
"Tante.." dua orang yang selalu berseberangan idenya itu mendekati tante Sonia dan oma Mariani.
"Jadi, apa aja yang terlewatkan olehku? Coba jelaskan kepadaku apa yang terjadi, William? Erick?" tanya tante Sonia heran bercampur bahagia melihat dua keponakannya itu bersama kembali setelah sekian lamanya.
"Jadi, aku.." Erick terlihat ingin menjelaskan sesuatu tapi terlihat ragu.
"Bocil ini telah meretas keamanan kediaman keluarga besar tante dan juga Cctv-nya, kalau tante mau marah sama dia, marahin aja, aku ikhlas lahir dan batin.." ucap William dengan santainya.
"Kak!" Erick terlihat protes dengan pernyataan kakaknya itu, meskipun ada benarnya juga.
"Sudah, jangan marahi dia. Kalau tidak ada dia mungkin aku takkan ditemukan oleh Enzy dan diselamatkan.." sahut oma Mariani pelan.
"William..?" tanya tante Sonia meminta penjelasan.
"Hufft, sebenarnya aku gak sengaja melihat kalian tadi, aku berusaha tak peduli tapi hati nuraniku berkata lain, bagaimanapun kita ini keluarga terlepas dengan hubungan selama ini.
Tadinya aku mau lihat aja, tapi aku malah liat ini bocil diam-diam ngikutin kalian, aku takut dia bikin rusuh nantinya, makanya aku cegat dia sebelum bikin tawuran antar keluarga.." jawab William.
"Terus, kenapa kalian bisa sampai disini? Maksud dari ibu tadi apa? Kenapa Erick?" tanya lagi tante Sonia masih kebingungan.
"Jelasin sana, jangan celingukan bae!" ujar William kepada Erick gemes.
"Bukan begitu, Kak! Nanti kalau ada yang masuk dan lihat kita kan bahaya!" ujar Erick khawatir.
"Tenang, semuanya sudah aku atasi. Betul tidak, Nona?" ucap William sambil memandang genit kearah perawat tadi yang masih berjaga didepan pintu ruangan itu.
Perawat itu hanya tersenyum malu saat digoda oleh lelaki tampan nan gagah itu, siapapun takkan bisa lepas dari tatapan mempesona lelaki itu, William jika mode gombalnya keluar maka siapapun akan tergoda dan takkan mampu berpaling darinya. Hanya saja dirinya sekarang ini sudah insaf, si penakluk hati sudah hadir menundukkan dirinya, meskipun masih ada keraguan dihatinya, apa gadis itu menyukainya secara lawan jenis atau tidak, karena selama ini sikap Geraldine masih ambigu.
"Oma, Tante.. Sebelumnya aku minta maaf jika lancang dan bersikap kurang ajar kepada keluarga ini sebelumnya, aku tau.. Aku tak dianggap di keluarga ini, bahkan opa tak mengakui dan menerimaku sebagai cucunya, hanya kak William mau menerimaku meskipun sikapnya nyebelin.." ucap Erick sambil menunduk, segan.
"Hei, saudara!" William langsung menyahutinya tak terima dibilang nyebelin meskipun memang begitu kenyataannya.
"Jangan berbicara seperti itu, Erick. Kami tak pernah bersikap ataupun merendahkanmu, aku tau opamu tak mengakuimu, tapi aku dan om Seno menganggapmu sama seperti William, kalian adalah keponakan kami.
Tapi, akhir-akhir ini.. Aku perhatikan beliau sangat merindukan dirimu, diam-diam dia mencari keberadaanmu. Aku yakin didalam hatinya dia mengakui dirimu, Erick.." ucap tante Sonia mencoba menguatkan hatinya.
__ADS_1
"Sudahlah, Tante. Gak apa kok kalau memang dia bersikap seperti itu, aku sudah biasa.." ujar Erick sambil tersenyum, tapi mata tak bisa dibohongi dia menatap sendu dengan berkaca-kaca.
Oma Mariani hanya diam mendengarkan mereka, dia juga tak tau harus berkata apa dan bereaksi seperti apa. Karena dia juga tak ada ubahnya dengan opa Harja, tak menerima Larasati sebagai anak tirinya dan membuangnya begitu saja.
