Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Aku Harus Bagaimana?


__ADS_3

Erick dan beberapa pengawal masuk kedalam gudang mereka ingin memeriksa keadaan lelaki itu, melihat ekspresi Nico sudah dipastikan lelaki itu sudah babak belur.


Mereka juga penasaran ingin tahu lelaki macam apa yang berani dan nekat telah berbuat jahat kepada kekasih bosnya itu.


Diluar gudang mereka mendengar suara orang menangis meraung, suara bariton berat itu terdengar menangis pilu.


"Siapa itu? Apa lelaki itu?" gumam Erick penasaran.


Mereka setengah berlari menuju gudang itu, mereka sekaget-kagetnya melihat Jamilah si wanita jejadian menangis disamping lelaki yang terbaring dilantai semen dingin itu.


Lelaki itu tidak berbusana sama sekali dan keadaan kepala terluka parah, darah segar mengucur dari kepalanya. Jamilah menangis disampingnya sambil memukuli lelaki itu dengan perasaan hancur.


"Aah! Abang, kenapa Abang tega sama adek. Hweek! Abang, hik! Tau ga, adek sudah banyak berkorban sama Abang. Nih dodol surondol punya adek masih bengep Bang, bekas abang aduk-aduk dulu.


Ahh! Abang, kenapa jahara sama eike! Kesel,kesel,kesel! Awas ya Bang, eike potong tu otong! Whaaaa!" ujarnya teriak sambil menangis.


Saat berbicara sambil menangis dia masih bisa mengkondisikan suaranya yang masih mendayu-dayu, tapi saat-saat terakhir dia tak bisa mengontrol lagi suaranya.


Suara bariton itu dipakai teriak rasanya mau gempa saja, Erick dan pengawal lainnya ragu untuk mendekatinya. Salah-salah mereka yang kena lagi, jangan ganggu bencos yang lagi berduka.


Entah darimana dia mendapatkan pisau, tiba-tiba saja sudah ada ditangannya. Dia sudah siap-siap mengarahkannya ke otong si lelaki.


"Tu-tunggu! Jangan lakukan itu, bahaya!" teriak Erick, tanpa sadar dia juga memegangi otongnya.


"Tenang saja, aku gak akan potong otongmu" ujar Jamilah, si wanita jejadian itu.


Dia melihat Erick dan para pengawal lainnya tampak meringis sambil memegangi otong mereka, mereka tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi pada mereka semua.


Hilang sudah kejantanan mereka, harga diri sudah tak ada lagi. Keinginan punya keturunan pupus sudah, alamat bakalan jadi bencos juga kalau begitu. Mereka semua kompak menggelengkan kepalanya saat sama-sama membayangkan hal itu jika terjadi kepada mereka.


Set! Croosss!!


"Akkh!!""


Dan benar saja, sekali tebas itu otong langsung putus. Darah segar muncrat kemana-mana mengenai tubuh Jamilah, lelaki itu terbangun dari pingsannya terus berteriak kesakitan dan pingsan lagi.


Erick dan lainnya seketika merasa mual, bermacam-macam ekspresi mereka saat melihat kejadian horor dimata mereka langsung.


"Hueeekk" mereka muntah seketika melihat Jamilah sedang memegangi otong yang sudah terpotong dari inangnya, darahnya masih berceceran.


"Ini pelajaran buat iyei-iyei semua, jangan buat wanita murka. Heh! Kalau gak, tuh otong nasibnya bakalan sama kayak gini! Awas, jangan selingkuh!" ujarnya sambil berlalu keluar dari gudang itu.


Saat Jamilah melewati mereka semua, secara tidak sadar mereka menjauhinya dengan wajah ngeri. Dia berjalan santai melewati mereka sambil memainkan otong tak bertuan itu.


Mereka mendekati lelaki itu, ada rasa kasihan juga mereka karena dia merasakan rasa sakit dua kali dan pingsanpun dua kali juga.

__ADS_1


"Darahnya masih mengalir, cepat cari sesuatu yang bisa menghentikan aliran darah ini" ujar Erick memberi perintah kepada pengawal lainnya.


Dia masih mual melihatnya, bagaimana tidak itu otongnya terpotong habis tidak tersisa. Mereka menemukan kain kotor di sana dan digunakan untuk menutupi luka bekas otongnya itu.


//


//


Sedangkan ditempat lain, Nico sudah sampai di rumahnya. Dia meminta para pelayannya untuk membersihkan Reva dan memberikan baju bersih untuknya.


Dia juga memanggil dokter pribadinya, kali ini dokter datang bersama istrinya yang seorang dokter juga.


"Maaf mengganggu waktu kalian, tapi aku benar-benar meminta tolong. Teman wanitaku dalam bahaya, aku tak bisa menjelaskan secara detil kalian bisa periksa sendiri." Katanya dengan perasaan campur aduk.


Kepala pelayan mengerti keadaan Nico, dia membisikan ke dokter keadaan sebenarnya. Dokter itu mengerti kenapa Nico juga meminta istrinya untuk ikut juga, ternyata ada alasannya.


"Baiklah, Pak. Kami mengerti" ucapnya sambil berlalu pergi.


Nico meninggalkan mereka dan menuju ruang kerjanya, dia menelpon beberapa orang untuk mengintruksikan sesuatu dia sedang merencanakan rencananya yang sudah lama tertunda.


Tok! Tok! Tok!


Kepala pelayan datang menemuinya untuk mengatakan kalau pemeriksaan sudah selesai, Nico buru-buru keluar dan ingin mendengar hasilnya.


"Pak, sebelumnya saya ingin bertanya kepada anda. Tapi saya juga mohon maaf jika bertanya sesuatu hal pribadi kepada anda" ujar dokter itu.


"Katakan saja apa yang ingin kalian tanyakan padaku" ujar Nico.


"Pak, apakah anda mencintainya dengan tulus?" tanya istri dokter itu.


"Tentu saja aku mencintainya dengan tulus, bahkan aku rela berkorban apapun untuknya" jawab Nico dengan lugas.


"Termasuk dengan segala kekurangannya?" tanya dokter itu lagi.


"Iya, dan saya tahu apa yang saya lakukan itu benar" jawabnya dengan yakin.


Kedua pasangan dokter itu saling pandang lalu menghela nafasnya bersamaan, mereka menatap Nico dengan tatapan terharu. Nico tahu pasti ada sesuatu, dia sudah menebak akhir pembicaraan itu.


"Katakan saja, aku akan mendengarkan. Apapun itu hasilnya aku bisa menerimanya meskipun berat, dan aku... Akan tetap menerima dia" berat sekali dia mengatakan itu.


Rasa sakit yang dia tahan selama ini masih dia rasakan, dia sudah bertekad akan selalu menemani Reva. Dia meremas ujung bajunya, menahan perasaannya.


pandangannya tertunduk dan memejamkan matanya dia sudah siap mendengarkan hasil pemeriksaan itu, jantungnya berdetak tak karuan dan gerakan tubuhnya yang begitu gelisah.


"Pak, aku tidak tahu bagaimana perjuangannya mempertahankan dirinya. Tapi melihat beberapa luka lebam ditubuhnya, aku yakin dia sudah berusaha" ujar dokter itu.

__ADS_1


Nico menghela nafas dengan berat, dia tahu begitu berat posisi Reva saat itu. Bagaimana tidak dia harus menahan tubuh besar itu dengan keadaan lemah, ditambah lagi lelaki bejat itu memperlakukannya dengan kasar.


"Pak, dia wanita hebat. Entah bagaimana caranya dia masih mempertahankan kehormatannya meskipun area v*gina luarnya sudah terbuka.


Aku yakin sekali pria itu sudah memasukan alat kel*minnya tapi tidak selesai, sehingga selaput daranya masih terjaga dan tidak ada sobekan disana" ujar istri dokter itu.


'Ta-tapi aku lihat dia dan lelaki itu su-sudah..." tenggorokan Nico tercekat mengatakan itu.


Dia masih tidak percaya kalau Reva masih perawan sampai saat ini, dia senang mendengar hal itu tapi membayangkan itu terjadi pada saat lelaki itu menyetubuhinya.


Pikirannya menjadi kacau, dia lebih baik mendengar fakta kalau dia sudah tak perawan lagi karena sudah melihat kejadian itu langsung daripada mendengar dia masih perawan padahal mereka sudah dalam posisi seperti itu.


Seandainya Nico tak melihat mereka seperti itu secara langsung, dan dokter mengatakan dia masih perawan maka ia akan percaya sepenuhnya.


Tapi, lelaki mana yang tak sakit dan kecewa melihat pasangannya dalam keadaan tak berbusana dengan lelaki lain dan posisi mereka sedang bertempur, meskipun itu kasus pelecehan atau pemerkosaan.


Tak ada lelaki di dunia ini bisa menerima itu, apalagi itu diketahui oleh semua orang. Harga dirinya terluka, entah bagaimana dia bisa menjalani hubungan itu jika sudah tak saling percaya.


"Tapi memang begitu buktinya, dan aku harap Bapak tidak melupakan pernyataan yanga Bapak ucapkan tadi.


Ingat Pak, wanita manapun tak pernah ingin berada di posisi itu. Dia hanya korban, jangan hina ataupun sakiti hatinya. Dengan keadaan seperti ini saja sudah melukai hatinya, jangan tambah lagi luka itu.


Jika anda tidak sanggup menerimanya, lebih baik tinggalkan saja dirinya sekarang daripada akan menyakiti diri sendiri.


Jangan berdalih karena cinta apalagi kasihan, karena cinta itu bukan untuk saling menyakiti dan cinta juga bukan karena kasihan tapi karena kasih sayang." Ucap dokter wanita itu.


Dia bisa merasakan kegelisahan hati Nico, naluri seorang wanita mengatakan jika lelaki didepannya ini meragukan kekasihnya.


Nico hanya terdiam tatapannya nanar, terlihat diwajahnya dia nampak gelisah. Dia langsung meninggalkan mereka dan menuju kamar Reva dirawat.


Kedua dokter itu dan kepala pelayan kasihan melihat kisah mereka berdua, bukan salah keduanya jika musibah itu terjadi. Keduanya tak pantas menerima rasa sakit itu.


Nico membuka pintu kamar itu pelan-pelan, dia tidak ingin mengganggu waktu istirahat Reva. Dia memandangi sekujur tubuhnya yang terselimuti selimut tebal, Reva nampak tenang dalam tidurnya.


Wanita cantik itu tidak akan pernah tahu kehidupannya akan sesakit ini, dan sekarang kekasihnya berdiri disampingnya menatapnya tak percaya.


"Reva, aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku diam saja dan berpura-pura tidak tahu, atau aku pergi meninggalkanmu?


Reva, aku mencintaimu dan ingin terus bersamamu tapi aku tak percaya jika kau tak menikmati rasa itu.


Aku harus bagaimana, Reva. Aku harus bagaimana ..." ujarnya lirih menitikkan air matanya.


Nico memegang kedua tangan Reva dan menciumnya lembut, dia tertunduk menangis dan berusaha menyembunyikan air matanya itu. Sakit...


...----------------...

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2