
Sementara itu, Reva terlihat begitu sibuk di kantor barunya. Dia harus bekerja ekstra keras lagi dalam menangani perusahaannya itu, dia ingin menyelamatkan perusahaan mendiang ibunya itu dari kebangkrutan.
Dia harus merombak total para direksi dan bawahan-bawahannya, dia juga harus menyeleksi para karyawan yang lain. Dimana para karyawan yang kompeten dan produktif harus dipertahankan, sedangkan karyawan yang pemalas dan bekerja setengah hati langsung dia depak dari perusahaannya.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa? Masuk!" seru Reva.
"Permisi, Bu. Saya mau mengantarkan berkas-berkas yang diperlukan, dan juga beberapa data-data para investor sebelumnya juga data-data calon investor yang baru" ujar Mona, sekretaris Reva.
"Baik, taruh aja di sana. O ya, Mon. Sepertinya kita akan lembur terus gak tau sampai kapan, paling tidak sampai pekerjaan kita mulai terkendali dan teratur.
Aku tak akan memaksa kalian harus ikut lembur sampai malam, kalian juga butuh istirahat. Ingat, aku tak bisa apa-apa tanpa bantuan kalian semua..." kata Reva.
"Tidak apa, Bu. Kita semua yang ada disini adalah satu tim, kami tahu batas kemampuan masing-masing. Ibu tenang saja, kami akan selalu mendukungmu" ujar Mona sambil tersenyum lalu pergi keluar dari ruangan Reva.
Reva senang mempunyai karyawan dan pegawai yang begitu loyal dalam bekerja, dia berharap mereka dapat dipercaya dan selalu setia kepadanya.
Saat dia lagi memeriksa data-data para investor terdahulu, dia melihat ada data profil Nico Abraham. Dia terkejut kenapa orang yang dia cintai itu ada didalam daftar para investor Elena?
Dia belum tahu tentang fakta bahwa Nico sangat mengenal ayah dan ibu tirinya itu, bahkan Nico dulu sempat membuat perjanjian dengan Pricilia soal dirinya.
"Kenapa namanya ada disini? Tidak mungkin kan nama ini miliknya? Tidak! Ini hanya kebetulan saja, namanya yang mirip saja" ujar Reva berusaha menyakinkan dirinya sendiri.
Tapi ketika dia memeriksa alamat rumah dan juga data-datanya secara detail, dan itu benar Nico yang dia kenal. Berbagai pertanyaan dihatinya, dia penasaran mencoba menghubungi beberapa orang yang pernah terkait dengan hubungan perusahaan Nico dan perusahaan dirinya.
"Benar, Bu. Itu adalah Nico Abraham pengusaha dan bisnisman real estate, fashion dan banyak lagi usaha miliknya itu. Dia salah satu investor terkaya yang pernah dimiliki oleh perusahaan ini.
Dan dia juga paling banyak menanamkan modal di perusahaan ini, dan itu sudah berlangsung lama. Kami tidak tahu persis ada hubungan apa antara pak Nico dengan bu Elena.
Yang pasti beliau sangat dekat dengan mereka, maksudku dengan keluarga Ibu" ujar salah seorang pegawai lama yang masih bertahan di perusahaan itu.
"Apa?! Jadi selama ini mereka sudah berhubungan di belakangku! Apa dia mendekatiku secara sengaja dan ada maksud dari balik semua itu?" gumam Reva.
Sesak di dadanya merasakan semua itu, dia merasa dikhianati, dibohongi oleh orang yang paling dia percaya. Dia menitikkan air mata kekecewaannya.
Bergegas dia meninggalkan kantornya langsung menuju kantornya Nico, dan ternyata jarak kantor mereka tidak terlalu jauh. Reva baru tahu soal itu, dan itu semakin banyak pertanyaan dihatinya, dan kekecewaan itu semakin besar.
Reva ditemani oleh supirnya ke kantor itu, Susy dan bodyguard nya menawarkan diri untuk menemaninya, tetapi dia menolak dengan alasan pribadi.
Sesampainya di sana, dia berdiri mematung didepan kantor itu. Secara kebetulan dia melihat ayahnya berada didepan lobby kantor itu bersama Nico.
Mereka nampak begitu dekat, dia melihat ayahnya menepuk bahu Nico dan mereka tertawa bersama. Reva melihat itu bagaikan dihantam palu besar.
__ADS_1
"Seberapa besar pengkhianatan yang kalian lakukan? Seberapa dalam lagi luka yang akan kalian berikan kepadaku?" gumamnya dalam tangis.
Kebetulan ayahnya ingin naik ke mobilnya, mungkin ingin pulang karena urusannya sudah selesai. Pas saat itu dia melihat Reva, dia diam tertegun.
"Reva, anakku ..." ujarnya lirih.
Dia melihat Reva diseberang mobilnya, entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu. Rasa rindunya yang begitu dalam kepada putrinya itu, membuatnya tak bisa berkata-kata dia berjalan menuju kearahnya.
Reva menatap dingin ayahnya itu, sebelum ayahnya menghampirinya Reva sudah berjalan dengan cepat kearahnya.
Saat itu pak Dewantoro menyangka putrinya akan menghampirinya, dia salah. Reva berlalu melewatinya dan mengabaikan kehadirannya.
"Re-Reva?!" Nico terkejut melihat Reva berada di kantornya.
"Hai, sudah lama tak bertemu. Aku langsung saja ke intinya, aku harap kamu mau menjawabnya dengan jujur" ujar Reva tanpa basa-basi kepada Nico.
Berusaha sekuat mungkin dia menahan emosi dan air matanya, dia juga harus menekan semua rasa di hatinya dihadapan Nico. Dia tidak ingin Nico tahu tentang isi hatinya.
"Reva, apa kabar? Kamu ada perlu apa kesini dan bagaimana tahu tentang kantorku? O ya, sudah makan siang?" cecar Nico begitu speechless dengan kehadiran Reva.
"Jawab saja pertanyaanku, kamu sejak kapan mengenal ayahku dan istrinya?" tanya Reva.
"Reva, aku kangen..." Nico tak menjawab pertanyaannya, malah menyampaikan rasa rindunya.
"Kau sudah berapa lama mengenal Elena? Sejak kapan kau berinvestasi di kantornya?" tanya Reva lagi.
"Nico! Jawab saja pertanyaanku, jujur padaku. Katakan semua yang kau rahasiakan selama ini" ujar Reva menatap nanar kepadanya.
"Jujur, Reva. Aku masih sangat sayang sama kamu, aku kangen..." Nico mengungkapkan perasaannya.
"Kalian semuanya sama saja, egois! Aku harap ini terakhir kalinya aku merasa kecewa dengan kalian, dan aku mohon lupakan aku Nico!" ujar Reva yang tak bisa menahan air matanya lagi.
Hatinya sakit dan kecewa, dia menangis meninggalkan Nico yang hanya terdiam terpaku melihat kekecewaan Reva terhadapnya. Dia mengejar gadisnya itu, tetapi ditahan oleh pak Dewantoro.
"Biarkan dia sendiri dulu, berikan dia waktu untuk menenangkan dirinya. Aku yakin lambat laun dia akan melupakan semuanya" ucap pak Dewantoro.
"Tidak, Pak. Reva yang kukenal tidak seperti itu, dia bukan gadis lemah dan tidak sekuat itu juga. Jika memang dia seperti itu, mungkin dia akan melupakan semua kesalahan anda selama ini terhadap ibu dan adik-adiknya" ujar Nico seraya mengejar Reva dengan mobilnya.
Pak Dewantoro terdiam saat mendengar ucapan Nico, ucapannya tadi sangat menusuk hatinya. Dia melihat mobil putrinya itu berlahan pergi menjauh dari sana, sedangkan nico mengejarnya memakai mobilnya itu.
Sepanjang perjalanan Reva hanya menangis, dia tak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya diam dalam tangisnya. Sopirnya pun tak ingin banyak bertanya ataupun berkomentar apapun kepadanya.
"Turunkan aku didepan" ujar Reva.
__ADS_1
"Kita tidak akan kembali ke kantor, Bu?" tanya supirnya itu.
"Tidak, turunkan saja aku di sana. Kau kembali saja ke kantor" jawab Reva.
"Tapi, Bu. Bagaimana jika bu Susy dan lainnya menanyakan keberadaan Ibu?" kata sang sopir khawatir.
"Katakan saja aku ada urusan lain, sampaikan saja pesanku, katakan kepada mereka bahwa hari ini tidak ada lembur. Setelah jam kerja silakan kembali ke rumah" perintah Reva.
Supirnya tak berani membantah lagi, dia menurunkan Reva di salah satu halte didepan mereka. Setelah itu dia kembali ke kantornya dengan berbalik arah.
Pada saat itu Nico melihat mobil Reva berjalan melewatinya, berlawanan arah dengannya. Dari balik kaca mobil itu dia tak melihat Reva, hanya ada sopirnya saja.
Saat dia melajukan mobilnya, dia melihat Reva naik taksi didepan halte didepan Nico, dan dia juga langsung mengikuti mobil itu kemana membawa Reva pergi.
"Mau kemana kita, Bu?" tanya sopir taksi itu.
"Jalan saja, Pak. Nanti saya beritahu kemana jalannya" jawab Reva, dengan mata sembabnya dia memandang keluar dari kaca mobil itu.
Si sopir tahu jika penumpangnya sedang sedih, dia mengikuti arahan Reva dan turun di sebuah gedung tertinggi di kota itu. Gedung apartemen itu begitu mewah, si sopir menduga si wanita adalah penghuni gedung itu.
Nico pun berhenti di gedung itu, dia bertanya-tanya apa yang dilakukan Reva di sana, apakah ini tempat tinggalnya yang baru?
Reva diikuti oleh Nico, dia tak sadar sedang diikuti karena masih larut dalam pikirannya. Dia hanya mengikuti arah langkah kakinya berjalan. Sampai pada saat dia naik ke dalam lift dan turun di lantai paling tinggi yang ada di sana.
"Apa yang dia lakukan di sana? Jangan-jangan, tidak! Tidak mungkin, dia tak mungkin senekat itu! Reva sayang jangan berbuat bodoh!" gumam Nico khawatir.
Dia berlari mengejar Reva naik lewat tangga menuju roof top atap gedung itu, pikirannya kalut dia sudah membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Reva diatas sana.
"Ya Tuhan!" teriak Nico.
Dan benar saja, Reva sudah berdiri dipinggir atap gedung itu. Tatapannya kosong, terlihat dia sangat putus asa. Nico langsung berlari menuju kearahnya dan memeluk, menggendong Reva menjauhi bibir gedung itu.
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan!" teriak Reva berusaha memberontak dari pelukan Nico.
"Reva, hei! Tenanglah!" ujar Nico mencoba menenangkannya.
"Tidak, akh!" teriak Reva.
Seketika Nico mencium bibir Reva, dia membungkam mulut kekasihnya itu agar tak berteriak lagi dan menimbulkan kegaduhan.
Ketika Reva mulai tenang di pelukannya, Nico melepaskan ciumannya. Sebenarnya Reva terkejut mendapat ciuman itu darinya, makanya dia terdiam.
Melihat wajah Reva lebih dekat darinya, dia melihat bibir manis kekasihnya itu membuatnya ingin mencium bibirnya lagi. Nico kembali mencium bibir manis Reva, kali ini lebih lembut. Reva membiarkannya, sambil menitikkan air matanya.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung