
"Mika, panggil dia kakak! Dia kan lebih tua daripada kamu" ujar Andriana memberitahu Mika, adik sepupunya itu.
"Iya, tapi dia kan belum jadi kakak ipar! Entar kalau kalian sudah menikah, baru dengan segala hormat aku akan memanggilnya kakak ipar!" sahut Mika sambil menyuapkan nasinya.
Saat ini mereka semua sedang makan siang disebuah saung yang letaknya tak jauh dari sawah pamannya tadi, hubungan Andriana dan adik sepupunya ini sangat dekat sekali.
Sampai kelakuan mereka pun hampir mirip, sifat Mika mengingatkan Rendy saat pertama kali bertemu dengan Andriana, cuek dan kesan tak peduli dengan orang-orang disekitarnya.
"Dia mirip denganmu waktu kita pertama kali bertemu, saat diajak kenalan juga kamu juga begitu dulu, sibuk makan!" ujar Rendy menggoda Andriana.
"Tapi aku manis kan.." ucap Andriana sambil tersenyum menggoda sang kekasih.
"Huek!" Mika mual mendengar dua insan tersebut saling menggoda.
"Mika!" semuanya kompak mendelik kearahnya.
"Hehe, sorry-sorry tiba-tiba keselek biji cabe!" ujarnya ngeles.
"Ada orang keselek biji cabe kayak gitu?!" tanya Andriana kesel.
Semuanya hanya tersenyum saja melihat perdebatan ringan antara kakak adik itu, terlihat ibunya Mika begitu telaten melayani mereka makan, dia sangat baik dan keibuan.
"Habiskan makannya, nak Rendy. Kalau gak kuat kerjain semuanya, istirahat aja lagi yah. Jangan dipaksakan.. Lagian, kamu kenapa juga nurutin kemauan pamanmu itu? Dia kan memang seperti itu!" ujar bu Minah, ibunya Mika.
"Gak apa kok, Tante. Saya senang aja kok, sudah lama gak gerakin badan.." sahut Rendy sambil terkekeh.
"Masa' tadi kayaknya habis ngeluh gitu.." goda Andriana dan Mika kompak.
"Kalian ini, kalau soal ngerjain orang nomor satu!" sahut bu Minah sambil geleng-geleng melihat tingkah anak dan keponakan suaminya itu.
"Ayah mana, Bu? Tadi habis makan langsung pergi aja!" tanya Mika.
"Katanya ada urusan bentar, kalian makan saja dengan tenang, habis ini istirahat saja dulu ya, Ren.. Diluar panas banget, ntar pingsan lagi kamu, haha! Sudah ya, tak tinggal dulu.." ujar bu Minah ramah.
Rendy sangat senang bisa berkumpul dengan keluarga Andriana, mereka sangat baik dan mau menerima dirinya apa adanya, tanpa memandang harta dan jabatannya.
"Aku rasanya tak ingin pergi dari sini, bagaimana kalau kita menikah saja sekarang, dan tinggal disini? Jadi petani pun tak apa asalkan bisa hidup damai terus dan bahagia seperti ini.." ucap Rendy yang begitu tiba-tiba.
"Uhuk-uhuk! A-apa?!" Andriana terkejut dengan pernyataan kekasihnya yang seperti itu.
"Ngebet banget pengen kawin, lu! Ntar, lulus apa kagak nih ujian dari ayah? Udah pantes belum jadi kakak ipar gw?!" sahut Mika juga.
"Mika.." tegur Andriana.
"Hehe! Sorry-sorry.. Aku hanya mengungkapkan kebahagiaanku saja karena berada disini, sangat damai dan tenang sekali, jauh dari kebisingan ibu kota" ucap Rendy lagi.
Membuat Andriana dan Mika tersenyum lega, kan repot kalau tiba-tiba dia ngajak nikah hari ini juga, dipikiran Mika dia harus nyiapin persiapan juga kalau kakak sepupunya itu menikah, karena mereka sangat dekat sekali.
"O ya, Mika. Tadi yang nelpon Rendy siapa yah?" tanya Andriana penasaran.
"Cewek, kenapa cemburu yah?!" ledek Mika.
"Bukan gitu, soalnya tadi Ericka, adiknya Rendy juga nelpon, jangan-jangan dia lagi.." sahut Andriana.
"Apa?! Mampus Gw!" ujar Mika terkejut sambil menepuk jidatnya.
"Kenapa?!" tanya Andriana dan Rendy penasaran.
__ADS_1
"Tadi tuh cewek nelpon emang nanyain Rendy sih, eh kak Rendy! Orangnya kayaknya galak gitu, terus aku bilang aja kalau kak Rendy lagi di toilet!" jawab Mika agak nightmare liat muka kakak sepupunya itu agak ditekuk begitu.
"Ya ampun, Mika! Itu sudah pasti Ericka, dia pasti mikirnya aku selingkuh dari kakakmu! Dia pasti akan melakukan sesuatu kepadaku jika ternyata aku selingkuh beneran, ckck!" sahut Rendy, mendahului Andriana yang bersiap memarahi adiknya itu.
"Yaaa, aku gak tau. Maaf.." ucap Mika pelan, merasa bersalah.
"Ya udah, gak apa. Aku yakin dia juga tau kok.." ucap Rendy lagi.
Andriana urung memarahi adiknya itu ketika melihat ekspresi Rendy kembali biasa-biasa saja, dia malah jadi tak enak dengan Ericka.
"Habis ini aku akan menghubungi Ericka, pasti anak itu sangat khawatir sekali..," gumam Andriana.
.
.
Di kantornya, Ericka hanya geleng-geleng saja kalau mengingat kejadian tadi pagi. Dia seperti mau perang saja membawa orang segitu banyaknya hanya karena khawatir dengan sang kakak.
Triiing! Triing!
"Iya, halo?" sapanya saat menerima telepon dari seseorang.
"Iya, kak. Gak apa.. Iya, tau kok, soalnya aku udah cek sendiri tadi, he'em.. Maaf, gak sempet mampir soalnya harus kembali ke kantor, pekerjaan banyak, hehe..
Oh, jadi namanya Mika.. Adik sepupu kakak? Wah, kayaknya seru temanan sama dia, haha! Iya, tenang saja.. Ya udah, jangan suruh kak Rendy istirahat mulu, dia harus taklukkan hati calon mertua dan adik iparnya itu, haha!
Iya, slowly aja kak.. Haha, iya.. Aku masih di kantor bentar lagi mau makan siang, ya udah.. Bye.." Ericka menutup saluran telponnya.
Dia terkekeh sendiri saat mendengar penjelasan dari Andriana tadi saat ditelpon, ketika dia mengetahui kejadian sebenarnya, dan benar saja, dia mengkhawatirkan sesuatu yang tak penting.
"Kenapa senyum-senyum sendiri, kayak orang gila aja!" tiba-tiba ada yang menegurnya.
"Gak akan, kamu masih muda dan jika akan jantungan maka sudah dari dulu, karena hidupmu itu penuh kejutan! Lagian, kenapa melamun sambil tersenyum-senyum gitu?" tanya Erick penasaran.
"Mau tau aja.." ujar Ericka cuek.
"Ish, kok gitu jawabannya.." sungut Erick.
"Sudah, mau apa kau kesini? Ada laporan apa lagi?" tanya Ericka tanpa basa-basi.
"Aku mau cerita jika si target lagi kewalahan, nyari kak Nico gak ketemu-ketemu, haha! Dan dia pindah target, eh si Rendy juga ngilang tiba-tiba, haha!" ujar Erick ketawa senang.
"Wajarlah, kan kak Nico lagi di luar negeri. Terus kak Rendy lagi ada urusan diluar kota.." sahut Ericka sambil tersenyum.
Dia tak mungkin juga cerita tentang sang kakak, yang lagi menjalani misi buat penyelamatan harga diri didepan keluarga Andriana.
"Oke deh, aku mau ngintip lagi.." ujar Erick lagi.
"Ngintip??" tanya Ericka heran.
"Spy-spy.. Ya Tuhan!" ucap Erick lagi.
Ericka tersenyum geli melihat tingkah si Erick, meskipun dia terkesan slengean dan caper, tapi dia sangat baik dan perhatian, anak itu juga tak jauh beda dengannya, sama-sama broken home.
.
.
__ADS_1
.
Sementara itu, di sore harinya.
Reva sudah pulang ke rumahnya, dia tengah duduk bersantai didepan gazebo yang letaknya tak jauh dari taman rumahnya.
Dari kejauhan dia sempat melihat ada bayangan orang yang mengintip dari luar, bayangan itu semakin dekat dengannya, sepertinya orang itu tidak tahu jika didekatnya ada Reva.
"Siapa orang itu? Mau apa dia? Apa beberapa pengawal di rumah ini tidak tau ada orang yang diam-diam menyelinap kesini?" gumamnya kesal.
Reva menekan tombol untuk panggilan darurat dari gazebo itu ke rumah utama, dan langsung tersambung ke kepala pelayan.
"Iya, Nyonya.. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Ada seseorang yang menyelinap ke rumah ini? Apa yang kalian lakukan?! Cepat kirim beberapa pengawal untuk memeriksanya!" perintahnya.
"Baik, Nyonya. Perintah segera dilaksanakan.." ucap kepala pelayan itu masih bingung.
Dia berpikir, siapa kira-kira yang berani melakukan hal itu di rumah yang paling besar dan paling disegani di kompleks ini? Setau dia tak ada orang yang berani melakukan hal itu, kecuali..
"Hem, sepertinya dia belum memberitahukan kepulangannya ini.." gumam kepala pelayan itu sambil terkekeh.
Reva sengaja pulang lebih awal dari biasanya, karena dia tak ingin memforsir tenaganya lebih banyak dalam bekerja, karena dirinya tengah hamil. Apalagi sang suami terus mewanti-wanti agar dia harus pulang lebih cepat dari biasanya.
Grep!
Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang, tentu saja membuat Reva terkejut, dia merasa dirinya dan anak didalam kandungannya dalam bahaya, dia mulai bersiap melakukan perlawanan.
Brakk!
Orang itu dia banting dengan jurus taekwondo yang pernah diajarkan oleh Nico dulu, yang lebih mengejutkan lagi ketika dia tahu siapa yang dia banting itu.
"Sa-sayang?! Nico! Sejak kapan kamu ada disini? Kenapa pulang gak bilang-bilang?!" ujarnya kebingungan.
Dia panik ketika Nico meringis kesakitan, siapa tahu jurus yang dia ajarkan kepada Reva malah dia juga duluan yang merasakan bantingan Reva.
"Sayang, kok kamu kuat banget sih?! Sakit banget.." keluhnya.
"Rasakan! Lagian iseng banget jadi orang, sudah tau aku sekarang lagi sensitif soal kehamilan ini, kamu mau aku sama anakmu ini kenapa-kenapa?!" cecar Reva.
"Mampus, niat hati mau memberikan kejutan, malah kena omelan, mending dapet pelukan, yang ada aku dibanting" gumam Nico bersungut kesakitan.
"Apa?!" tanya Reva mendengar dia bergumam sesuatu.
"Ti-tidak, tidak ada apa-apa, hehe.." ujarnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kepala pelayan dan pengawal yang baru datang hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bos mereka itu, dia begitu galak dan dingin kepada mereka, tapi saat bersama istrinya dia bukan siapa-siapa.
"Dasar STI.." ucap kepala pelayan.
"Apa itu?" tanya pengawalnya.
"Suami Takut Istri.." jawab kepala pelayan seraya pergi meninggalkan mereka.
Semuanya pergi mengikutinya, karena tidak ada bahaya apapun di sana, hanya majikan mereka saja yang sedang melepas rindu.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung