewantoro, sepertinya dia sangat sedih dan kecewa sekali.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi, kenapa kamu sampai pingsan?" tanya pak Dewantoro khawatir.
"Tuan, Nyonya.." bi Mirna ingin menjelaskan sesuatu tapi tertahan setelah melihat lirikan tajam Elena.
"Ada apa dengan Nyonya, Bi?" tanya pak Dewantoro penasaran.
"Apa yang kau lakukan disini?! Pergilah!" bentak Elena kepada bi Mirna.
Bi Mirna setelah mendengar perintah sang nyonya langsung pergi meninggalkan kedua majikannya itu, pak Dewantoro pelan-pelan mendekatinya dan duduk disisi kasur itu.
"Sayang, katakan padaku.. Apa yang terjadi?" tanya pak Dewantoro untuk sekian kalinya.
"Pramudya Mas, Pramudya.. Hiks!" dia tak sanggup menceritakan tentang keadaan Pramudya, saat mengingat kejadian didalam video itu.
"Ada apa dengan Pramudya?" tanya lagi pak Dewantoro.
"Sebaiknya kau mencarinya sendiri, Mas! Aku tak sanggup!" ujar Elena kembali terisak.
Dia menyodorkan ponselnya dan memperlihatkan video tentang Pramudya itu, dia menangis tersedu-sedu mengingat nasib tragis putranya itu.
"Astaga!" teriak pak Dewantoro.
Dia tak bisa berkata ataupun berkomentar lagi, ketika melihat video itu hatinya bergetar tak bisa membayangkan perasaan Elena saat ini, pasti sangat hancur dan sedih sekali.
"Sudah, tidak perlu khawatir! Aku akan mengutus orang untuk menjemputnya sesuai alamat yang ada di video ini" ujarnya sambil menenangkan Elena.
"Kau sendiri yang jemput dia, tunjukkan bahwa kau adalah ayah yang baik untuknya dan benar-benar peduli dengan kami!" teriak Elena kesal.
"Ba-baik sayang, jangan marah lagi yahh..." ujarnya gugup.
Dia langsung pergi menuju ke tempat penampungan di panti sosial, dimana Pramudya ditempatkan oleh warga. Padahal dia belum berganti pakaian ataupun makan, dia langsung pergi menjemput anak tirinya itu, ditemani oleh mas Bram dan pak Johan.
"Beliau ini begitu peduli dengan istri dan anak tirinya meskipun mereka sering merepotkan nya, tapi malah sebaliknya dengan anak-anak kandungnya, mereka yang baik dan berbakti malah tak dianggap" gumam mas Bram sambil menyetir mobilnya.
.
__ADS_1
.
Sedangkan di perusahaan, Ericka penasaran apa yang membuat ayahnya begitu terburu-buru ingin pulang, apa yang terjadi di rumah sebenarnya.
"Apa yang terjadi, Bi?" tanyanya kepada bi Mirna di telpon.
"Nyonya pingsan, Nona. Karena apa saya kurang tau, tapi aku sempat mendengar nama tuan Pramudya disebutkan tadi.." kata bi Mirna menjelaskan.
"Ada apa lagi dengan anak itu? Hari ini aku juga belum mendapatkan laporan apapun dari Geraldine tentangnya" gumamnya.
"Ya udah, Bi... Makasih infonya" sambung Ericka lagi sambil menutup telponnya.
Dia menelpon Geraldine untuk melapor kepadanya, Geraldine datang dengan perasaan gelisah, terlihat dari ekspresi wajahnya dan gesture tubuhnya yang terlihat tak nyaman.
"Ada apa? Jelaskan padaku?" tanya Ericka datar.
"Sebelumnya saya mohon maaf kepada Ibu karena sudah bertindak diluar perintah Ibu, karena saya.. Semalam memintanya untuk pulang duluan tanpa tumpangan dari mobil saya, karena mobilnya tinggal di kantor" kata Geraldine menjelaskan sesuatu.
"Terus, apa selanjutnya? Apa yang terjadi dengan anak itu?" tanyanya lagi dengan penuh selidik.
"Saya bermaksud ingin mengerjainnya, dan membiarkan dirinya pulang sendiri dengan berjalan kaki, karena... Semua taksi sudah saya blokir untuk tidak berada di area sekitaran restoran ataupun sekedar lewat saja.
Dan.. Salah satu orang suruhan saya melihatnya dia naik mobil sedan merah, dan kami pikir itu temannya yang menjemputnya atau mungkin dia berhasil menumpang mobil orang" jawab Geraldine menjelaskan semuanya yang terjadi malam itu.
