Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kepedulian Nico


__ADS_3

Sebelumnya.


Setelah Nico masuk ke kamarnya Reva, kepala pelayan masih bersama dengan dokter didepan.


"Apa yang terjadi, kenapa kau terlambat? Kau tahu sendiri, pak Nico orangnya sangat disiplin!" tanya kepala pelayan tersebut.


"Hari ini hari Minggu, aku libur. Aku membawa liburan keluargaku ke rumah saudaranya yang letaknya lumayan jauh dari sini.


Mana aku tahu kalau keadaannya segawat ini, ngomong-ngomong siapa gadis yang ditolong pak Nico?" tanya dokter itu juga penasaran.


"Aku juga tidak tahu, sudahlah! Kita gak usah ikut campur, terimakasih sudah datang Dok. Maaf jika pak Nico sikapnya masih kayak gitu," ujar kepala pelayan dengan ramah.


"Tidak apa, pak Nugroho. Saya memakluminya, kalau begitu saya permisi" kata dokter itu seraya pergi bersama asistennya.


Saat pak Nugroho, kepala pelayan itu. Ingin kembali ke tempatnya, dia dihubungi kepala security kompleks perumahan Nico.


"Halo, dengan pak Nugroho. Kepala pelayan rumah pak Nico?" tanya dia.


"Benar, siapa ini?" tanya balik pak Nugroho.


"Saya kepala Security di kompleks perumahan pak Nico. Saya ingin memberi laporan sekaligus konfirmasi tentang sesuatu, bisa?" kata security itu.


Pak Nugroho mempersilahkan security itu bertanya berbagai hal, kecuali hal pribadi atau hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan rumahnya.


"Pak, saya tadi melihat di kamera Cctv yang letaknya depan pintu gerbang utama. Ada sesuatu yang mencurigakan, sebuah mobil terlihat sedang mengikuti mobil pak Nico.


Mobil jenis SUV warna hitam, dia terlihat menepi dibahu jalan yang letaknya tidak jauh dari perumahan ini.


Aku tidak tahu apa tujuannya atau mungkin saja itu kebetulan, untuk berjaga-jaga saya akan mengirimkan file rekaman dari Cctv itu ke pak Nico" kata kepala security itu menjelaskan.


"Sebaiknya kirim saja file itu ke email pribadi saya saja Pak, saya rasa jangan dulu menghubungi pak Nico karena beliau tidak bisa diganggu saat ini.


kita selidiki bersama Pak, kalau sudah ketemu titik terangnya baru kita hubungi pak Nico dan bertindak sesuai perintahnya." Kata pak Nugroho.


Kepala security itu mengiyakannya, mereka mulai menyelidiki mobil siapa itu. Mereka mulai mencari beberapa kamera Cctv yang berkaitan dengan mobil itu.


Mulai dari jalur Nico keluar dari perumahan keluarga Reva sampai jalan menuju rumahnya, mereka menyelidiki semua kamera Cctv itu.


Dan benar saja, mobil itu sudah mengikutinya sejak keluar rumah Reva itu. Nico berinisiatif ingin membawa Reva dari sana, saat ini keselamatannya Reva yang lebih diutamakan.


*


Pagi-pagi sekali mereka sudah bersiap, ada sekitar tiga mobil yang pergi bersama mereka. Nico membawa beberapa perlengkapan mereka dan beberapa pengawal juga.


Saat ini Reva bingung, kenapa dia ada di rumah itu. Rumah yang nampak asing baginya. Dia terkejut saat menyadari pakaiannya sudah diganti.


"Rumah siapa ini? Kamarnya sangat luas, melebihi kamarku sendiri. Melihat ornamen dan furniture nya, sepertinya pemilik rumah ini orang yang berkuasa juga.


Tapi siapa dia? Kenapa membawaku kesini? Dan apa ini, sejak kapan pakaianku diganti?!" ujarnya terkejut.


Dia ingin turun dari ranjangnya, saat dia menapakkan kakinya terasa nyeri sangat hebat dikakinya itu.


"Aauhh!" teriaknya kesakitan.


Saat itu ada pelayan yang datang ingin membangunkannya, mendengar suara teriakan Reva buru-buru masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa Nona? Ya Tuhan, Nona. Kaki anda berdarah lagi! sebentar saya panggilkan tuan dulu" pelayan itu langsung pergi tanpa menghiraukan Reva yang sedang kesakitan.


Reva tidak peduli dengan pelayan itu, rasa sakit dikakinya itu membuatnya tak bisa berbuat apa-apa. Dia baru ingat dengan kejadian semalam.


Tapi setelah dia keluar rumah dalam keadaan kaki terluka dan kebasahan karena hutan, dia tidak ingat apa-apa lagi.


Setelah itu Nico datang bersama kepala pelayan dan pelayan tadi sambil membawa peralatan kesehatan untuk Reva, sesuai anjuran dari dokter semalam.


Reva tak mempedulikan kedatangan mereka, dia masih memegangi kakinya yang kesakitan itu.


Nico langsung menggendong Reva lagi ketempat tidur, lalu memulai membersihkan rembesan darah Reva yang keluar dari perban telapak kakinya itu.


Reva bingung harus bersikap bagaimana dengannya, di satu sisi dia merasa canggung dan risih tapi dia juga merasa nyaman. Diam-diam dia memperhatikan Nico, pria ini sangat telaten sekali merawatnya.


"Biarkan saya saja Pak, ini tugas saya merawat Nona" ujar pelayan tadi.


"Tidak usah, biarkan saya saja. Kamu siapkan saja sarapan untuk Nona, bawa sarapannya kesini. Jangan lupa obatnya juga" kata Nico memberi perintah.


Pelayan itu mengangguk lalu pergi untuk menyiapkan sarapan untuk Reva, sedangkan kepala pelayan sedang memperhatikan Reva, gadis cantik berkulit putih dengan rambut panjang hitam bergelombang.


Merupakan tipe wanita yang disukai bosnya itu ternyata seorang model terkenal, dia pernah melihat Reva sesekali muncul dilayar Tv.


Dia tersenyum bangga pada bosnya itu, anak muda ini sudah dia anggap seperti putranya sendiri. Karena sejak kecil Nico sudah diasuh olehnya.


Pak Nugroho sendiri memiliki seorang putra, dia adalah kepala pengawalnya Nico. Kemanapun Nico berada putranya itu selalu ada.


Dia sering menasehati dan mewanti-wanti putranya itu untuk tetap setia dan menjalankan tugasnya dengan baik. Putra pak Nugroho juga teman baik Nico, jadi dia mengerti sekali maksud dari ayahnya itu.


Nico menyadari kalau dia sedang jadi pusat perhatian Reva, dia tersenyum manis sambil melirik Reva.


"Maaf yah aku membawamu kesini tanpa persetujuan mu dulu, aku khawatir denganmu karena luka ini terus mengeluarkan darah, ditambah kamu juga pingsan.


Jadi, katakan... Apa yang harus aku lakukan jika melihatmu seperti itu?Aku yakin kamu juga tak ingin kembali ke rumah itu." Kata Nico menatap Reva dengan sendu.


"Aku yang berterima kasih denganmu, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan nasibku jika kamu tak datang.


Mungkin aku sudah dikurung dan dipasung oleh mereka, dan mungkin juga sudah mati kehabisan darah" ujar Reva.


Nico terlihat mendelik mendengar ucapan terakhir dari Reva tadi, terlihat ketidaksukaannya atas perkataan itu.


"Kamu jangan berbicara seperti itu, masih banyak orang-orang yang peduli denganmu Reva.


Dan satu lagi aku gak suka yah jika kamu mengatakan mati-mati, yang ada aku yang mati beneran karna kamu" ucap Nico dengan lembut sambil memegang tangan Reva.


Reva terharu sekali, baru kali ini dia merasakan perhatian yang begitu dalam dari orang lain. Biasanya dia hanya diperlukan jika dibutuhkan kehadirannya oleh orang-orang.


Jika dia tak dibutuhkan lagi, maka dia akan dicampakkan begitu saja. Nico sangat berbeda dengan orang-orang itu, dia tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hatinya.


Dan sekarang dia malah orang yang pertama menolongnya, dengan telaten dan penuh cinta dia merawat Reva. Dengan begitu, pelan-pelan Reva mulai membuka hatinya untuk Nico.


