Akan Kubalaskan Dendamku

Akan Kubalaskan Dendamku
Kamu Cuek, Akupun Sama!


__ADS_3

Ditempat lain, di rumah sakit kecil itu.


Operasi wajah Ericka berjalan dengan lancar, mereka semua nampak lega. Wajah Ericka masih diperban penuh, kecuali bagian mata, hidung dan mulutnya yang tidak tertutup.


"Bagaimana,dok. Apa operasinya berjalan dengan lancar?" tanya Elena.


"Tenang, Nyonya. Sesuai perkiraan operasi berjalan sesuai rencana dan selesai tepat waktu.


Hanya saja, hasilnya tidak sempurna. Kami hanya menjahit luka itu, bekas jahitan itu pasti terlihat dengan jelas.


Setidaknya, nona Ericka tidak akan mengalami kesakitan lagi." Jawab dokter itu.


"Baiklah, persiapkan dia minggu depan kami akan pergi ke London" ujarnya menatap lurus kearah jendela kaca kamar perawatan Ericka.


"A-apa? Tapi Nyonya, nona Ericka masih butuh pemulihan paska operasi. Satu minggu rasanya tidak cukup, belum lagi masalah psikologisnya harus disembuhkan" ujar dokter itu merasa berat.


"Aku tidak butuh pendapatmu soal itu, dan aku tak peduli masalah kesehatan mentalnya. Yang aku butuhkan dia sudah siap pergi dari sini, yang penting tidak merepotkan saat perjalanan nanti" katanya dingin.


Dokter itu merasa terkejut dengan perubahan sikap Elena, wanita berumur itu seketika merubah sifat baiknya yang selama ini dia tunjukan.


Ternyata semua ini palsu, seharusnya dia sudah menduganya karena keinginannya yang berlebihan itu. Dia hanya menganggukkan kepalanya tanda mengetahui.


Dia menatap tajam kearah Elena, dia tersenyum sinis dan terlihat menelpon seseorang. Sepertinya dia sedang melaporkan sesuatu kepada orang diseberang telponnya.


//


//


Sementara di kantor Wijaya group, Rendy bekerja seperti biasanya seolah tidak terjadi sesuatu hal. Karena Nico menelponnya dan mengatakan kalau Reva sudah ditemukan dan pencarian Ericka sedang berlangsung.


Dia sudah tak sabar pulang dan bertemu dengan kakaknya itu, dia penasaran Reva diculik siapa sampai menghilang begitu saja.


Apalagi Nico akan membawanya kepada seseorang yang telah berbuat jahat kepada kakaknya itu, tanpa curiga sedikitpun dia mempercayainya.


Tidak ada seorangpun yang patut dipercayai selama ini kecuali Nico, meskipun mereka selalu bertentangan soal pendapat apapun.


Tok! Tok! Tok!


Andriana masuk ke ruangannya, sekretaris cantiknya itu masuk dengan sopan berjalan kearahnya. Penampilan Andriana sedikit berbeda dengan sekretaris lainnya, jangankan sekertaris karyawan wanita lainnya lebih suka memakai pakaian ketat dan rok pendek, meskipun panjang pasti akan membentuk lekuk tubuh mereka.


Sedangkan Andriana dia lebih suka memakai celana panjang sejenis kulot tapi lebih modis dan elegan, kardigan yang dia pakai selalu pas untuknya tidak kekecilan ataupun kebesaran.


Dia lebih suka menutup dirinya seperti itu, katanya lebih aman dari pandangan lelaki hidung belang. Terutama mantan bosnya dulu, Pramudya.


"Ada apa? Hari ini jika ada jadwal tambahan tolong dibatalkan semua, aku ingin pulang lebih awal sekarang" ujarnya sambil menatap komputer didepannya.


"Maaf, Pak. Ada sedikit pekerjaan tambahan yang harus Bapak tanda tangani, hari ini pak Pramudya tidak masuk ke kantor jadi berkas-berkas yang seharusnya ditandatangani oleh beliau jadi Bapak yang menggantikannya" ujar Andriana sambil meletakkan setumpuk map didepan Rendy.


Rendy menghela nafas beratnya, kepalanya pusing harus memikirkan pekerjaan lagi dan lagi. Sedangkan dirinya harus fokus juga ke keluarganya.