"Ya sudah.. Kamu boleh pergi sekarang, kita lihat saja kemana anak itu? Sampai saat ini belum ada kabar apapun darinya.." ujarnya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Maaf, Bu. Sebaiknya anda lihat dulu ini!" sekretaris Ericka masuk dan izin untuk membuka Chanel TV didalam ruang kerja Ericka itu.
Mereka ternganga tak percaya apa yang mereka lihat itu, didalam siaran tv itu diberitakan kalau salah satu putra konglomerat terkaya di kota mereka ini, ditemukan dalam keadaan linglung ditengah jalan dengan kondisi yang memprihatinkan.
"Be-benarkah itu Pramudya?!" tanya Geraldine tak percaya.
Bagaimana tidak dari penampilannya sangat berbeda dan aneh sekali, dengan tubuh tak berbusana sama sekali, badan kotor dan bau, ditambah lagi dia seperti orang ilang ingatan, diseret oleh orang pun dia diam saja.
"Sebenarnya, apa yang terjadi malam itu?" gumam Geraldine.
"Aku akan mencari tahu apa yang terjadi padanya malam itu, Nona." Katanya kepada Ericka.
__ADS_1
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, yang jelas jangan membahayakan diri sendiri" sahut Ericka.
"Baik, Nona!" balas Geraldine dan langsung pamit keluar dari ruangan itu.
"Segitu cepatnya kau mendapatkan balasannya, Pramudya! Aku baru saja menyiapkan skenario untukmu, tapi Tuhan memiliki rencana lain untukmu.." gumam Ericka sambil menerawang memikirkan apa yang terjadi saat ini.
//
Sementara Rendy di perusahaannya itu juga terkejut melihat berita yang disiarkan di seluruh TV nasional negeri ini, berita mengenai Pramudya menjadi trending topik saat ini, di media cetak maupun online juga semuanya mengenai dirinya saat ini.
Sampai Pricilia di pelosok pun tahu tentang berita mengenai dirinya, kini hatinya juga semakin yakin bahwa kakaknya juga terkena karma, bahkan dirinya merasa lebih baik daripada Pramudya yang dipermalukan secara mengerikan seperti itu.
//
//
Reva dan Nico hanya mengelus dada saya menonton berita di TV saat ini, mereka selalu beristighfar didalam hatinya. Memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari nasib buruk seperti itu, apalagi saat ini Reva tengah hamil juga.
"Aku sama sekali tak menyangka dia akan bernasib seperti itu, jujur saja aku sangat membencinya tapi setelah melihatnya itu... Rasanya tak tega saja" ucap Reva.
Nico hanya diam saja mendengar ucapan Reva, seandainya Reva tau apa yang dilakukan Pramudya kepadanya dulu, kira-kira dia akan berpikir seperti itu atau tidak?
"Seharusnya sejak dulu, dia harus merasakan semua ini, tapi aku tak pernah punya kesempatan membalaskan semua perlakuannya selama ini kepada Reva. Dan ternyata Tuhan memiliki rencana lain yang bagus untuk mempermalukan orang sepertinya" gumam Nico dalam hati.
.
.
.
Sementara itu pak Dewantoro ditemani oleh beberapa orangnya datang ke yayasan sosial yang menampung Pramudya, keadaan anak itu benar-benar miris sekali, sejak kedatangan pak Dewantoro dia hanya diam saja, matanya nanar menatap ayah tirinya itu.
"Sepertinya dirinya saat ini tidak dalam kondisi yang baik, Pak.. Kemungkinan dia mengalami guncangan yang sangat hebat, trauma yang dia alami ini mungkin membuatnya 'hilang kesadaran', dan kini kondisi benar-benar butuh pengawasan" ujar salah satu dokter ahli kejiwaan, dia ahli dalam penanganan orang-orang yang bermasalah seperti Pramudya saat ini.
"Simpan rahasia ini, jangan sampai media atau orang lain tahu mengenai Pramudya saat ini. Jika mereka mengetahui anak ini sudah gila, maka reputasiku bisa hancur juga olehnya!" perintah pak Dewantoro kepada anak buahnya yang lain.
Pak Dewantoro tak bisa berpikir lagi, dia harus bagaimana menghadapi Elena nantinya. Bagaimana jika istrinya nanti mengamuk juga kalau tahu keadaan anaknya saat ini?
"Sepertinya aku harus menyimpan aib ini serapat mungkin, aku tak mau Reva dan adik-adiknya makin memojokkanku lagi.. Anak ini, tidak boleh terekspos lagi!" gumam pak Dewantoro sambil memandang dingin Pramudya.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1