Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Aku butuh kamu


__ADS_3

Mereka membawa Julia ke rumah sakit, gadis itu terluka cukup parah darah terus mengalir dari kepalanya dan beberapa luka mengenai tangan dan kakinya. Dia sempat jatuh terhempas setelah ditabrak tadi, hingga menyebabkan beberapa luka ditubuhnya.


"Anak ini harus selamat, dia adalah kunci dari segalanya. Selain itu dia adalah tersangka penganiayaan, tapi bisa juga saksi yang tahu keberadaan Ericka" ujar Stefan kepada Rendy.


Sesampainya di rumah sakit keduanya nampak cemas dan khawatir menunggu didepan ruang ICU itu.


"Ingat, ketika dia sadar nanti jangan gegabah atau membuatnya semakin takut. Buat dia tenang atau janjikan dia sesuatu yang membuatnya percaya padamu" ujarnya lagi.


Rendy tidak menjawab setiap pertanyaan ataupun perkataan dari Stefan, dia masih fokus dengan pengobatan Julia.


"Halo, Andriana. Bisakah kamu kemari menemuiku? Aku butuh bantuanmu" ujar Rendy menelpon sekretarisnya itu.


"Buat apa kamu telpon sektretarismu itu? Mau sambil kerja kamu?!" tanya Stefan merasa aneh dengannya.


"Bukan, aku butuh pertolongannya dalam hal lain. Tunggu aja" katanya sambil terus menatap pintu ICU itu.


Stefan mendengus mendengar ucapannya, dia berpikir reva dan adiknya ini sama. Sama-sama antusias dalam segala hal, setelah itu dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan itu. Dokter menghampiri mereka.


"Apa kalian keluarga dari pasien?" tanya dokter itu.


"Saya bos tempat dia bekerja, dia kecelakaan waktu masih bekerja ditempat saya" ujar Stefan memberi pernyataan


"Kecelakaan yang menimpanya cukup parah, ada retakan di tengkorak kepalanya. Dia harus dirawat intensif lagi, dan terlihat ada sisa trauma ditubuhnya." Dokter itu menjelaskan.


"Trauma? Maksud Dokter apa yah?" ujar Stefan bingung, Rendy pun terlihat bingung juga.


"Kami lihat ada beberapa memar di tubuhnya, seperti ditangan, lengan tangannya juga dan dibahu dan paha kakinya.


Dan kami pastikan luka itu cukup lama dibiarkan, kami tidak ingin berasumsi lebih jauh sepertinya dia pernah mengalami kekerasan" ujar dokter itu.


"Soal itu kami tidak tahu, Dok. Anak ini termasuk pegawai baru ditempat kerja saya, dan dia cukup tertutup dalam segala hal" ucap Stefan.


Dokter itu melirik kearah Rendy penuh selidik, Stefan tahu situasi itu dan buru-buru memberi keterangan yang lainnya.


"Dia ini Rendy, kakak dari temannya Julia. Saat kecelakaan itu terjadi dia ada di sana dan membantuku membawa Julia kesini" jelas Stefan sambil menyenggol lengan Rendy untuk minta penjelasan juga darinya.


"Benar, Dok. Saya Rendy kakaknya Ericka temannya Julia" kata Rendy sambil mengulurkan tangannya.


"Lebih baik kalian laporkan saja ke polisi takutnya ada tindak kekerasan terjadi kepadanya" ujar Dokter itu sambil menjabat tangan Rendy.


"Kalau soal itu bisa kami laporkan, tapi kita harus mendengarkan pendapatnya dulu. Kami tidak bisa asal lapor tanpa adanya bukti dan saksi, karena asumsi saja tidak cukup untuk melaporkan apa yang terjadi kepadanya" jawab Rendy, kali ini dia yang berbicara.


"Baiklah kalau begitu, kalian bisa melihatnya setelah dipindahkan ke ruang inap" ujar dokter berlalu pergi.

__ADS_1


Setelah itu terlihat beberapa perawat mendorong bangsal yang membawa Julia menuju ruang inap untuknya.


Terlihat raut cemas dan khawatir mereka mengikuti bangsal itu, bagaimanapun juga mereka tidak ingin anak itu terluka. Apalagi Rendy, dia juga memiliki adik perempuan yang terluka dan masih hilang.


"Kalian bisa melihatnya bergantian dan tidak bisa lama, dia harus istirahat dulu" ujar salah satu perawat itu.


Rendy dan Stefan bergantian masuk ke ruangan Julia, Rendy masuk lebih dulu setelah itu Stefan.


"Julia, kau tidak boleh dulu mati. Kau harus bertanggung jawab apa yang telah kau lakukan pada adikku, dan beritahu aku siapa yang menghubungi kau waktu itu.


Aku yakin kecelakaan ini bukan kecelakaan biasa, pasti seseorang sengaja melakukan hal itu kepadamu dan mencoba menutup mulutmu.


Aku pastikan orang itu akan membayar apa yang dia perbuat padamu, tapi dengan catatan kau juga harus mengaku dan bicara jujur apa yang terjadi selama ini.


Aku janji akan memberikan perlindungan padamu, tapi kau juga berjanji harus melakukan apa yang seharusnya kau lakukan sejak dulu" ujar Rendy sambil berkaca-kaca.


Dia mengingat adiknya Ericka, melihat kondisi Julia yang begitu mengkhawatirkan dengan luka penuh perban dan belum sadarkan diri, membuatnya merasa iba.