"Terima kasih yah, setelah aku sembuh akan ku usahakan mengganti semua yang telah kau berikan padaku saat ini." Ujarnya lagi.


"Jangan berkata seperti itu, aku ikhlas melakukan itu semua. Aku hanya minta sama kamu, jadilah dirimu seperti biasa.


Reva yang kuat, Reva yang berani. Jangan menyerah Reva, aku akan siap membantumu kapan saja" ucap Nico.

__ADS_1


Terlihat senyum mengembang di bibirnya, dia tahu bahwa pria ini berbeda dengan yang lainnya. Matanya memperlihatkan kejujuran dari semua perkataannya.


"Ehem, hem!" Pak Nugroho berdehem mengalihkan perhatian mereka berdua.


Nico terkejut, dia melupakan keberadaan pak Nugroho di sana. Reva tersipu malu, dari tadi diperhatikan oleh pak Nugroho.


"Maaf Tuan, mengganggu. Sebaiknya Tuan bersiap-siap untuk keberangkatan." Ujarnya.


Setelah itu, pelayan tadi masuk membawa sarapan dan obat untuk Reva.


"Baiklah, tapi setelah Reva sarapan dan minum obat baru kita akan pergi" jawab Nico sambil meraih sarapan disamping nakas.


Dia menyuapi Reva dengan makanan, Reva terlihat menolaknya tapi Nico sedikit memaksanya.


"Aku bisa makan sendiri, Nico. Aku bukan anak kecil, tidak terbiasa olehku makan disuapi yang ada aku menyuapi makanan" ujar Reva sedikit kesal.


Nico tidak menghiraukannya, dia masih menyuapi Reva makan. Mau gak mau Reva terpaksa menerimanya.


"Diamlah, saat ini kau adalah pasien. Terima sajalah, mau cepat sembuh 'kan kakinya? Makanya menurut saja padaku.


Lagian kalian para perempuan makannya lama sekali, biar aku suapi biar cepat. Nanti kita bisa terlambat" kata Nico masih menyuapinya.


"Emang mau kemana, pagi-pagi sekali sudah berangkat?" Tanya Reva penasaran.


"Kita akan pergi dari sini untuk sementara waktu, kita perlu tempat buat istirahat yang nyaman.


Agar kau tenang nantinya menjalani masa penyembuhanmu" kata Nico menjelaskan.


"Tidak perlu, antarkan saja aku pulang ke apartemen. Lagian hari ini ada rapat pemegang saham dan penunjukan kepemilikan Yayasan Mutiara Hati milik ibuku" kata Reva.


Dia teringat dengan pembicaraan dia dan keluarganya semalam, dia tidak ingin harta mendiang ibunya dikuasai terus-menerus oleh Elena.


Nico menatap tajam kearah Reva, dia memperhatikan wanitanya itu. Wajah pucat itu masih menghiasi Reva, masih sangat kelelahan sekali dia.


"Dengar, sayang..." kata Nico.


"A-apa, Sa-sayang?" ucap Reva tergagap mendengar Nico memanggilnya sayang, secara mereka bukan pasangan.


"Aku tahu tujuanmu itu, tapi itu bisa kita lakukan lain kali. Saat ini fokus saja dengan kesembuhanmu.


Kamu pikir Elena akan menyerahkan semuanya begitu saja kepadamu, tidak akan. Jadi kita akan pikirkan lagi bagaimana caranya menyerang mereka," ucap Nico.


"Justru itu, jika aku tidak akan datang maka dianggap menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab perusahaan dan yayasan itu kepadanya.


Dengan kata lain, aku memberinya hak atas kepemilikannya. Aku tidak mau Nico, itu milik ibuku! Hakku dan adik-adikku!" teriak Reva kesal.


Membicarakan adik, dia jadi teringat dengan Ericka. Apa kabarnya di sana? semoga dia baik-baik saja tanpanya.


"Kamu tenang saja yah, aku sudah memikirkan semua itu. Aku akan mengirimkan perwakilan darimu untuk menghadiri rapat itu.


Kamu jangan terlalu risau, meskipun nantinya kamu belum memilikinya sepenuhnya, tapi kita pastikan Elena tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan." Kata Nico.


Reva lega setidaknya dia tidak sendirian, masih ada orang yang mau membantunya.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2