
Lelaki misterius berwajah tampan itu membawa Ericka kesebuah Rumah besar yang terlihat begitu mewah, dari depan saja Ericka sudah melihat gerbang rumah yang tinggi menjulang hampir menyamai tinggi rumah itu.
Gerbang rumah di cat warna hitam dengan list keemasan melambangkan begitu mewah dan misteriusnya si penghuni rumah itu.
Didepan gerbang itu ada dua orang penjaga yang membukakan pintu gerbang yang terlihat berat itu, setelah masuk mobil yang ditumpanginya itu ternyata masih lumayan jauh jarak antara gerbang dan rumah itu.
Ericka melihat disekelilingnya, ada kebun bunga yang cantik terhampar di samping rumah itu, disebelahnya ada taman hijau penuh pepohonan seperti hutan lindung mini.
Ericka juga bisa melihat banyak pengawal yang berjaga di sekitaran rumah, padahal sudah tengah malam tapi mereka masih berjaga siap siaga.
"Turun!" ujar lelaki itu tadi, membuyarkan lamunan Ericka.
Ericka pun turun tanpa perlawanan, percuma saja toh dia takkan bisa kabur juga, lagian Stanley sudah mengatakan kalau mereka bersahabat dan dia harus percaya kepada lelaki itu.
"Semoga Stanley tidak berbohong kepadaku, dan lelaki ini dapat dipercaya" gumam Ericka dalam hati.
Mereka memasuki rumah itu diikuti oleh beberapa pengawal yang berjaga diluar tadi, dan didalam juga ada beberapa pelayan yang sudah menunggu mereka.
Dikarenakan lampu rumah itu begitu terang tak seterang lampu kamar, mobil dan jalanan yang mereka lewati tadi, jadi Ericka bisa melihat dengan jelas wajah lelaki yang menolongnya itu.
Didepan itu, dia melihat wajah lelaki itu begitu tampan dan memiliki aura karisma tersendiri, membuat siapapun yang melihatnya jatuh hati kepadanya.
Sempat tertegun sesaat melihat wajah tampan itu, Ericka harus menyadarkan diri bahwa itu hanya ilusi semata saja. Wajah tampan belum tentu hatinya tampan juga, ya kan?
"Ini sudah tengah malam, aku capek dan aku rasa kamu juga capek. Ya kan? Istirahatlah, mereka akan mengantarkan kamu ke kamarmu sendiri, dan yang akan menyiapkan keperluan kamu selama disini" ujar lelaki itu, dia melangkah seperti orang kelelahan menuju anak tangga rumah itu.
"Tapi..." Ericka ingin menyampaikan pendapatnya, tapi lelaki itu sudah hilang masuk ke salah satu kamar yang ada di atas.
"Nona, mari ikut kami. Nanti kami juga akan menyiapkan keperluan Nona, jika ada kebutuhan yang lain, katakan saja. Nona" ujar salah satu pelayan itu.
Mereka akhirnya ikut juga mereka, diapun juga merasakan kelelahan setelah pergi dari rumah Stanley yang dipenuhi para penjahat, entah datang dari mana.
Ericka memasuki sebuah kamar yang cukup besar, ada sedikit keterkejutannya di sana. Entah mengapa, dia begitu rindu rumah setelah melihat kamar barunya itu.
Entah kebetulan atau tidak, kamar yang dia tempati sekarang ini desainnya begitu mirip dengan kamarnya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi harus dia buru-buru hapus sebelum air itu menetes ke pipinya.
"Tidak, jangan jadikan ini buatmu semakin lemah, Ericka. Kamu harus kuat" ujarnya dalam hati, menguatkan diri sendiri.
"Nona, apakah anda suka kamarnya?" tanya pelayan itu.
__ADS_1
"Suka kok, saya suka. Terima kasih" ucapnya tersenyum.
"Baiklah, Nona. Semua keperluan sudah kami siapkan, jika ada yang kurang atau perlu apapun silakan gunakan remote yang ada disamping tempat tidur, dan buku panduannya ada di sebelahnya" ujar pelayan itu lagi.
"Oh, iya. Makasih" ucap Ericka sedikit bingung.
"Kalau begitu kami permisi, Nona" ujar pelayan itu lagi sambil menutup pintu kamar Ericka.
"Ribet amat, mau manggil saja pake remote segala! Emang mereka robot yah?!" ujarnya kebingungan.
Dia langsung mengambil remote itu, ada banyak tombol dan bermacam-macam warna. Dan setiap tombol itu ada tanda yang tak dimengerti olehnya.
Dia lihat buku panduan dan membacanya, oh ternyata setiap tombol dengan berlainan warna menunjukkan kita akan terhubung ke siapa. Dan tombol yang memiliki tanda juga digunakan disaat darurat saja.
Tombol merah untuk memanggil pengawal jika dia dalam bahaya, tombol biru memanggil pelayan jika membutuhkan sesuatu, tombol hijau untuk memanggil bagian refarasi jika terjadi kerusakan, dan masih banyak lagi.
"Hufft, capek juga kalau begini. Sudahlah, toh aku juga tidak akan selamanya tinggal disini" ujarnya.
Dia berbaring di kasur yang lumayan besar, rasanya agak aneh baginya tidur sendirian dikasur besar itu. Kamar dan kasurnya di rumah ayahnya itu saja tak sebesar ini, membuatnya agak tak nyaman.
Karena kelelahan sepanjang hari dia disibukkan dengan hal-hal yang tak terduga olehnya, akhirnya dia terlelap lagi dan tak sadar pagi pun tiba.
"Selamat pagi, Nona. Sarapan sudah siap, sebentar lagi waktu sarapan akan dimulai. Sebaiknya Nona membersihkan diri dulu, kami akan membantu" ucap pelayan itu dengan ramah.
"Aku sangat lelah dan mengantuk sekali, bisakah memberiku waktu sebentar saja?" pinta Ericka dengan malasnya, dia masih mengantuk sekali.
"Maaf, Nona. Ini perintah dari tuan langsung" jawab pelayan itu.
"Kau tahu, aku baru tiba di rumah ini jam berapa? Yang jelas dini hari, dan aku bisa tidur mungkin beberapa jam sebelum matahari terbit! Bisakah memberiku waktu sedikit saja" pintanya sekali lagi dengan wajah memelas, matanya sangat berat sekali susah untuk dibuka.
"Tapi, Nona-" pelayan itu ingin memberikan penjelasan lagi kepada Ericka tapi dikejutkan oleh kedatangan lelaki itu.
"Kenapa kau masih diatas kasur?! Bangun, dan lekas mandi! Aku tunggu di meja makan!" ucapnya dingin sambil menatap Ericka yang masih malas-malasan diatas kasur.
Mendengar suara lelaki itu, Ericka langsung tersentak. Dia menatap seorang lelaki tampan yang dia lihat semalam sudah berpakaian rapi, lengkap dengan stelan jas tuksedonya.
"A-anda?" katanya bingung mau bicara apa.
"Cepatlah, aku tak punya waktu!" ucap lelaki itu lalu pergi meninggalkan kamar Ericka.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Permisi" ucap para pelayan itu.
Tanpa ba-bi-bu mereka melepas paksa pakaian yang melekat didirinya, tentu saja itu membuat Ericka terkejut bukan main. Bagaikan de javu dia mengingat kembali kejadian dimana dia diperlakukan dengan kasar oleh para pelayan-pelayan di rumah ayahnya waktu itu.
Cuma bedanya, para pelayan ini memperlakukannya dengan baik dan sopan. Meskipun pakaiannya dibuka paksa, tidak ada tanda-tanda kekerasan disana, dan mereka selalu meminta maaf atau izin dulu setiap kali membuka pakaiannya perlembarnya.
Setelah dia benar-benar polos tanpa pakaian, dia pun dibawa ke kamar mandi tentunya sebelumnya dipakaikan dulu handuk piyamanya menuju ke kamar mandi itu.
Bak putri raja, dia dilayani dengan baik saat mandi didalam bathub. Lengkap dengan air mawar dan berbagai macam-macam sabun, shampo hingga skincare lainnya.
Setelah itu dia dibersihkan dan diberi pakaian yang sangat bagus, meskipun desainnya sederhana tapi orang-orang bisa menilai harga barang yang dia pakai, bernilai jutaan dolar, ditambah perhiasan minimalis yang bernilai puluhan juta dolar itu menambah kelasnya naik beberapa level lebih tinggi dari sebelumnya.
Ericka didandani sangat cantik, meskipun bekas jahitan luka di wajahnya cukup besar tak menutupi kecantikan alami wajahnya itu.
Dia turun dari anak tangga itu menuju ke ruang makan, lagi-lagi bak de javu dia teringat disaat bi Mirna dan Milah yang mengantarkannya turun dari kamarnya saat hendak ke wisuda sekolah itu.
Disini juga dia disambut oleh beberapa pelayan dan pengawal dan diberikan penghormatan, mereka semua menundukkan wajah dan tubuh mereka saat Ericka melewati mereka semua.
Tentu saja itu semua membuatnya canggung dan kikuk karena tak terbiasa diperlakukan seperti itu, saat di rumahnya saja dia diremehkan oleh semua pelayannya. Sedangkan disini dia diperlakukan bak putri raja.
"Kenapa lama sekali? Ini hampir lewat waktu sarapan" ujar lelaki tampan tadi terlihat gusar melihat jam tangannya.
Dia sudah duduk didepan meja makan yang sudah tersedia berbagai menu sarapan dari berbagai negara, sepanjang meja makan itu semuanya penuh dengan makanan. Selaras dengan beberapa kursi kosong didepannya, hanya lelaki itu saja didepannya.
"Maafkan kami, Tuan" kata para pelayan itu.
"Sudahlah, waktunya sarapan" ucap lelaki itu dingin.
Ericka didudukan berhadapan dengan lelaki itu, jarak antara dia dengan lelaki itu cukup jauh mengingat begitu panjangnya meja makan itu. Dan yang makan hanya mereka berdua saja!
Sedangkan beberapa kursi yang kosong di sebelah kanan kirinya dibiarkan kosong begitu saja.
"Makanan sebanyak ini, siapa yang mau habiskan?! Kalau dibuang kan sayang, ini kenapa pula makannya berjauhan begini? Kalau gak suka dekat-dekatan ngapain ngajak sarapan bareng!" Ericka ngedumel sendirian.
Dia kesal dengan lelaki itu, benar-benar bossy banget sikapnya. Ditambah lagi mereka harus ditemani beberapa pelayan saat sarapan membuatnya benar-benar tidak nyaman. Bagaimana perasaanmu jika sedang makan terus ditungguin? Buru-buru karena tak enak makan ditunggu orang? merasa tak nyaman karena seperti diawasi? Atau bagaimana?
Coba koment dibawah yah!
...----------------...
__ADS_1
Bersambung