
Setelah sarapan, Ericka diajak bertemu dengan lelaki itu diruang kerjanya. Ruang kerjanya ada dilantai bawah, cukup besar dan didepan meja kerjanya ada sofa panjang dikhususkan untuk tamunya.
Di sanalah Ericka sekarang, matanya berkeliling menatap setiap sudut ruangan itu. Daripada ruang kerja, ini lebih pantas disebut perpustakaan karena banyak buku-buku yang berjejer rapi disetiap rak-rak yang ada di sana.
Lelaki itu hanya menatapi pergerakan Ericka, dia diam mengamati entah apa yang ada didalam pikirannya. Dia mengambil setumpuk map dan menghampiri Ericka.
Pluk!
Dia melempar tumpukan map itu diatas meja didepan Ericka, tentu saja itu mengejutkan Ericka. Dia melihat tumpukan map tebal berwarna hitam dengan bingung.
"Apa ini?" tanyanya bingung sambil mengambil map itu.
"Tugasmu, ini adalah tugas yang harus kau kerjakan" ucap lelaki itu dingin.
"Tugas? Maaf, saya bukan anak buah anda jadi anda tak bisa menyuruh-yuruh saya seenaknya!
Yah, saya apresiasi kerja keras anda dalam bekerja apalagi telah menolong saya semalam. Saya hargai persahabatan anda dengan Stanley, dan saya percaya anda karena dia.
Jadi, jangan manfaatkan aku dalam urusan anda! Saya akan mengembalikan semua ini setelah saya punya pekerjaan dan uang!
Kalau begitu saya pamit pulang dulu, permisi" kata Ericka lalu beranjak dari duduknya, tangannya dicekal oleh lelaki itu dan dihempaskan ke sofa lagi.
Ericka terduduk diatas sofa itu, dia kaget melihat respon lelaki itu yang begitu kasar menurutnya. Ericka menatap tajam dirinya, lelaki itu menghiraukan tatapan itu dia sibuk dengan map-nya tadi.
"Pertama, aku minta maaf jika caraku melayanimu terlihat kasar. But, its me! Some body know who are i'm, but not you!
Sekarang, kau akan tahu siapa aku. Tapi rasanya aneh jika aku membicarakan diri sendiri, kau bisa lihat profilku didalam map ini. Dan ini juga akan menjelaskan tentang semuanya.
pelajari dan pahami, setelah kau mengerti semuanya baru kau temui aku nanti. Aku sibuk, tak bisa menemani terus disini.
kau bebas berkeliaran di rumah ini, asal jangan merusak apapun dan jangan mengganggu orang-orang di rumah ini bekerja.
Ingat, pelajari semua isi map ini, aku akan menemui Stanley dulu. Kau tetap disini saja" ucap lelaki itu.
Mendengar nama Stanley lagi, membuat Ericka jadi teringat tentangnya. Sepertinya dia sibuk semalaman mengurus para penjahat itu.
Tinggallah dia sendirian di ruangan itu, Ericka membuka map-map tebal diatas meja itu. Setiap map diberi label angka, ada sekitar lima map dan diberi label angka satu sampai lima sesuai jumlah mapnya.
"Sepertinya dia sengaja memberikan lebel pada map ini, agar aku bisa membacanya sesuai dengan aturannya disini" gumam Ericka.
__ADS_1
Pertama, dia membuka map berlebel angka satu dan benar saja itu adalah dokumen profil lelaki itu, dia memeriksa dengan teliti karena dia ingin tahu siapa sebenarnya dia.
"Nama Aaron Ramsey Dortmund, asli keturunan Britania raya. Waaw, jadi dia keturunan kerajaan Britania raya. Pangeran dong!
Aset yang dia miliki... Waah, ini mah bukan kaleng-kaleng. Dan hebatnya lagi dia menjalankan usahanya sendiri tanpa bantuan dari keluarganya.
Dia juga masih muda ternyata, aku pikir sudah om-om! Habisnya mukanya datar dan dingin itu, selalu serius bawaannya. Ganteng sih, tapi gak ada manis-manisnya gitu!
Umurnya juga gak terlalu jauh denganku, dan dia kuliah pake sistem home schooling gitu! Haha, beda yah kalau anak bangsawan bisa mengatur sekolahnya sendiri, bukan sekolah yang mengaturnya.
Apalagi ini, ih! Seleranya tua banget, masa musik favoritnya musik-musik klasik kayak gini gak ada seru-serunya" Ericka terus membaca profil lelaki bernama Aaron sambil tersenyum.
Tanpa sadar seseorang sedang memperhatikannya, bahkan lelaki tua itu masuk pun dia tak menyadari.
"Ehem!" akhirnya lelaki tua itu membuyarkan fokusnya.
"Eh, maaf saya tak sadar jika ada anda disini" ucap Ericka tersenyum canggung.
"Its oke, no problem. Kenalkan nama ay Jacob, you boleh panggil ay Jassy. Ok?! And ay adalah fashion and beauty art, ay kerja buat you sama pak bos!