Dia buru-buru menepis perasaan itu bagaimanapun juga anak ini penyebab adiknya terluka dan menghilangnya Ericka, dia juga secara tidak sengaja terlibat dalam hal itu.


Rendy keluar dari ruangan itu dengan perasaan hancur, diluar ruangan ternyata sudah ada Andriana sedang mengobrol dengan Stefan.


"Pak..." sapanya dengan sopan, melihat kedatangannya membuat hati dan perasaannya lebih tenang.


"Aku masuk dulu ya, Ren. Kamu kalau mau pulang, pulang saja" katanya Stefan.


"Sudah, namanya Andriana sekretarismu. Ya kan?" jawab Stefan.


"Iya, nanti dia akan membantu kita mengurus Julia" ujar Rendy.


"Sip!" ujar Stefan berlalu masuk keruangan Julia.


"Jadi, Pak. Apa kedatangan saya berhubungan dengan pekerjaan atau hal lain?" tanya Andriana bingung.


"Saat diluar jangan panggil saya dengan sebutan 'Pak', panggil nama saja. Umur kita juga gak terlalu jauh" jawab Rendy menghiraukan pertanyaan Andriana.


"Terus, saya harus panggil apa Pak, eh..." Andriana nampak bingung sendiri.


"Panggil saja namaku, Rendy. Dan berhentilah berbicara formal seperti itu" ujar Rendy sambil menarik tangannya.


Andriana nampak kebingungan dengan sikap bosnya itu, tapi dia mengikuti saja langkah Rendy membawanya entah kemana. Ada perasaan gugup ketika tangan hangat dan lembut Rendy menyentuh jari-jarinya.


//

__ADS_1


//


Mereka sedang duduk disebuah cafe yang letaknya tak jauh dari rumah sakit itu, mereka memilih tempat duduk agak jauh dari para pengunjung lainnya.


Duduk disalah satu sudut pojok cafe itu dengan jendela kaca, matahari sore menyinari mereka menembus jendela kaca itu. Cafe itu memiliki dekorasi yang bagus dan membuat pengunjungnya merasa nyaman duduk di sana.


Alunan musik Jazz dan semerbak harum kopi cappucino yang terhidang bersama cheese cake bertabur caramel perpaduan yang mantap sekali.


Rendy maupun Andriana merasa nyaman dan tenang sekali, selama ini mereka selalu disibukkan dengan pekerjaan dan permasalahan yang tiada henti-hentinya datang menghampiri mereka.


"Jadi kita datang kesini hanya untuk minum kopi dan bersantai seperti ini, Pak eh Ren?" tanya Andriana nampak kikuk sekali, serba salah harus manggil apa ke bosnya itu.


Rendy tersenyum melihat Andriana yang begitu kebingungan sendiri, dia menyeruput secangkir kopinya. Dan menatap Andriana lembut.


"Sekali-kali kita perlu refreshing seperti ini, jangan terlalu kaku menjalani hidup. Lihat aku, melarikan diri dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tak terlalu memikirkan semua permasalahan ini.


Tapi apa, aku sama sekali tak merasa nyaman dan tenang. Malah aku merasa stress sendiri, aku butuh teman cerita yang mau mendengarkan aku berkeluh-kesah setiap saat aku butuh, kamu mau mendengarkan semua keluhanku jika aku membutuhkanmu?" tanya Rendy menatap lekat Andriana dengan lembut.


Andriana yang sedang minum tehnya terkejut mendengar pernyataan Rendy yang begitu tiba-tiba, dia tak sengaja menyemburkan minumannya ke Rendy dan tersedak sendiri.


Rendy yang kena semburan itu merasa kaget kena siraman ajaibnya Andriana, situasi romantis itu berubah menjadi situasi menegangkan.


Andriana terdiam melihat bosnya sudah basah oleh semburannya, apalagi melihat ekspresi Rendy yang terdiam saja. Dia buru-buru mengambil tisu untuk membersihkan wajah dan baju bosnya yang sudah basah itu.


"Ma-maaf, Pak eh Rendy. Duh, mampus aku!" gumamnya menyesali diri sendiri.


"Sudah, sudah hentikan!" bentak Rendy kesal dengan perlakuan Andriana mengelapi wajah dan bajunya seperti seorang emak membersihkan bocah saja.


"Ta-tapi, masih basah dan kotor..." ujar Andriana pelan terlihat raut wajah sedihnya itu.


Rendy merasa tak tega dengannya karena sudah membentaknya, kalau dia kembali bersikap lembut nanti sikap wibawanya bisa hilang. Pikirnya.


"Ah, sudahlah. Aku udah gak berselera lagi makan dan minum disini, ayo pulang!" ujar berdiri dari duduknya.


Andriana mengikutinya dengan menundukkan wajahnya karena malu dan merasa bersalah, dia juga kesal dengan bosnya itu.


"Kenapa dia mendadak berubah begitu? Biasanya juga dingin dan cuek, membuatku takut saja. Biasanya kalau di novel-novel bos kayak gini pasti ada maunya" gumamnya menatap tajam punggung Rendy.


Rendy membalikkan badannya menatapnya tajam, seketika ekspresi wajah Andriana berubah jadi sedih.


Rendy jadi gelagapan melihat ekspresinya yang menurutnya begitu menggemaskan, dia memalingkan wajahnya yang bersemu merah.


"Ah! Menggemaskan sekali!" teriaknya dalam hati.

__ADS_1


...----------------...


Bersambung


__ADS_2