Bahkan dia tega merebut semua hak anak dan cucu tirinya itu, dalam diam dia menyesali semuanya, apa harus merasakan sakitnya dikhianati dulu maka baru sadar dengan semua kesalahannya? Yang jelas, dia benar-benar merasa kecewa dan marah kepada opa Harja karena telah mengkhianatinya dan juga telah menipunya selama ini.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan.." sahut oma Mariani.
"Oma, Tante. Aku selama ini bekerja dengan kak Nico, suaminya kak Reva.. Aku yakin kalian juga tau dengan dirinya, aku mengawasi kalian, memantau pergerakan kalian kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan maka aku akan melaporkannya kepada mereka.
Bukan bermaksud jahat, mereka tak mau jika terjadi sesuatu diluar kehendak mereka akan terjadi akibat perbuatan dari keluarga ini, mereka takut dan curiga bukan tanpa sebab, begitu banyak hal mencurigakan dari keluarga ini sejak awal yang selalu berkaitan dengan masalah yang menimpa keluarga mereka.." ucap Erick menjelaskan semuanya, tenggorokannya kering saat menceritakan itu semua, dia menatap oma dan tantenya itu bergantian, takut dengan tatapan horor mereka, tapi kenyataannya tidak. Mereka masih menyimak dengan sabar, mendengarkan penjelasan darinya.
"Untuk kejadian oma, seperti biasa aku sedang mengawasi kalian. Maaf.. Tapi aku tak sengaja melihat opa Harja sedang menerima telpon dari seseorang dan oma mengikutinya dari belakang, untuk selanjutnya oma pasti tau apa yang terjadi.
Aku tak mau melihat kematian lagi di depanku, jadi aku membuka pintu perbatasan antara ruang keluarga dengan taman itu yang sebelumnya ditutup dan dikunci oleh opa, agar Enzy bisa lewat dan menuju ke sana, sebenarnya aku juga takut kalau-kalau Enzy juga jadi sasaran opa, dan untungnya tidak terjadi apa-apa dengannya karena dia udah teriak histeris duluan..," ucap Erick lagi menjelaskan tentang kejadian itu.
"Memangnya apa yang terjadi di sana? Kenapa opa Harja sampai seperti itu hingga harus menyakiti ibu segala? Tolong, Bu! Jelaskan semuanya kepadaku!" ucap tante Sonia kesal, dan kecewa.
"Semuanya karena kesalahan dan kebodohan Ibu, Sonia. Seandainya ibu tak terlalu dekat dan percaya dengannya, maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Jika ingin marah dan melampiaskan semuanya, marahlah kepada ibu..
Padahal ibu tau, ayahmu sudah ikhlas menerima kepergian mendiang istrinya terdahulu dan lambat laun mau menerimaku, tapi tak bisa dipungkiri rasa cintanya kepadaku tak sebesar rasa cintanya kepada ibunya Laras, membuat ibu gelap mata dan tega mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan... Opa Harja, adiknya sendiri" ucap oma Mariani terguguh dengan perkataannya sendiri.
"A-apa?!" William dan Erick tak percaya dengan semua pernyataan oma Mariani, mereka sebenarnya tau tentang kedekatan opa dan oma, tapi mereka masih tak yakin dengan arti kedekatan mereka itu, sampai akhirnya mendengar pengakuan dari oma, membuat mereka begitu syok.
"I-Ibu..." tante Sonia sedikit bergetar hatinya saat mendengar ibunya sendiri mengakui semua kesalahannya itu.
Sebenarnya dia sudah tau semuanya, tapi ketika sang ibu sendiri mengakuinya membuat hatinya begitu sakit sekali, dia masih belum bisa menerima semuanya. Dia tak bisa membayangkan rasa sakit yang diterima oleh ayahnya mengetahui di khianati oleh istri dan adiknya sendiri.
"Aku dan Seno telah menerima karma apa yang ibu perbuat, kami dikhianati oleh pasangan kami karena mereka berdua selingkuh dibelakang kami, setelah Seno menjatuhkan talaknya kepada Sarah, sekarang mereka terang-terangan tanpa malu menunjukkan kemesraannya.." ucap tante Sonia sambil menitikkan air matanya.
"Maafkan ibu, Sonia.. Ini semua salah ibu" ucap oma Mariani ikut menangis bersama putrinya itu.
"Ini bukan salah oma ataupun tante, ini bukan salah kalian. Kenapa kalian merasa bersalah sendiri, kenapa kalian harus menanggung beban ini semua? Merekalah yang salah, mereka yang berbuat curang, mengkhianati kalian!
Oma, semua ini adalah milik oma dan kedua anak Oma. Pertahankan ini semuanya, soal cucu-cucu oma, serahkan saja kepada tante Sonia dan om Seno karena mereka orang tuanya.
__ADS_1
Lebih baik, sebelum terlambat. Urungkan semua rencana untuk menghalangi pemberian harta ahli waris kepada yang berhak, yaitu kak Reva dan adik-adiknya, agar kalian semuanya bisa hidup tenang." Ucap William ikut menjelaskan semuanya.
"Benar apa yang dikatakan oleh William, ibu. Kita tak berhak atas semuanya ini, ini adalah milik Larasati dan juga anak-anaknya. Kita hanya menumpang dan menyimpannya saja sampai mereka sendiri mengambilnya, stelah itu kita tak berhak lagi.
Lagian, kita sudah memiliki bagiannya sendiri, meskipun sedikit dan tak sama dengan dengan mereka miliki, setidaknya kita bisa hidup damai dan tentram, lagian aku dan Seno juga anak-anak pasti bisa memajukan perusahaan kita sendiri tanpa campur tangan om Harja!" sahut juga tante Sonia.
"Iya, kau benar. Tapi aku tak tahu menahu soal itu, Harja tak mengatakan apapun kepadaku tentang semua rencananya itu, bukan untuk menutupi semuanya, tapi itu faktanya.
Aku tak tahu jika selama ini dia sampai berbuat nekat seperti itu, aku tak menyangka ketika dia berkata akan melakukan apapun demi semua, ternyata yang dia maksud adalah ini..
Sonia, cepatlah bergerak! Jangan kau ulangi lagi kesalahan ibu, Nak! Tolong kasih penjelasan dan pengertian kepada anak-anakmu dan anaknya Seno, aku takut mereka akan terjerumus lebih dalam akibat ajaran dan didikan ayah dan ibu mereka, termasuk lelaki tua itu!" ujar oma Mariani khawatir dengan cucu-cucunya itu.
"Soal cucu-cucunya Oma, serahkan saja kepada kami! Mereka sudah tua bangkotan gak akan mempan kalau dikasih tau, dan mereka tidak akan mendengarkan semua penjelasan dari tante Sonia, om Seno maupun dari Oma sendiri.." sahut William, karena dia sangat mengenal para sepupunya itu dengan baik.
"William, anak-anak bangkotan itu adalah anak-anaknya tante dan om Seno.." ucap tante tak terima anaknya disebut bangkotan oleh William.
"Maaf Tante bukan bermaksud begitu, mereka itu sudah pada besar dan dewasa, semua perkataan, sifat dan ajaran mereka kepada anak-anak kalian sudah jadi panutan bagi mereka, akan sulit membuat mereka mengerti semuanya jika hanya lewat kata-kata lembut dan perbuatan bersahaja tante dan om Seno.." ujar William memberi penjelasannya.
"Maka dari itu serahkan kepada kami, kami akan membuat mereka akan cepat sadar atas semua kesalahan dari didikan dan pola pikir yang ditanamkan kepada mereka sejak dini.." sambung William lagi sok tau.
"Baiklah, Tante percaya kepada kalian. Tapi ingat jangan sakiti anak-anak Tante, ingat?!" ujar tante Sonia masih tak yakin dengan William ini.
"Iyaaa.." jawab William sambil tersenyum sumringah, membuat tante Sonia makin tak percaya saja.
Sedangkan Erick sudah was-was saja dengan pikiran kakaknya itu, entah ide gila apa yang akan dibuat oleh William dalam menghadapi para sepupunya yang menyebalkan itu, sedangkan diluar ruangan itu para keluarga sudah tak sabar mendengar kabar dari tante Sonia tentang keadaan oma Mariani.
"Apa yang dia lakukan didalam? Bukankah ini sudah terlalu lama?" tanya tante Sarah.
"Apa oma Mariani sudah siuman?" tanya Enzy, berharap Omanya lekas sembuh.
Tapi berbeda dengan lainnya, mereka berdoa agar wanita paruh baya itu tidak sadarkan diri selamanya, agar mereka lebih leluasa menggunakan kekuasaannya selama mungkin.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1