"Baiklah, tinggalkan saja di sana." Jawabnya.

__ADS_1


"Mau saya siapkan kopi atau teh, Pak?" ujar Andriana sopan.


"Tidak usah, kamu temani saja aku disini. Maaf hari ini kamu harus lembur bersamaku" ucap Rendy masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Baiklah, Pak. Saya permisi dulu, jika perlu sesuatu saya ada didepan ruangan Bapak" ujar Andriana.


Dia sedikit heran dengan bosnya itu, tidak seperti biasanya dia seperti itu. Biasanya dia lembur sendirian ini tumben ngajak-ngajak lemburnya.


Jika itu Pramudya yang ngajak lembur sudah pasti dia tolak mentah-mentah, entah mengapa seorang Andriana yang cuek dan dingin kepada setiap lelaki jadi sering merasa gugup didepan bosnya itu.


Dari penampilan luar, dia nampak tenang dan biasa saja tetapi dalam dirinya detak jantung yang selalu berdegup kencang dan nervous banget.


Dan setali tiga uang, perasaan yang sama yang dirasakan oleh Rendy. Gadis ini berbeda dengan gadis lainnya, jika yang lainnya berusaha mendekatinya dan menggoda berbagai cara agar bisa dekat dengannya, tapi Andriana terkesan cuek dan dingin.


Jika sedang bekerja mereka berdua sama-sama nampak profesional, Rendy tipikal bos yang dingin dan tegas juga perfeksionis. Sedangkan Andriana tipikal sekretaris atau karyawan yang begitu disiplin dan tepat waktu juga sangat mandiri.


Mereka pasangan yang cocok antara bos dan karyawannya, dan tanpa disadari mereka sering curi-curi pandang.


"Akh, si*l! Kenapa aku malah mikirin dia?! Sudahlah, aku harus fokus dengan pekerjaanku saja biar cepat selesai.


Dan kenapa pula Pramudya sering sekali bolos masuk kerja, menambah pekerjaanku saja." Ujar Rendy kesal.


Andriana duduk didepan meja kerjanya disamping ruang kerja Rendy, semua karyawan sudah pulang hanya mereka berdua saja yang tinggal. Dia sibuk dengan laptopnya, tiba-tiba Nancy si sekretaris genit itu datang menghampirinya.


"Hei, belum pulang lo. Tumben, biasanya pulang lebih cepat" sindir Nancy sambil duduk diatas meja didepan Andriana.


"Aku lembur, pak Rendy memintaku menemaninya" jawabnya cuek.


"Dia banyak pekerjaan, mungkin dia butuh bantuanku nanti" Andriana menjawabnya dengan malas.


"Alah, modus itu! Pasti dia mau sesuatu dari kamu tuh! Hem, jadi itu alasan kamu selalu menolak pak Pramudya ternyata ada mangsa yang lebih menggiurkan yah. Haha!" ujarnya sinis.


Brak!


Andriana mengebrak mejanya karena kesal dengan ucapan Nancy, wanita cuek dan tomboy itu merasa direndahkan olehnya.


"Aku bukan kamu, yah! Wanita murahan menjual tubuh hanya demi popularitas dan sedikit uang!" bentaknya marah.


Nancy terkejut dengan ucapan Andriana, dia langsung menarik rambut Andriana yang panjang sebahu itu, Andriana berteriak kesakitan.


"Akh! Lepaskan nenek sihir!" teriaknya.


"Kamu yang nenek sihir, dasar pela-" dia terhenyak karena melihat sepasang mata menatapnya marah,dia tidak sengaja melihat kearah ruangan Rendy dan disana ada mata merah menyala menatap tajam kearahnya.


"Ha-hantu?!" teriaknya sambil terjatuh dari tempat meja dia duduk tadi.


"Enak saja, aku bukan hantu! Sial*n" umpat Andriana sambil merapikan rambutnya.


"Apa ini ribut-ribut?!" ujar Rendy keluar dari ruang kerjanya.


"Gak tau nih, Pak. Si Nancy sudah gila kali" ucap Andriana masih kesal.

__ADS_1


"Kamu kalau kesini hanya untuk mengacau mending kamu pulang saja, jangan karena tak ada bosmu kamu bisa berkeliaran seperti ini!


Dan jaga sikapmu jika tidak aku pecat dari kantor ini, aku dengan mudah menendang orang macam seperti kamu itu!" bentak Rendy dengan dingin dan tatapan tajam.


Nancy semakin ciut nyalinya karena dia sadar ternyata yang dari tadi memperhatikannya adalah Rendy, karena tatapan mata itu sama dengan tatapan mata menyalak yang dia lihat tadi. Berarti dia mendengar semua perkataannya tadi? Dia merinding sendiri.


Belum lama kemudian dua security datang menemui mereka, ternyata mereka sudah ditelpon sama Rendy sebelumnya karena terganggu dengan kehadiran Nancy.


"Bawa dia keluar, jangan sampai dia terlihat dikantor lagi mulai besok" perintah Rendy.


"Ta-tapi, Pak. Saya..." Nancy terlihat gemetaran takut dipecat, kalau dipecat dia mau makan apa. Apalagi diusianya segini akan sulit mendapatkan pekerjaan yang bagus. Ditambah belum menikah, tidak ada yang akan menjaganya.


"Kau akan aku skor selama satu minggu, renungi nasibmu selama itu dan jangan kembali ke kantor sebelum satu minggu. Apalagi sampai berulah kembali, aku akan benar-benar memecatmu, camkan itu!" bentak Rendy.


Dia kembali ke ruangannya, sedangkan Andriana kembali dengan pekerjaannya. Nancy hanya terpaku dengan ucapan Rendy tadi.


Dia langsung diseret oleh kedua security tadi, tanpa perlawanan seperti biasanya.


//


//


Disebuah rumah besar bergaya eropa kuno, terletak jauh di ibukota. Bangunan besar itu masih berdiri megah diantara perbukitan.


Bangunan jaman Belanda itu, nampak sepi dan sunyi diluar bangunan itu sudah tak terawat lagi. Banyak rumput liar dan lumut yang menyelimuti sebagian bangunan itu.


Ada beberapa patung dewa yunani disana dan bekas air mancur yang sudah kering dan berlumut.


Nampak dari luar bangunan itu mengerikan, kesan horor sangat terasa siapapun yang lewat depan sana pasti akan merinding dibuatnya. Apalagi mereka sering mendengar suara teriakan dan tangisan dari dalam bangunan itu membuat mereka semua takut mendekati apalagi masuk ke bangunan itu.


Sebuah mobil hitam melintas menuju bangunan tua yang masih berdiri kokoh itu, berdiri didepan pintu gerbang bangunan itu. Teralis besi sudah berkarat itu berderit saat ditarik keluar, seorang lelaki paruh baya yang menjaga bangunan itu membukakan pintu masuk untuk mobil itu.


"Mang, tidak ada yang mendekati atau berusaha masuk ke rumah ini 'kan?" tanya seseorang dari balik kaca mobil hitam itu.


"Tidak ada, den. Tenang saja, semua sudah mamang atur ceritanya agar orang-orang takut dan tak berani mendekati bangunan ini" ujar penjaga bangunan itu.


Benar, bangunan itu sengaja dirancang seperti itu agar terkesan misterius dan menakutkan, ditambah lagi cerita karangan mang Supri si penjaga rumah tentang rumor rumah itu, semakin takut saja orang-orang dengan rumah itu.


Terkadang orang lebih percaya dengan cerita takhayul daripada cerita kriminal lainnya, maka dengan cara seperti itu lebih mudah mengusir orang-orang yang berusaha mendekati rumah itu.


Mobil itu memasuki pekarangan yang cukup luas, dia memarkirkan mobil itu didepan pintu utama rumah itu. Seseorang membukakan pintu untuknya.


Setiap patung yang ada disana ternyata sudah dipasang Cctv dan alat sensor, jika ada tamu atau penyusup maka orang-orang yang ada didalam akan tahu.


Dibalik bangunan kuno itu ada peralatan teknologi dan super canggih didalamnya. Mereka sudah membangun itu sedemikian rupa agar tidak diketahui dunia luar.


Ada apa didalam bangunan itu? Apakah ada sebuah rahasia didalamnya?


......................


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2