Jadi you harus ikut kata ay, ok ladys?! Kalau udah ngerti you harus ikut ay sekarang, cuss!" ujar lelaki tua itu berlenggak lenggok berjalan keluar ruangan itu.
"Ya Tuhan, apalagi" gumam Ericka sambil mengikutinya.
"Tapi, Tuan eh Miss. Duh aku harus panggil apa?!" ucapnya bingung.
"Kan sudah ay bilang tadi, you panggil ay Jessy aja oke?! Faham kan apa kata ayyy!" ucapnya galak.
"I-iya, faham Miss eh Jessy" ucap Ericka kaget melihatnya begitu galak.
Si Jessy memutar bola matanya dengan malas, dia membawa Ericka ke sebuah ruangan yang cukup besar. Didalam ruangan sudah ada beberapa orang yang menunggu mereka, didalam ruangan itu juga nampak ada beberapa barang seperti pakaian, sepatu, tas dan aksesoris lainnya.
"Sini You, ay ingin kenalin you kepada para mentor-mentor you. Mereka akan mengajari you banyak hal nanti yah, seperti bagaimana cara seorang putri bersikap. Wanita itu harus feminim dan elegan.
Tidak boleh lemah dan bodoh, you gak bodoh kan?! You juga akan banyak belajar dari mereka mulai sekarang, dimulai dari fashion dulu" ujarnya langsung menarik Ericka menuju rak pakaian untuk dipilihkan.
"Ta-tapi aku juga punya tugas dari pak Aaron!" ujar Ericka menolak.
"You bisa baca tu map seubrek-ubrek gitu sambil belajar sama kita, oke?!" ujar Jessy mengabaikannya.
__ADS_1
"Ta-tapi..." Ericka sudah tak bisa menolak lagi, karena dia sudah 'diserang' duluan sama mereka.
Maka, tibalah hari ini dia harus mengikuti banyak kelas yang di mentorin banyak guru, dan tentunya diawasi oleh Jessy. Dari kelas fashion, make up, kelas kepribadian sampe cara jalan sama makan pun diajari.
"Ingat, you sekarang bukan gadis biasa lagi. You adalah seorang Princess, you know! You harus banyak belajar agar bisa dihormati dan dihargai banyak orang.
Terutama rubah penampilanmu, kita sudah melakukan perkenalan disetiap kelas hari ini. Mulai besok kita akan serius lagi, dimulai bangun pagi sekali kau harus sudah siap!
Masih ada sisa waktu yang cukup banyak, you harus ikut ay sekarang" ucap Jessy.
"Kemana lagi?! Aku capek, Jess" keluh Ericka, sepertinya dia sudah mulai akrab dengan guru fashionnya itu.
Bagaimana tidak dari pagi menjelang sore, tenaganya di gempur habis-habisan buat latihan, yang kata Jessy cuma buat kenalan doang. Bisa dibayangin, kenalan doang udah bikin capek gimana kalau mulai kelas dengan serius? Bisa gempor tu badan.
Si Jessy meskipun gemulai dia juga sangat lincah, di usianya yang tak muda lagi itu dia masih sangat aktif. Mungkin usianya sudah menginjak 50an tahun, tapi penampilan masih sangat segar dan selalu ceria.
Tapi kalau dia lagi serius, sisi lelakinya bisa muncul dan sangat tegas. Begitu juga dia dalam menangani Ericka, dia begitu cekatan mengurusnya.
Jessy membawa Ericka kesebuah Klinik kecantikan, di sana sudah ada dokter dan perawat yang menunggu mereka.
"Hai, Jessy! Apa kabar, kangen tau!" ucap dokter wanita muda itu, dia sangat cantik dan ramah.
"Hai, Chaterine! My bestie" balasnya dengan cipika-cipiki.
"Bagaimana, udah siap? Kalau udah, yuk kita langsung aja" ucap dokter itu tanpa basa-basi.
Ericka yang tak tahu apa-apa hanya ikut saja sambil menatap Jessy kebingungan, Jessy hanya memberikan isyarat agar dia tetap tenang saja.
"Halo, namaku Chaterine. Mulai hari ini aku dokter ahli kecantikan khusus buatmu. Kamu Ericka kan? Sebelumnya Jessy sudah menceritakan tentangmu.
Kamu yang sabar yah, kamu gadis yang kuat pasti bisa melalui ini semua. Oke, Ericka! Yuk berbaring dulu, aku mau periksa bekas jahitan luka di wajahmu" ucap dokter Chaterine.
Ericka sempat bingung dengan ucapannya tadi, kenapa dia seolah tahu tentang hidupnya. Apa katanya tadi, tahu semua dari Jessy? Bukankah dia baru bertemu dengan Jessy hari ini, dan dia tidak pernah menceritakan apapun tentang hidupnya? Jadi, apa yang diketahui oleh mereka tentangnya?
Apakah ini semua ada hubungannya dengan Aaron, apakah lelaki aneh itu juga tahu siapa dirinya sebenarnya? Ericka bingung, ada banyak pertanyaan di kepalanya.
"Sebenarnya, siapa orang-orang ini?" gumamnya.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung