
Nico mendorong kursi roda itu menuju teras samping Villa, pemandangan dan udara sejuk di sana tak membuat hati Reva tenang. Dia hanya diam membisu, dengan wajah yang datar.
"Bagaimana, apa kamu betah tinggal disini? Udaranya sejuk, jauh dari kebisingan kota dan polusi udara. Aku pikir, untuk tinggal disini lebih lama" kata Nico memecah keheningan.
Reva hanya diam saja, Nico menghampirinya duduk didepannya sambil menatap lekat matanya. Digenggamnya tangan lembut itu, dia mencium pelan tangan halus Reva.
"Reva, aku tidak tahu harus berbuat apa dan harus bagaimana mengungkapkan perasaanku kepadamu. Tapi aku tahu, kamu juga menyukaiku.
Reva, aku tidak ingin kita seperti ini saja. Aku ingin kita selalu bersama, dan aku rela melakukan apa saja demi kamu, demi kebahagiaan kita.
Bahagia kamu, tanggung jawabmu dan hidupmu juga bagian dariku, aku tak ingin kamu menanggung beban sendirian. Aku ingin meringankan bebanmu...
Reva, sebelumnya aku minta maaf jika berbuat lancang dan dianggap tidak menghargaimu, tapi percayalah aku melakukan semua ini demi kamu, demi kalian semua" kata Nico mengungkapkan perasaannya panjang lebar.
"Langsung saja ke intinya, maksud kamu apa? Apa kedatangan mereka semua ada hubungannya dengan segala omonganmu itu?" Ucap Reva dingin.
Nico mulai pusing lagi dengan sikapnya itu, baru saja dia bahagia dengan sikap lembutnya Reva, kini gadis itu kembali dingin kepadanya.
"Reva, aku tahu permasalahan antara kamu dan keluargamu. Aku juga sudah mengirim pengacara untukmu, mereka datang kemarin sebagai perwakilanmu ke rapat pemegang saham itu" ujar Nico menjelaskan maksudnya tadi.
"Maksud kamu apa? Pengacara? Apa kalian lakukan di sana?" Sahut Reva nampak terkejut mendengar penuturan Nico.
"Kami akan menuntut nyonya Elena Bexxa atas kepemilikan perusahan dan yayasan yang dia pegang selama ini.
Kamu dan adik-adikmu berhak atas itu semuanya, kalian sudah besar dan dewasa berarti sudah bisa mengelola semua itu sendiri.
Bagaimanapun juga kalian adalah ahli waris yang asli, dan dia seharusnya sudah lama menyerahkan itu semua. Maka dari itu-" belum selesai Nico bicara sudah dipotong omongannya oleh Reva.
"Siapa yang menyuruhmu melakukan semua itu?! Siapa! Aku tidak pernah memintamu melakukan semuanya, aku tak perlu belas kasihanmu.
Aku bisa sendiri melakukannya, mereka adalah tanggung jawabku. Adik-adikku jangan kamu ganggu" ujarnya marah, emosi Reva mulai tak stabil lagi.
Nico tahu ini akan terjadi jika dia mengatakan semua tujuan dan rencananya, Reva pasti akan marah dan tidak setuju. Tapi kedua sahabatnya bersikeras harus memintanya berbicara jujur kepada Reva.
Dan dia harus bertanggung jawab atas semua konsekuensinya, mata Reva mulai berkaca-kaca dia mengutuki diri sendiri. Dia merasa mulai terlena dengan segala kebaikan dan perhatian Nico, sampai melupakan hal penting lainnya.
Dia merasa bersalah dengan adik-adiknya, seketika dia ingin kembali. Dia teringat dengan adiknya Ericka, mungkin dia sekarang dalam bahaya karena dia tidak ada di sisinya.
__ADS_1
"Aku ingin kembali, antar aku ke kota sekarang!" Pinta Reva.
"Tidak bisa, bahaya kalau kamu kembali sekarang" jawab Nico.
"Tidak, adik-adikku membutuhkanku! Mereka pasti mengkhawatirkan aku, Ericka pasti dalam bahaya karena tidak ada aku!" Teriak Reva.
"Reva, sadarlah! Semua baik-baik saja, tidak akan terjadi apapun pada adikmu" Nico mencoba menenangkannya.
"Ta-tapi..." Reva menangis putus asa, dia tidak tahu harus berbuat apa.
Tidak lama kemudian William dan Robin datang menghampiri mereka, dia menunjukan sebuah berkas ke Nico.
"Kami dan rekan setim lainnya sudah menyusun rencana untuk menghadapi sidang besok, silakan dibaca lagi jika ada yang kurang akan kita tambahkan lagi.
Dan kami juga sudah menambahkan beberapa bukti penyimpangan dana di perusahaan tersebut, dan juga dana gelap yang dipakai oleh Elena dari uang yayasan.
Aku harap Nona Reva bersedia datang besok untuk menghadiri sidang perdana nanti" kata William.
"Tidak, aku tidak akan datang. Batalkan saja tuntutan itu" ujar Reva tiba-tiba saja berkata seperti itu.
"Maaf, Nona. Kami tidak bisa membatalkan sidangnya, karena kasus ini sudah naik ke pengadilan.
Kita tidak bisa seenaknya saja membatalkan itu semua, yang ada kita akan kena somasi atau denda. Ingat, ini hukum tidak bisa dipermainkan" ujar William mulai sedikit kesal.
Sifatnya yang temperamental itu gampang tersulut emosinya, berbanding dengan Robin yang pendiam dan berhati-hati kalau bicara.
"Tapi aku tidak pernah meminta kalian melakukan ini semua, dan aku tidak bertanggung jawab atas kasus ini.
Yah, memang aku menuntut mereka tapi dengan caraku sendiri. Aku heran, bagaimana kalian tahu kalau aku sedang menuntut mereka?
Apakah kalian menguntitku selama ini?!" Ujar Reva ketus menanggapi William.
"A-Apa? Menguntit? Hei, anda kalau bicara hati-hati yah! Kami ini sangat profesional, jangan sembarangan bicara!" William mulai emosi dengannya.
Reva mendengus sambil tersenyum sinis, dia sangat meragukan mereka. Melihat sifatnya yang begitu temperamen, apa mungkin dia bisa memenangkan sidang nanti tanpa keributan?
"Sudah, cukup! Reva, aku akan mengantarkanmu kembali ke kamar. Dan kalian, tunggu aku di ruangan tadi" ujar Nico sambil menarik kursi roda Reva.
__ADS_1
Reva tidak bereaksi apapun, dia diam saja. Percuma saja melawan atau berteriak, tidak ada yang akan mendengarkannya.
Sesampai di kamarnya, Reva hanya diam. Dia langsung membaringkan tubuhnya ke kasur, Nico menghela nafas berat dia pusing melihat tingkah Reva begitu.
Lebih baik melihat atau mendengar dia marah-marah seperti biasanya, daripada diam dan bersikap dingin begitu. Dia merasa tidak dianggap, dia sadar melakukan kesalahan tapi dia tidak ingin diperlakukan seperti itu.
"Aku memang egois, tapi percayalah aku melakukan semua ini untukmu sendiri dan adik-adikmu. Bukan untuk kepentinganku sendiri" ujar Nico kepada Reva yang berbaring membelakanginya.
Setelah itu dia pergi, menutup pintu dan menguncinya. Dia terpaksa mengunci Reva di kamarnya, dia tahu gadis ini nekat dan kuat. Dia bisa melakukan apa saja, dia tidak ingin Reva mengacaukan rencana mereka yang sudah dibuatnya.
"Dasar egois, jahat kamu Nico! Kamu bilang ini semua demi kepentinganku dan adik-adikku, tapi kenapa tidak sejak awal kamu membicarakan hal ini kepadaku?!
Aku tahu, pasti ada maksud tertentu dari niatmu itu. Ya Tuhan, lindungi adik-adikku" ujarnya sambil menangis.
Sementara itu Nico masih diluar mendengar semua ucapan dan tangisan Reva, dia hanya diam membisu. Dia mengeraskan hatinya untuk tidak melunak kepadanya, agar perjalanan sidang ini berjalan dengan lancar.
*
"Bagaimana dengan Reva? Apa dia masih mengamuk?" Tanya William.
Nico diam saja, dia masih sibuk dengan berkas-berkas didepannya, William merasa aneh dengannya karena mengabaikan pertanyaannya.
"Hei, kok diam saja?" Tanyanya lagi.
Robin memberi isyarat kepada William untuk tidak mengganggu Nico saat ini, karena dia tahu perasaan Nico sekarang lagi sedih dan kecewa kepada Reva.
"Kenapa dia bersikap berlebihan begitu? Apa salahku hingga aku didiamkan? Niatku baik ingin membantunya, tapi dibalas dengan berbagai tuduhan yang tidak-tidak" gumamnya dalam hati.
William dan Robin merasa prihatin kepada sahabatnya itu, mungkin ini pertama kalinya dia mengenal dan dekat dengan seorang gadis. Sampai bisa sebucin itu dia pada Reva, hingga rela melakukan apa saja.
"Jangan usik dulu dia, fokus saja sama persidangan besok. Buktikan kepada Reva dan Nico bahwa kita bisa memenangkan persidangan itu nanti" sahut Robin.
William mendengus kesal, kisah percintaan mereka begitu rumit. Kalau jadi dia, sudah pasti dia tinggalkan gadis modelan kayak Reva, ngambekan. Gak banget! Pikirnya.
...----------------...
Bersambung
__ADS_1