Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Keberanian Bi Mirna Dan Gebrakan Baru Ericka


__ADS_3

Seperti biasanya, rutinitas di pagi hari keluarga itu diawali dengan sarapan bersama tapi pagi ini agak berbeda sedikit, karena mereka sarapan tanpa ditemani oleh pak Dewantoro.


Suasana dimeja makan itu begitu hening dan tegang, mereka diam dan saling beradu pandang hingga tibanya bi Mirna dan Milah datang bersama beberapa pelayan untuk menyediakan sarapan untuk mereka.


"Kenapa kau yang ada disini?! Kemana Nia?!" bentak Elena tak terima dilayani oleh bi Mirna.


"Maaf, Nyonya... Sesuai perintah dan keputusan tuan besar, mulai hari ini saya dan asisten saya yaitu Milah, kembali lagi menjabat sebagai kepala pelayan dan mengurus keperluan tuan dan Nyonya besar langsung.


Dan pagi ini adalah tugas kami yang pertama, kami akan melayani Nyonya dan tuan dengan sebaik mungkin dan bertanggung jawab penuh" jawab bi Mirna dengan sopan dan tegas.


Sesuai anjuran Ericka, untuk bersikap percaya diri menghadapi siapapun agar tidak terlihat lemah, bi Mirna melirik Ericka dan gadis itu hanya tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.


"Bagus!" bisik Ericka bangga.


Bi Mirna dan Milah hanya tersenyum malu dipuji Ericka, tapi tidak dengan Elena maupun Pramudya. Mereka nampak tak senang tapi mau gimana lagi ini adalah keputusan langsung dari pak Dewantoro.


Setelah selesai sarapan, sebelum pergi ke kantor Ericka menyempatkan diri untuk melihat isi gudang yang dia minta untuk dibersihkan Nia dan para pelayan yang lain.


"Hem, cukup bersih tapi aku belum puas. Bersihkan lagi ruangan ini, buat siapapun yang masuk kesini menjadi nyaman. Aku akan meminta bi Mirna untuk mengecek langsung hasil kerja kalian ini.


Kalau sudah bersih silakan lapor ke bi Mirna, jika katanya belum bersih maka bersihkan kembali hingga benar-benar bersih dan wangi, jangan coba-coba untuk malas-malasan karena aku akan tahu nantinya.


O ya, jika sudah bersih aku akan membawa beberapa perabotan kedalam ruangan ini, susun yang rapi dan bagus nantinya. Buat aku senang dan bangga dengan pekerjaan kalian, jika sesuai dengan keinginanku maka akan aku beri reward kalian.


Tapi jika tidak, jangan harap mendapatkan apapun dariku! Faham?!" tanya Ericka sambil menatap mereka semuanya.


Nia dan pelayan yang lain hanya mengangguk mengerti sambil menundukkan wajahnya tidak berani menatap mata Ericka, disisi lain Nia tidak terima diperlakukan seperti itu, dia dulunya adalah kepala pelayan dan suka memerintah tiba-tiba berubah posisi menjadi pelayan dan disuruh-suruh.


"Ini benar-benar memalukan, bu Mirna dan Milah selama ini aku perintah terus dan selalu di bawahku, sekarang aku yang berada diposisi itu! Ini memalukan sekali, aku tidak terima.


Aku mau lihat apa bu Mirna dan Milah masih takut padaku atau tidak, aku akan buktikan meskipun jabatan kami bertukar, tapi jiwa pemimpin masih aku miliki, haha!" gumam Nia sendirian.


Teman-temannya yang melihatnya begitu jadi agak khawatir padanya, merasa kasihan melihat anak itu menjadi stres karena kembali menjadi pelayan biasa lagi.


Sementara itu bi Mirna dan Milah masih terlihat gugup dengan situasi sekarang, selama kurang lebih lima tahun mereka menjadi pelayan biasa dan selalu diperlakukan buruk oleh Nia dan pelayan yang lainnya, tiba-tiba sekarang menjadi kebalikannya.


"Ingat, Bi... Kata nona Ericka kita harus berani menghadapi mereka semua, jangan mau ditindas dan diremehkan lagi. Aku sudah lelah diperlakukan seperti itu, aku ingin tunjukkan kepada mereka, bahwa kita juga bisa lebih kuat dari mereka semua" ujar Milah menyemangati bi Mirna.


Bi Mirna mengangguk mengerti, mungkin ada benarnya juga kata Ericka dan Milah untuk melawan mereka dan memberanikan diri untuk membela diri. Tidak lama kemudian, Nia datang bersama para pelayan yang lainnya.


Tingkahnya tidak berubah masih sama, berjalan angkuh didepan bi Mirna dan Milah dia ingin menunjukkan bahwa dia masih berkuasa dan tak takut pada siapapun, melihat tingkahnya itu membuat bi Mirna dan Milah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bu, sesuai perintah nona Ericka.. Aku harus melapor kepadamu kalau gudang itu sudah dibersihkan, sekarang silakan cek sendiri. Hoaaamm, aku capek sekali, ingin istirahat" ujar Nia mulai bersikap tidak sopan kepada bi Mirna.


"Baiklah, mari kita cek bersama-sama agar kita sama-sama tau hasilnya bagaimana. Kalian semuanya ikut juga," ujar Milah mewakili bi Mirna.

__ADS_1


"Cek aja sendiri, kami capek dari kemarin membersihkan gudang itu tanpa istirahat! Bukankah kalian sudah biasa melakukan hal itu?! Dan seharusnya ini pekerjaan kalian, sudah bagus kami yang membantu!" ketus Nia menjawab.


Plak!


Wajahnya memerah kena tamparan bi Mirna, semua orang yang ada di sana terkejut dibuatnya, siapa sangka wanita tua yang biasa mereka bully itu berani melawan dan menampar Nia.


"Ka-kau--" Nia nampak begitu syok dengan tamparan itu, dia merabah pipinya yang terasa nyeri itu.


"Aku tak menerima perlawanan atau bantahan dari siapapun, semua orang harus mengikuti perintah tanpa ada pertanyaan apapun juga. Jika masih tidak mengerti, aku akan membuat kembali jadwal-jadwal kerja kalian termasuk tugas-tugasnya.


Dan satu lagi jika ingin berbicara, lihat siapa yang kalian ajak bicara! Dari segi penampilan saja kita berbeda, apa kalian buta tidak melihat apa yang aku pakai sekarang!


Aku adalah Mirna Wati dan ini adalah asistenku Milah Khairunnisa, kami yang bertanggung jawab atas pekerjaan para pelayan di rumah ini tanpa terkecuali, sesuai perintah dari tuan besar langsung.


Aku harap kalian semua mengerti, bagi pegawai lama pasti faham cara kerjaku seperti apa. Selama ini aku diam dan lembut kepada kalian karena aku mencoba memahami keadaan dan situasi kalian.


Sekarang tidak lagi, tuan besar sudah percayakan ini semuanya kepadaku, jadi apapun yang aku buat mengenai peraturan urusan pekerjaan rumah ini adalah tanggung jawab tuan besar juga" ujar bi Mirna menjelaskan semuanya.


Semuanya terdiam, mereka menunduk tidak berani menatap wajah bi Mirna. Wanita tua yang selama ini mereka kira lemah tidak berdaya, ternyata sangat kuat dan pemberani. Bahkan Milah sendiri sampai melongo melihat aksi bi Mirna tadi.


Semuanya membubarkan diri, kecuali Nia dan pelayan yang membantunya membersihkan gudang itu, mereka kembali ke gudang yang sekarang menjadi sebuah ruangan entah mau dijadikan apa oleh Ericka.


"Pekerjaan kalian cukup bersih, tapi aku ingin kalian mengulanginya lagi siapa tahu ada yang terlewat oleh kalian, dan anggap saja ini hukuman bagi kalian yang bersikap tidak sopan tadi.


Untuk seterusnya aku tidak akan menerima ataupun mentolerir lagi sikap kalian yang tadi, aku akan langsung melaporkan kalian pada tuan dan mungkin akan langsung dipecat tanpa pesangon" ujar bi Mirna lagi.


"Bibi keren,, jika nona ada disini mungkin dia akan sama terkejutnya denganku melihat aksi Bibi tadi, hihi" bisik Milah sambil tertawa kecil.


"Huss, diam! Perhatikan saja kerja mereka" ucap bi Mirna malu.


//


Sementara itu, Ericka didalam perjalanan menuju kantor ayahnya, sesuai janjinya dia akan membantu pak Dewantoro di perusahaannya jika dia mengabulkan permintaannya.


"Hem, besar juga ternyata kantornya. Salah satu gedung tertinggi di kota ini, dan sudah memiliki nama besar juga sebagai salah satu pengusaha tersukses di kota ini, tapi memiliki segudang kontroversi. Ckckck..


Malang sekali nasibmu, pak.. Akibat lebih memilih kotoran daripada emas, yahh.. Begitulah, dan sekarang nikmatilah hasilnya memiliki istri sampah seperti dirinya itu" gumam Ericka sambil menatap gedung pencakar langit itu.


Dia diiringi oleh beberapa orang dan pengawalnya memasuki gedung itu, ternyata kedatangannya dan perannya di perusahaan itu sudah terverifikasi oleh semua orang. Maka tidak heran dia masuk tanpa harus melewati bagian keamanan dulu.


Semua orang menundukkan kepalanya untuk menghormatinya, dia menyapa semua pegawai itu dengan ramahnya dan bersiap naik ke lift menuju tiba-tiba tercetus ide gilanya lagi.


"Pak, saya mau nanya.. Apakah setiap pegawai sebelum masuk harus melewati bagian keamanan itu?" tanyanya kepada salah satu manajer yang bertugas melayani Ericka.


"Benar, Bu.. Tanpa terkecuali, selain para pemimpin dan direksi perusahaan ini" jawab manajer itu.

__ADS_1


"Baiklah, mulai hari ini semuanya harus melewati bagian keamanan tanpa terkecuali termasuk para pemimpin dan dewan direksi, kecuali pak Dewantoro dan aku, Ericka Victoria Wijaya" ujarnya memberikan perintah.


"Apakah itu termasuk pak Pramudya?" tanya manager itu hati-hati.


"Iya, termasuk bu Elena juga! Aku sering mendengar mereka suka membawa orang-orang luar yang tidak berkaitan dengan perusahaan ini, kita harus waspada jangan sampai kecolongan!


Dan ingat, siapapun yang ingin bertemu dengan pak Dewantoro dan para pemimpin dan dewan direksi yang lainnya harus ada janji dulu tanpa terkecuali, entah itu istri, anak, kerabat, teman ataupun selingkuhan mereka sekalipun" ujarnya menambahkan.


"Kecuali, pak Rendy Putra Wijaya dan ibu Revalina Wijaya, karena mereka juga pewaris dan penerus perusahaan ini juga.." sambungnya lagi.


"Baik, Bu.. Perintah akan kami laksanakan segera" jawab manajernya langsung pergi dari sana menghubungi para security untuk memeriksa setiap orang yang akan masuk ke kantor itu.


Ting!


Suara lift berbunyi, Ericka hendak masuk kedalamnya tapi dikejutkan oleh suara keras dari teriakan seseorang diluar sana, membuatnya urung untuk masuk kedalam sana.


Dia menghampiri kerumunan diluar sana, dia melihat ada beberapa security yang kewalahan menghadapi beberapa orang yang hendak menerobos masuk secara paksa.


"Ada apa ini?!" teriaknya kencang.


Semua orang jadi terdiam mendengar suara teriakannya, mereka ada yang menundukkan wajahnya setelah melihat Ericka dan ada pula yang menatapnya sinis dan marah kepadanya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian berteriak seperti itu?! Perusahaan ini bukan untuk menampung para preman seperti itu!" bentaknya.


"Maaf, Nona! Kami ini adalah para pemimpin dan dewan direksi perusahaan ini, kami tidak ingin diperlakukan seperti pegawai biasa. Bagaimanapun juga kami ini adalah pemimpin yang harus dihormati dan diberikan akses yang cukup mudah bagi kami" jawab salah satu direksi yang menunggu diluar itu.


"Aku tahu, ini akan menyulitkan kalian karena selama ini kalian diberikan akses kemudahan dari perusahaan dan kemewahan juga, kalian diperlakukan selayaknya seorang pemimpin disini.


Membuat kalian semua tidak sadar diri bahwa kalian juga seorang pegawai disini, jangan bertindak semena-mena disini karena semuanya punya aturan! Aturan dibuat bukan hanya milik pegawai biasa saja, tapi buat semua pegawai yang bekerja di perusahaan ini, termasuk kalian!


Aku yakin kalian semua memiliki name tag, tapi entah mengapa kalian tidak memakainya.. Kalian bisa masuk kedalam dengan memperlihatkan name tag kalian, dan akan ada absen sidik jari juga didepan ruangan kalian.


Jika tidak masuk dan tidak absen tepat waktu, maka gaji kalian akan dikurangi, itu tidak berlaku bagi karyawan biasa, tapi juga bagi para pemimpin dan dewan direksi seperti kalian.


Dan kalian juga harus memperingati istri dan anak-anak kalian untuk tidak seenaknya saja keluar masuk kedalam kantor ini, ini bukan hotel ataupun mall! Faham?!" bentak Ericka lagi.


Semua orang yang ada diluar sana terdiam dengan penuturan dan pernyataan dari Ericka, ada juga yang nampak senang terutama para pegawai biasa, karena mereka bisa melihat bagaimana para pemimpin dan dewan direksi itu tertekan dengan aturan itu sama halnya dengan mereka.


"Bu Ericka hebat, baru masuk saja dia bisa membuat para pimpinan itu terdiam!"


"Bagus! Paling tidak aku tak harus melayani dan meladeni istri dan anak-anak mereka yang suka seenaknya datang kesini"


"Biar mereka tahu, bagaimana rasanya bekerja dibawah tekanan bos!"


Itulah beberapa komentar para pegawai yang ada disana melihat kejadian itu, mereka senang akhirnya ada juga Bos besar yang bisa bertindak tegas kepada para pimpinan lainnya yang suka berbuat semaunya itu.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2